Si Cantik Mengubah Takdir

Si Cantik Mengubah Takdir
5.Regan Wijaya


__ADS_3

Kediaman Wijaya


_Ruang Keluarga.


Di mansion keluarga wijaya terlihat sepasang suami istri setengah paru baya duduk disofa dan ada seorang pria tampan dewasa duduk tegap di bagian sofa lain nya.


"Nak apa rencanamu kedepannya?" tanya seorang pria setengah paru baya bernama panji dan sang istri duduk disampingnya bernama Laras keduanya adalah orang tua dari pria yang duduk dihadapan mereka saat ini.


"saya akan membuka anak cabang perusahaan disini" jawabnya tegas.


"Aduh nak! bukan itu maksudnya" Kata Laras sedikit merigis "yang kami tanya bukan tentang perusahaan nak tapi tentang kapan kamu mau menikah usia kamu sudah dewasa cukup matang untuk menikah" lanjut Laras mengingatkan.


Panji mencoba diam melihat istrinya yang menyerobot pembicaraan kearah lain,


"nanti"


"iya nanti kapan? ingat umur kamu tahun ini 27 tahun coba lihat pak musliki teman smp mu dulu tetangga kita itu sudah punya anak dia dan coba kamu lihat Sepupu kamu pada udah punya buntut malah ada yang sudah menikah lagi setelah cerai terus kamu kapan dong" kata Laras lembut namun terdengar makna memeaksa didalamnya.


"Sudah mah jangan memaksa kasihan Regan" kata Panji menengahi sedikit jenggah dan kasihan akan Regan yang seperti tersinggung akan perkataan Laras.


"Regan jangan terlalu pusing tentang pernikahan papa tak memaksa tapi bukan berarti papa tak ingin" lanjutnya pada Regan.


"ihh papah malah ngomong gitu nanti makin gak mau anaknya" rengek manja Laras kesal anak perkataan suaminya.


"Kalau jodohnya sudah datang saya pasti akan menikah mama dan papah tenang saja" Seru Regan lalu bangkit menuju kamarnya.


"Saya permisih"


saat Laras terlihat ingin menghentikan Regan, Panji menahan tangan Laras mengelenggekan kepalanya pelan tanda melarang.


"mah lain kali jangan seperti itu kasihan Regan, papah tadi juga kan sebenarnya memang mau tanya tentang perkembangan perusahaan yang ia bangun dari nol siapa tahu ada masalah"


Kata Panji menengur Laras dengan halus saat Regan sudah tak terlihat lagi.


"maaf pah" kata Laras bersalah.


"iya tak apa, tapi ingat jangan di ulangi lagi" kata Panji merangkul istrinya agar tak merasa bersalah lagi.


📌📌📌


_Kamar Regan.


Regan duduk ditepi ranjang merenung, siapa yang tak ingin menikah diumur yang cukup matang ini begitu pula dengan Regan.


dia ingin menikah tapi ia kembali berpikir bagaimana jika kelak istrinya akan takut dengannya yang diam-diam memiliki satu Rahasia yang disembunyikan dari keluarga nya.

__ADS_1


yakni kemampuan melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus itu membuatnya sering kali dianggap aneh sedari dulu karena berbicara sendiri ketika dulu sekolah dasar dan lama kelamaan ia menjadi sedikit tertutup karna dikucilkan dan itu bertahan hingga sekarang.


Makhluk-makhluk itu akan menganggunya saat sadar kalau mereka bisa dilihat oleh regan dan akan meminta keinginan berbagai macam bentuk bahkan ada yang sampai meminta sesajen.


itu sangat merepotkan jadi lebih baik Regan berpura-pura tak melihat mereka itu pula salah satunya alasannya dulu menjadi sedikit bicara takut jika makhluk disekitarnya sadar akan suaranya yang sedikit begetar karna takut akan keberadaan mereka.


dan terbawa hingga biasa sekarang, walau ia sudah tak setakut dulu jika berhadapan dengan mereka tapi Regan tetap akan merasa ngeri kalau melihat wujud yang hancur dan berbau tak sedap.


Keluarga tak tahu? ya karena ia menutupinya entah sejak kapan pastinya ia bisa melihat mereka tapi seingat Regan itu terjadi setelah dia sempat hilang sewaktu kecil dan penyebabnya sampai sekarang Regan tidak tahu.


📌📌📌


|20:13|


"Mah saya pergi dulu Assalamualaikum" pamit Regan pada mamahnya yang ada didapur,


"iya hati-hati waalaikumsalam" bals Laras menerima sodoran tangan Regan menyaliminya.


"Selalu saja pergi padahal sudah masak banyak" gumam Laras sedih memandang hasil masakannya.


Laras tak berani melarang atau menegur Regan saat ingin berpergian karena berpikiran takut regan akan marah padahal itu hanya pemikirannya semata.


📌📌📌


Regan menjalankan mobilnya dikecepatan sedang menuju Restoran sang sahabat Teguh yang baru pulang dari liburan keluarga, sekaligus bertemu dengan sahabatnya yang lain yakni Galuh yang sangat jarang memiliki waktu luang karena banyak perkerjaan yang menurut Regan hanya alasan Galuh saja.


"Permisih, Teguh pemilik Restoran ini dimana saya ada janji dengannya" kata Regan datar melihat sekeliling.


"ah?" pelayan itu sedikit tercegang melihat Regan lalu tak lama kemudain tersadar.


"Ah emm Pak teguh ada lantai atas" jawab pelayan itu pelan memerhatika wajah tampan Regan.


"nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan" gumam Pelayab itu pelan masih didengar oleh regan.


karena risih Regan langsung melangkahkan kakinya ke lantai dua menemui Teguh.


"Hei bro udah datang aja" sapa Teguh menyambut kedatangan Regan saat melihat temannya sudah dekat dengannya.


"Assalamualaikum" kata Regan tak menghiraukan perkataan Teguh sebelumnya.


"Ah iyaa Waalaikumsalam" Sahut Teguh mengaruk kepalanya.


"kebiasaan! lain kali salam dahulu" tegur Regan.


"sorry lupa gue terlalu seneng bisa ketemu lo lagi setelah dua tahun lalu"celetuk Teguh menyengir salah tingkah.

__ADS_1


" iya"


"Ehem!" dehem Teguh menghilangkan rasa canggung pada dirinya.


"lo apa kabar bro? makin ganteng aja tapi kok masih suka sinis aja ngomongnya " lanjut Teguh mengeledek Regan yang.


"Baru ketemu kamu langsung meledek saya?" kata Regan datar.


"Astagah!!! lo kok masih baku banget sih ngomongnya? lo gue gitu ! harus banget diingatin terus"


"iya maaf gu..gue terbiasan akan itu" kata Regan sedikit kaku mengatakan gue dikalimatnya.


"Assalmuaalaikum" seru Galuh yang baru datang menghampiri mereka membuat Regan dan teguh teralihkan akan keberadaannya.


"Waalaikumsalam" balas Regan dan Teguh bersamaan.


"Widih bos besar datang nih" Ledek Teguh karena Galuh yang selalu sibuk jika diajak berkumpul.


"bos besar apaan nih kawan kau bosnya gak lama lagi dia buka anak cabang perusahaannya disini" elak Galuh melempar gelar bos besar ke Regan.


"kawan kau kawan kau! teman lo juga ini" cetus Teguh.


"ehh tapi beneran gan lo bakal buka cabang? kok cerita sumpah lo gak adil banget masa cerita sama dia doang" seru Teguh tak terima.


"tah perlu sok ngambek kau kaya cewek aja! aku nih tahu, karena mau kerja sama dengan dia paham kau" jelas Galuh.


"Oh bilang dong" kata Teguh tanpa beban.


"Hilih Belagak"


"sudah jangan bertengkar seperti anak kecil saja kalian ini"tegur Regan menengahi.


" emosi aku! bagusnya aku ucap salam datang tadi dia malah meledek cemana tak geram"kata Garuh mengebuh-gebuh karna kesal.


"ngomong apasih loh"ledek Teguh kembali lucu sekaligus suka melihat galuh bicara logat medan,melayu, dan bercampur batak sekaligus.


" Diam kau!"


bukannya takut Teguh malah tertawa terbahak-bahak,


"Teguh diam lah" tegur Regan tegas.


"oke oke sorry bercanda kawan" seru Teguh merangkul Galuh agar tak marah, dan dibalas deheman dari Galuh.


keduanyapun berbaikan kembali seperti tak terjadi apa-apa begitulah setiap kali mereka bertemu ada yang si pemancing keributan si galak dan si penengah Rega.

__ADS_1


mereka mulai berbicara-bicang dan berbagi mendengarkan cerita serta menceritakan.


Bersambung...


__ADS_2