
Kediaman Gunawan
_Kamar Rere.
|07:54|
sesuatu yang basah dan lembab menyentuh wajahnya beberapa kali membuat Rere terbangun dari tidurnya.
"Argh" perlahan mata Rere menyesuaikan cahaya yang masuk ke rentina matanya.
"Bangun Re" suara yang dikenalnya yakni suara suaminya dan benar saja matanya menangkap wajah Regan yang tersenyum tipis menyambut matanya begitu terbuka.
"Kenapa panggil nama aja, ayo panggil aku sayang lagi kaya semalam" kata Rere merengek manja menarik tubuh Regan agak mendekat denganya.
"baiklah, Ehem! sayang ayo bangun sudah pagi" kata Regan menurut sedikit meralat panggilan dan memeluk Rere tanpa risih dengan istrinya yang baru bangun tidur.
"kamu cium aku ya tadi" kata Rere menatap Regan menyipitkan matanya.
"iya saya cium kamu" kata Regan tanpa mengelak.
"ihh jujur banget sih" kata Rere sedikit malu mencoba bangkit duduk dibantu Regan.
"tentu, apa saya harus bohong?"
"bukan gitu juga maksudku" kata Rere menutup wajah Regan dengan telapak tanganya.
"kamu udah mandi yah? udah wangi aja" kata Rere mencium wangi sabun dan parfum berbaru ringan dari Regan.
"ya sudah dari tadi" jawab Regan yang memang sudah mandi dari sebelum sholat subuh.
"oh ya sudah aku mau mandi dulu masa kalah sama suamiku ini yang udah ganteng" kata Rere mencubit pelan pipi Regan yang menatapnya selalu datar dengan gemas dan bangkit membersihkan diri.
Kurang lebih dua puluh menit Rere menyelesaikan mandinya keluar dengan pakaian rapi dengan rambut yang dibalut handuk menutupi rambut basahnya.
"Kenapa gak keluar?" tanya Rere melirik Regan dengan ekor matanya dari pantulan cermin seraya merias wajahnya ringan.
"saya tidak nyaman, jadi menunggu kamu" kata Regan duduk ditepi ranjang memerhatikan Rere yang mengoles entah apa ke wajahnya.
"oh ya sudah bentar ya aku keringin rambut dulu" kata Rere mengeringakan rambutnya lalu menyisir pelan.
"ah udah selesai ayo keluar kamu pasti laperkan mau sarapan" kata Rere bangkit dari duduk nya mendekat ke Regan dan mengajak suaminya keluar.
_Meja Makan.
Rere menarik kursi untuk suaminya dan menarik kursi kembali disamping suaminya untuknya.
"Bibi!" panggil Rere pada pelayan yang sedang melakukan sesuatu diwastafel.
__ADS_1
"ya non" jawab Pelayan.
"Yang lain kemana kok sepi?" tanya Rere karena begitu keluar kamar ia tak melihat yang lain tak seperti semalam yang sangat ramai.
"keluarga non udah pada pulang pakai mobil travel tadi pagi-pagi terus tuan dan nyonya lagi keluar memanin kakek nenek non yang mau keliling kota katanya" jelas Pelayan itu.
"terus Kak Dara?" tanya Rere kembali saat pelayan belum lengkap menjelaskan.
"itu non, non Dara masih tidur kayanya belum ada keluar dari kamar soalnya" kata Pelayan.
"ohh ya sudah Terimakasih" kata Rere tersenyum pelayan itupun kembali melanjutkan kegiatanya begitu Rere tak membutuhkannya lagi.
"Regan" panggil Rere beralih menatap suaminya.
"ya?"
"kamu mau sarapan apa? aku binggung gak biasa ngelayanin orang" kata Rere tersenyum kaku tak enak hati.
"Roti saja, bisa buatkan kopi?"
"bisa, tunggu sebentar" kata Rere bangkit untuk membuat kan kopi untuk Regan.
tak lama kemudian Rere kembali dengan segelas kopi ditanganya.
"ini maaf ya kalau kurang pas panasnya aku cuma ngambil air di dispenser takut kelamaan kalau panasin air lagi" kata Rere meletakan segelas kopi dihadapan Regan.
"iya tidak masalah, terima kasih Re" kata Regan lalu menyicip kopi buatan Rere.
"tenang saja kopinya enak kamu tidak perlu cemas" kata Regan tersenyum tipis mengusap kepala Rere lembut lalu kembali meminum kopinya.
"syukur deh kalau gitu" kata Rere lalu mengambil Roti dan mengoles selai coklat disana.
"kamu suka selai coklat kan" Kata Rere mengingat sosok Regan didalam mimpinya.
"iya bagaimana kamu tahu?" tanya Regan karena ia tak pernah merasa memberi tahu kalau dirinya suka coklat.
"emm tahu dari..emm dari.. Dena ah ya dena" jawab Rere asal, Regan hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah melayani suaminya Rere pun mengisi perutnya dengan hening.
"naik selepas makan kamu bersiap ikut saya kekantor ya" Kata Regan menyelesaikan makanya.
"ngapain?" tanya Rere tak jelas sambil mengunyah.
"nanti kamu tahu" sahut Regan sedikit membersihkan sudut bibir Rere dari sisa roti.
📌📌📌
__ADS_1
"Kenapa melamun?" tanya Regan melihat istrinya berdiam diri menatap pantulan dirinya dicermin.
"aku binggung" kata Rere tanpa menoleh.
"binggung? binggung Kenapa?" tanya Regan mendekat kan diri sedikit membungkuk memeluk leher Rere dari belakang ikut melihat pantulan mereka dicermin.
"aku binggung harus kaya apa untuk bisa jadi istri yang baik buat kamu gan, rasanya kaya gimana ya aku argh.. aku gak tahu deh pusing" kata Rere memelas pusing dengan pemikiran nya sendiri.
Regan tersenyum tipis,
"Kenapa harus binggung emm? cukup jadi diri sendiri dan tidak bebal bila ditegur saja itu sudah cukup untuk saya Cup! " Kata Regan dan memberi kecupan ringan dikepala Rere.
"tapi aku ngerasa kaku ngomong sama kamu jadi kaya ada batasan gitu" lirih Rere melirik Regan.
"Huhh" Regan menghelakan nafasnya memudar tubuh Rere agar menghadap kearahnya.
"lakukan apapun yang kamu mau jangan merasa terbebani dengan adanya saya cukup kamu tahu kalau saya cinta kamu dan kamu cinta sama saya oke" kata Regan serius mencakup wajah Rere dengan kedua tanganya.
"tapi kamu gak gerti" rengek Rere cemberut.
"apa yang saya tidak mengerti coba jelaskan pelan-pelan agar saya paham" kata Regan sabar.
"aku binggung harus kaya apa bersikap kekamu arghh gak tahuu" jerit Rere frustasi, Regan mengaruk tengkuknya ikut binggung maksud Rere.
"Rere kamu tahu Saya cinta kamu?" tanya Regan lembut menatap Rere dibalas anggukan.
"kalau begitu harusnya kamu tahu kalau saya tidak pernah menuntut kamu menjadi seperti apa yang saya mau cukup lakukan senaturan mungkin dan balas cinta saya serta menurut pada saya itu sudah jadi istri yang baik, paham?" kata Regan.
"paham" sahut.
"sudah tidak pusing?" tanya Regan mengusap kepala Rere.
"masih pusing" sahut Rere polos.
"oh Tuhan!" kata Regan berdiri tegak mengusap wajah kasar.
"sabar sabar" gumamnya mengusap dada pelan.
Rere mengulum bibir menahan tawa melihat Regan yang frustasi mencoba sabar dengan tingkahnya, dia bangkit lalu berdiri mendekat ke Regan tersenyum manis tanpa merasa berdosa.
"apa?" kata Regan sedikit tunduk menatapnya, Rere mengerakkan tangan nya meminta Regan mendekat.
Regan menurut menyesejajarkan kepalanya dengan Rere, tanpa aba-aba Rere menari tengkuk Regan.
Cup! kecup Rere dibibir Regan sekilas,
"sayang Regan banyak banyak " kata Rere terkekeh lalu berlari keluar sebelum ditangkap Regan.
__ADS_1
"Huh! dasar nakal" gumam Regan tersenyum sadar sudah dikerjai lalu berjalan menyusul Rere.
Bersambung ...