Si Cantik Mengubah Takdir

Si Cantik Mengubah Takdir
15.Mulai.


__ADS_3

Kediaman Wijaya


|21:45|


Hari ini akhir pekan dan Rere akan menjalani misi yang tercetus diotaknya serta kemarin ia sudah memberi tahu pada Dena sebagi tanda meminta restu katanya.


Sekarang Rere sudah sampai di kediaman Wijaya sepi itu yang terpampang saat memasuki mansion itu.


"Hei udah sampai lo ternyata" sapa Dena menyambut kedatangan Rere.


"iya udah gak sabar gue ketemu dia nya" balas Rere tersenyum tipis.


"ayo kekamar gue dulu" seru Dena melangkah memimpin Rere pun mengikuti dibelakang nya.


Ceklek!


Setelah menutup pintu kamarnya Dena tak lupa mengunci juga agar tidak ada orang yang masuk sembarangan.


"sudah?" tanya Rere memastikan.


"sudah aman!"


"jadi gimana?"


Dena duduk disofa single panjang dengan Rere yang sudah duduk lebih dulu disana.


"semua udah gue atur, mamah papah juga gak masalah! jadi, waktu loh bertindak di mulai dari jam sepuluh sampai besok. nanti wifi bakal diputus mobil pribadi sama semua kendaraan dibagasi udah dikepesin semua listrik juga bakal dipadamin jadi sekarang sepintar-pintar loh bertindak oke!! oh ya semua pelayan,satpam sampai tukang kebun udah diliburkan jadi selamat bersenang-senang!!" kata Dena melambaikan tangannya dan melangkah keluar akan mengajak orang tuanga keluar agar tinggal Rere dan Regan dimansion.


"tapi ingat jangan kelewatan" pesan Dena sebelum benar-benar pergi.


"sekarang dia dimana ya?" gumam Rere merasa sedikit gelisah takut misinya gagal.


"oke sepuluh menit lagi listriknya padam! sekarang waktunya" kata Rere pelan keluar kamar.


Begitu keluar pintu Kamar Regan terlihat tertutup rapat.


"Semoga dikamar" batin Rere.


tok' tok' tok'


Rere mulai mengetuk pintu kamar Regan tak lama pintu kamar itu terbuka,menampilkan pria perpakaian santai dan iti menambah aura ketampanan yang tidak bisa ditolak oleh Rere.


"ada apa?" tanya Regan dengan datar


"Ah ya!" lamuna Rere buyar seketika saat suara dingin dilontarkan Regan.


"Kak_

__ADS_1


" saya bukan kakakmu"kata Regan memotong perkataannya, Rere mengusap hidungnya canggung.


"emm Bang_


" saya bukan tukang bakso"potong Regan kembali, Rere diam kembali.


"Regan!"


"Ah gak ada tolakan jadi dia mau dipanggil nama aja?" batin Rere.


Sudut bibir Rere terasa berdenyut menahan senyuman.


"Regan begini! kemarin aku udah janjian sama Dena disini buat ngerjain tugas bareng, terus karena udah janjian makanya aku datang dari tadi kesini pas aku datang dia ada nyambut aku terus ngajak kekamarnya gak lama dia izin keluar sebentar tapi sampai sekarang dia gak balik kamu tahu gak dia dimana? aku mau tanya sama orang lain tapi disini gak tahu kayanya sepi banget pada kemana sih?"kata Rere panjang menjelaskan seraya berakting senatural mungkin melancarkan aksinya tanpa menimbulkan curiga dari Regan.


"tidak tahu" balas Regan singkat.


"ih kok gak tahu kamu kan tinggal disini! tapi ya sudah lah kalau gitu sambil nunggu Dena kamu temanin aku ya" kata Rere tersenyum manis tanpa aba-aba mengengam lengan Regan sedikit merengek berharap Regan mau meladeninya.


"untung gak ditepis tangan gue" batin Rere mempertahankan senyum manisnya.


"saya sibuk!" tolak Regan.


"aku gak bakal ganggu kok oke! oke dong" seru Rere, tanpa permisi Rere mengintip kamar Regan dari sela-sela bahu Regan dengar berjijit.


"wah kamar kamu bagus ya!" celetuk tanpa izin Rere masuk nyelonong dengan melalui sisi pintu yang kosong.


Rere tersenyum tanpa diketahui Regan,


"Wahh!! kamu pinter banget sih ngatur warna dinding kamar ini jadi gak monoton bikin nyaman tahu" Celetuk Rere duduk ditepi ranjang seraya matanya melihat sekeliling kamar yang sangat besar itu.


Sejauh ini belum ada tanda-tanda Regan akan mengusirnya dari kamar.


"Nanti kalau aku udah jadi istri kamu bolehkan aku nambah meja rias disana" kata Rere Percaya diri tanpa beban menunjuk sisi disamping meja kerja Regan.


Kening Regan berkerut baru saja mau melontarkan kata lampu kamar Regan mati.


"Arggh aku takut gelap!!" jerit Rere yang tak tahu sejak kapan mendekatnya kini tiba-tiba sudah memeluk Regan erat.


"Untung tepat waktu!" batin Rere sadar Regan tadi hampir mengeluarkan kata penolakan.


Memang jendela kamar Rere tertutup rapat ditambah tirai yang tebal membuat keadaan dikamar itu sangat gelap ketika lampu mati.


"Lepas saya akan buka tirainya agar cahaya bulan masuk" kata Regan mendorong pelan bahu Rere , bukannya melepaskan diri Rere malah mengeratkan pelukannya.


"Takutt disini aja!!" tolak Rere merengek.


"Sudah malam lebih baik kamu pulang" kata Regan meminta Rere pulang.

__ADS_1


"tapi aku gak bawa mobil kesini tadi juga udah izin buat nginep" alibi Rere memenamkan wajahnya di dada Regan.


Glek! Regan menelan ludah merasakan hembusan nafas Rere yang tebus baju kaosnya yang tipis hingga terasa sesuatu yang hangat didadanya mau mendorong Regan juga tak tega.


"kamu saya antar pulang!"tegas Regan melepaskan pelukan tapi Rere mengelengg menolak sekuat tenaga tak mau menjauh dari Regan.


" Gadis ini tidak ada takut-takutnya" batin Regan, akhirnya mengendong Rere keluar.


📌📌📌


_Di Bagasi.


"sial kenapa kempes semua?" umpat Regan benar-benar kesal.


"ayo kekamar kamu lagi ambil hp aku,nanti aku minta jemput aja deh sama supir papah" kata Rere lemas mengeratkan pelukannya.


"Huhh!" Regan membuang nafas beray mau tak mau kembali kamarnya.


nafas Regan terdengar sedikit tak beraturan, bagaimana tidak mansionnya cukup luas dan dia harus bolak balik dari kamar ke bagasi kembali lagi ke kamar yang mana kamarnya dilantai dua jadi mau tak mau ia juga harus naik turun tangga ditambah beban Rere di gendongannya.


"Buka pintunya!" perintah Regan dengan nafas terengah-engah.


Ceklek!


Tanpa berlama-lama kaki Regan melangkah ke tepi ranjang dan duduk disana.


Blush! Pipi Rere terasa memanas saat ia terduduk dipangkuan Regan dengan posisi ia masih memeluk erat lelaki itu.


"Dia segaja atau gimana sih sebenarnya?" batin Rere malu mengigit bibirnya agar rasa canggungnya berkurang.


"kamu berat" celetuk Regan, Sontak Rere mendogah menatap Regan melotot dengan bibir berdecak kesal.


"mana ada kamunya aja yang lembek!" jerit Rere kesal.


"jangan berteriak"tegur Regan.


" isss" Rere berdesis kesal memalingkan wajah.


"Lucunya" Batin Regan tersenyum tipis Rere diam-diam tersenyum mendengar pikiran Regan.


"Bisa kamu turun kaki saya sedikit keram" seru Regan sebenarnya hanya merasa sedikit tak nyaman pada posisi saat ini, Rere hanya diam dengan wajah yang masih cemberut.


"Tidak perlu kesal saya minta maaf kalau salah" kata Regan mengalah tak ingin bertengkar seperti anak kecil.


Mau tak mau akhirnya Rere merengangkan pelukan nya lalu sedikit bergeser dan duduk disamping Regan.


"jangan harap pelukannya aku lepas" batin Rere tersenyum licik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2