Si Cantik Mengubah Takdir

Si Cantik Mengubah Takdir
19. Bersiap.


__ADS_3

_Kamar Rere.


"Ya sudah"kata Regan tak ingin memperpanjang masalah.


" Gak marah?"cicit Rere takut-takut menatap Regan.


"tidak, berhenti manatap seperti itu saya tidak akan menyakiti kamu" kata Regan menutup mata Rere dengan telapak tanganya.


"gelap!!" rengek Rere menjauh kan tangan Regan.


"iya, siapkan dirimu Re saya keluar ingin berkumpul dengan yang lain diruang tamu apa kamu mau ikut?" kata Regan menarik tangannya dari wajah Rere.


"gak! aku mau istirahat aja, perutku gak enak kalau kelamaan duduk" tolak Rere halus.


"baiklah saya keluar sampai jumpa nanti sore" kata Regan mengusap kepala Rere lalu melangkah keluar..


Ceklek!


"jadi gimana kak?" serobot Dena bertanya begitu Regan membuka pintu, Regan terlalu malas untuk menjawab hanya melewati Dena begitu saja.


"lah gue dicuekin? asem banget" gumam Dena cemberut.


"gak usah cemberut jelek lo, ayo masuk" kata Rere berdiri diambang pintu.


"lah sejak kapan lo disitu" tanya Dena binggung perasaan tadi tidak ada pikirnya.


"jadi mau masuk gak kalau gak gue tutup nih" kata Rere mengancam dengan pelan menutup pintu.


"ya Iya gue mau masuk" kata Dena cepat menahan pintu sebelum tertutup rapat dan ikut masuk masuk kamar Rere lalu duduk ditepi ranjang.


"sekarang lo harus jelasin sama gue, kaya gimana kejadian semalam kok bisa-bisanya kak Regan jadi ngebet nikah sama lo" cerocos Dena dengan pikiran penuh akan tanda tanya besar dikepalanya.


"em gue binggung harus cerita gimana" alibi Rere.


"gak usah banyak alasan cepet jelasin!!" tegas Dena tak mau tahu.


"semua rencana berjalan dengan lancar tapi pas semua udah kelar dan gue keluar mau pindah kekamar lo ada suara suara ribut ditangga karena takut jadi gue tidur disamping Regan deh terus pas bangun ternyata gue haid jadi ada becak noda diseprai kakak lo nah mungkin dia salah paham dipikirnya gue macam-macam pas dia tidur" jelas Rere panjang lebar.


"kan lo emang macam-macam" cibir Dena.


"mana ada gue cuma berani godain dia pas obatnya bereaksi sampai dia tidur aja kok" elak Rere tak ingin disalahkan.


"oke gue ngalah kakak ipar" goda Dena menyengol bahu Rere.


"tapi gue penasaran kok lo akrab banget kelihatannya sama tu orang mana cuma manggil nama tanpa embel-embel emang dia gak marah gitu?"lanjutnya.


"gak kok malah dia marah pas gue coba pakai embel-embel kak dia bilang kalau dia bukan kakak gue terus gue bilang bang dia bilang dia bukan tulang bakso jadi gue panggil nama ternyata gak protes jadi bertahan sampai sekarang cuma sebut nama" jelas Rere.

__ADS_1


"Kenapa gak panggil sayang aja" Celetuk Dena.


"itu terlalu dini kalau gue panggil dia kaya gitu"kata Rere.


" ya deh terserah lo aja enaknya gimana"


Kata Dena.


ada sesuatu yang menganjal dipikiran Dena sebenarnya tapi takut Rere berpikir tidak-tidak padanya.


"kalau mau tanya ya tanya aja kali gak usah pakai ditahan gitu" Kata Rere sadar Dena sedang gelisah.


"em..itu.. lo suka rela kan nikah sama kakak gue" lontar Dena hati-hati.


"ha ha ha kirain apaan ya rela lah Kenapa gak" Rere tertawa merasa pertanyaan Dena kurang bermutu baginya.


"ya siapa tahu lo terpaksa kan" balas Dena lega.


"gak lo santai aja kan lo sendiri tahu gue emang suka sama Regan"


"ya udah kalau gitu gue kayanya mau balik deh sekarang" kata Dena bangkit.


"cepet banget sih"


"ya kan gak enak cuma dikamar lo yang lain diruang tamu" kata Dena bangkit.


📌📌📌


_Ruang Tamu.


"Rere setuju menikah dengan saya" kata Regan begitu duduk dihadapan orang tua Rere.


"beneran nak" Kata Laras senang "akhirnya aku punya menantu" batinya.


Regan mengangguk pelan mengiyakan, terlihat jelas sebenarnya wajah Rian tak ikhlas tapi tak mungkin dia menolak.


"jadi bagaimana Rian kau tak keberatan?" tanya Panji hati-hati takut menyinggung.


"Huhh! sebenarnya saya kurang ikhlas Rere menikah mendadak begini apalagi kakaknya Dara manikah bulan depan tapi karna anaknya tak keberatan ya sudahlah mau apa diboleh buat" Kata Rian pasrah.


"pah!" lirih Dita mengusap paha Rian.


"Kenapa?" tanya Rian menegok samping menatap istrinya.


"bagaimana sama keluarga kita yang diluar jakarta gak mungkin kan kita engak mengundang mereka nanti malah berpikir tidak-tidak tapi kalau diundang pasti mereka marah karena mendadak" kata Dita gelisah apalagi orang tuanya juga diluar jawa takutnya mereka merasa tak dihargai sebagai orang yang lebih tua pikirnya.


Panji dan Laras diam tidak tahu harus berkata apa Rian juga terdiam memikirkan solusi yang tepat untuk semua pihak.

__ADS_1


"Om! tante!" panggil Regan,Rian dan Dita teralih menatap Regan.


"Saya punya bisnis di bidang travel diarea jawa kalau tidak keberatan saya mau menawarkan jasa secara percuma untuk menantar-jemput keluarga Gunawan dan untuk yang diluar jawa saya tidak keberatan membiayai tiket pesawatnya" kata Regan serius dengan mimik wajah datar khasnya."Demi Rere!" batinnya.


"Sejak kapan kamu punya bisnis travel" kata Panji tak tahan mempertanyakan dan mewakirkan rasa penasaran Laras.


"Sejak lama" sahutnya santai.


"Huhh" Panji menghela nafas tak bertanya lagi.


"bukanya kamu akan rugi jika melakukan itu" kata Rian sedikit heran denga lelaki didepannya itu.


"Uang bisa dicari" lontarnya tanpa beban.


"Mah belum mau pulang?" tanya Dena berdiri didekat sofa baru dari kamar Rere.


"yang sopan Dena" tegur Panji.


"maaf" kata Dena mendudukan diri disamping Laras.


"tidak apa Panji santai saja kita kan tak lama lagi jadi besan" kata Rian tak keberatan dengan sikap Dena.


"jadi bagaimana om?" tanya Regan kembali tak sabaran.


"saya terima tawaranmu tapi seperti nya penikahan harus diundur sampai besok karena yang diluar jawa pasti akan butuh waktu cukup untuk kemari" kata Rian.


Wajah Regan berubah keruh mendengar pernikahan nya diundur sampai besok.


"tidak bisa om, kalau begitu pakai jet saja"kata Regan tak terima pernikahan nya diundur.


" Jet? yang benar saja Regan kami tak punya itu,mau menyewa itu juga sangat mahal" Kata Rian tertawa Renyah.


"Jet milik saya om" jelas Regan, Rian langsung terdiam "Seberapa kaya anak ini" batin Rian.


"nak jangan main-main kamu" kata Laras terkejut.


"Regan seberapa banyak hal yang kamu sembunyikan" kata Panji tak senang sadar putranya itu terlalu banyak yang ditutupi.


Dena disana hanya bisa diam dengan rasa terkejut "punya Jet dong" batin Dena cengong.


"Saya hanya ingin menikah dengan Rere Kenapa dipersulit?" kata Regan datar terdengar dingin menahan amarahnya.


"Maaf nak Regan kami hanya sedikit terkejut" kata Rian "baiklah kalau begitu saya akan menghubungi keluarga saya dan nak Regan silahkan sediakan yang kamu tawarkan tadi" lanjutnya mulai meraih ponsel.


begitupun dengan Regan menghubungi semua bawahanya yang bersangkutan tak lupa pula ia menghubungi seseorang untuk mengurus surat-surat pernikahannya agar bisa menikah sah secara agama dan hukum nanti sore sesuai keinginanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2