
Kediaman Wijaya.
|05:02|
"Argh" Mata Regan perlahan terbuka menatap langit-langit kamarnya beberapa mengejapkan matanya menyesuaikan cahaya masuk ke matanya.
Regan terbangun dan duduk memegang kepalanya yang terasa agak sakit.
Sekilas memory sebelum tidur teringat olehnya, tubuhnya seketika terasa tegang.
"Rere" lirihnya bangkit melihat sekeliling kamar hanya dia sendiri, tanpa segaja ekor matanya melihat bercak noda darah seprai.
"Ya Allah apa yang telah aku lakukan?"
Dengan linglung karena terkejut Regan mencari Rere dimansion tapi tak menemukan gadis itu dimana-mana orang rumah juga belum ada yang kembali entah kemana semua orang.
Regan kembali kekamar mencari ponselnya tapi benda kecil itu juga ikut menghilang.
"Lebih baik sholat dulu" gumam Regan saat melihat cahaya matahari tak lama lagi akan terang.
Walau hati gelisah tapi setidaknya Regan merasa sedikit tenang setelah melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
"benarkah saya melakukan nya?" lirih Regan merasa tak percaya.
"benar atau tidak saya harus segera menikahinya"Tekat Regan mempersiapkan diri.
📌📌📌
|06:15|
"Den bangun kok kamu malah tidur lagi sih nak, kan mama sudah suruh kamu bersiap dari tadi" kata Laras membangunkan dengan cara menguncang tubuh Dena tak sabaran.
"Astagah mah,ini masih pagi!" gumam Dena dengan mata masih terpejam.
"Ya karena sudah pagi sekarang kita harus pulang! dari malam mama merasa gelisah dan sangat berdosa ngebiarin anak mama berduaan sama yang bukan mahramnya!"
Laras merasa sangat berdosa sudah termakan bujuk rayu Dena membiarkan anaknya Regan berduaan dengan Rere.
"bagaimana kalau mereka melakukan dosa besar? Oh Tuhan" Batin Laras jantungnya serasa berdetak dengan kencang.
Panji sebenarnya sudah menolak dengan tegas ide gila anaknya itu tapi karena sang istri bersikeras ingin segera memiliki menantu dan sedikit mengancam tentang ingin pisah ranjang mau tak mau panji menuruti dengan menanamkan pemikiran bahwa Regan tak mungkin akan kelewatan.
Plak!
"Bangun Dena kalau kamu gak bangun juga mamah papah bakal tinggalin kamu sendirian"Ancam Laras dan menepuk bokong Dena pelan.
" ya iya aku bangun"kata Dena memaksakan diri bangun dari pada harus ditinggal dirumah pinggir kota sendirian pikirnya.
"Gak usah mandi cuci muka aja" tegas Laras lalu keluar menunggu anaknya itu.
"Iya" sahut Dena pasrah.
Kediaman Wijaya
__ADS_1
Sesampai mansion Laras dengan tak sabar turun mobil berlari masuk kedalam.
"Mamah jangan lari-lari" tegus Panji tapi tak digubris Laras ia terus berlari sampai pintu kamar Regan, dengan nafas tak beraturan Laras mengetuk pintu kamar Regan.
Ceklek!
Pintu terbuka menampakkan Regan yang masih berbaju kokoh dan sarung sebagai bawahannya.
Regan kembali masuk setelah membuka pintu lebar dan duduk di pinggir ranjang.
"nak" panggil Laras yang memang mengikuti nya masuk.
"Saya akan menikahi Rere" kata Regan tanpa berbasa-basi,Mata Laras terbelalak terkejut.
"Nak kamu tidak melakukan itu kan" Tanya Laras hati-hati jantungnya berasa ingin copot.
"Saya akan menikahi Rere" tegas Regan lalu menatap Laras datar "Mohon restunya" lanjut Regan lirih.
"Kak" seru Dena diambang pintu dan Panji disampingnya dengan mimik wajah yang tak bisa ditebak.
Di sisi lain, jika di mansion Wijaya sedang tegang-tegangnya beda lagi dengan kediaman Gunawan lebih tepatnya ada dikamar Rere.
"argh perut gue kok gak redah sih sakitnya" gumam Rere lemas tak sama sekali beranjak dari ranjang.
"mamah" lirih Rere mengeluh terbaring seperti janin didalam kandungan memeluk perutnya kesakitan.
📌📌📌
Kediaman Gunawan
|09:13|
tok' tok' tok'
"Rere kamu dikamar?"Suara Dita terdengar dari balik pintu kamar Rere.
tok' tok' tok'
"Cepat buka pintunya!" Dita mulai mengetuk tak sabaran.
Ceklek!
Pintu terbuka dengan Rere yang nampak masih berantakan,lesuh,dan wajah yang pucat.
"Kenapa mah?" tanya Rere lemas.
"tidak jadi istirahat saja lagi" kata Dita tak tega mau menanyai anaknya itu.
"baik mah" jawab Rere menurup pintu pelan saat mamahnya sudah pergi.
_Di Ruang Tamu.
"dimana nak Rerenya ?"Tanya Laras menegok kebelakang Dita tapi tak menemukan apa yang dicarinya.
__ADS_1
Ya setelah terjadi ketegangan di mansion Wijaya tanpa menjelaskan apa yang terjadi Regan meminta agar orang tuanya melamar Rere pagi itu juga mau tak mau Panji dan Laras pun menuruti keinginan itu.
Maka disinilah mereka sekarang bertamu di Kediaman Gunawan.
" Anak saya seperti sedang sakit jadi saya tak tega memintanya keluar jadi bisakah kalian menjelaskan maksud kalian sekarang saja?"kata Dita duduk disamping suaminya Rian, sedang kan Dara sedang tak ada dirumah karena sedang ada dinas keluar kota sebelum pernikahan yang akan dilaksanakan bulan depan.
"Dia sakit?" batin Regan khawatir.
"Jadi?" Rian dan Dita menunggu dengan perasaan penasaran akan maksud kedatangan sahabatnya itu.
Regan melirik Panji melihat tatapan anaknya ia paham dan mulai berbicara.
"begini Rian saya serta keluarga berkunjung kemari dengan tujuan melamar anakmu Rere untuk anakku Regan" jelas Panji tak ingin terlalu banyak berbasa-basi.
"Kenapa terburu-buru Panji bukannya perjanjian perjodohan itu akan dilaksanakan setelah Rere menyelesaikan kuliahnya?"tanya Rian heran, Dena dan Regan terkejut mendengar perkataan dari Rian.
" Perjodohan?"batin Regan dan Dena.
"Maksudnya apa om?" tanya Regan binggung.
"iya kamu dan Rere dari kecil memang sudah dijodohkan! memangnya kamu tidak tahu?"
"Ehem! begini Rian ternyata anak-anak kita tanpa sepengetahuan kita saling menyukai jadi sebelum saya memberi tahu Regan memang memiliki keinginan sendiri untuk menikah dengan Rere" jekas Panji menutupi kejadian semalam.
"Benarkah itu nak Regan?" tanya Rian memastikan.
"iya om" tegas Regan dengan wajah datarnya.
"ha ha ha! saya senang mendengar nya lalu mau kapan pernikahan itu dilaksanakan?" Rian tertawa senang akhirnya ia bisa berbesan dengan Panji pikirnya.
"nanti sore setelah ashar!" tegas Regan menyerobot tiba-tiba memutuskan.
Wajah orang-orang diruang tamu itu berubah dengan pemikiran masing-masing.
"ha ha ha! nak Regan ternyata tak sabaran ya, tapi seperti nya tak bisa kalau terburu-buru anak saya tak mungkin melangkahi kakaknya yang anak menikah bulan depan. jadi nak Regan tolong bersabar ya"jelas Rian sedikit tertawa renyah.
" Saya mau menikahnya nanti selepas Ashar"tekan Regan keras kepala.
"Regan!" tegur Panji.
"Pah! om! saya mohon" pinta Regan sedikit memelas diwajah datar nya.
"aduh! bukannya tak mau tapi bagaimana ya" Rian merasa binggung dan menoleh ke arah Dita meminta bantuan untuk menolak gagasan Regan.
"Nak Regan maaf tolong bersabar ya, anakku Rere juga sedang tidak sehat jadi pernikahan itu tak mungkin di lakukan hari ini" kata Dita menjelaskan kondisi saat ini.
"Saya mohon om! Saya ingin Akad nanti sore harus dilaksanakan demi kebaikan kita semua!" kata Regan kembali meminta.
"ada apa sebenarnya pakai alasan demi kebaikan segala?"Tanya Rian dengan mimik wajah berubah.
" Tenang Rian, anak saya hanya tak bisa bersabar ingin memperistri Rere tolong jangan berpikir macam-macam ya"jelas Panji tak enak hati.
"seperti nya memang lebih baik nikahkan saja sekarang untuk pesta pernikahan bisa diatur belakangan karena takutnya nanti anak-anak berubah pikiran dan nanti jadi susah dibujuknya" kata Panji membujuk Rian.
__ADS_1
"Baiklah saya akan memberi izin bila Rere juga ingin pernikahan itu!"
Bersambung...