Si Cantik Mengubah Takdir

Si Cantik Mengubah Takdir
27.Di Usir?


__ADS_3

Regan dan Rere baru saja sampai dikediaman keluarga Gunawan, tenyata diruang tamu kakek nenek gempal,orang tua Rere dan Dara sedang berkumpul menonton tv.


"Assalamualaikum" salam Rere dan Regan memasuki rumah.


"Loh! kalian masih disini mamah pikir Regan sudah boyong Rere ke rumahnya" kata Dara tanpa membalas salam keduanya.


Jlep! ada sesuatu perasaan yang sulit Rere jelaskan dihatinya.


Keluarga besar Rere memang bukan keluarga yang religius melainkan hanya islam ktp yang artinya tidak terlalu memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan agama.


Dan dengan itu Rere tidak masalah jika salamnya tak di balas tapi apa harus langsung dilontarkan pertanyaan demikian?


"Paling Rere yang gak mau mah,biasa lah kan dia memang suka bebal" celetuk Dara ikut menimpali.


"benar begitu Re?" tanya kakek gempal.


"bukan gitu kek, Regan_


" kamu manggil suami itu yang sopan Rere! gak baik cuma sebut nama"kata Nenek gempal memotong perkataanya, Rere mengigit bibir rasanya ia ingin menangis.


"Sudah nek" tegur Kakek gempal "dan Rere sekarang lebih baik kamu beresin barang-barangmu ikut suami mu pulang kerumahnya" kata kakek gempal melanjutkan perkataanya.


"Maksudnya gue diusir gitu" batin Rere tak percaya matanya terasa memanas, tanpa segaja tanganya meremas tangan Regan yang ada di dalam genggamannya.


"tapi kek_


" Rere jangan suka membantah"tegur Rian menyela Rere.


"sudah sayang mari kita kemasi barangmu" kata Regan lembut merangkul Rere dan menariknya ikut kekamar.


"Anak zaman sekarang susah sekali dikasih tahu" kata Nenek gempal, Rere melangkah pelan kekamarnya.


"Rere memang suka gitu nek" kata Dara memanas-manasi.


"Awas lo nenek lampir lihat aja lain kali lo bakal gue balas" batin Rere tanpa terasa airmatanya menetes.


"Sudah sayang jangan didengarkan, ayo kita kekamar saya tidak tahan dirumah ini terasa terlalu panas" kata Regan menuntun Rere agar melangkah lebih cepat.


Hari ini Regan hanya akan diam mengingat siapa lawan bicara istrinya ia masih menghormati tapi entah bagaimana jika lain kali kembali terjadi pikirnya.


_Kamar Rere.


Ceklek!


Tangis Rere pecah begitu saja ketika mereka masuk kamar.


"hiks Regan, mereka hiks mengusirku hiks" kata Rere terisak dalam tangisnya,Regan memeluk Rere menenangkan.

__ADS_1


"selalu gitu hiks mereka gak pernah dengar penjelasanku hiks menuduh tanpa bukti hiks" aduh Rere memenamkan tangisnya didada Regan.


"tenang sayang ada saya untukmu" hanya itu yang dapat Regan katakan tak tahu bagaimana cara menenangkan Rere selain membalas pelukan lebih erat.


"mereka jahat Regan hiks, mereka selalu pilih kasih hiks"


"ak..u sakit hati hiks"


"apa gak bisa hiks bicara baik hiks baik"


Regan merenggangkan peluknya dan mencangkup wajah Rere dengan kedua tangan nya.


perlahan Regan menghapus air mata Rere yang terus menetes Cup! Regan mengecup kening Rere.


"Sudah ya jangan menangis lagi, saya rasanya tidak becus menjadi suami bila melihat air matamu terus menetes"kata Regan menatap Rere sendu.


Rere mengangguk pelan menghentikan tangisnya walau suara isaknya belum terhenti,Regan kembali memeluk Rere satu tanganya mengusap rambut Rere lembut.


"biarkan mereka berbicara sesuka hati, yang jelas saya akan selalu butuh kamu dan kedepannya apapun itu segala keinginanmu saya akan sebisa mungkin akan mengabulkannya"ucap Regan " termasuk memberi pelajaran untuk saudarimu"lanjut Regan penuh keyakinan.


"Terima kasih suamiku" lirih Rere tersenyum tipis merasa tersentuh akan perkataan Regan.


"sekarang kemasi barang-barang yang penting dan yang tak perlu tinggalkan saja saya akan belikan yang baru" Seru Regan melepaskan peluknya.


"termasuk baju?" tanya Rere sedikit tak yakin apalagi bajunya banyak yang baru-baru.


"oke" kata Rere pasrah.


Tak butuh waktu lama Rere benar-benar hanya membereskan barang yang penting seperti buku-buku tugas kuliahnya dan hal lain yang penting.


"sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Regan.


"sepertinya sudah" kata Rere kurang yakin.


"pasti kan lagi, karena saya tidak tahu kelak akan kembali kerumah ini atau tidak" kata Regan datar.


"ya iya" kata Rere menuruti mengabsen kembali barang dikopernya.


"sudah selesai" ujar Rere.


"yakin?" tanya Regan kembali, Rere mengangguk yakin.


"baiklah ayo kita pergi" kata Regan menarik dua koper yakni miliknya berisi pakaian yang dipakai saat menginap disini dan milik Rere berisi barang-batang penting.


_Ruang Tamu.


"Astagah Rere! suami kamu kok dibiarin bawa dua koper sekaligus kamu gak kasihan apa dia bawa berat-berat sendiri" kata Dara melihat keberadaan Rere dan Regan.

__ADS_1


Yang lain pun ikut menoleh ke arah keduanya,


"saya cukup kuat bila hanya membawa dua koper ringan ini" kata Regan menatap Dara tajam.


Sontak Dara memalingkan wajah mendapat tatapan tajam itu,


"kalian sudah siap untuk pergi ternyata padahal bisa nanti saja setelah makan siang bersama" kata Dara.


"tidak perlu kami bisa makan diluar" tolak Regan tanpa pikir panjang.


Rere tersenyum kaku merasa tak enak hati dengan keluarganya tapi ia juga engan untuk mengeluarkan suara.


"nak Regan tolong jaga putriku ya, jika ia melakukan kesalahan tegur saja" kata Rian.


"tentu akan, saya jaga sepenuh hati" sahut Regan, entah mengapa Rian malah merasa ada yang salah setelah mendengarnya.


"saya permisi, Assalamualaikum! ayo sayang" kata Regan pamit melangkah keluar lebih dulu dengan menyeret kedua koper nya diikuti oleh Rere dibelakang.


Regan dan Rere melangkah mendekat ke mobil tanpa menoleh kebelakang,


mobil menyalah Regan langsung menjalankan mobilnya keluar dari kediaman Gunawan.


"Selamat tinggal" batin Rere lirih menunduk merasa sedih dihatinya.


"Sayang kamu mau kita pulang kemana? ke mansion? apartemen? villa?hotel atau langsung mau bulan madu saja" tanya Regan sesekali menoleh ke arah Rere mencoba mengalihkan rasa sedih Rere dengan pertanyaanya.


"pilihanya kok banyak banget?" kata Rere.


"ya agar kamu bisa memilih sesuka hati" sahut Regan santai.


"kalau aku minta pulang ke rumah mewah saja bisa?" tanya Rere sedikit bergurau.


"rumah mewah ya? emm padahal saya baru membuat mansion untuk Keluarga kecil kita yang mungkin akan jadi dua atau tiga bulan lagi, tapi kalau kamu mau rumah juga tidak masalah saya akan urus sekarang" kata Regan menganggap serius meraih ponsel yang ada disakunya.


"eh..eh gak! aku cuma bercanda" kata Rere gelagapan merebut ponsel Regan.


"kenapa harus bercanda? padahal saya sudah senang kamu meminta sesuatu pada saya" lirih Regan.


"sayang jangan gitu ah,mukanya gak cocok" kata Rere melihat wajah melas Regan yang biasanya datar.


"begini aja kamu bisa gak buat mansion kita nanti ber lift supaya kita gak perlu capek-capek naik turun tangga,terus aku mau ada tempat olahraganya,terus ada kebun buah dilantai paling atas dan ada bioskop mini kan aku suka nonton tuh ihh pasti seru apalagi kalau ada ruang khusus bermain untuk anak-anak kita nanti waahhh aku jadi gak sabar kita punya anak" kata Rere membayangkan rumah impiannya.


Diam-diam Regan mencatat setiap perkataan Rere dalam pikirnya.


"ihh tapi kayanya gak jadi deh itu pasti butuh uang banyak" kata Rere "pokoknya aku mau mansion kita nyaman untuk kita tempati" lanjut Rere.


"iya" sahut Regan hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2