Si Cantik Mengubah Takdir

Si Cantik Mengubah Takdir
8.Mansion Keluarga Wijaya.


__ADS_3

Kediaman Wijaya


Sesampai dimansion Rere dan Dena hanya disambut oleh pelayan dan Satpam yang membukakan gerbang utama.


"orang rumah pada kemana?" tanya Rere menoleh kanan kiri hanya melihat beberapa pelayan yang beraktivitas.


"Gak tahu, bentar gue tanya pelayan dulu" seru Dena melangkah mendekati pelayan yang ingin melewati ruang tengah.


"bibi!" panggil Dena menghentikan langkah seorang wanita paru baya yang berkerja dirumahnya sebagai Art.


"ya non?"


"mamah papah sama kak Regan kemana? kok gak ada?" tanya Dena.


"ohh nyonya dan Tuan besar lagi keluar mau ketemu temannya katanya non, kalau Tuan muda Regan saya gak tahu soalnya dari pagi sudah pergi" jelas bibi pelayan itu.


"oh yaudah kalau gitu makasih"


"ya sudah kalau gitu saya permisih" pamit nya.


"eh bentar!"


"ya non" bibi itu menghentikan langkahnya.


"tolong bawain dua gelas minuman seger apa aja terserah sama cemilannya jangan lupa kekamar aku oke" perintah Dena.


"iya non"


"ayo re kekamar" seru Dena pada Rere yang begong ,


"ah iya" Rere mengikuti Dena kekamarnya seraya memerhatikan bagian-bagian mansion itu.


"makin gede aja sih mansion lo" celetuk Rere duduk ditepi ranjang Dena.


"mana ada perasaan lo aja kali karena udah lama gak kesini" kata Dena duduk disofa single panjang meluruskan kakinya seraya bersandarkan tubuh di tangan sofa.


"ya kali, ehh lihat gue berasa yang punya kamar langsung duduk diranjang sorry ya gak sopan" kata Rere tertawa canggung sadar kalau dia nyelonong duduk tanpa izin.


"halah santai aja kali gue juga gitu tadi dikamar lo" sahut Dena tak ambil pusing.


"Btw orang rumah kemana lo belum kasih tahu pas gue tanya tadi"


"oh itu, kata bibi bokap nyokap gue lagi keluar ketemu kawan nya kalau kak Regan gak tahu dari pagi dah keluar dan belum pulang sampai sekarang" jelas Dena memainkan ponselnya.


"dia belum pulang? huhh gue harus apa nanti kalau jumpa dia haruskah gue sksd sama dia atau so cool ?" batin Rere binggung.


"Pokoknya gue harus buat kesan positif ke dia dan bisa buat dia tertarik sama gue" gumam Rere.


"ah apa re?"tanya Dena merasa Rere bicara sesuatu.


"ehh apasih gue gak ada ngomong apa-apa sama lo" kata Rere gelagapan.


"oh kirain lo bilang sesuatu sama gue" ujar Dena memperbaiki posisi nya jadi duduk bersandar menurunkan kakinys.

__ADS_1


"gak kok" elak Rere.


tok' tok' tok'


"ehh ada yang getuk pintu tuh" kata Rere menunjuk Pintu dengan dagunya.


"Tolong dong re gue pw" seru Dena melas.


"dasar!" dengan sedikit malas Rere bangkit dan membuka pintu.


Ceklek!


"non saya ngantar pesanan non Dena" jelas bibi pelayan menyodorkan nampan berisi minuman dan tiga toples sedang dengan isi cemilan yang berbeda.


"oh ya makasih ya"


"iya non kalau gitu saya permisi"


saat pelayan itu pergi Rere kembali masuk kamar dan tak lupa menutup pintu pelan dengan kaki.


"nih pesanan lo" seru Rere menaru nampan diatas meja dekat sofa yang diduduki Dena.


"iya thanks udah repot ngambilin. so langsung di minum aja jangan sungkan" kata Dena mempersilahkan Rere menikmati cemilan dan minuman.


"ya nanti kalau pengen langsung gue ambil"


"emm enak nya kita ngapain ya masih sore nih " tanya Dena menompak dagu dengan tangannya yang bertumpu di pegangan sofa.


"gue mau tanya boleh?" tanya Rere random.


"kakak lo lagi dekat sama cewe gak sekarang?"


"emm setahu gue sih engak ada, mana ada yang mau dekatin dia orang ngomong aja jarang, kenapa emang lo pengen pdkt sama kakak gue?" kata Dena sedikit bercanda pada akhir kalimatnya.


"iya kalau boleh" kata Rere frontal.


"lo serius?" tanya Dena melotot menatap Rere.


"iya gue serius boleh kan tapi!"


"gue sih terserah kak Regan kalau lo jadi ipar gue beneran ya gak masalah malah gue seneng"


"tapi gue binggung" ucap Rere membaringkan diri diranjang Dena.


"bingung kenapa lo" tanya Dena menaikan alisnya.


"iya gue binggung cara dekatin kakak lo secara oke itu gimana" kata Rere menoleh ke Dena.


"oh itu sih sepintar-pintar lo aja narik simpati dia" celetuk Dena meraih gelas dan meminumnya beberapa tegukkan.


"tapi kok lo mendadak banget pengen pdkt sama kak Regan? sedang kan lo udah lama banget gak ketemu dia" lanjut Dena melontarkan pertanyaan yang menganjal dipikirannya.


"gue!" kata Rere kaku, "gak mungkin dong gue jujur" batin Rere.

__ADS_1


"itu, gu..gue bosan ngejomblo jadi gak salah kan gue dekatin kakak lo" jawab Rere gelagapan.


"napa lo gitu banget ngomongnya malu ya? santai aja kali sama gue" Dena terkekeh pelan melihat Rere yang canggung menjawab pertanyaannya.


"hehe"


Rere bangkit dan duduk disamping Dena dan meraih gelas lalu meminum isinya, itu membuat Rere lebih tenang.


"pokoknya kalau memang lo serius mau deket sama kak Regan pasti gua dukung lo seratus persen" seru Dena meletakkan gelas yang dipegangnya sedari tadi diikuti Rere.


"makasih lo memang sahabat terbaik gue" seru Rere tersenyum memeluk Dena dibalas dan Dena senang hati.


"sorry Den andai lo tahu apa alasannya entah apa jadinya" batin Rere.


"gue mandi dulu ya gerah nih" seru Dena melepaskan pelukan keduanya lalu bangkit meraih pakaian ganti.


"pantes!" celetuk Rere.


"pantes apa?"tanya Dena menoleh ke Rere.


" pantes bau asem"ledek Rere.


" Yee dasar mana ada!"ketus Dena


"udahlah gue mandi bentar oke" lanjut Dena masuk kamar mandi.


"Semoga ini langkah yang benar oh Tuhan bantu aku" lirih Rere pelan.


Rere duduk merenung sedikit ragu tapi ada sesuatu yang mendorongnya melakukan ini, apalagi jika mengingat mimpi semalam sejujurnya Rere tak ingin berhubungan dengan Regan tapi kalau Regan memang jodohnya bagaimana?


jadi menghindar kejadian Regan selingkuh darinya seperti yang terjadi dalam mimpi Rere harus membuat Regan jatuh cinta dengannya hingga jadi bucin.


"hehe" Rere tertawa pelan membayangkan jika Regan benar-benar jadi bucin lucu kali ya pikirnya.


"paling gak dalam mimpi gue dia ganteng banget entah didunia nyata juga kaya gitu atau gak" gumam Rere.


walau sakit jika mengingat mimpi semalam tapi setidaknya itu yang akan memicu Rere jadi lebih baik.


"Hei! napa lo begong gitu mikirin apasih" kata Dena tiba-tiba ada disampi mengejutkan Rere.


"sialan lo ngagetin aja" ketus Rere kesal.


"habis lo begong senyum-senyum terus gak lama muka lo kaya sendu. kenapasi lo" tanya Dena penasaran.


"ah gak gue cuma ngebayangin kalau kakak lo bucin sama gue jadi gue senyum terus kalau sendu itu karna gue takut ditolak" jelas Rere setengah berdusta.


"ohh kirain kenapa, udah lo mandi gi sana terus nanti kita keluar gak lama makan malam sebelum isyah biasanya" seru Dena.


"ah iya gue mandi ya mau sholat magrib juga"


"iya ya mandi sudah"


Rere pun mengambil baju yang ada ditasnya dan membawa kekamar mandi, setelah mandi ia pun melaksanakan sholat magrib.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2