
Pemakan Kesedihan, bab 01
Cuaca tengah lenggana bersekutu, petir membahana pada telinga pendengar seolah meradang menggentarkan seluruh bangunan, selagi seorang gadis berambut hitam yang tumpah melebihi pinggang berjalan melewati derasnya rinai-rinai hujan.
Anak perempuan berjalan terhuyung-huyung merasai sakit, rambut serta pakaian pun ikut kotor sebab terkena genangan air. Di tengah hujan deras ia berjalan sendirian bersama darah bercucuran di wajah, sampai masa ia merasakan lemas tidak kuat bertumpu pada kedua kaki.
Dia menggendong tas punggung, air mukanya kucam agak putih. Matanya memerah seperti selepas menangis. Menampakkan kakinya lemas seperti tak kuasa bertumpu, ia terjatuh bersama barang bawaan dan pakaian sekolahnya ikut basah.
Gadis yang melahirkan rasa kecil hati menangkap suara ponsel dengan telinga berujar, "kenapa aku menerima ponsel dari orang lain?" Ia mengigit bibir sebelum berlanjut, "ini sangat tidak adil!"
Jalanan kota penuh akan kendaraan lalu lalang, bisingnya klakson sangat keras gencar mengeluarkan suara. Orang-orang menjadikannya pusat perhatian, meski sebentar. Tidak satupun dari mereka yang hendak menolongnya bahkan bertanya kepadanya sekalipun.
"Ada apa?" Angkat seseorang bicara. Gadis berambut hitam ini mengangkat pandangan menjumpai seorang remaja yang dikenalnya. "Ngapain kamu di jalan seperti ini?" Lanjutnya bertanya.
Gadis ini memperoleh pemandangan remaja laki-laki seumuran mengulurkan tangan, mata merah dan rambut agak acak-acakan itu menjadi ciri khasnya. Beriringan dengan durja sedih, gadis ini mencuaikan dirinya semasih belum laki-laki ini melindunginya.
Alat pelindung dari panas dan hujan, terbuat dari kain diberi tangkai yang dapat dilipat ini dipegang oleh remaja ini dengan gemetar.
"Widia.." remaja ini menjeda ucapan sebelum menarik napas dalam-dalam dan berlanjut, "kenapa kamu hujan-hujanan. Ada apa denganmu?" Tanyanya bermuka heran.
"Aku hanya.." lirih pelan Widia. "Tidak punya sambung tangan ..." Kata-katanya semakin meredup hilang lenyap dibalik suara derasnya hujan.
Sewaktu kembali menemukan uluran tangan, Widia menerima, selepas bangkit karena bantuannya, perempuan ini membisu seusai berterima-kasih. Namun, laki-laki yang bersamanya menangkap bunyi tangis mengesak, dirinya tidak dapat menebak situasi dan hasilnya membuka mulut.
__ADS_1
"Apa kamu mau ke rumahku saja?" Ajaknya bernada pelan. "Setelah reda kamu bisa pulang jaraknya deket kok," ucapnya seraya memberi senyum.
Lawan bicara mengangguk perlahan sebelum berkata, "iya Fadli" Widia mengigit bibir sesudah melirih, "nanti semuanya akan ku ganti."
Mereka berjalan berdampingan, secara sepenuhnya Widia berada pada perlindungan payung, sementara pemilik payung setengah badannya basah akibat menjaga jarak. Keinginannya untuk beradu siku ditolak keras oleh otaknya
Sesampai depan rumah sederhana dengan bunga-bunga berderet bersusun rapi dalam bentuk garis lurus, teratur pada halaman rumah dengan warna-warna beragam. Begitu juga, ayunan diduduki kucing tengah berlindung di bawah pohon dari titik-titik air berjatuhan dari udara bergoyang menuruti angin.
Fadli membawanya ke dalam rumah sambil mencerling ke mukanya, selama berjalan pandangan mata melompong hampa dan mulutnya membisu tiada melisankan kata-kata apapun. Dia mematung duduk pada sofa saat Fadli pergi ke dapur.
Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan secangkir teh masih mengepul dan handuk kering di lengan. Sewaktu menyerahkannya pada Widya, gadis ini mengelap wajah dan meneguk minuman sembari bersedih hati.
"Ada apa?" Kali ini Fadly bertanya sembari menyender ke sofa.
Ketika mengamati dari kejauhan, disaksikan oleh netra hanyalah gadis terduduk dengan kaki terlipat ditindih oleh pantat, bersimpuh di jalan. Serupa orang putus harapan. Terlebih lagi meski beda kelas, ia masih ingat arah baliknya berlawanan.
Akhirnya kebohongan yang melontar keluar dari mulutnya terpatahkan. Kini Widia mengatakan hal kenyataan. Walau sedikit tidak meyakinkan, Fadli percaya seusai menemui ekspresi pilu dan Fadli pun kini bingung musti bertutur kata atau tidak.
Ketika hendak ingin bicara, Widia tertampak bingung hendak menjelaskannya, tetapi sebisanya ia menerangkan yang terjadi diiringi emosi sedih. Beberapa menit kemudian Fadly sadar sebab dia sampai sebegitu sedih, seluruh hak kepemilikan rumah tanahnya diambil paksa oleh pamannya.
"Ini begitu sangat tak adil!" Widia mendadak menggebrak meja. "Kenapa dia yang bukan keluarga dapat hak kepemilikan bahkan rumah?" Ungkapnya setengah membentak. Balik senyum Fadli menarik napas panjang.
Melupakan ceritanya sejenak, Fadli tahu tentang kekayaan keluarganya bahwa dirinya bukan apa-apa selain satu dari masyarakat miskin. Mengapa dia bisa bernasib seperti itu? Yang ditebak Fadli cuma kesimpulan aneh, meski dalam beberapa saat ia menebak Widya akan mengajukan pertanyaan.
__ADS_1
"Hey Widia, Apa yang terjadi padamu?" Tanyanya sekali lagi mengulang.
"Fadly..." Sekarang setelah sekian lama dia buka bicara. "Bisakah aku tinggal di sini mulai dari sekarang?" Lanjutnya bertanya.
Lelaki ini mencuaikan ujaran katanya, hanya terdiam membisu menatap heran, segera dia mengetuk meja di depannya dan mengatakan hal yang sewajarnya, yaitu menolaknya dengan mentah-mentah dan Widia memahaminya. Tinggal bersama dengan seseorang yang bukan siapa-siapa mencurigakan.
Dia menunduk berujar, "maaf sudah mengatakan hal aneh padamu." Widia mengigit bibir membatin, "apa yang sudah kukatakan?"
Fadly sembari memalingkan matanya ke samping berkata, "Tidak apa-apa, nah minumlah dulu dan keringkan rambutmu itu. Hujan sedang deras, nanti setelah reda pula--maksudku pikiran hal terbaik."
Sebab, karena ayah dan ibunya di luar negri dia tidak punya tempat lagi tuk berpulang. Dan Fadli mengambil keputusan untuk membiarkannya tinggal di sini, hanya saja, dia takut pada tetangga membesar-besarkan masalah ini.
"Apa orang-tuamu tak bisa kamu hubungi menggunakan telepon?" Fadli memberikan pernyataan. Tanggapan Widia sekadar menggeleng saja. "Apa kamu punya kerabat atau saudara di luar atau dalam kota?" Kembali Fadli bertanya namun responnya tetap serupa.
Sungguh Fadli tak memahami situasinya sekarang ini, banyak sekali ceritanya seperti sebuah rekaan meski kepercayaan cukup kuat. Memutarbalikkan kenyataan, Fadli hanya bisa mengangguk, secara acak dia ingin melisankan kalimat namun terhenti.
"Sepertinya pertanyaanku akan bersifat pribadi," ucap remaja ini dalam hatinya. "Kayaknya kalo gadis yang mendengarnya akan marah," lanjutnya membatin sembari menyeruput minumannya.
Mengambil satu keputusan berat, mau bagaimanapun juga Fadli tak bisa menerima tinggal. Itu akan menimbulkan masalah kedepannya. Mungkin mereka takkan merasakan, hanya kadangkala telinga akan merasa panas, serta salah paham sekeliling meruak kemana-mana.
Fadli menatapnya dengan tatapan serius, "aku kalau untuk makan saja aku harus bekerja. Lalu, kamu bukan siapapun aku jadi takkan bisa membiayaimu.." dia menarik napas dan melanjutkan, "walau aku suka padamu, tapi untuk urusan ini berbeda."
Durja Widia merona merah malu, walau mulut melontarkan kata-kata dan pertanyaan, anak perempuan merasai pipinya hangat dan jantungnya berisik. Begitu bising sampai terbit Widia mengutuk pusat peredaran darah. Mereka kini saling menampak, netra mereka bertemu secuil pelipur lara.
__ADS_1
Wajah cantik Widya merona merah, meski ucapan itu banyak dilontarkan banyak remaja laki-laki di sekolahnya ini pertama kalinya dia merasakan malu. Itu memecahkan suasana hening. Kini gadis ini mulai mengajaknya bicara, itu tidak mengubah fakta bahwa Fadli mungkin akan memintanya pergi.