Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 06 | MelirikMu Sekilas | edt


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 06


"Eh. Ayah dan ibu mau ke luar negeri?" Tanya gadis yang baru bangun ini. Ayah ibunya mengangguk pelan memberi tanggapan.


Keduanya sibuk membereskan barang di bantu oleh pelayan. Begitu mendengar bila akan pergi jauh serta lama, bahkan akan sulit untuk saling menghubungi sehingga Widya sukar melepaskan orang-tua, namun ia tidak mau egois.


Di malam yang sunyi nan tenang, anak gadis ini tidak memejamkan mata bertujuan tidur dan hanya memandangi langit-langit kamar. Selagi masih terjaga ia selalu mendengar bisingnya mereka berkemas. Widia tak habis pikir, mengapa dia tidak boleh menelepon? berkecamuk di benaknya.


"Ada beberapa alasan," jawab ayahnya menimpali pertanyaan anaknya. "Tapi.. jangan khawatir, ayah usahakan akan pulang dalam tiga empat bulan, kok."


Seusai memasukan banyak sekali koper ke dalam bagasi mobil, mereka pergi. Kesempitan rumah menjadi agak lega. Biarpun Widia menganggap keheningan ruangan tempatnya mengistirahatkan tubuh, dia merasakan kehampaan tanpa mereka.


Mobil orang-tuanya menjauh lenyap dari penglihatnya. Ketakutan kehilangan orang-tua menyerangnya, setiap hari sampai sekarang Widia terus menolak dan menyangkal pemikiran tentang kedua orang-tuanya mau bagaimanapun caranya.


***


"Kupikir pergi ke warung saja lebih baik," usul Fadli sambil melirik kedai di tepi jalan dekat rumah.


Widya menggelengkan kepala, "ah nggak.. sesekali kita ke pusat perbelanjaan saja. Di sana banyak sekali diskon, loh."


Fadly menarik napas. Dia melihat ke angkasa seraya melangkahkan kaki, matanya terpaku pada burung yang tengah mengirai-ngiraikan sayapnya dengan bebas di ruang luas tersebut.


Anak remaja ini memakai pakaian yang terkesan tertutup. Masker menutupi setengah wajah, topi pula menghalangi mata untuk di lihat mata lain. Dia menggunakan kemeja hitam dan mengenakan segala busana hitam, kecuali jam tangan berwarna merah tua. Di tangan terdapat buku catatan.


"Jadi bebas itu.. enak ya," gumamnya pelan tidak di dengar Widya. Laki-laki ini menurunkan wajah dan berkata, "Aku takkan paham pemikiran tentang para gadis tergila-gila pada kata 'diskon' itu."


Keduanya berjalan beriringan. Mereka melewati pohon rambutan yang menjatuhkan banyak dedaunan, daun-daun berserakan di jalan dan Fadli mengambil salah satunya. Mendadak Widia seperti membungkam mulutnya.


"Jangan bertanya buat apa. Aku punya hobi aneh, tau!" Ucap Fadly setengah berteriak. Kata-katanya terlisan begitu melihat gadis ini menahan tawa.

__ADS_1


Hendak membuka mulut Widya mendapati seseorang yang di kenali olehnya. Dia tengah membuang sampah, perempuan berbaju putih itu menoleh kepadanya juga. Mereka saling menatap beberapa detik tak lama saling memalingkan mata.


"Siapa dia?" Fadli berkata selepas menyadari tatapan aneh gadis di sampingnya. "Kamu seperti ingin mendekatinya," tebaknya.


"Nggak.. sepertinya orang-tuaku ingin membuangku itu benar-benar nggak boho--!" Tiba-tiba perkataannya terhenti. Fadli memegang kedua pundaknya agak bergetar, ia mengguncangkannya lumayan kencang.


"A-Ada apa?" Tanya Widia panik. "Jangan membuatku merasa jantungan," ujarnya pelan menatap ke wajahnya.


"M-Maaf.." lirihnya pelan. "Kalau begitu kita lanjutkan saja ke pusat perbelanjaan yang kamu maksud," kata Fadly bergerak maju. Kedua kakinya gemetar seolah takut pada sesuatu.


Seketika itu Widya melupakan segala mengenai keluarganya, bahkan pembantu yang telah dianggapnya ibu kedua kini menghilang. Dia mengalihkan segala perhatian pada lelaki ini tanpa alasan jelas. Jauh dalam hati, ia senantiasa mempertanyakan alasan menaruh perhatian kepadanya.


Beberapa menit berlalu, Widia dan Fadli sampai di tempat tujuan mereka. Penuh akan orang. Langsung tempat yang dituju oleh Fadli kursi kosong dekat kafe yang menyediakan berbagai sajian dingin dan minuman, gadis ini mengingat saat-saat ayah membawanya kemari untuk membeli kudapan ketika ibunya tengah mengidam.


"Walau adikku nggak mau lahir ke dunia sih," Widya menghela napas panjang sebelum tersenyum. "Baik.. sekarang kamu mau ikut aku aja ?"


Fadli menggelengkan kepala setelah bercakap, "aku akan tunggu di sini saja. Tapi, apa kamu yakin belanjakan uang kamu untuk.. hal yang terbilang tidak.. berguna?"


"Ya itu enak tapi tidak untuk kesehatan gigi milikku. tapi, sebaiknya aku tidak menghambur-hamburkan uang untuk yang tak terlalu perlu deh.." ucapnya sambil melirik toko pakaian. Tidak membutuhkan waktu lama gadis ini menelan ludah.


Satu jam lebih berlalu, Widia turun dari tangga menginjak lantai bawah setelah berputar-putar di lantai tiga dan lantai dua. Dia membuka dompetnya memperoleh kekosongan.


"Rasanya dompetku mau batuk.." Widya menyimpan dompet di sakunya. Ia melangkahkan kaki menuju tempat Fadly berada.


"Eh.." mulutnya menganga. "K-Kenapa dia malah tertidur di tempat begini. Apalagi gaya tidurnya sangat keren," komentar Widia atas tanggapannya terhadap gaya tidurnya. Sampai menarik perhatian yang lewat.


"Aku mau bilang malu-maluin tapi.. ya sudahlah.." helaan napas menyertai ucapannya.


Widia datang mengguncangkan tubuhnya pelan dan menepuk-nepuk pipinya. Butuh puluhan detik hingga kelopak matanya terbuka. Matanya terlihat merah seakan mengantuk, cukup menggambarkan orang yang di serang lejar dan letih.

__ADS_1


"Mau es krim ?"


"Nggak."


"Uhh.. mau kue ?"


"Nggak pengin."


"Mau.. ehh.." Widya kebingungan. "Ahh, aku gak bawa yang lain selain itu!"


"Aku penginnya kamu.."


Segera bergegas wajah Widya merona merah bagai apel matang, rangkaian kata-katanya kacau hendak melontarkan kalimat apa. Senyum malunya sudah merekah dalam lekukan pipi imut yang membujuk.


"Hanya bercanda," lirih pelan lelaki ini. Hal itu menyelamatkannya, Widia kini duduk dengan muka yang masih memerah malu. Dan mereka menikmati sajian dingin, meski laki-laki ini agak mengeluh tentang barang-barang yang ada.


Pandangannya terpaut pada gadis semampai berambut panjang hingga melebihi pinggang, tumpah ke bawah dan Fadli mengambil tindakan melirik sekilas. Dia tak berani memperhatikannya lama walau sudah jadi teman.


"Huhh.. sekarang mau apa?" Widya berdiri di hadapan. Seperti biasanya Fadly melihat mukanya sebentar dan tertunduk. "Kenapa kamu ngeliat aku bentar lalu nunduk? Kenapa sih!" Nada bicaranya seolah-olah begitu kesal.


Yang dilihat dari cakupan penglihatannya, ia menganggap Widya layaknya anak gadis lainnya tapi seiring berjalannya waktu. Fadli tidak tahu. Apa itu gadis? kadangkala cara bicara serta tindakannya tidak terduga. Laki-laki ini tidak bisa belajar dari apa yang dilihatnya sekali tentang hal tersebut.


"Kamu lihat itu.. bukannya itu yang diinginkan adikmu?" suara itu muncul dari belakang tertangkap oleh daun telinga Widia.


"Ayah?" Lirihnya lembut. Kenangan itu terbit dalam ingatannya, baru gadis ini hendak melupakan sedikit bangkitnya ingatan.


Bayangan ayah menghilang seketika dari pandangan ingatannya. Widia buru-buru balik ke belakang, tidak menemukan siapapun yang sangat ingin ditemuinya. Dia benar-benar tidak mengerti benar tentang penglihatannya.


"Ah, nggak.." Widia menyentuh keningnya. "Mana mungkin ayah ada di kota ini.. dia kan di luar negri."

__ADS_1


"Ada apa?" Fadly ikut berdiri dan mengamati krrumunan orang-orang. Widia tidak mengindahkan apa yang di dengarnya, itu hanya satu pembicaraan yang hampir sama saat-saat bersama ayahnya. Dia menekankan pada diri, menindih harapan bahwa keinginan itu belum datang.


__ADS_2