Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 26 | Senyuman Tempatnya Berada


__ADS_3

Bab 26 | Senyuman Tempatnya Berada


Awan-awan putihnya berarak ditiup angin di atas Widia, anak perempuan ini mengeluh seusai keluar dari mobil hitam. Dia memasuki sekolah bersama muka cemberut, sorot matanya bagai pedang es ketika berhadap-hadapan dengan laki-laki yang terpukau akan dirinya.


Widia menampak satu laki-laki memperhatikan dirinya sambil berjalan, anak perempuan ini mengamati cara jalannya begitu unik layaknya penguin walau jalannya agak tegak. Laki-laki itu lewat bagaikan kepeduliannya amblas seketika.


"Hei, kamu terkenang akan kehadiranku?" Suara itu tertangkap pendengaran Widia.


Gadis rambut hitam panjang tumpah ke hingga bawah pinggang ini menoleh menemukan bahwa dia sedang berhadap-hadapan dengan temannya. Widia menghirup udara, melegakan pikirannya sejenak dan meninggalkan kakak kelasnya.


Sejauh dia berjalan kelasnya belum banyak yang hadir, beberapa orang terduduk pada kursi mereka sedang bercakap-cakap bersama teman. Widia melihat seorang gadis tengah kebingungan, ia terus memandangi langit dari jendela kelas.


Widia menjumpai gadis itu yang tidak lain ialah adiknya sendiri dan menepuk pundaknya, ia tersenyum lembut mendapati muka masam adiknya begitu dirinya menoleh. Bergegas air muka Widia serius memperoleh adiknya kebingungan.


"Sarah, kamu kenapa?" Widia duduk sebelum melanjutkan berkata, "katakan padaku jika ada sesuatu. Buat apa kehadiran kakakmu ini huh!"


"Hari ini Sarah nemuin ..." kalimatnya terhenti sementara. Sarah menghela napas sebelum melanjutkan dan berucap, "dapet 13 surat cinta lagi di kolong meja Sarah."


"E-Ehhh? kalo soal itu, kakak.." perempuan ini tersenyum masam sambil membatin, "kenapa hanya kami? Ini pasti kutukan, aku yakin!"


"Angka 13 itu pertanda sial, Sarah harus gimana kak? Bantuin!" Desak adiknya memojokkan kakaknya sampai Widia perlu mundur.


"Tenang saja, itu cuma omong kosong belaka! Kenapa kamu percaya begituan?" Widia spontan bercakap seperti itu.


Sarah memiliki tubuh berkebalikan dengan Widya yang cantik menarik hati karena eloknya, dibandingkan adik, dia lebih terlihat seperti bukan kakak. Kakak-beradik ini jarang berbincang-bincang bersama orang lain, akibat keluarga mereka yang tidak memperbolehkannya secara turun temurun dari kakek-nenek mereka.


Bagaikan anak keturunan raja, tanggungan keluarga besar yang masih memiliki 200 abdi lebih melahirkan citra tertentu dan cara pandang berbeda di masyarakat. Pergaulan anak-anak di keluarganya terhambat oleh faktor internal, bahkan sekali ayah mereka melarang percintaan meskipun hal tersebut tak pernah di ungkit lagi.

__ADS_1


"Tolak aja sana, apa kamu lupa akan semerepotkan apa nanti kedepannya?" Ucap Widia selepas menghela napas.


Sarah mengangguk paham. Keduanya kini terdiam seusai guru datang, walaupun banyak yang absen hari ini Widia tidak peduli dan menyiapkan alat tulis di atas mejanya. Dia tampak semacam orang yang tidak memilki pusat perhatian pada matanya.


Suara kring kring kring bel istirahat melengking menyakiti telinga, Widia meninggalkan adiknya setelah pamit akan ke kantin. Dia keluar dari ruangan kelas, tiada hal yang sampai membuat perhatiannya terpaku dan membuang wajah acuh tak acuhnya.


"Bego!" Teriak seseorang. "Aku gak peduli mau bagaimana juga harus selesai!" Lanjutnya berteriak-teriak cukup nyaring.


"Takkan mungkin bisa!" Balas lawan bicaranya meninggikan ucapan.


"Kalian cepatlah diam, lihatlah keluar kelas! Banyak orang menonton pertengkaran kalian.." ujar seseorang lelaki yang berusaha merarai kericuhan.


Perihal kegaduhan ini merebut perhatiannya dan gadis ini menonton dari jendela, tiada henti menjambak rambut lawan dan tamparan demi pukulan makin gencar menyerang. Widia memasang muka masam menonton kejadian ini.


Hendak menginginkan angkat kaki Widia menemukan laki-laki yang mendiamkan tidak mau mengurus masalah. Dari keseluruhan siswa, hanya dia mencuaikan masalah orang lain dan terduduk di kursinya mengamati saja.


"Kelas tiga banyak masalah ya?"


"Mana ku tahu."


"Lihat deh yang matanya merah, jelek banget ya."


"Jangan mengejek orang, itu kantong mata akibat begadang.." komentar Widia memasuki pembicaraan secara mendadak. Siswa seangkatan dengannya pun terdiam, mulut besar mereka lekas bisu mendengar kata-kata yang terlisankan.


Selagi keributan masih menyala-nyala, ada tiga orang datang ke kursinya dan mereka langsung bercakap-cakap. Laki-laki itu menampakkan wajah bahagia, berkebalikan saat-saat sendirian. Senyum cerianya buat Widia sedikit iri.


Pupil mata Widia membesar sesudah menyadari satu hal, lelaki itu hanya membuat senyum faktitius sewaktu di depannya dan secara alami memasang senyum murni, di tempatnya berada. Walau kebisingan serta keributan jadi latar belakang, laki-laki tersebut tidak mengindahkannya.

__ADS_1


Adakalanya masabodoh penting agar mampu membiarkan perkara penyakit mengalir, untuk apa mencemplung ke dalam air berbahaya? Tidak ada kemaslahatan sama sekali.


"Aku nemuin orang yang menarik. Nanti aku tanya ke kenalanku, siapa namanya?" Batin gadis ini dalam hatinya. Dia kini angkat kaki dari kelas tiga beralih ke kantin, sebelum bel berbunyi kembali ia ingin bergegas menyantap makanan selagi bisa.


***


"Kejadian itu sudah lama rasanya, padahal baru beberapa bulan yang lalu.." batin Widia dalam hatinya. Sewaktu menjemur pakaian Widia mengatakan, "entah mengapa aku pengin Fadli senyum murni tanpa buatan seperti itu. Sesulit ini membuat senyum selain di tempatnya berada?"


Tempo hari ini Fadli kelihatan baikan melewati masa sakitnya, anak perempuan ini balik ke kamar dan menemukannya memainkan tirai. Angin menyibakkan surainya, mata merah dan kantung mata hilang dari durjanya memberi kesan kontras sebesar danawa bagi Widia.


Widia berjalan menggontai berharap Fadli tidak menangkap suara langkahnya, usahanya sia-sia menjumpai mata Fadli terarah kepadanya. Dia menarik napas, tergesa-gesa bergerak dan terduduk di samping Fadli dengan muka bersut.


"Kenapa mukamu bersut gitu?" Tanya Fadli mengawali. Dia yang melihat Widia tidak merespon mengulang, "maksudku, kenapa mukamu cemberut seperti itu?"


"Hump!" Cemberutnya makin menjadi-jadi. Dia menghadap muka dan berungkap, "Aku lagi kesal aja. Lalu, gimana badanmu? Udah baikan pasti!"


"Durjamu kayaknya berkata kepengin mengalihkan pembicaraan." Fadli yang tersenyum berkata, "walau maharana yang madar lahir karenaku, aku nggak indah jika kamu malar bersamaku."


"Kupikir cara bicaramu harus diubah, itu sangat membingungkan orang!" Komentar Widia melahirkan perasaan lega dari lubuk hati Fadli yang terdalam.


"Sebelum aku merubah gaya bercakapku, kamu selalu melakukan hal aneh seolah-olah mencari perhatianku? Rasanya seperti tengah akting."


"S-Soal itu ..." Widia yang sekarang memerah malu mengatakan, "aku kepengin kamu senyum dan menaruh perhatian padaku. Itu saja alasanku."


Remaja laki-laki melipat dan menyilangkan kakinya, dengan posisi duduk bersila jejaka ini menadah wajah malu-malu seorang gadis cantik di depannya. Widia yang sulit mengikuti cara main Fadli berserah, ia menoleh ke lawan depan mendapatkan mukanya.


Fadli mendekati daun telinganya membisik, "bisa-bisanya kamu melompati berbagai ekspresi dan melakukan macam-macam hal tanpa terduga. Hanya untuk menarik perhatianku, situ suka padaku?"

__ADS_1


Widia menganga, kaget akan lisan dari kata-kata yang tercinta melontarinya bagai anak panah menghujani dirinya. Dia sekarang mematung diam menatap wajah Fadli dengan ekspresi malu, tak kuasa menahan perasaannya pada remaja laki-laki rapuh sok kuat ini.


__ADS_2