Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 04 | Mengulurkan Tangan UntukMu | edt


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 04


"Hati-hati di jalan, Zan!" Seru Fadli melihat kawannya pergi. Kendaraan itu menghilang dari pandangan. Ketika berbalik laki-laki ini menemukan Widia berdiri di pintu. "Ada apa?" Tanyanya pelan.


Mereka berdua masuk ke dalam. Pandangan air muka yang memperlihatkan perasaannya buat Fadli memilki kekacauan hati, akhirnya kedua remaja ini berbalas-balas menjeling. Gadis berambut hitam ini menggerakkan bola mata ke sudut mata sebelah kiri.


Di kanannya Fadli memasukan udara dalam pernapasan, mencicipi rasa mengabaikan seseorang meski ingatan-ingatan perihal orang-tua terbit. Menyerang bertubi-tubi tanpa henti, memukul hati tapi kedua kakinya tetap bertumpu, merasai pertolongan anak gadis di kala itu.


Gadis berumur 16 tahun ini mengigit bibir bawah, ia tampak begitu marah beserta kesal menyertai muka cantik menawannya. Sedangkan Fadli bingung alasannya. Dia hendak bertanya, mulutnya menganga akan tetapi tidak mampu berkata seusai air mata itu turun mengalir.


"Kenapa kamu bantu aku waktu itu.." ucapannya diiringi isak tangis. "Kalo gini jadinya meski gitu kamu bener-bener aneh!" Ucapnya dengan nada meninggi.


Situasi makin membingungkan, pihak satu tak mencerna tiap-tiap ujaran kalimatnya, sementara pihak lainnya ingin dipahami.


Pola pikir setiap manusia berbeda-beda, kadangkala menemukan yang mirip serupa kembaran namun kembaran pula meski takkan punya hal-hal yang disukai. Mereka bukan robot yang di program sama, walau belum tentu ada persamaan yang bertahan lama nantinya.


"Aku pikir kamu mau jahatin aku atau manfaatin doang, tapi.. jangan gini juga!" Tangisannya makin melemah. Dalam keadaan bingung hilang akal tak tahu apa yang harus di lakukan Fadli diam. "Sampai lakuin banyak hal.. buat aku, emang gunanya apa buat kamu?" Widia meminta keterangan.


Fadli memalingkan mata, ia menarik napas sebelum membelakangi gadis ini seusai melihat titik-titik air mata di lantai. Dia mengambil pena di atas meja. Helaan napas menyertai ekspresi suramnya, kini tatapan tajam mengarah pada ujung pena.


"Widia.." panggilnya. "Aku pun nggak tau alasan buat nolong kamu mungkin aku karena suka kamu tapi rasanya aneh juga. Jujur, aku bingung sama otakku ingin apa tapi sepertinya butuh temen aja!" balasan itu membuat Widia mengigit lidah.


Keduanya berbalas-balas saling meminta penjelasan mengenai alasan mengulurkan tangan kala itu. Remaja laki-laki ini menghadapnya. Memperlihatkan senyum hampa, melompong hampa kepada Widia, Fadli memberi senyum tipis melahirkan hawa dingin nan tawar. Pupil matanya mengecil berkebalikan saat melihat paras Widya pertamakalinya di SMA.

__ADS_1


Tatapan mengancam? Tatapan mesra? Widia tak mengetahui namun serasa mengenalnya di suatu waktu. Membutuhkan sebuah pemahaman tentangnya. Fadli menggelengkan kepala, sesudah mengigit jari dan tersenyum kecut dia duduk di sofa seolah-olah tidak mengindahkan perihal barusan.


"Baiklah kalau begitu kamu mau apa?" Tanya Fadli mengawali pembicaraan. "Enaknya.. gimana.. maksudku..," tambahnya agak melambatkan tempo saat berucap.


Widia duduk di depan kursi bersimpuh pada lantai bersama wajah sedih. Mereka bicara selama setengah jam tanpa henti. Decak jam tak jadi penghalang, seluruh gangguan tidak mampu mengusik pembicaraan keduanya.


"Lalu kamu mau gimana, nggak punya tempat tinggal loh.." ucap lelaki ini seraya memukul pelan meja memakai buku jari.


"..."


Reaksi gadis di depannya tidak lebih dari menerima dengan ekspresi tak terima, ia hanya mengigit bibir lagi dan lagi, seolah hanya itu yang bisa dilakukannya. Selama hitungan detik Fadli tidak ditanggapi dia kini ingin melanjutkan. Namun, merasa bila Widia ingin berkata ia mengurungkan niatnya sementara.


"Aku bakal ngerjain urusan rumah kalo gitu, semuanya!" Teriaknya agak membentak. Itu memecahkan suasana rumah.


Reaksi Widya terhadap sorot mata galaknya hanya berdiam membisu. Keringat turun dari kening, beserta latar tempat seolah mencekam baginya, untuk pertamakalinya gadis primadona menikmati suasana menekan semacam ini.


Fadli beranjak bangkit dari sofa sembari berkata, "ini bukan kediaman kamu hingga bisa lari ke kamar dan mengigit bantal menangis disertai ucapan menyedihkan. Tapi silakan pergi ke kamar lalu tulis kalimat 'kenapa dunia kejam kepadaku seorang' meski kayaknya itu pertanyaan. Itu yang kulakukan saat jadi remaja labil."


Merasakan canggung Fadli menghampiri dekat jendela memandang pohon di depan rumah, kedua tangannya mengepal erat. Menanam rasa takut dalam hati dan menyimpan amarah di kepala. Dia benar-benar tidak mengerti benar, apa yang terjadi kala itu sebelum mengeluarkan ajakan.


Rumah yang telah berumur tua. Seluruh cat telah mengelupas, rumput-rumput liar tak pernah di potong beserta sampah-sampah berserakan. Pagar-pagar kayu itu sudah hancur. Engsel jendela ayun dimakan karat hingga patah, jatuhlah dan menciptakan bising yang cukup keras.


Seusai tanpa diinginkan kenangan indah bagi penderita kelainan terbit di benak. Fadli menggetarkan gigi. Lidahnya hampir tergigit, namun ia menarik napas menenangkan pikiran.

__ADS_1


"Benci ke orang yang merasa sangat paling menderita di dunia ini. Aku salah satunya.." ucapannya itu serupa bisikan. Masih bisa ditangkap oleh telinga Widya walau jaraknya agak jauh.


Kedua remaja kini mengobrol pelan-pelan bertujuan mencapai kesepakatan bersama antara kedua pihak di sini. Butuh setengah jam sampai pada keadaan sepakat. Sebab Widia merasa tidak senang, malu-malu tidak bisa bergaul dan belum paham tentangnya.


"Pekerjaan kamu apa?" Angkat Widia mengawali pembicaraan. Tanggapan Fadli seperti biasa.


"Kerjaanku diizinkan kok. Tidak dilarang oleh pemerintah!" Jawab remaja laki-laki melempar senyum kecil.


Widia cukup ingin hendak tau tentangnya. Akan tetapi, sebagai orang asing terlebih lagi menumpang ia tak punya hak. Satu hal yang diinginkannya kepastian. Wajahnya merona merah, walau pikiran menerka-nerka balasan segera sampai, langsung dari mulut pembicara.


"Sebenarnya aku diusir dari rumah lalu kemari," ujar lelaki ini tertunduk. Dia menjepit bibir gunakan gigi seolah menyesali suatu perihal. "Kita pernah ke sekolah.. jaraknya jauh dari sini jadi tak ada yang tahu aku disini selain kamu harusnya, kumohon jangan sampai orang lain tahu.." tolehnya diiringi muka betul-betul seperti putus akal.


Krik, krik, krik...


Suara serangga bersayap ganda yang melatari suasana mengakibatkan Widia terkesiap kaget, mendadak Fadli bangkit dan pergi. Dia menutup kening memakai tangan kanan. Menyusul, Widia pula merona merah sebagaimana Fadli juga sama dan keduanya saling memalingkan wajah.


"Aku pernah bilang suka kamu tapi itu bukan obsesi kok, memang aku gunain nama kamu di cerita aku! Tapi.." cakapnya makin melemah. Sementara lawan bicara saat mengindahkan perkataannya agak sedikit malu untuk berbicara sepatah katapun.


"Ini dah malam, baiknya kita tidur!"


"Ini udah laut malam, tidur!"


Ucapan keduanya bertepatan. Kecanggungan sebelum telah hilang entah kemana. Widia kabur dengan masuk kembali ke kamar, walau hanya bilik sederhana, ia merasa ruangan kecil tersekat ini serasa spesial.

__ADS_1


Bunga biru dalam pot dekat jendela bergoyang menuruti si angin, kelopaknya bergerak tiada henti selagi angin berhembus. Widia merasa polos di hadapannya. Widia kini duduk menyender pada pintu seraya menutup muka, muka merah apelnya begitu manis kekenesan.


__ADS_2