
Pemakan Kesedihan, bab 12
Kelopak mata Widya tersingkap. Dia mendapati wanita yang tidak dikenalinya duduk pada kursi tempat Fadly. Tengah berdiri dengan mata terpejam, dan gadis ini memfokuskan mata pada pipi, berpeluh hingga mengucur.
"Kenapa Fadly keringetan gitu?" Batin Widya dalam hati. "Kayak sakit.." lirihnya pelan.
Niat Widya memberikan tempat duduknya. Dia hendak bangkit dan memberi kursinya, sebelum melakukan hal tersebut Fadly terjatuh ke belakang. Sontak mereka yang disekitar kaget tak main, untungnya dia ditangkap penumpang lain.
Fadly terlihat sakit. Widya mendudukkannya di kursi tempatnya, keadaannya seakan memburuk. Napasnya memburu dan wajahnya merah. Apa yang dilihat sebelum-sebelum ini keadaannya tampak segar bugar, mendadak jadi semacam ini.
"Aku tidak apa-apa. Hanya membutuhkan pelukanmu saja, Widya."
"Apa yang kamu.." Widya memelankan suara. "Kamu ternyata hanya mengigau," lirihnya pelan mengelus kepala. Dia terlihat sangat lemah berkebalikan saat-saat di rumah.
***
Mereka sampai di tempat tujuan. Keduanya turun dari angkot, menemukan sekolah SMA yang memilki kolam di depannya. Sebelum bergerak pergi menuju pangkalan ojek penglihatan Fadly terpaku pada sekolah itu. Dia sedikit cemberut, seperti menerbitkan kenangan-kenangan buruk.
Semilir angin menyibakkan rambut Widya. Mereka tiba di pertigaan jalan, sebelum berbelok ke satu arah pandangannya terpaku pada jalan di hadapan. Widya yang melihat ekspresi wajah laki-laki di sisinya ikut melihat, itu hanya jalan biasa.
Mereka berjalan kaki. Memperoleh mesjid besar berdiri, remaja ini membelalak cukup kaget saat melihat tempat ibadah ini. Dia tersenyum kecil dan melanjutkan perjalanan.
"Padahal hanya 2 tahun," ujarnya pelan. "Tapi udah banyak perubahan begini.." lanjutnya bercakap sembari melihat ke kiri-kanan.
Widya melihat ada limbah. Baunya lumayan bisa mengerutkan kening, hanya saja bagi gadis yang tinggal di kota sepertinya melihat persawahan sebesar ini melahirkan perasaan kagum. Tanah yang digarap, diairi untuk menanam padi, begitu luas.
Langkah keduanya cukup pelan, menikmati pemandangan serta tontonan yang menarik perhatian buat gerakan melambat. Satu-satunya hal yang dapat menyadarkan mereka hanya suara anak-anak. Mereka bermain-main di lapangan, diikuti senyum gembira menempel pada muka.
"Fadly? Kamu kenapa."
__ADS_1
"Nggak.." perkataannya melambat. "Aku nggak kenapa-kenapa.." lanjutnya semakin menghilang. Dia memakai topinya kembali, masker dipakai dan mendekati lapangan.
Dia membeli roti, bicara dengan penjual seraya menunjuk salah satu anak perempuan tengah bermain bersama teman-temannya. Selepasnya memberikan selembar uang seratus ribuan, dan ia kembali hanya dengan satu potong roti di tangan.
Bingung apa yang dilakukan olehnya Widya menerima roti dan melahapnya, tanpa tidak menghiraukan pertanyaan dalam benaknya. Dia juga menonton anak perempuan itu memakan roti dari uangnya, bersama teman-temannya. Terdengar gelak tawa yang ringan.
"Dia adikku.."
Seketika Widya tidak mengigit makanan. Dia menjatuhkan rotinya, ia menatap tajam ke arah Fadly seolah ingin berkata. Seperti biasa mulutnya terkunci rapat cuman saat hendak bicara.
"Widya.." panggilnya tidak menoleh. Dia mengangkat wajah ke langit dan bicara, "Kamu nggak sekolah beberapa hari, boleh?"
Anggukan kecil menjadi jawaban. Fadly pergi seusai anak perempuan itu pergi, sementara Widya yang mengikutinya dari belakang penasaran. Dimana tempat tinggalnya? Kenapa dia tidak langsung menemuinya saja? Apa yang ingin dilakukannya?
Dari lawan muka, laki-laki ini terlihat tegap tapi sikapnya berkebalikan. Dalam perjalanan ke suatu tempat tujuan dia membeli buah dari pedagang kaki lima. Dia memilih mangga yang kuning, dan Widya hanya mengamatinya.
"Ah! Ya maaf.."
Widya duduk di sampingnya. Dia benar-benar tidak sadar jika melamun, sampai memikirkan banyak hal mengenai dirinya dan kali ini jantungnya berisik. Pupil mata gadis ini membesar. Dia menoleh ke kanan, lelaki ini mengupas kulit buah.
"Ehh?" Widya menganga lebar. "Ada apa? Kenapa!" Ujarnya bergegas menggenggam pergelangan Fadly memberhentikan aktivitas tangannya.
Tiba-tiba saja, tanpa peringatan sedikitpun Fadly melimpahkan air mata menitik ke buah yang tengah dikupas olehnya. Gadis ini menyeka air matanya tersebut, memakai tangan lembutnya. Dia menyibakkan rambut Fadly agar dapat melihat mata, sangat merah dan beringas liar.
Bola matanya seakan bergerak berulang-ulang dengan cepat. Air matanya makin turun mengalir. Dia seolah sedang menderita, Widya kehilangan akal saat Fadly menempelkan telapak tangannya ke pipi.
"Behh.. kakak dateng bawa pacar!" Suara itu muncul dari kanan mereka.
Dengan gesit Fadly menyingkirkan tangan Widya dan menggores jarinya sendiri, ia mengigit bibir. Remaja ini menoleh ke anak itu. Tangan dan bibirnya bergetar, gadis yang bersamanya menebak tangisannya bukan karena luka fisik.
__ADS_1
"Ahh!" Desah Fadly terlihat kesakitan. "Tolongin dong, kakak cengeng.. butuh elusan adek!" Kata-katanya menyusul selepas mengelap air mata.
"Beuhh.." anak ini memperlihatkan muka mengejek saat berujar. "Bukannya ada pacar kakak?" Tanyanya segera sambil mendekat.
Lekas Fadly menangkap Widya dan memeluknya. Respon gadis ini agak lambat, tidak berlama-lama wajahnya merona merah malu bagai apel matang. Dia memeluknya kembali. Dalam dekapan, keduanya saling berbisik, mengungkapkan janji bohong.
"Hah? Apa maksudnya kamu ceritain aku pacar kamu pada adikmu, mau pamer aja."
"Maaf banget. Alasannya pertama, aku suka kamu. Dan kedua, namamu sering kusebut didepannya karena ada dalam ceritaku."
"Kita hanya berpura-pura aja kalo ada adikmu, jangan mencari kesempatan. Ingat, nggak boleh ada mau sekecil atau sepele apapun.."
"Aku takkan melakukan pelecehan apapun, kau bisa ambil KTP punyaku dan melaporkanku ke polisi kalau mau.. hanya satu kali ini saja, kumohon."
Sesudah berbisik-bisik cukup lama. Mereka mengangguk bersamaan. Berpura-pura menjadi kekasih seseorang membuat Widya gugup, ia belum pernah sekalipun pacaran. Dia terlihat memilki kemampuan akting payah.
Fadly mengajak adiknya menyantap mangga bersama mereka. Gadis kecil duduk, ia menerima potongan daging buah dan melahap, segera ekspresi masam keluar seusai mengunyah merasai rasa asam di mulutnya.
Memilih buah kelihatan matang dari luar tidak selalu sejalan apa yang diinginkan, bisa saja itu dipaksa matang atau hal lainnya. Macam-macam faktor bisa mempengaruhi, Fadly menghela napas merenungkan hal itu. Dia meminta adiknya bergegas pulang.
Menentukan nilai suatu barang dari penampilan belum tentu bagus. Selama belum mengenal, adil'kah untuk menilainya? Seseorang mengomentari kegiatan pribadi lain. Meskipun demikian, individu lain membicarakannya juga, selalu terjadi.
"Padahal warnanya jelas-jelas kuning kupikir juga akan manis. Ada-ada saja, bukan?"
"Mari kita lupakan itu. Sekarang saatnya mencari tempat mengi.." ujaran kalimatnya terhenti. "A-Aku lupa di kampung ini tidak ada penginapan," lanjutnya bercakap seraya melirik.
"Eh?" Mulut Widya hanya menganga. Dia tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun, hari juga semakin sore dan waktu tidak melambat ketika mereka berpikir. Fadly mengigit bibir, sementara Widya menyentuh keningnya, selalu begitu jika panik.
Tiba-tiba saja Fadly terkesiap seolah kaget. Dia berdiri dan menghela napas, serupa lega. Widya yang melihat tingkahnya ikut mengusir gelisah menebak dia punya sebuah rencana.
__ADS_1