Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 34 | Telah Mati dan Hidup


__ADS_3

Bab 34 | Telah Mati dan Hidup


Fadli mengaga depan kipas angin menyibakkan surai beserta pakaian kemejanya tanpa kancing saling menautkan diri dan menyejukkan ruangan. Entah mengapa dan bagaimana, bulan April laki-laki ini akan malas-malasan dari pagi hingga petang.


"Sebab akibat tidak diketahui," batin Widia ketika menemukan sisi berat pinggul layaknya manusia lemah lesu culas. Satu paket lengkap kemalasan Fadli di bulan April tahun ini.


"Aaaaaa~"


"N-Ngapain kamu?" Widia yang mencoba menahan tawa mengatakan, "c-c-cepatlah jawab!"


"Makan angin ..." Fadli menggaruk kepalanya semasih belum berlanjut, "karena ada kekasih yang nggak peka terhadap kudapan pasangan..nya.."


Bahkan sebelum Fadli mengakhirkan lisannya, Widia sudah bersicepat keluar kamar memburu apa yang ada dalam kulkas. Ayah-ibunya yang beranjangsana menampak putri mereka tidak menoleh sedikitpun buat luka goresan kecil pada sanubari mereka.


Sakit diabaikan kini berkunjung tuk melepas rindu sesudah luka ingin bertemu memerangi relung hati mereka, posisi luka itu ditukarkan sakit diabaikan putri mereka. Sarah yang tengah duduk disisi mereka mengunyah permen sambil merasa kepelikan.


Dalam bilik Fadli, Widia menaruh sebakul penuh kudapan di pinggir kakinya. Laki-laki ini memfokuskan netra pada dirgantara, tidak lama seusainya gadis ini mencerling ke muka Fadli menunggu dia mengatakan sesuatu.


"Cuaca Hari ini tepat banget tuk tidur sepanjang hari menghabiskan waktu sia-sia milikku," ungkapnya dengan wajah low IQ alias kebodohan.


Dia menarik selimut dan berbaring berbareng kipas angin di sisinya, selama Widia tinggal bersamanya baru kali ini netranya menonton sifat unik Fadli. Perlahan-lahan kepribadian Fadli terkuak, walau pun begitu perempuan ini kelihatan redut padanya.


"Hump!" yang mulai cemberut membatin, "ayolah seenggaknya biarin aku tiduran bareng kamu!"


Widia menyapu bersih kamar, selagi penghuninya tiduran gadis ini mengintip jadwal kerja di atas meja dan menemukan kekosongan di bulan April. Senyum hampa pun segera terlukis setelahnya.


"K-Kenapa jadwal bulan sekarang kosong?" Widia yang tidak mendapat jawaban kembali bertanya, "hei apa yang kan kamu lakuin setiap hari?"

__ADS_1


"Pada waktu ini aku mati, meski begitu harapanku ketika mati orang-orang takkan mengingat ataupun meletakkan fotoku di album kenangan mereka, agar aku benar-benar mengirat lenyap dari kenyataan."


"Kamu akan tetap hidup jika orang-orang mengingat nama dan wajahmu dalam ingatan mereka, kamu takkan benar-benar mati ..." Widia menghentikan ucapan dan membatin, "aku nggak mau kamu mati."


"Apa?" Fadli menoleh dan berkata, "aku di bulan ini kepengin libur buat mikirin cerita baru dengan tema kematian, rasa sakit, atau semacamnya."


Widia menghirup udara segar berupaya membentengi kepala dingin, biarpun berusaha anak perempuan ini melempar sapu ke mukanya dan maherat dari kamarnya. Di luar bilik, gadis ini membungkam mulut sambil merona kemerahan.


Senyum yang selalu tersipu sudah merekah dalam lekukan pipi Widia melahirkan perasaan silau, bagi ketiga orang yang menyilik dari ruang tamu. Widia pun berkisar ke dapur bertujuan tuk mengademkan pikiran dengan mereguk segelas air putih.


***


Dalam ruang gelap bersekat dinding bagian dari rumah, ia menangis tertahan-tahan alhasil perkatannya terputus-putus. Dirinya bertanya-tanya alasannya tetap hidup, setelah enyah dari rumah dan putus tempatnya bernaung, dia berpikir akan mati.


"Aku tau Widia membawa mereka untuk bicara denganku. Walaupun begitu aku kesal, mengapa dia bertindak seenaknya? Meski demikian keinginan untuk memarahi goyah karena perasaanku padanya."


Duduk di halte bus di tengah-tengah hujan deras, duduk diam tanpa mengisyaratkan bahwa butuh pertolongan. Fadli pikir takkan ada orang peka, ternyata keliru, ada orang berpayung putih bertanya kepadanya dan memberikan tempat tinggal.


"Kupikir akan mati sendirian di kota tanpa uang sepeserpun, namun mengapa penjual roti itu menolongku?" Tanyanya dalam hati. "Kenapa dia tidak mengantarkanku ke rumah, padahal jaraknya dekat!" Batinnya merintih kesakitan.


Fadli berdiri dan mengatakan, "Fauzan, website itu, dan paman ... semuanya memberiku kehidupan."


Remaja rapuh sok kuat ini menyingkapkan tirai memasukan cahaya mentari, ia sudah muak tinggal dalam kegelapan. Dia sukar bernala-nala makin dalam, penglihatannya menghadap ke atas dan Fadli beranjak dari tempat duduknya pergi ke depan pintu.


Anak laki-laki ini keluar kamar, raut wajahnya berganti total serupa membalikkan koin. Fadli duduk di sofa seraya memakan permen karet. Matanya melekat pada ayah Widia, orang itu juga menatapnya balik seolah-olah keduanya sedang berkomunikasi.


"Website itu miliknya ...alasan aku hidup juga karena dia, pada akhirnya keluarga ini yang memberiku uang agar bisa hidup.." Fadli menghela napas sebelum berlanjut, "jika aku tau itu dari awal takkan kubiarkan Widia jadi pembantu rumah ini."

__ADS_1


Hidup menjadi orang sibuk sok menganggur setiap bulan April sungguh melewati batas tubuh, bahkan lebih ada perkara lain di kemarin hari. Otaknya seperti tercekik erat oleh rantai terpaksa, kali ini ia melihat Widia yang menitipkan hatinya.


"Kenapa dia memilihku ya?" Fadli menaikkan nada bicara dan mengatakan, "apa anda tidak memahami anak anda sendiri sampai menerimakan laki-laki miskin jadi pacarnya? Jawablah pertanyaanku."


"Dia mencintaimu, saya tak punya hak mengatur buku romansanya.. tapi lain cerita jika kau menghancurkan hidupnya!" Ucap si ayah tegas.


Fadli memiringkan kepala dan bertanya, "Apa tidak ada tradisi menikahkan anak di keluarga kalian dengan menantu pilihan aau semacamnya?"


"Ya tentu. Meski begitu, melihat kepribadian Widia pasti akan memberontak dan kemungkinan terburuk dia akan di usir. Meski begitu, saya akan sedikit tenang jika yang jadi teman hidupnya adalah Fadli Adzlilah."


"Jangan menyebut nama lengkap saya dengan nada yang mengunggulkan.. terlebih anda bos saya," ujar Fadli membuka ungkapan. Pak Arya pun hanya menoleh dan mengangguk pelan dengan senyum.


Mereka berdua mengobrol sambil menyiratkan kata-kata yang hanya mereka pahami, Fadli terus mempertanyakan sesuatu dan Pak Arya bertanya soal putrinya. Remaja laki-laki ini terus memeram perasaan dalam hati terhadap Widia.


"Saya bahkan belum pernah menembaknya tapi bisa mendapatkan putri anda.." Fadli tersenyum kecut dan berlanjut, "bukankah itu hebat?"


"Ya sangat, Widia sangat senang mendapatkan kekasih seperti anda.." Arya mengangguk-angguk sambil meletakkan muka bahagia.


"Anu.." Sarah yang diam angkat bicara, "dari tadi apa yang kalian berdua bicarakan? Aku bingung."


Sesudah mengobrol, dia merasai nikmat kelapangan pada hatinya. Dia bernala-nala, bila bertahan hidup bukanlah sesuatu yang hina walau dirinya sudah mati, hanya tinggal berbuat perihal kenangan atau hal semacamnya agar bangkit dari kematian.


Jika lahir di dunia yang dimana tidak ada yang mengingatnya, itu sangat teramat menyakitkan dan menakutkan baginya. Sewaktu merenungkan perkara tersebut, Widia datang dan menyambar badan Fadli secara terserempak buatnya terkesiap kaget.


Ibunda merayau rambut Fadli dan Widia seolah sedang mencari sesuatu, meski nyaman dibelai, laki-laki ini hendak pergi karena malu. Lama-kelamaan Widia menggandeng tangan memaksanya tinggal, Fadli pun menerimakan perlakukan ibu Widia ini.


"Sarah dan kamu nanti malam aja, aku sekarang lagi mau manjain dua orang ini.." ucap ibu Widia. Sarah dan Arya yang tengah mengetik di laptop segera terperanjat kaget, mereka langsung menggeleng.

__ADS_1


__ADS_2