
Bab 25 | Anak Kecil Tak Bisa Bohong
Ada satu yang tidak dikenali Widia. Zaky dan Fauzan melihat ke arahnya, menonton muka beloon Fadli tengah menggesek-gesekkan lengan Widia ke pipinya bagaikan anak kecil memainkan boneka. Menjumpai aksi Fadli, teman-temannya datang dan mengambil alih.
"Apa yang terjadi?" Angkat Widia bertanya mengarah ke Fauzan. "K-Kenapa dia memeluk tanganku begitu?" Tanyanya melanjutkan.
Fauzan yang sadar tatapannya mengatakan, "Fadli kayak bocah kalo lagi kecapekan, tak tau apa yang dilakukannya.." lelaki berjaket biru ini melihat ke lemari dan berujar, "kayak nulis namamu tanpa sadar di dinding. Itu kelakukan anak kecil, kan?"
Otak Widia bergegas menerbitkan kalimat Fadli sebelumnya tentang rasa suka kepadanya, membangkitkan perasaan lain dalam hatinya. Gadis ini merasa jika anak kecil takkan bisa bohong, begitu mengenang hal itu ia memerah malu.
Gadis ini menonton teman Fadli sedang mengurusnya, bayangan itu menerbitkan kenangan disaat Adi bermain bersama yang lain dan meninggalkannya seorang diri. Ingatan tak mengenakan baginya kala itu.
Dadanya sesak begitu ketiganya mencubit pipi cahaya hatinya. Anak perempuan ini meraba saku dan memanggil dokter. Dia merasa aneh sewaktu mereka merebut Fadli darinya, sesaat selepasnya ponselnya berdering.
Widia yang sekarang tengah melihat layar ponselnya membatin, "Telepon? Buat apa meneleponku." Tangannya menggeser layar dan bicara, "halo. Pak langsung kema--"
"Saya sudah ada di depan rumah Fadli," jawabnya menyela ujaran kata nona Widia. "Saya akan langsung masuk saja, sebab pintunya terbuka.."
Perempuan ini menghela napas sebelum melanjutkan, "baiklah pak." Sesudah menutup panggilan ia menurunkan alis sembari berkata, "apa kalian masuk tanpa menutup pintu dan mendobrak pintu masuk?"
Zaky mengangguk pelan tanpa rasa bersalah bersama laki-laki di sisinya, sementara Fauzan memberi senyum kecut. Mereka tampak memasabodohkan keberadaan Widia, terkecuali Fauzan kadangkala memperhatikannya tajam.
Tiba-tiba pintu terbuka dan dokter berkata, "silakan menunggu di luar. Keadaannya akan saya periksa."
Mereka menyerahkan Fadli pada ahlinya, sedangkan Widia tetap tinggal dam terduduk di lantai samping pintu dengan muka masam kesal pada sesuatu hal yang telah ditebak dokter. Pria berbaju putih ini tersenyum lembut, mendapati nona Widia cemberut.
***
Tiap-tiap orang membutuhkan waktu tidur yang berlainan, tergantung usianya dan aktifitas sehari-hari yang dilakukan. Dokter keluarga Widia memeriksa kesehatan remaja bernama Fadli Adzlilah, pemeriksaannya berlangsung cepat.
__ADS_1
"Nona Widia, apa kekasih anda memiliki jadwal kerja atau semacamnya yang membuatnya begadang setiap hari?"
"Ke-Kekasih?" Widia kelihatan malu. Dia melupakan perkataan dokter dan menjawab, "aku lihat Fadli tiap malam begadang di depan laptop mengerjakan pekerjaannya. Kadang tanpa istirahat sama sekali."
Sewaktu tertidur, tubuh beristirahat dan menghasilkan energi serta memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Hal ini pula berperan penting tuk memulihkan kondisi fisik serta mental, sedangkan remaja dan anak-anak tidur adalah waktu dimana tubuh menghasilkan hormon pertumbuhan.
Dokter menyuruhnya untuk melakukan kegiatan seperti olahraga dan aktivitas yang mampu meredakan ketegangan serta emosi. Jika ingin, Widia bisa membawanya ke psikiater tuk mengetahui perkembangan yang lebih lanjut.
"Anak ini juga butuh istirahat. Berikan dia waktu untuk beristirahat, bila perlu paksa untuk istirahat jika memaksa ingin beraktivitas berat. Ditambah, bawalah keluar kekasih anda."
"M-Maaf dok. Dia bukan kekasih saya, hanya teman biasa dan kebetulan aku ngekos di sini... Itu aja."
"Jangan berbohong, saya tahu apa yang anda pikirkan. Memang sudah berapa lama saya jadi dokter keluarga anda? Meskipun sekarang ada masalah, nampaknya ayah anda akan segera menyelesaikannya dan pulang."
Widia yang sekarang memalingkan pandangan bertanya, "memangnya apa yang harus kulakukan jika ingin mendapatkan dia?" Widia menghela napas sebelum mengatakan, "aku ingin mendapatkannya dengan segera. Bagaimanapun caranya."
Dokter menyingkapkan pintu dan menghilang tanpa sepengetahuan Widia. Sekarang gadis ini meletakkan tubuhnya dengan bertumpu pada birit di atas kursi, matanya memandangi wajah tidurnya Fadli melekatkan pandangan pada dirinya seorang.
Laki-laki ini menyelak tirai semasih belum membuka kelopak matanya, saat ini dia menyaksikan sorot baskara menampakkan wajah yang adiwarna, yang sungguh memesonakan hatinya. Fadli membelalakkan netranya, pemandangan ini terlampau sungguh betul-betul sangat amat memikat perasaannya.
"Mengapa kamu liatin aku kayak gitu?" Tanya Widia menurunkan penglihatan. "Aku malu.." tambahnya.
"Kamar ini jadi adiwarna karenamu," komentar itu menusuk hati Widia. Matanya berkaca-kaca memandangi lantai, tapi pikirannya melayang kemana-mana bagaikan layang-layang putus.
"Adiwarna?" Widia mengangkat wajah. Dia yang mendekatkan diri mengulang, "adiwarna itu apaan?"
Fadli sekarang menarik mesem di mukanya dan berbalik badan mengatakan, "Lupakan aja, kata-kataku barusan."
Saat ini lengan kiri Fadli bebas memainkan tirai selagi Widia mengelus-elus telapak tangan kanannya, selama kejadian ini berlangsung keduanya membisu dalam senyap. Sekarang Widia memberhentikan gerakan tangan seusai ketibaan tiga teman Fadli.
__ADS_1
Mereka berempat bercakap-cakap dengan riang gembira menempelkan suasana hangat dalam ruangan. Widia sedikit menyesal menganggu hanya karena cemburu, ia kini melihat mesem asli di durja cerianya, berkat kawan-kawannya.
Widia melihat kawan Fadli yang sama sekali tidak dikenalinya bercakap, "Luka dirimu kayak parah kali."
"Ezra, ternyata kau sudah balik.." jawab Fadli beriringan dengan senyum kecil. "Kabari aku lain kali kalau sudah pulang," lanjutnya Fadli berbicara disertai tawa kecil ekspresif tanpa suara.
Setiap bibir yang sedikit mengembang pada mukanya menggambarkan bahwa kesedihannya hilang. Perempuan ini menampak bila Fadli tersenyum asli, senyuman itu bukan buatan. Membuatnya iri hati pada ketiga orang didepannya.
Fadli mengasah pisaunya cukup lama, meskipun telah tajam ia kesulitan memotong. Sewaktu dalam kesusahan, teman-temannya datang membawakan golok dan membantunya. Widia cukup iri menemukan keempat remaja tengah tersenyum ini.
"Lihatlah sendiri pakai matamu," kata Zaky menyodorkan handphone ke depan muka Fadli. Dia berkata, "pencopet itu seperti mencari sesuatu dalam ponselku dan membuangnya di dekatku."
"Apa maksudnya?" Ezra mengajukan pertanyaan. Dia menghela napas setelah mengatakan, "mungkin ada maksud tertentu."
Widia ikut melihat apa yang ada dalam layar handphone Zaky, ia terkesiap kaget menemukan dirinya berbaring di samping Fadli yang waktu itu tengah tak sadarkan diri. Anak perempuan ini merebut ponselnya dan menghapus gambar tersebut, ia keluar dari kamar bersama wajah memerah tersipu malu.
Penjahat pasti memiliki motif atau alasan tersendiri mengerjakan sesuatu kejahatan, Fadli memutar otaknya tuk mendapatkan jawaban. Selama segenap waktu mulai pertemuan pertama dengan Wira, Fadli belum menjumpai satupun sebab alasannya.
"Dia melakukannya semata-mata untuk kesenangan semata," batin Fadli dalam hati. Dia kini menarik napas dan mengatakan, "percuma memikirkan bagaimana cara pikirnya karena sulit menerka-nerka tindakan acaknya."
"Masa bodoh, aku akan merampas ponselku kembali dari pacarmu itu."
"Oh. Widia mengambil ponselmu ya?"
Fauzan yang melihat Ezra dan Zaky keluar menghampiri Fadli mengatakan, "kamu tidak menyangkal bahwa perempuan itu pacarmu?"
Fadli menggeleng sambil berujar, "mungkin tidak lama lagi." Laki-laki ini kembali berkata, "tunggu saja nanti ...akan kupamerkan di sosial mediaku."
Fauzan tertawa dengan renyah menyambut ujaran kalimat kawannya barusan, yang dirasakan Fadli saat ini bekas belaian tangannya. Dia mengingat perkataannya, ia setengah sadar bahwa mengungkapkan perasaannya kala itu, mengingatnya kembali serasa membuka luka lama.
__ADS_1