Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 17 | Permen Mengusirnya dari Rumah | edt


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 17


"Siapa peduli.." remaja ini menurunkan alis. "Hanya permen seribuan, akan ku makan saja.." ujarnya melanjutkan dalam hati.


Tangannya meremas bungkus permen dan memasukan gula-gula ke dalam mulutnya. Dia keluar rumah, melewati pagar dan menaiki angkot setelah melambai pelan selepas kendaraan beroda empat ini berhenti di depannya.


Dengan seragam abu-putih ia masuk ke sekolah tempatnya menimba ilmu, meski tiap memasuki kelasnya secuil penyesalan terus berkunjung ke dalam kepalanya. Mengapa jurusan bahasa tidak memfokuskan pada materi sastra dan bahasa? Soalan itu berkecamuk.


Bruk


Tiba-tiba tanpa peringatan, seseorang menggebrak meja buat Fadly terperanjat kaget dan nafasnya memburu ketakutan. Pupil matanya membesar kembali. Dia sadar dari lamunannya, balik ke dunia asal dengan senyum kecil.


"Hei.. dirimu ngelamun mulu."


Seorang remaja kawan sebayanya datang membawa ukiran senyum di durja cerianya. Selalu ada sedikit kerutan di sisi dekat matanya waktu tersenyum, berbeda ketika Fadly tersenyum. Tidak ada sedikit kerutan di dekat matanya.


"Ahaha, maaf.. ada apaan?"


"Nggak, pengin ngucapin selamat pagi dengan ciri khas aja!" Ujarnya dengan bangga. Layaknya tengah membanggakan diri, ia semakin memperlebar mesem di mukanya.


"Ezra, jangan lakuin itu lagi. Senam jantung yang mengerikan, bisa-bisa jantungku meledak nanti.."


Mereka berdua bersama sejak kelas Tiga SD, jarang ada pertengkaran diantara mereka. Sekolah akhir pun tetap beriringan, terus di sisinya dan menemani Fadly, bukan pemimpin apalagi pengikut. Melainkan seorang pelengkap dan pendamping di hidupnya.


***


Kelopak matanya terbuka setelah berucap, "hanya sebuah kenangan yang berani memukulku di pagi hari seperti ini."


Dia beranjak dari ranjang. Kedua kakinya menyentuh lantai, lampu di atas kepala menerangi ruangan dan kesunyian subuh hari tidak terelakkan kembali. Pada pukul empat pagi, lelaki ini menatap handphonenya seolah tengah menunggu.


Puluhan detik berlalu, Fadly berdiri kemudian membawa ponselnya keluar dari kamar. Bersamaan dengan tertutupnya pintu ia mematikan alarm yang disetel olehnya sebelum tidur.


"Menunggu alarm berbunyi.." lirihnya pelan setelah menjumpai Widya di dapur. "Sangat melelahkan," lanjutnya bicara.

__ADS_1


"Apa yang melelahkan?" Tanya Widya tanpa memalingkan muka.


"Menunggu alarm membangunkanku."


"Ah, terkadang aku temuin kamu liatin layar ponsel tiap malam. Toh, nungguin alarm bunyi.." ujarnya sembari mesam-mesem dan menjeling ke arahnya.


Semacam pasutri tengah menyiapkan sarapan pagi, tingkah laku keduanya selaku pasangan serasi, terlebih lagi senyuman itu tinggal melalui sedikit kerutan di dekat matanya. Kini, Fadly bangun bersama nyawanya, ia sadar selepas melihat wajahnya di cermin pagi ini.


Matanya sangat kuyu, menyerupai manusia yang telah ditinggal nyawa. Menyadari lebih awal bahwa ia telah mati sejak lama tanpa teman dan Widya. Namanya tidak diingat, tiada satupun individu terkenang akan keberadaannya.


"Apa selama ini aku salah?" Wajahnya terangkat ke atas sebelum berkata, "wajahmu hari ini tambah menawan apalagi jika bando dan anting itu kamu pakai. Otakku membeku ketika mataku menemukan penampilanmu hari ini."


"K-Kenapa kamu bisa mengatakan hal semacam itu dengan tenang?"


"Gampang.." katanya terhenti sebentar. "Aku hilang akal memperoleh kecantikan Widya!" Ungkapnya sembari melahap makanan.


Gadis di sisi sebelah depannya menyudahi sarapan dan membisu diam tanpa kata. Dia menunduk ke bawah, jari tangan itu sibuk bermain-main. Bisikan kasih tertangkap pendengaran, hujan tidak meredam ujaran kalimat Fadly, pipi pun serasa memanas.


"..."


"Fa--Fadli!" Panggil Widya kelihatan tergesa-gesa dari tingkah lakunya. Dengan kedua tangan gugup bergerak, dia mengeluarkan permen dari sakunya.


"Ah.. makasih," ucap Fadly mengambil satu. Dia membuka bungkus gula-gula dan memasukannya ke dalam mulut.


"Gimana kalo ada ayah yang marah hanya karena aku mengambil permen yang ada banyak di warung depan rumah?"


"Sekadar permen, itu murah. Bahkan anak kecil saja yang akan ngambek, itu pun hanya beberapa jam ngambeknya."


Widya heran alasannya bertanya seperti itu. Dalam batin, ia menebak bila ayahnya yang melakukan hal semacam itu. Gadis ini menghembuskan napas, tempo itu juga ia menjumpai ekspresi seperti meradang Fadly lagi tambah sekian.


Suasana sekeliling seketika berubah drastis, cuaca panas melompat ke hawa dingin. Fadly kelihatan marah pada sesuatu. Kegusaran tampak muncul tercipta di ekspresinya, Widya penasaran apa ia melisankan kata yang salah atau laki-laki ini marah pada sesuatu.


Dia menoleh ke jendela dengan tajam, serupa momen marah akibat beberapa hal namun kali ini ia seakan sedih. Rasa marah dan sedih tercampur aduk. Seolah-olah ada perihal menyayukan hatinya, menyaksikan lelaki bagai cahaya matanya seperti ini berada di daftar hal yang dibenci Widya.

__ADS_1


Kring kring kring


Bunyi telepon rumah mencairkan suasana, melihat Fadly enggan pergi Widya mengembangkan bibir kemudian berdiri. Dia mendekat terlebih dahulu mengapit pipi Fadly, Fadly merespon dengan malu dan menyingkirkan tangannya.


"Ah, biar aku aja yang angkat.." Widya melepaskan cubitan tidak dengan senyuman.


"M-Makasih.." laki-laki ini menunduk malu merasakan dipojokan oleh lawan jenis. Dia membatin, "betul-betul baru kurasakan pertama kali, gadis yang melakukan aksi daripada hanya bicara sungguh menakutkan."


Widya menjawab, "Sama-sama!" Widya membelakanginya sebab agak gemetaran. Dia mendatangi ruangan tengah dengan pipi merah, pikirannya penuh akan ekspresi malu Fadly barusan.


"Baru kali ini aku liat ada cowok imut gitu, terlebih lagi kayak gitu! Biasanya dia seperti kejam tanpa perasaan, sekarang aku lihat apaan?"


Gadis ini terus bicara dalam hatinya, melupakan bahwa ada yang tengah bicara di telepon dan terus mengatakan "Halo!" Berulang kali dengan nada agak keras. Sesaat selepasnya Widya terkesiap kaget dan membalas, ia mendengar suara seorang pria.


"Yang angkat pacar Fadly?" Tanya seseorang dengan suara berat. Dari nada bicaranya seperti sedang mengkal pada suatu hal.


"Y-Ya ini dengan siapa?" Tanya Widya sambil tersenyum hampa. "Apa yang dia bilang, pacar? Salah salah oi!" Batinnya.


"Cepat berikan ke anakku sekarang! Cepat berikan, lebih lagi mengapa perempuan bersam--" panggilan tertutup.


"Uhh? Apa yang terjadi sih denganku sampai salah ngomong gitu.." Widya menaruh telepon ke tempatnya. "Tapi.. ayah Fadly, apakah mungkin yang menelepon benar-benar.." Gumamnya.


Memutuskan untuk kembali ke tempatnya Fadly, anak remaja itu menghilang dari dapur dan kini berada di biliknya. Perempuan ini masuk ke kamar seusai melihatnya tengah didepan laptop, ia mengetuk pintu sebelum masuk.


"Aku masuk ya, Fad.."


Tanggapan dari yang dipanggil cuman anggukan kepala saja. Widya menghampirinya, menceritakan apa yang terjadi dan mengulang percakapannya tadi respon lelaki ini hanya bergeming. Dia menutup laptop mengalihkan pandangan pada Widya, kedua tangannya ditaruh ke atas paha.


"Maukah kamu duduk di pangkuanku?"


"F--Fadli.. aku.."


"Jangan bercanda begitu, nanti aku juga bisa bercanda kayak gini.. kau tau."

__ADS_1


Widya memerah. Dia mundur ke lawannya depan, sesudah terduduk di kasur Fadly gadis ini menahan rasa malu, meskipun matanya terpaku pada yang tercinta tengah bekerja. Walaupun demikian, Widya ingin tahu bila kata-katanya barusan bukanlah sebuah kebohongan atau candaan semata.


__ADS_2