
Fadli tidak membangkitkan hasrat apapun untuk membalas pesan suara Firani. Dia memberikan motivasi kepadanya seusai memedulikan curhatan Fadli, serasa menguliti perasaan ingin kabur dan hilang dari dunia. Meski dia takkan benar-benar mati.
Selama namanya diingat orang lain serta terus terkenang dalam kepala individu lain, ia takkan betul-betul mati. Fadli dan seluruh manusia benar-benar abadi jika memiliki ikatan dengan khalayak lain, mau kelas atas sampai bawah.
Fadli mengelus-elus dada sambil terengah-engah bicara, "Kenapa aku ingin lari? Padahal menyerah butuh lebih sedikit keberanian dibandingkan keputusanku minggat dari rumah."
Selepas melisankan kalimat tersebut, matanya memperhatikan lampu hidup di kamarnya. Dia teringat Widia tertidur di atas ranjangnya. Laki-laki rapuh sok kuat bertumpu pada kedua kakinya, ia melangkah pergi menjauh dari rumah.
Setelah berada cukup jauh dari kediaman. Anak ini mengeluarkan bilah besi tajam, ludah ditelan olehnya bersamaan keringat keluar melalui pori-pori tubuhnya akibat takut, waktu membidik bagian vital.
"Apa semuanya akan ..."
Segala luka dan sakit, akan usai. Fadli tak yakin pada hal-hal yang terbit di kepalanya disaat kegusaran dan menyerangnya. Merepotkan bila tidak langsung lenyap dan padam, apinya mungkin hanya akan mengecil dan membesar kembali.
"Firani berkata, 'apa kamu yakin? Mungkin saja besok, lusa, atau Minggu depan semua akan baik-baik saja.' perkataannya serasa ..." lirih Fadli menyender ke dinding. Dia menjatuhkan benda di tangan.
"Apa yang kulakukan?"
Dia mengangkat wajahnya ke atas, bagaikan sedang bertanya pada sang langit mengenai dirinya. Kekanak-kanakan atau gegabah menghanyutkan diri dalam khayal angan-angan. Kata mana yang tengah ia lakukan? Soal itu beringas nan liar.
Mendadak pria datang, Fadli tahu siapa dia. Dia diam membisu, keduanya saling memandang selama beberapa detik. Pria ini mengambil pisau Fadli, tanpa diduga Fadli menyabet benda kepemilikannya kembali seakan merebut barang yang penting.
Pria ini menurunkan pandangan pada Fadli sebelum bertanya, "Kamu mau menghabisi nyawa... sendiri?" Fadli merespon menggunakan anggukan kepala sehingga ia kembali berkata, "ikutlah dengan bapak. Tenangkan pikiranmu, akan bapak buatkan teh dan minuman untukmu."
Fadli seolah-olah linglung, lupa segala-galanya dan dibawa oleh pria yang datang kepadanya. Dia bergerak bersamanya, cahaya matanya redup dan kosong melompong, hampa seperti tiada nyawa tinggal di dalam dirinya.
Senyum tipis t'lah menghilang dari mukanya, segala luka dan derita yang ditanggungnya hilang sementara. Bantuan datang ketika Fadli tidak berpura-pura tangguh, remaja rapuh sok kuat ini dikasihani orang yang bukan siapa-siapa, lagi dan lagi.
__ADS_1
***
Widia menjumpai Fauzan di depan rumah dengan napas terengah-engah diserang lejar, mereka berjalan di sepinya kota Jakarta. Masih ada aktivitas hidup di kota ini meski tengah malam. Mereka pergi ke kafe, Widia ingat jika Fadli menolongnya di tempat ini sebelumnya.
"Apa dia sering kemari?"
"Ya. Jika sedang depresi berat, ia akan kemari atau bermain di warnet."
Fauzan meninggalkan kafe, ia bergerak menuju ke tempat main bersama harapan bila temannya ada di sana. Mencemaskan Fadli, Fauzan mengharapkan bila kebiasaan mengkoleksi pisau hanya hobi saja dan tidak ada maksud lain selain itu.
"Lalu, kenapa kita tidak ke sana saja?" Widya bertanya.
"Sudah tutup. Tempat itu hanya akan didatangi Fadli pagi saja, kurasa.." ucapan Fauzan seakan tidak yakin. Dia bergerak maju menyebrang jalan raya, pencariannya tetap berlanjut.
Mereka mendapatkan jalan buntu. Selepas mencari selama satu jam, keduanya sudah hilang akal menebak datangnya Fadli di tengah malam seperti sekarang. Menenangkan diri ditempat sunyi berdiam diri pasti akan sulit ditemukan, pikir Widia.
"Ada apa, zak?" Fauzan angkat bicara.
Zaky terdengar tenang dengan suara berbisik berucap, "Fadli punya dua handphone.." Zaky berhenti bicara sebentar lalu meneruskan, "satunya untuk pekerjaan dan satunya untuk bersenang-senang."
"Kau punya nomor handphone keduanya?!" Bentak Fauzan agak keras. Sesudah berkata demikian Zaky kedengaran seolah-olah tengah menggeram marah pada sesuatu hal.
"Goblok. Kau lagi pegang ponsel kerjanya, kan? Buka dan cari!" Zaky menutup telepon setelahnya. Laki-laki ini merebut ponsel Fadli dari Widia, ia mencari-cari dari daftar kontak nomor keduanya.
Kadangkala Fauzan berpikir bila temannya merepotkan orang disekitar tanpa dia sadari. Namun, seringkali ia membantu mereka semampunya meski tiada imbalan. Dia hanya bermasalah di keluarga dan Wira saja, selebihnya hanya remaja biasa.
Selama 5 kali percobaan menelpon nomor pribadinya, ada kemajuan dimana Fadli mengangkat telepon walau tidak ada suara, kecuali suara bernapas. Segera mata Fauzan bercahaya dan hendak bicara membuka mulutnya. Mendadak, suara pria berat seperti menjatuhkan ponsel Fadli.
__ADS_1
"Fad! Fadli?" Panggilnya panik berulang-ulang. Panggilan pada ponsel terputus membuat Fauzan menderum kesal.
"Ada apa. Apa yang dia katakan?"
"Aku hanya denger Fadli bernapas, tiba-tiba ada suara barang jatuh dan teleponnya terputus."
Widia mengigit bibir. Dia hanya bisa mengandalkan remaja di hadapannya, bahkan jika Fauzan tidak bisa, yang akan dilakukannya diam dirumah menunggu kepulangannya. Kesabaran untuk menemukan cahaya matanya, lambat-laun akan lenyap.
Pernah Fadli menariknya sewaktu Widia tidak tahu harus kemana, kekuatan untuk mengambil langkah lain redup dan hilang. Hanya saja, tanpa diminta Fadli datang menariknya ke dalam langkah yang belum pernah dibayangkannya.
"Aku ingin membalas perbuatannya, sangat!"ungkapnya dalam hati. Gadis ini memeluk diri, mendekap kesunyian malam diantara semilir angin membelai rambutnya.
"Bagaimana jika kita minum dulu sebentar dan istirahat sebelum mencarinya lagi?" Usul Fauzan menunjuk satu warung yang masih buka.
Keduanya pergi mendatangi tempat tersebut, Fauzan membeli minuman dan Widia berkemauan membeli roti tapi mengurungkan niatnya. Dia tidak membawa uang kecil saking paniknya Fadli menghilang. Takut merasuk ke benaknya, ketakutan jika terjadi sesuatu pada cahaya hatinya.
Seseorang wanita menggedor pintu. Fauzan menoleh ke sumber suara, pemilik warung datang dengan kopi hangat dan sebungkus roti. Dia menyajikan kopi pada Fauzan, menyodorkan sebungkus roti membuat penerima bingung.
"Saya tidak---" Widia kebingungan saat menerima sebungkus roti di tangannya.
"Fadli kemari, situ satu rumah dengannya kan? Pulang dan beri ini ke tuh anak. Anak itu ke sini tadi, sekarang lagi diantar suamiku ke rumahnya."
"M-Makasih Bu!" Ujar Widia beranjak dari kursi. Dia menarik uang 100K rupiah dan pergi begitu saja, melupakan Fauzan disampingnya. Gadis itu hilang tanpa jejak, kabar baik ditemukan mereka, buat Fauzan menghela napas lega.
Fauzan tersenyum kecut sebelum berkata, "punya perempuan cantik di rumah ialah sebuah berkat. Mengapa Fadli malah ..."
Pemilik warung menyimpan pisau dibatas meja dihadapan Fauzan. Kini setelah wanita ini menjelaskan apa yang terjadi, laki-laki ini bergegas menghabiskan minumannya dan kabur seusai membayar. Wanita pemilik warung kurang mengerti apa yang harus dilakukannya pada uang Widia.
__ADS_1
"Anak perempuan tadi dari keluarga Pak Ardi. Mengapa dia tinggal bareng Fadli? Anak bermasalah kayak dia.."