Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 29 | Renjana Rindu Widia


__ADS_3

Bab 29 | Renjana Rindu Widia


Dirgantara semasih belum mengabu, keluarga Widia berkecandan sembari bercengkerama bersama mengayunkan kaki ke taman. Dya menyilau ke angkasa lepas, menemukan ikan terbang dan awan-awan berarak ditiup angin beriringan.


Sewaktu menoleh ke bawah pohon pada taman, Dya menampak sahabatnya tengah mengigit-gigit buku catatannya, anak perempuan ini mengayunkan kaki dan berjalan menuju ke tempatnya. Anak perempuan ini melambai, sambil berlari Dya menyeru namanya.


Sesudah berpijak di depannya, Adi menaikan mata bergegas menjumpai Dya sedang tersenyum. Gigi yang menjepit buku terlepas, anak laki-laki ini membalas mesem sambil menyambut kedatangan.


"Kenapa cengar-cengir gitu?" Adi berkata seusai menarik buku catatannya.


"Aku kepingin duduk sisi kamu, boleh?" Tanya Dya mencuaikan pertanyaannya. Dya bersimpuh sesudah anggukan sambil mengatakan, "makasih."


Menyaksikan pelerai demam mereka menggesek-gesekkan siku bersama anak laki-laki, si ayah naik darah dan bergerak mendekat. Sementara istrinya ikut dari lawan muka, sewaktu Dya melihat Adi menaikan pandangan segera ayahnya mendeham.


"Ayahmu?" Tanya Adi. Adi mengamati bagian bawah pakaian pria dan berkomentar, "maaf, napa bapak makai celana pendek tapi menggunakan jas? Apakah bapak cab--nggak, maafkan aku mengomentari."


"Cara pandang saya berubah," ujar pria berkacamata tersenyum kecut menanggapi ucapan. "Terlebih lagi, pakaian ini sangat memalukan.." keluhnya.


"Itu hukuman karena hendak memulangkan Sarah ke panti asuhan," ujar istrinya tersenyum menipis. Sambaran kata mulai menusuk-nusuk pria ini, bagai anak panah mencecar benaknya.


Wanita ini terduduk di sisi putrinya, selagi si ayah keluar dari taman balik ke kediaman. Selama Adi menggambar entitas merindingkan pelihatnya, Dya telah biasa kecuali ibunya tercengang kengerian mengamati hasil lukisannya itu.


Situasi yang tengah berlaku menerbitkan tiap-tiap serpihan ingatan menjengkelkan Adi, anak kecil ini tidak mengatakan sepatah kata satupun. Dya yang tampak lebih aktif dibandingkan Adi, seusai hitungan menit anak perempuan berpikir lama-lama, barulah dia dapat mengarifi gerak-gerik Adi.


Dya cemberut sebelum bertanya, "kamu kurang suka kalo ada ibuku di sini?" Sebab tidak dapat jawaban Dya menarik-narik tangannya sambil mendesak berteriak, "jawablah pertanyaanku!"

__ADS_1


"Si Dya jadi berulah lagi semasa aku mendiamkan dirinya," batinnya dalam hati. Adi menarik lengannya sambil menatap ibunya dan berpinta, "jangan memasuki dunia anak kecil sewaktu mereka bermain.. seperti penghalang, kami tidak bisa bersenda gurau layaknya pada waktu yang biasa."


"Jangan-jangan..." wanita yang tersenyum menipis mengatakan, "Adi kurang suka ada yang menggangu waktu kalian?"


"Ya," Adi menghela napas panjang semasih belum mengangguk dan melanjutkan, "benar sekali!"


"Tapi ..." ibu Dya kini mendekati teman anaknya dan membisik, "bagaimana jika orang-tua temanmu asik dan bisa kamu manfaatkan mereka? Seperti mampu mendapatkan uang contohnya."


"Nggak ada yang lain kah? Itu bujukan yang sangat umum dalam masyarakat," ujar Adi memasang senyum angkuh. Wanita ini paham jika menyelami isi pikirannya seperti mengerti anak remaja SD atau bahkan setingkat lebih tinggi.


Ibunya Dya membatin, "ini anak belum belasan tahun, bukan? Kurasa susah membujuknya."


Wanita ini menyerah dan memberi jarak dua meter untuk mereka, selepas itu putrinya bercakap-cakap bersamanya. Semasa menyimak obrolan anak-anak, ia melihat dua buku tebal usang di belakang Adi dan sebuah buku catatan mengaus.


"Dya, ayo pulang. Kamu juga Adi, rumah kamu dekat gak dari sini?" Tanyanya melihat ke angkasa. Bumantara mengabu diikuti petir gegana bertagar di ruang luas terbentang atas bumi bak medan perang.


"Ehhh? Aku masih kepengen main, Bu!" Rengek Dya serupa akan menangis. Serentak sewaktu Dya memberhentikan tangis, angin kencang mendatangi mereka dan lembaran-lembaran membumbung ke udara, mengangkasa melambai pada Adi.


Adi membelalakkan mata selaku syok pada suatu perihal, anak perempuan ini menyeretnya memaksa agar ikut. Tidak lama, Adi jadi penurut dan ikut mereka berdua masuk ke dalam mobil hitam yang menunggu depan taman.


"Sudah kuduga akan hujan deras," ucap pria yang memegang kemudi. Dia bercakap, "kita akan pulang."


Mobil bergerak cepat menerobos rintik-rintik hujan deras, setiba kendaraan masuk melewati gerbang rumah penaka istana, Adi menurunkan mata dan menggigit buku gambarnya. Mereka berempat turun dari mobil berpindah ke dalam gerha mewah.


Dya menggandeng tangan Adi seraya melangkah menuju sofa, mata ibu Dya mencerap buku yang kehilangan helai-helai kertas. Wanita ini menebak sesuatu perkara di benaknya dan tersenyum berharap hal tersebut nyata.

__ADS_1


Dia menjumpai putrinya dan membisik, "kayaknya Adi lagi sedih karena kehilangan beberapa lembar bukunya. Kamu bawa ke kamar aja dan pinjemin buku kamu, ajak main gim vidio bareng kalo mau."


"Boleh! Beneran?" Dya berteriak kegirangan sesudahnya dan menyeret temannya masuk ke kamar di lantai dua. Wajah anak perempuan itu begitu manis imut semasa girang.


Hujan turun deras, Widia menoleh ke sisinya lekas menemukan remaja laki-laki mengigit-gigit lektur catatan dan memukuli meja. Kedua tangannya pula sibuk mencengkram erat ponsel, kegusaran tampak tinggal serta muncul pada durjanya.


"Lalu, Adi minjem buku meski gak dibalikan padaku lagi. Kini dimana lelaki itu? Aku sangat amat rindu padanya.." batin Widia dalam hatinya mengenang masa-masa dikara itu.


"Adi ..." Lirih Widia menjauhkan pandangan dari jendela dan membatin, "Eh mengapa aku memanggil Fadli dengan sebutan Adi? Ah, mungkin rinduku sudah membludak akhir-akhir ini."


Widia membekukan ungkapan perasaan sedih meredam suara agar sedu sedan saja yang mampu ditangkap telinga Fadli. Walau dirinya punya renjana rindu pada Adi, ia merasa bila hubungannya akan beralih menukar menjadi kenalan.


Widia jika bisa ingin daksanya menyerak pada sanding butala, memencar ke mana-mana melacak keberadaan Adi. Meskipun demikian, luka silam terus mengelopak usai menampak Fadli mencapai terbitnya perihal rindu yang teramat amat terlampau sangat dalam, mengingat kemiripannya sama.


"Meski susah nemuin orang yang ku cintai, tetap saja Adi kadangkala datang ke pikiranku, apa sih kemaunya itu?" Tanya Widia memikirkan sampai meresap dalam hati.


Gadis ini menurunkan diri ke lantai dan menjumpai Fadli, Widia mengecup kening laki-laki ini dengan santainya. Sesaat kemudian, Fadli merona merah bereaksi terhadap tindakan Widia barusan. Dia mengusap-usap pipi sembari dilanda kebingungan.


"Kamu mau jadi pacarku?" Widya mengajukan pertanyaan secara mendadak. Anak perempuan ini membatin, "segera katakan apapun dan aku nggak menerima tolakan!"


Kesadaran Fadli hilang lenyap sementara dan dia terjaga sebelum berkata, "Ah, apa yang kamu katakan? Mentang-mentang aku lagi sakit jangan membuat masa gering ini jadi tambah lama. Ahaha."


Gangguan datang sewaktu lontaran pertanyaan belum tersampaikan, Arya datang membuka pintu tiada ketukan. Putrinya memandang rendah disusul tatapan sinis, ayahnya yang sadar hanya bisa menerka-nerka tindakan apa buat Widia marah.


Widia seketika menerbitkan ingatan bila ibundanya datang, perempuan ini melewati ayahnya dan pergi ke ruang tengah tuk menjumpainya. Sebab letih beres-beres Widia ketiduran, kali ini ia ingin memperoleh lebih banyak pelukan dan waktu.

__ADS_1


__ADS_2