Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 03 | Caranya Meminta Tolong | edt


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 03


Orang-orang lewat melewatinya tatkala kepedulian menghilang dari muka bumi, kadangkala individu lain hanya bertanya ada apa. Ribuan hingga jutaan saran diterima Widya. Cuma hitungan jari, jarang orang mengulurkan tangan untuknya seorang.


Mencapai titik membentuk rasa keputusasaan Widya betul-betul hancur, tersesat pada realita kehidupan sewaktu keluarganya tidak muncul. Dia membutuhkan pertolongan seseorang, siapapun itu ia memerlukan sambung tangan. Tak disangka ada remaja payung putih bertanya kondisinya.


"Apa dia murni menolongku karena sisi kemanusiaan?" batin Widya menemukan setumpuk pakaian. "Aku nggak bisa cuci baju," ujar Widya seusai menghela napas panjang.


Sontak Fadly menyemburkan kopi balik ke gelasnya, akibat terkesiap kaget lelaki ini tersenyum kecut dan membawanya ke belakang. Di belakang Fadli memberi arahan sebagaimana Widia mengingat pelajaran teks prosedur tadi pagi di sekolah, kini Fadly menggurui dirinya.


"Jangan mengeluh.." dia bangkit berdiri. "Aku gak menerima kamu di rumahku secara percuma," ucap laki-laki ini agak mengeluh.


Widia menerimakan ucapan Fadli, dirinya tinggal dengan kesepakatan menjadi pembantu dan Fadli pembiaya. Mereka berusaha saling menguntungkan, walau Widia merasa bila seluruh keuntungan lebih condong menghala pada dirinya.


Cara pandangnya kepada lelaki yang tinggal serumah bersama berubah, dari pendiam tiada ekspresi memperoleh sikapnya terhadap berbagai hal. Dia terlihat cukup dewasa, jarang bermain. Namun, Widia seperti melihat bayangan diri masa kecilnya di pundak Fadli.


Seusai mencuci pakaian Widia istirahat di teras rumah merasai penat dan pegal. Dia melihat ke angkasa dengan lepas. Matanya tak menunjukan beban apapun, malah sebaliknya, ia merasa nyaman berada di rumah orang lain berkebalikan kediamannya sendiri.


"Rasanya tenang banget.." lirihnya memejamkan sebelah mata. Berkecamuk di dalam benaknya kata-kata paman mengenai orang-tua. "Apa mereka benar-benar takkan kembali ?" Tanya Widia dalam hati.


Beriringan turunnya rintik hujan, tampak Widia memandangnya dengan saksama kedua jarinya mengetik keyboard laptop diiringi amarah. Telah satu Minggu mereka bersama. Namun, mengurung diri di kamar layaknya pekerja tak tahu waktu, Widia mulai mencemaskan dirinya.


Pagi hari, Widia memperoleh peralatan sekolahnya sudah siap bersama kotak bekal. Dia menghampiri lelaki yang tengah menonton televisi.


"Aku cuma mau bilang kalau hari ini aku libur," ujarnya sembari tersenyum kecut.


Lirikan mata lawan bicaranya jelas menandakan kekesalan. Hanya saja, Widya menarik napas kemudian duduk di sisinya menemani meski demikian, Fadly mencuaikan dirinya.

__ADS_1


Keheningan menekan keduanya secara langsung seusai televisi dimatikan, sunyi nan sepi ruangan tengah bila tak ada pembicaraan. Sukar untuk mengangkat percakapan. Widya membisu seribu kata, selepas melihat Fadli menoleh kepadanya.


"K-Kenapa kamu bisa mengungkapkan perasaanmu kepadaku tanpa rasa malu?" Pertanyaannya melontar keluar tanpa disengaja. Widia merasa bingung akan berkata apalagi, tetapi Fadli seakan sedang merangkai kalimat jawaban.


Fadli yang melihat ke atas mengatakan, "Pernah gak sih kamu ada dititik di mana pernah menyesali sesuatu?" Sekarang dia menghela napas sebelum berkata, "mungkin hanya itu jawabanku."


Yang dilihatnya kini anak remaja sedih, jauh berbeda dari Fadli satu tahun yang lalu seringkali terlambat sekolah dan bercakap-cakap bersama temannya. Seolah menyingkirkan kebisingan, ia senantiasa menggunakan handphone sebagai sarana menyingkirkan kebisingan.


Saat-saat teman-temannya tak ada. Dia memandang angkasa memakai mata merah seakan-akan sehabis begadang, Widia mengingat sebelum dia keluar sekolah, tanpa alasan jelas. Rasa penasaran gadis ini pun memuncak karenanya.


Widia menghirup udara mengumpulkan keberanian semasih belum berkata, "Hei Fadli.."


"Apa?" Sahut Fadly seraya menoleh.


"Kenapa kamu keluar sekolah ..." Widia menelan ludah semasih belum berlanjut, "dan tinggal sendirian?"


Widia mengangguk pelan, dia melihat ke sekeliling memperoleh begitu luasnya rumah ini. Suasana yang ada sungguh luas. Rumahnya memang lebih besar, namun hawa di sana betul-betul sempit. Mata Widia melihat ke wajah Fadli bertanya-tanya mengenai laki-laki di hadapan.


Widya melukis senyum sambil bertanya, "apa kamu kesepian?" Selama beberapa detik responnya lambat. Fadly menggelengkan kepala, "nggak sama sekali. Kenapa bertanya ?"


"Gak, aku cuman mikir kalo.." ucapannya terpotong saat ketukan pintu ditangkap oleh telinga mereka. Senyum kecil tinggal di mukanya, pertamakalinya Widia melihat Fadli mengembangkan bibir sedikit.


"Fauzan.. kau lama kali datangnya, budak!" Seru Fadly seraya menepuk pundak lawan bicaranya. "Apa karena ..." perkataan Fadli memelan selepas menjumpai motor di belakang temannya.


"Ah, biasa si motor lagi mogok.." ujarnya seusai menghembuskan napas panjang.


Mereka berdua bicara dengan nada bercanda, meski Widia bingung mendapatkan tontonan ini. Dia menyender ke sofa merasai sakit pinggang. Bayangan di pikirannya akan melakukan pekerjaan ibu rumah tangga setelah menikah, justru sebelum naik ke kelas tiga SMA buatnya menghirup udara ketika bernapas.

__ADS_1


"Heh.." mulut temannya menganga selepas melihat seorang gadis duduk di sofa. Dia menaikkan alis sebelum bertanya, "Kenapa ada seorang gadis di rumahmu?"


"Uhh.. kan aku ceritain nanti.." kata remaja di sampingnya beriringan dengan senyum masam.


"T-Tunggu sebentar.." teman Fadli kelihatan memasang muka heran. "Mengapa kamu?" Tolehnya pada Fadli melukis senyum tipis nan tatapan sinis.


Dalam keseimbangan setimbang pikiran Widia dan Fadli melihat tingkah lelaki di dekat mereka, secara tiba-tiba dia menyentuh keningnya. Dan sama Fadly terkesiap kaget menangkap maksud ekspresinya. Dia menghentakkan kaki agak kuat ke lantai mengakibatkan getaran, Fadli membuka mulutnya.


"Gak bukan gitu!" Sangkal Fadli. "Dia itu orang baru yang ngekos, kalau mau tanyakan aja ke pemilik kos kemaren, dia baru pindah!" Tambahnya seolah tengah menguatkan argumen.


Fauzan menurunkan tangan, ia menarik napas, menoleh sebentar pada Widia yang membelalak seakan kaget. Keduanya pergi pindah ke teras. Sementara anak perempuan itu tinggal di ruang tengah, tampak kaget tak main sesudah menangkap perkataan Fadli barusan.


"G-Gimana? Mau lanjutin aja, kan proyek kita." Senyum kecut mengembang di bibir.


"Aku ingat kamu kirim foto perempuan yang kamu suka namanya 'Widya' satu tahun yang lalu. Bahkan setiap cerita yang kamu tulis pasti ada namanya meski di ubah, tetep aja ada inisialnya. Huhh meski kamu terobsesi juga jangan tinggal bersama dan membiarkan nafsu kamu!" Fauzan nyerocos bagai tukang obat tanpa memberi celah untuk menyangkal.


Fadli menyangkal tiap-tiap perkataannya dan mengatakan segala kebenaran kecuali membayar biaya tinggalnya, betul Fauzan meletakkan wajah percaya. Pada akhirnya, mereka bekerja seperti biasa tuk meraup keuntungan walau sedikit.


"Mungkin kalo Fauzan tau, dia nggak mau kerjasama lagi. Nanti dompetku gimana?" Batin Fadli dalam hatinya. "Hahh.. napa aku nolongin dia. Kasihan karena hampir sama, orang-tua ninggalin? nggak, aku yang ninggalin mereka.." batinnya seolah-olah menyesali suatu hal.


"Fadli?" Panggilnya. "Hei Fadli, kenapa kamu melamun!" Tepukan tangan itu menyadarkan lamunannya. Tangan kanannya membelai pipi yang ditampar pelan sahabatnya.


"Nggak, aku gak apa-apa kita lanjutin aja.." gelengan kepala menyertakan ekspresi muka sedih. Mereka bekerja tak mengindahkan perempuan dalam rumah, percakapan kedua sahabat ini biasa meski banyak candaan aneh.


Orang yang paling memahaminya lebih dari orang-tua, pikir Fadli. Namun, dia masih bertanya-tanya mengenai apakah sahabatnya bisa lebih peka dari ayah-ibunya? Bisakah seseorang bisa menggantikan mereka? Itu bukan pertanyaannya.


Duduk di trotoar jalan dan orang-orang bertanya, Fadli hanya berkata bahwa dirinya baik-baik saja buat orang lain kembali berjalan lagi. Serupa tersesat ia betul-betul bersimpuh berdiam dalam geming.

__ADS_1


__ADS_2