
Pemakan Kesedihan, bab 02
"A-Apa maksudnya ini paman? Jawab!" Tanya Widya menaikan alis agak terbuka mata.
Pria bermata sipit pergi tanpa menoleh, mengabaikan teriakannya. Segera usainya, bergegas satpam menutup gerbang membuang telinga ketika Widya memanggil-manggil namanya. Tangan gadis ini pun mengepal, namun dirinya tetap pergi.
Dia melangkah tanpa arah selama beberapa menit di jalanan metropolitan yang ramai, saat melihat teman satu kelasnya mereka saling menyapa. Temannya melihat ke koper yang dibawa Widia. Selang seusai pembicaraan singkat, Widia diajaknya untuk tinggal di asrama putri, meski hanya beberapa hari.
"Gimana kalo kamu tinggal bareng aku aja di asrama?" Saran temannya sekaligus mengajak.
"Eh kurasa itu tak boleh ada aturan khusus asrama, bukan ?" Helaan napas menyertai ucapannya.
Ponselnya tertinggal di rumah beserta segala hal yang dibutuhkan untuk menghubungi orang-tua membuat Widya mengigit bibir, selama seminggu penuh ia berada di kamar temannya. Kehidupannya tak benar-benar sama seperti sebelum.
Temannya berbalik badan dan bertanya, "apakah enak?" Widya mengangguk menanggapi pertanyaannya. "Apa yang kamu masa--" kata-katanya terpotong oleh ketukan pintu.
Beberapa saat kemudian, temannya datang membuka pintu memperoleh guru datang segera menatap Widya. Seperti apa yang ada pada benaknya. Guru datang memintanya pergi, untuk Widia yang tidak tinggal di asrama membuatnya harus pergi, meski telah menjelaskan situasinya sekarang.
"Kalau tidak, Nisya yang akan mendapatkan imbalan akibat perbuatannya.." ucap gurunya tanpa melirik ke perempuan yang di maksud.
"Eh?" Gadis ini hanya menganga. Sekali lagi ia menerimakan kalau dia sungguh-sungguh harus pergi.
Walau temannya meminjamkan uang, gadis ini tak tahu harus pergi ke mana lagi selain ke rumah balik tetapi menemukan jikalau pamannya tetap tak goyah. Dia tak punya arah tujuan selain berada di tempat bertanya mengenai jalan.
Kali ini Widya membuka kelopak matanya, menemukan bahwa dirinya diterima oleh seorang remaja laki-laki. Lebih baik daripada kepanasan maupun kehujanan. Dia harus bersyukur, sungguhpun tidur di atas sofa tak senyaman, yang ada dalam imajinasinya.
__ADS_1
Berulang-ulang kali Widya menelepon orang-tua, tak pernah diangkat melahirkan perasaan cemas. Apakah ayah ibunya telah membuangnya? Soalan itu berkecamuk di kepalanya. Sehingga ia ragu mencoba kembali.
Kebanyakan orang akan mengkhayalkan suatu hal yang diinginkan sebelum terlelap dalam tidur. Serupa berkeinginan mendapatkannya dalam mimpi, selalu Widia memikirkannya sebelum menutup mata. Dia menatap langit-langit ruang tamu.
"Hei Dya, kenapa kamu natap langit gitu?" Anak kecil menghampiri tempatnya. Anak perempuan kini mengalihkan pandangan.
"Adi.. ngapain kamu di situ!" Seru Dya agak membentak. Sementara Adi mengabaikan perkataannya. Dya berteriak, "Jawablah ucapanku!"
Mereka tengah menatap ruang luas terbentang di atas bumi tempat berada bintang dan benda-benda angkasa lainnya. Dalam beberapa menit Dia tampak lebih mendekat pada Adi dan menyender padanya, sedangkan anak laki-laki ini menjauh, seperti memberi jarak. Dan tak lama kemudian satu teriakan datang bermula dari anak-anak lain.
"Temen-temen lihat tuh! Ikan terbang!"
"Bukan! Itu pesawat, bodoh!"
Keempat anak itu bertengkar selepas pesawat lewat di atas mereka, di tonton oleh Adi dan Dya memperhatikan dari bawah pohon. Sebagaimana anak-anak lain Adi berani bermain. Berkebalikan dengan Dya yang seringkali menyendiri, hanya Adi teman bermain satu-satunya.
Adi menunjuk mereka sebelum berkata, "lihatlah mereka Dya, kenapa kamu nggak mau main sama mereka? Aku main nggak di gigit, kok."
Anak perempuan ini memainkan dua jari telunjuknya menunjukkan rasa malu dengan caranya tersendiri, bagi Adi hal itu biasa. Dia bangkit berdiri bergabung dengan keempat anak itu. Sedangkan dari kejauhan Dya menonton, kadangkala Adi melambaikan tangan, hingga mengajak tapi responnya tetap sama.
Anak-anak itu pergi berganti tempat bermain. Dya masih sibuk menggambar di tanah, saat mengangkat wajah mendapati Adi berada di hadapan mukanya. Dya tak pergi memilih untuk berada di sisinya menemani meski Adi terus mengeluh, ia sama sekali tak pergi.
"Hump..!" Mendadak muka Dya cemberut. "Ada apa kok wajah kamu.." lirih Adi semakin pelan. Dalam hitungan detik Dia memukul pelan kepala Adi.
Di mata orang dewasa hanya pertengkaran anak kecil yang lucu, meski itu sepihak. Adi tak melawan sama sekali. Ditindih oleh seorang anak gadis seraya memukulinya, layaknya pertengkaran sementara Dia sukar memalingkan mata dari Adi, anak lain pula memandangnya sebagai anak tak menyenangkan.
__ADS_1
Memilki keinginan kuat untuk bertemu, rindunya memakan kesadaran hingga kelopak matanya tertutup. Dalam tidur, mimpi sekejap yang diinginkannya terwujud, seperti kertas di atas air. Pemandangannya hanya berlangsung sebentar.
"Apa kamu nggak ke sekolah?" Fadli melirik ke arahnya di teras. Widia hanya menggeleng sedangkan laki-laki di depannya menjemur pakaian.
"Pergilah ke sekolah.. ini masih sempat, lain kali gunakanlah kakiku untuk berjalan yang kutahu ayahmu membayar uang bulanan jadi kau tak perlu memikirkan biaya apapun lagi kedepannya," ujarnya melanjutkan.
Widya melihat ke pakaian sekolah dan perlengkapan belajarnya tertata rapi di atas meja, serupa kakak dia menyiapkan semuanya. Memintanya untuk ke sekolah. Sembari melangkah Widya keluar dari halaman rumah dan melambai, Fadly membalas lambaian tangannya.
"Apa ini boleh.. rasanya seperti aku membebaninya sekali meski nanti ayahku pulang, meski dia melihat uang nantinya.. aku merasa.." batinnya dalam hati merasa bingung hendak melakukan apa.
Jarak antara sekolah ke rumahnya memerlukan 30 menit untuk sampai dengan jalan kaki, kendaraan seperti motor butuh sampai 10 menit hingga sampai namun Widya melakukan saran dari Fadli. Dalam benaknya, kini, ia hanya membayangkan remaja itu.
"Kenapa aku mengingat Adi lagi.." lirihnya meredup pelan. Rindunya pada teman masa kecilnya muncul kembali. Anak yang membawanya kepada dunia baru, kehidupan sehari-hari bersama teman-teman lain berkat bantuannya. Dia ingin bertemu tapi tak tahu harus berbuat apa.
Sesampainya di depan gerbang dengan keringat mengucur di pipinya. Widya mengelap keringat sembari berkata, "tiba-tiba pergi saja tanpa pamit bukannya itu menyedihkan. Toh, mungkin kamu udah punya pacar soalnya udah pintar dan ..."
***
Di dalam kelas, semua seperti biasa tatkala ada yang berubah Widya tak berekspresi serupa Widya yang biasanya. Dia tidak melupakannya ketika melihat anak itu menatap angkasa, dengan pandangan lepas. Menyambutnya kedalam dekapan hangat.
Memikirkan hal itu sekarang, gadis ini memerah malu tak wajar memeluk lawan jenis saat berumur remaja, pikirnya saat ini. Hitungan detik selanjutnya guru membuka pintu. Memasuki jam pelajaran siswa siswi kini membuka buku, menarik pena dari tas mereka bagai prajurit menghunuskan pedang.
"Baik, kita akan belajar mengenai sastra!" Seru guru agak keras. "Bukannya Fadly juga punya ketertarikan terhadap ini? Saat kami masih sekolah.." gumamnya seusai terbit ingatan tentangnya.
Dari awal sampai akhir pembelajaran, benak kepalanya penuh akan nama orang itu melahirkan ketidakfokusan pada kegiatan-kegiatannya. Setiap materi yang ada tak melekat ke dalam otaknya. Widya menarik napas, ia melihat salah satu temannya datang membawa tas punggung, sambil melempar senyum manis.
__ADS_1