Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 13 | Tersenyum Tipis nan Manis | edt


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 13


Seminggu berlalu, kini mereka kembali memperoleh ruangan telah bersih dari segala kotoran. Pemilik kos membersihkannya selagi keduanya pergi. Fadly bergegas masuk ke kamar, sedangkan Widya melihat ke halaman depan, ekspresinya terlihat mengungkapkan kepiluan.


Secara sporadis terbit ingatan dimana lelaki yang tengah di kamarnya membereskan bunga-bunga. Hal tersebut menyimpulkan bahwa dia pribadi lembut, sisi lain jauh dalam hati gadis ini mengatakan bila matanya mungkin berbohong, nyatanya ia hanya melihat dari mata.


Orang lain hanya mendengar dan melihat, seburuk-buruk masalah dalam hidup seseorang dipecahkan oleh pemecahan yang berbeda, tidak selalu sama. Mata Widya menganggapnya sebagai hal kecil, tetapi mata Fadly menganggap masalahnya sebagaimana raksasa.


"Aku dicubit juga nggak sakit, gimana kalo Fadly langsung nangis?" Gumamnya sambil memperhatikan angkasa. Mencoba tuk tidak menitikkan air mata.


Fadly mengigit bibir. Dia memandang adiknya melambaikan tangan dari kejauhan, begitu pula ayah dan ibunya melupakan nama anak sepenuhnya. Hilang dari ingatan, dilahap ketiadaan. Mereka semakin jauh, mata Fadly bergulir ke kanan, tangannya ikut melambai.


"Nanti kakak mampir lagi!" Ujaran kata itu beriringan dengan senyum tipis nan manis. Setitik air mata pun tidak kunjung turun. Meski luka akibat pisau masih menyakitkan, air mata itu tidak datang menjumpai pipi, Fadly hanya melukis senyum susah hati.


Widya menangis menyaksikannya, ia awalnya menebak jika Fadly ingin kembali ke keluarga dan meminta maaf akibat perbuatannya di masa lampau, malah mendapatkan sesuatu yang pahit. Dia benar-benar menjumpai laki-laki paling aneh yang pernah dijumpainya.


Dia melangkah menuju depan pintu kamar, bunyi seperti tangis tertahan-tahan berakhir ketika Widya memukul pintu pelan berkali-kali dengan buku jari dan membutuhkan puluhan detik untuk pintu terbuka, dari celah pintu mata merah itu menyambut.


Widya mendekat seraya mengembangkan sedikit bibir sebelum bertanya, "Aku masuk, boleh?"


Fadly mengangguk pelan, sebelum membuka pintu sepenuhnya ia berbalik badan menggerakkan tangan seperti mengusap air mata, tampak jelas dia berusaha menyembunyikan. Dia masuk melewati pintu langsung mendapati bantal basah.


Pemandangan ranjang mengingatkan Widya pada kejadian di masa yang sudah berlalu. Dari menjepit bantal dengan gigi, mengacak-acak kasur hingga layaknya bangkai pesawat dan lainnya. Suasana bilik Fadly sangat mirip, saat Widya berpisah dengan Adi.


"Ada apa ke kamarku segala?"


"Ya, aku takut kamu kenapa-napa, itu saja alasanku datang ke kamar kamu."


"Kamu mencemaskan aku yang bukan siapa-siapa, itu hal aneh."


"Apakah tidak boleh? Setidaknya.. aku pengin kamu senyum lagi. Ayo, senyum lagi!" Layaknya perkataan muka juga mengajaknya senyum.

__ADS_1


Fadly mengigit bibir kembali. Dia meneteskan air mata pertama kali depan gadis yang disukainya. Kedua tangan itu sibuk menghapus titik-titik air mata, hanya saja air terus mengalir dari pelupuk, serupa takkan pernah kering. Bendungannya terus saja bocor.


"Maunya bilang pengin sendirian, tapi maukah kamu menemaniku selama seharian ini?" Pintanya sambil memalingkan wajah. "Aku tahu permintaan ini agak berlebihan untuk menemani seorang ...," Ucapannya terhenti seketika.


"Aku mau kok!" Sela Widya memotong perkataan Fadly semasih belum menyelesaikan kata. "selagi punya aku di sisi kamu, mau presiden juga bakalan aku hadapi!" Widya menghampiri dan memeluk setelah berucap.


"Ahaha.. aku maunya kamu menguasai alam semesta dan galaxy untukku, bisa?"


"Kau ngelunjak.." Widya mengelus tangannya. Sangat dingin serta basah. Dianggap telah mati kemudian namanya tidak diingat lagi, membayangkannya saja Widya tidak bisa, apalagi mengalami.


Mereka duduk di lantai menyender pada ranjang berdekatan, dengan santainya Fadly merangkul Widya masuk ke dalam dekapan lingkaran tangan, ekspresi pertama gadis ini hanya terkejut. Dia tenang seolah menerimakan perlakuannya.


"Biasanya aku minta Fauzan buat temenin kalo lagi keadaan seperti ini.. tapi mana mungkin bisa memeluk begini, bukan? Jadi, biarkan aku dalam keadaan ini beberapa lama."


"Baik. Apa ada permintaan lainnya lagi? Ah, anggap aja sebagai balas budi izinin aku tinggal di sini."


"Elus kepalaku, biarkan aku egois memilki tanganmu beberapa menit, nanti juga aku malu dan berhenti."


Seharusnya posisi ibu tidak digantikan, meskipun begitu Fadly masih melihat bayang-bayang ibu, anak tidak bisa melupakan ibu untuk selamanya. Sesempurna wanita lain, surga tetap berada di telapak kakinya, tidak di kaki lain.


Menghabiskan malam hanya berdua. Tetapi Fadly menolak untuk hal lain, meminta hal kecil ini baginya sebuah kesalahan dan perlu mengusir pikiran negatif. Waras untuk enggan menyiksa gadis dengan kehidupan kejam, tidak seperti remaja-remaja di luar sana, yang lupa akan pegangan hidup benar.


***


Pagi kembali bagai bumerang, gadis berambut hitam ini mengikat rambutnya agar tidak terkena lumpur ketika berjalan. Saat ini ia tengah memakai sepatu, masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah, untuk yang memakai kendaraan.


"Aku akan pulang cepat, kok!"


"Kebanggaanku sebagai laki-laki turun. Tetapi aku ucapkan, makasih atas perhatiannya."


"Yah nggak usah berterimakasih segala. Aku berangkat dulu!"

__ADS_1


"Hati-hati di jalan, jangan melirik cowok tampan yang merokok. Aku tidak akan merestui kalian!"


"Apa yang kamu katakan?" Widya menutup pintu sembari berkata demikian. Dia menarik napas dalam-dalam, menenangkan remaja lelaki itu butuh tiga jam lamanya. Kemarin pertama kalinya wajahnya merona merah sampai terasa panas.


Hari-hari terlewati bersama lelaki itu, tidak pernah satupun perihal membuat Widya ingin menjauh darinya selain ekspresi sok kuatnya. Apalagi bagaimana dia mengungkapkan depresi dengan sikap aneh, gadis ini tidak berniat menyinari kegelapan hati sebelum tahu dirinya layak untuk menyinari kegelapan seseorang, atau tidak.


"Hari yang melelahkan sekali. Aku ingin segera pulang dan.." ujaran kalimatnya terhenti. "Apa yang dilakukannya di tempat ini? lalu, dia memandangiku seperti ingin aku datang ke tempatnya.." batinnya melihat seseorang bersembunyi balik pohon.


"Nona.. nona!" Panggilnya berulang-ulang kali hingga Widya mengindahkan panggilan.


Dia datang menemui pembantu yang kemarin hari memalingkan pandangan darinya, kini perempuan ini memberi sebuah kartu dan pergi begitu saja, seperti tergesa-gesa meninggalkannya tanpa satu kata.


Widya melihat benda di tangan. Seketika gadis ini membelalak, matanya terbuka lebar terkesiap mengetahui kartu apa. Beserta rekening juga ada dalam surat, hanya satu kalimat saja, tapi Widya sangat memahami artinya.


"Kamu memilki anak dan minta maaf? Kenapa kamu meminta maaf kepadaku.." Tanyanya sambil menghela napas dalam batin.


***


Fadly menonton kawanan burung terbang satu arah bersama-sama layaknya keluarga. Matanya berkaca-kaca serupa akan menangis. Dia syok, orang-tua yang diharapkan bisa menerimanya kembali malah melupakan dan dikira meninggal. Khusus ia merasa bila hatinya seperti perempuan, meski laki-laki.


Selang cukup lama. Ada tiga orang berada di halaman rumah, helaan napas menyertai langkah sebelum Fadly membuka pintu. Mesem di hadapan teman, menyeringai menghadap sakit-sakitan, terulang-ulang hingga sekarang.


"Tumben kemari, apakah kalian membawa budak untuk dijual padaku?"


"Candaanmu tidak lucu."


"Ah, ayolah Zaky.. kau suka yang begituan, kan?"


"Fauzan, aku akan pergi saja."


"Hei hei hei, aku hanya bercanda jangan dianggap serius-serius, maaf.."

__ADS_1


Remaja berkacamata ini menarik napas panjang. Dia disambut oleh teman mereka masuk ke rumah, hanya saja Fauzan semasih belum menginjak ke teras, ia memandangi jemuran pakaian wanita. Dan ia tahu yang mencuci semuanya bukan Fadly.


__ADS_2