Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 19 | Perihal Perasaan Sakit


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 19


Walau keduanya sempat bersikap mesra kemarin hari, kini tampak kecanggungan mengelilingi keduanya laksana bulan dan bumi. Masalah mengenai orang-tua belum terselesaikan. Fadly enggan untuk bertemu, begitu pula ayahnya.


"Kemarin sangat kacau. Ah, apa yang harus kulakukan pada situasi semacam ini?" Tanyanya dalam batin. Widya terus memikirkannya sampai meresap ke dalam hatinya.


Widya menopang kepala dengan sebelah tangannya sambil melamun, bando bunga dan anting pemberian Fadly masih dipakainya hingga sekarang. Ruangan masih hidup bersama percakapan di kelas, gadis ini tidak tertarik pada obrolan sehari-hari dan lebih memilih diam sampai waktunya pulang.


"Maaf.. Widya ya?"


Suara laki-laki yang terkesan lembut tertangkap indra pendengarannya. Widya menoleh, lelaki dengan rambut rapi dan sedikit diberi warna kuning berdiri di hadapannya. Melihat sekilas saja Widya paham bila laki-laki ini memberi tatapan pengharapan.


"Penampilanmu sangat jauh beda dari Fadly, biasanya dia akan memakai pakaian tertutup atau semacamnya.." kata Widya melihat lawan bicaranya walau pikirannya berada di tempat lain.


"F-Fadly? Siapa itu.."


"Ah, aku hanya melamun, jangan dipikirkan." Widya menggeleng sebelum melanjutkan, "Ngomong-ngomong Wira, ada apa kau menemuiku?"


"Tidak, aku hanya ingin bertanya apa kamu punya waktu luang untuk.."


"Ya aku sangat sibuk. Apalagi tengah berantem sama seseorang, jadi gak ada waktu lebih.." dengan cepat Widya menyela.


Tiba-tiba saja mendadak suasana kelas begitu hampa, seakan-akan cuaca dingin masuk ke ruangan melahirkan ketegangan. Dalam saat yang bersamaan semua murid menunggu dengan perasaan tegang, mencekam bagai berada di tempat horor.


Para siswi bergegas berbisik-bisik seraya memperhatikan mereka, begitu pula para siswa melakukan hal yang sama. Wira mengigit bibir bawahnya. Dia seperti kesal, Widya menghela napas panjang sesudah membawa tasnya.


"Tunggu!" Wira berujar agak keras. Dia berteriak, "Aku pengin kamu jadi pacarku!"


"Ha?" Spontan Widya menoleh ke arahnya.


Remaja yang paling disukai bahkan dikagumi banyak orang di lingkungan sekolah padahal baru pindah, hal wajar bila dia berpasangan dengan orang yang memilki status sama. Widya memikirkan hal tersebut sewaktu lontaran kata Wira keluar.

__ADS_1


Dia menyipitkan matanya menunjukan pandangan galaknya, wajahnya membuat ekspresi menyatakan tidak suka. Gadis ini pergi tanpa sepatah kata sekalipun. Bahkan, dia sungguh-sungguh benar menghadirkan suasana hati tidak senang.


"Cih!" Widya membatin, "Apa yang dipikirkannya? Menjengkelkan!"


Beberapa orang menyaksikan Widya mengatakan 'cih' kata seru menyatakan tidak suka beriringan dengan ekspresi tidak suka. Dia keluar melewati gerbang menemukan Alya tersenyum kepadanya.


***


"Bagaimana itu bisa terjadi? Katakan!" Perintah Widya seraya mengguncangkan badan Alya tanpa ampun. "Cepatlah katakan!" Desaknya.


"Sudah kubilang aku gak tau, tapi yang pasti Wira yang kamu tolak tadi tuh musuh Fadly!"


"Katakan semuanya, cepat!"


"ITU DOANG."


Alya melepaskan diri. Dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan pembicaraan mengenai dua lelaki itu, bahwa Fadly tidak diusir justru kabur karena masalah internal keluarganya. Dan persoalan tersebut didukung oleh keberadaan Wira.


"Pokoknya, hampir masalahnya berakar dari Wira dan ayahnya. Itu aja yang ku tahu."


Widya mencengkram kuat handphonenya sewaktu berkata, "Hoo.. selepas denger ini dari kamu, rasanya mau ku bunuh itu anak dan ku laporkan ayahnya dengan tuduhan KDRT."


"Jangan bunuh orang," kata Alya menghadirkan senyum kecut. "Tapi kalo soal ayahnya aku setuju sama kamu.." Alya mengangguk-angguk.


Kedua gadis berambut panjang ini keluar dari kafe, satu-satunya tujuan langkah mereka hanya kediaman Fadly. Dalam perjalanan obrolan yang dilakukan segalanya mencakup tentang Fadly, jarak obrolan tak jauh dari tentang lelaki itu.


Sesudah berjalan cukup lama, Widya sampai di halaman rumah namun mendapati Fadly terduduk dekat jendela kamar dan dia duduk membelakangi mereka. Alya ragu untuk menghampirinya, lalu pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuan Widya.


"Hei Alya, menurutmu bagaimana?" Tanya Widya terus melekatkan pandangan. "Alya.. hei Alya!" Toleh gadis ini ke belakang tidak memperoleh siapapun.


Dari kejauhan gadis ini melihat perempuan itu angkat kaki memakai taksi. Widya berjalan hendak masuk ke rumah, sewaktu menggenggam pegangan pintu ia mendengar Fadly bicara sendiri. Dia mendengarkan sebab namanya ikut terucap.

__ADS_1


"Aku hanya menolong karena simpati saja," ucapnya dalam suara lantang. "Menyukainya sama dengan bunuh diri. Yah, melihat nona kaya menjadi pembantu sangat melegakan hatiku.."


Bibir Widya bergetar ketika mendengar lemparan kata-kata Fadly barusan. Gadis ini membuka pintu dengan pelan, ia melangkah ke kamarnya tanpa suara mengikuti. Kalimat kotor dikeluarkannya untuk mengumpat Widya, gencar tanpa henti.


Dia menutup pintu perlahan-lahan, masuk ke kamar disertai kecewa serta sedih. Sementara itu, Widya merebahkan diri menyaksikan burung-burung mengirai-ngiraikan sayapnya di angkasa lepas sembari memikirkan kata-katanya Fadly yang meresap ke dalam hatinya.


"Setiap bulan kartuku masih dikirimi uang dari ayah, apa aku harus menginap di hotel saja?" Soalan itu keluar tiba-tiba dari mulutnya. "Apa mungkin Fadly menggodaku hanya ingin melihat reaksiku untuk dijadikan sumber acuan 'tuk ceritanya?"


Widya tenggelam di lautan pertanyaan, kian bertambah tiap-tiap pemikiran baru muncul. Dia memeluk bantal dan mengigitnya. Sekonyong-konyong ia menggoyangkan kepala ke kiri-kanan, menolak tegas segala pertanyaan.


Dia mencoba mendistorsi fakta yang ada, menyangkal seluruh kenyataan dan menutupi wajahnya menggunakan bantal. Widya berharap bila rasa sakitnya lenyap selamanya, hanya saja ia teringat pada kata-kata seseorang bila rasa sakit tetap di perlukan untuk mendorongnya.


"Kita mencoba menyingkirkannya, padahal tahu membutuhkannya? Rasa sakit tetaplah sakit, meski kamu berkata demikian Fadly."


***


Bagai minyak lelap, Fadly mengelus pipinya dengan lembut tidak berniatan melakukan hal lain diluar kemampuannya. Dia tersenyum tipis mengungkapkan secuil kebahagiaan. Laki-laki ini melangkah pergi, maju ke depan sendirian tiada siapapun disisinya.


"Fadly ..."


Widya membuka matanya perlahan tidak menemukan siapapun disekelilingnya, ia menggosok-gosok mata dan memijat pipinya sebentar. Beranjak keluar, mendapati pintu kamar cahaya matanya terbuka.


Widya memeluk diri sembari membatin, "Apa yang harus aku lakukan?"


Ponselnya berdering, begitu melihat siapa yang menelepon ia tidak mengangkat dan memberi pesan jika akan memanggil kembali di lain waktu. Dia masuk ke kamar remaja lelaki, duduk di ranjangnya dan meraih bantal guling putih.


Kedua tangan meraih bantal ke dalam dekapan kedua tangan melingkar, memeluknya erat laksana enggan melepaskan. Sebentar-sebentar mulutnya mengaga, lalu menangkup lagi seakan ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan-tahan.


"Bukankah benda itu ada di sini?" Widya melihat sekeliling menerbitkan ingatan. "Ah ya benar, aku menyimpan benda itu dibawah mejanya."


Secercah harapan menemuinya, Widya bangkit dan pergi ke bawah meja mengambil sesuatu benda yang ditempelkan olehnya beberapa hari yang lalu. Dia keluar bersama barang tersebut, selama dirinya merasa menaruh kasih dan hati padanya Widya tidak ingin merelakan tentang meninggalkannya.

__ADS_1


Dia masuk ke kamar, mengunci pintu dan duduk di meja belajarnya dengan tirai tertutup bahkan lampu mati. Widya menarik napas semasih belum mengungkapkan suara ditangannya.


__ADS_2