
Pemakan Kesedihan, bab 14
Satupun manusia pasti mengalami proses tumbuh, tempatnya tumbuh akan membentuk perawakannya dan bagaimana dilihat oleh masyarakat. Ada yang akan tumbuh sebelum waktu seharusnya, ada pula yang terlambat tumbuh, seperti bunga.
Bunga tidak tumbuh secara bersamaan sekalipun benih ditanam pada waktu berbarengan. Belajar sesuatu dari menanam tanaman, laki-laki ini sungguh paham tentang bunga yang belum mekar seperti teman-temannya, dan tumbuh sebagai bunga paling indah. Meski ada bunga yang mati sebelum mekar.
"Ya datang lagi," ucapnya seraya mengantar mereka ke teras rumah. "Lain kali bawalah pacar kalian dan kenalkan padaku.."
"Fad, kau tambah ngawur banget.." Zaky menjawab perkataannya. Dia membenarkan kacamata sembari meladeni ucapan temannya.
Fauzan tersenyum kecut. Dia bersama salah seorang menaiki mobil, selagi Zaky dan Fadly tengah berdebat suara mesin mobil tertangkap pendengaran. Remaja laki-laki berkacamata ini pun menyusul masuk ke dalam mobil.
"Repot-repot bawa kendaraan itu," batin Fadly memperoleh kendaraan beroda empat ini. Memenuhi halaman rumahnya. "Ya jika di simpan diluar rumah takut ada yang ngambil, lagi pula maling zaman sekarang IQ-nya tinggi semua.." lanjutnya.
Dia kembali ke ruang tengah, menemukan tempat sepi yang sangat luas walau hanya rumah kecil sederhana. Fadly menatap ke meja tempat laptop masih di isi daya. Siksaan rasa bosan terus menghampiri, setiap Widya atau temannya tidak ada.
Hal pertama yang terbit dalam benaknya saat memperoleh suasana ruangan hanya keluarga, bukan karena rasa bersalah meninggalkan, melainkan hanya untuk adik kecilnya.
"Aku kembali bukan untuk dua manusia itu, hanya adikku saja.." lirihnya pelan. "Apa aku durhaka, apa salahku sebenarnya hingga keduanya seperti itu?"
Hampir menceritakan segala pada gadis yang disukainya sejak lama, pindah ke tempat jauh dan putus sekolah. Demi impiannya meski telah tercapai sedikit demi sedikit. Dia tahu dan merasa semua pencapaian hampa, tanpa belaian tangan orang-tua.
Melihat Wira telah mekar sejak SD mesti belum seharusnya, Fadly melihat anak itu diangkat ayahnya dan berkebalikan dengan situasi yang tengah dialami olehnya. Ayahnya sangat mudah mengangkat tangan untuknya. Dia merasai makanan pahit, sejak awal keduanya seolah memandang sebelah mata.
Ayah ialah orang yang bisa mengangkat beban di kedua pundak, bukan mengangkat sebelah kaki di atas meja sambil meminum kopi. Kata-katanya terhadap anak bagai empedu, Fadly merasa ayahnya bukan manusia, hanya beban keluarga.
"Namun, aku tak lupa jika aku darahnya sendiri.. mungkin di masa depan anakku akan membunuhku. Yah, itupun jika aku kerasukan setan ayahku pasti akan terjadi peristiwa semacam itu.." batinnya dalam hati seraya tersenyum.
"Ah, ayolah Fadly, saatnya mencari hiburan di sosial media mungkin ada yang menghiburku.."
__ADS_1
Dia duduk di sofa dengan ponsel pintar, tangannya menggeser layar mencari hal menarik. Beberapa menit setelahnya muncul notifikasi. Postingan dari Widya muncul di beranda, matanya membelalak kaget menyadari satu manusia.
"Wira.."
Setiap mendengar atau membaca nama itu. Yang di pikirannya hanya sesosok pahlawan atau perwira, meskipun begitu Fadly tiada henti menjambak rambut seakan kesal. Dia membanting ponsel ke lantai hingga pecah dengan amarah meluap-luap.
***
"Aku pulang!" Widya membuka pintu. "Dengar deh Fad! Aku ada berita bai.." ucapannya melemah saat melihat laki-laki itu membersihkan darah di tangan.
"Ada apa? Kamu kenapa!" Ujarnya bergegas menghampirinya membuang belanjaan di depan pintu. Dia benar-benar terkejut.
Tangannya yang terluka berlumuran darah. Akibatnya cairan itu ada di lantai, serupa sayatan pisau luka itu seolah-olah akan menghabiskan darahnya. Gadis ini bertanya apa yang terjadi, namun laki-laki ini mengunci kulit rapat-rapat enggan bicara.
Seusai membalut tangan Widya menarik napas lega karena telah berakhir. Dia mengambil belanjaannya dan duduk di sisinya. Fadly mengeluarkan senyum yang lahir dari rasa kecewa, ia tak lama menyender pada Widya, membuatnya kaget.
"Alasanku menolongmu mungkin hanya ingin agar kau menyukaiku.."
"Mendapatkan perhatian dari seorang gadis itu menyenangkan hati, alasannya untuk mendapat perhatian pujaan hati."
"Kamu kenapa seperti ada masalah, jujur saja! Aku tahu kamu menjambak rambut lagi, kan?"
"Ada bunga yang ingin segera layu dan mati sebelum mekar," ucapnya sembari turun dari sofa. Dia menjadikan pangkuan Widya sebagai bantal membuatnya sontak kaget, sikapnya sangat acak ketika tengah sakit hati.
Widya merona merah. Sambil malu, ia meraih rambut Fadly dan mengelusnya pelan-pelan dengan lembut. Selama setengah jam suasana hening. Televisi menjadi sumber suara latar belakang, kedua remaja kini duduk saling menyender.
"Ini sebenarnya tidak baik."
"Tidak baik? Maksudnya bagaimana, Fad."
__ADS_1
"Seorang gadis dan laki-laki di satu ruangan seperti ini, bahkan paling parah saling menyender.
"Tidak apa-apa, asal kamu tahu aku sangat percaya padamu apalagi udah tahu akibat kalo macam-macam sama aku."
Fadly menatap wajahnya sebentar tanpa disadari olehnya. Selagi Widya menarik-narik sesuatu dalam tasnya, benda yang diinginkannya seperti tersangkut pada sesuatu. Butuh beberapa menit agar bisa keluar. Dia memberikan secarik kertas pada Fadly.
Lelaki ini menerima kertas dan membacanya. Mencerna tulisan ini Fadly hanya bisa tersenyum hampa, ia tahu jika orang-tua Widya masih waras untuk tidak meninggalkan anaknya. Mereka tetap mentransfer uang kepadanya setiap bulan, Fadly kelihatan lega.
"Sekarang ini, aku tidak akan merepotkan kamu lagi Fad!" Senyum bahagia turut hadir.
"Jadi, kamu mau cari tempat lain untuk tinggal? Kupikir uang yang diberikan mereka akan cukup."
"E-Enggak, aku cuma pengin tinggal di sini aja tanpa dibayarin kamu. Udah lama aku sadar kalo keberadaanku hanya beban aja, jadi kali ini.." Widya melisankan kalimatnya sambil menunduk malu.
Widya sama sekali tidak melanjutkan ucapan. Dia sadar bahwa mulutnya menolak melontarkan kata-kata, hatinya enggan mengungkapkan perasaan begitu pula pikirannya. Gadis ini menentang untuk otaknya membuat kata-kata baru.
Di atas meja terdapat ponsel Fadly, Widya melihatnya mengambil benda itu dan memperlihatkan layar ponsel. Dia bertanya siapa orang yang berada dalam gambar, mengabaikan pertanyaan Widya mengapa layarnya pecah.
Widya menjawab, "Dia murid yang pindah ke kelasku, karena tidak betah di kelasnya dan pindah."
Selang beberapa saat Fadly tegak bertumpu pada kedua kaki, ia melihat dengan tatapan tajam nan sinis. Seolah-olah sedang memandang rendah. Dia tidak lama pergi, tanpa melihat ke belakang walaupun Widya hendak menyusul.
"Kamu boleh tinggal di sini tidak masalah. Kecuali kalau kamu membawanya kemari, aku yang akan pergi. Harusnya kamu bisa bertahan hidup tanpa bantuanku, bukan?"
"Fadly ...," Ujarnya lirih melemah. Widya menengok ke arah samping ada bunyi ketukan pintu memasuki gendang telinganya, Widya beranjak dari kursi dan mendapati Fauzan berdiri depan pintu. Dengan ekspresi bingung dia memandangi Widya.
"Apa Fadly ada?"
"Dia kayaknya butuh waktu buat sendiri deh, memangnya ada apa? Kalau bisa akan aku sampaikan nanti."
__ADS_1
Fauzan menggeleng. Dia membawa kembali sesuatu dalam kantong plastik, seusai pamit pergi begitu saja menginjak halaman rumah. Pada halaman depan kediaman ada bunga-bunga layu dan sedikit bunga yang sehat, layaknya pemilik, tanamannya juga tengah tidak baik-baik saja.