
Bab 35 | Tempat BerpulangKu
Seorang remaja laki-laki di kamar sedang berupaya membenamkan deritanya dengan menyibukkan diri sendiri, sewaktu mendapati daya laptopnya rendah, Fadli menghela napas. Dia berdiri dari tempat duduk hendak membuka tirai jendela.
Fadli menaruh perhatian pada Wira yang tengah mengawasi kediamannya, pemilik rumah pula balik memantau dirinya dari kamar mengintip dari celah tirai. Widia keluar berantara menemukan pengawas sedang berdiri di trotoar jalan.
"Apa yang akan dilakukannya?" Batin Fadli dalam hati memperoleh Widia menghampirinya.
Sesudah mereka bicara sekejap, keduanya tertampak akan masuk ke dalam. Fadli turun dari ranjang, ia berdiam depan muka pintu menanti Widia membuka pintu biliknya. Tidak cukup panjang antara waktu, Widia mendorong pintu.
"Dapet!" seru Fadli menangkap Widia. Gadis ini terkesiap kaget. "Baiklah, ada tamu ya? Kan ku temui dia," ucap Fadli sesudah melepaskan dekapan.
"Ehh!" Widia yang cemberut mengangguk, "jangan lama-lama sebabnya kita bakal lanjutin nanti."
"Manja amat~" ejek Fadli bernada pelan memberi kesan berbeda dari yang biasa.
"Hump!" Widia yang cemberut berkata, "wajar bila perempuan ingin dipeluk orang yang dicintainya."
Fadli mengayunkan kakinya mendatangi ruang tengah menjumpai Wira duduk dengan satu kaki di atas meja, ketidaksopanan yang bagus, pikir pemilik rumah. Mereka duduk berhadap-hadapan serempak senyum ancaman terwalak di durja keduanya.
Gadis yang memantau mereka berjarak jauh, walau telinganya tidak kuasa menangkap percakapan mereka berdua Widia tetap mengawasi. Pembicaraan tak sesuai imajinasi Widia, tiada tanda jika kan lahir sebuah pertengkaran diantaranya.
"Lalu apa yang kau inginkan setelah memberitahu alasanmu punya dua tangan jail padaku?" Tanyanya sambil meneguk seteguk air dingin.
Wira menghela napas semasih belum berujar, "hanya itu saja alasanku. Kau memancing ayah-ibuku agar aku belajar dan mengalahkanmu, itu saja."
"Goblok!" Fadli menggebrak meja dan berteriak, "itu hanya angka di atas kertas. Bukan suratan takdir yang kuasa menentukan warita kepahlawananmu!"
"Bisakah kau tidak berteriak-teriak?" Wira yang mengorek telinga mengeluh, "daun telingaku sakit."
__ADS_1
"Biar sedikit dramatis," ucap Fadli sambil terduduk kembali. Dia memikirkan alasan Wira terdengar seperti bukan kebohongan, meski demikian Fadli enggan mengangguk dan mengiyakan.
Tak lama setelahnya Wira bertumpu pada kedua kakinya, menilik tajam Widia sebelum menggerakkan kakinya. Anak remaja ini balik ke tempat berpulangnya, dia melambaikan tangan sembari tersenyum hampa menghala kepada Fadli.
"Kau memilih Widia yang berpotensi menghancurkan hidupmu sekali perintah pada ratusan anak buahnya, sangat mengerikan," ucapnya sesudah menghentikan lambaian tangan.
Kedatangan Wira serupa angin yang mendadak datang meski tiada badai, pawana itu tidak jelas apa dambaan dan harapannya pada Fadli. Pahlawan yang cuma nama masih labil, terus menyalahkan orang lain layaknya remaja yang belum dewasa.
Kendati Wira ialah nama yang berarti pahlawan laki-laki, tidak semua nama mencerminkan perilaku anak, sebesar apapun hajat pemberi nama jika ajarannya begitu maka itu kan tetap berakar hingga mati.
"Orang jahat tanpa pendirian yang kuat tidak layak disebut antagonis!" Ujar Fadli sambil meregangkan tangan. Dia melirik pada Widia dan berkata, "aku tidak menyukainya."
Widia mengapit pipi Fadli dan berlisan, "Jangan menyukai besi, jadilah besi untukku. Aku magnet kamu teruslah tarik diriku."
Selagi dipermainkan Widia, Fadli hanya tahu dari kewaspadaan Wira terhadap pacarnya. Tidak perfek menjadikan orang semacamnya sebagai musuh dan bahkan orang disekelilingnya juga akan terpengaruh otoritas keluarganya.
"Kamu hanya musti nempel padaku seorang," pinta Widia sambil meletakkan tampang cantiknya.
Senyum manisnya yang selalu tersipu telah merekah dalam lekukan pipi imut membujuk netra Fadli agar terpaku. Ibarat terlena menikmati alunan musik, laki-laki ini mendengar nyanyian Widia begitu merdu dan menenangkan pikirannya.
Suaranya menyenangkan pendengar, ditambah lagi lantunan lagu membahana begitu lama. Kebohongan mulutnya memicu Widia menjadi pelagu untuknya, meski Fadli menemukan keluarganya menonton, terlihat jika ayahnya heboh dari refleksi cermin.
"Diam-diam aku suka.. ha~"
Fadli bertepuk tangan menandakan gembira bertandang kepada dirinya, suara tamparan kedua telapak tangan pun disusul yang lain. Widia mematung diam, tidak lama kemudian ia merangkul pacarnya ke dalam dekapan.
"Ada apa?" Fadli bertanya. "Kamu kelihatan kesal padahal sebelumnya senyam-senyum," lanjutnya.
"Cih!" Widia yang kini berdecak kesal semasih belum bercakap, "padahal maunya cuma kamu doang yang denger. Kenapa waktu begitu jahat?"
__ADS_1
Fadli memukul kepala Widia dan memerintah, "Jika kamu berniat hendak mengutuk waktu, cepat urungkan niatmu itu."
Sesudah putri mereka meminta agar ketiganya duduk, Sarah masih mengamati tingkah laku kakak yang dulu selalu merasa jijik pada laki-laki hingga menggunakan sarung tangan transparan dan melihat ini sekarang, adiknya betul-betul merasa kepelikan.
Langsung pada poin utama, ayahnya yang ingin mewacanakan pernikahan anaknya, membuat Fadli terperanjat kaget. Dia mundur hitungan langkah sewaktu pak Arya menatapnya, serupa bumi berputar terlalu kencang Fadli mabuk karena sensasinya.
Arya yang tersenyum mengatakan, "kenapa anda malah ketakutan? Faktanya anda ialah orang yang dicintai putri kami."
"Ya, benar apalagi ..." ibu Widia menjeda ucapan sebelum berlanjut, "kami tahu dari kecil bahwa kasih sayangmu pada Widia sungguh murni."
"Dari kecil apaan? S-Saya hanya mengincar Widia demi mendapatkan uang!" Sangkal Fadli melemparkan kebohongan pada keduanya.
Fadli duduk di sofa sesudah membentengi kepala dingin berupaya agar tidak berkecai pecah meruak kemana-mana. Dia mengajukan beberapa pertanyaan, soalan yang kan di lontarkan jika seseorang musti menjawab pertanyaan mendadak.
Ibu dan ayahnya mengangguk setelah Fadli memastikan kesungguhan, pada benaknya perkara mengenai Wira masih menempel. Sangkala seolah-olah tengah usil kepada dirinya, Fadli hilang akal semasa harus melewati lemparan pertanyaan.
"Menyerahkan segala pada waktu sesudah berbuat yang terbaik, tapi sekarang urusan ini berbeda. Apa yang harus kukatakan pada mereka? Gila banget tiba-tiba datang bersama lamaran!" Batinnya.
Selang beberapa menit, Fadli menaikan alis menerbitkan ingatan bila dirinya juga masih memiliki orang-tua. Dirinya yang waras berpikir bahwa dia masih tanggung jawab ayahnya, mereka belum putus hubungan sepenuhnya.
"Tenang saja, masih ada proses! Kami akan tinggal beberapa hari di sini memastikan apa kamu pantas jadi bagian keluarga atau tidak. Yang pasti, ini sudah aturan dari buyut kami jika ingin menikahkan anak."
"Ribet amat bu!" Widia yang sekarang cemberut mengatakan, "langsung aja tidak apa-apa, bukan?"
"Yah sejujurnya.." Fadli mengigit bibir, "mengapa kalian tidak membawa putri kalian? Tetangga sudah menggosipkan Widia akan hamil karenaku."
"Lalu, mengapa anda tidak melakukannya?" Ayah mengajukan pernyataan tanpa ragu sedikitpun.
"Aku murni mencintai Widia karena kasih dan sayang, menyiksa serta merusak hidupnya karena hal kecil semacam itu? Diluar sana banyak laki-laki mencintai pasangannya tapi tidak memikirkan hal kecil itu."
__ADS_1
"Dengan kata lain, kamu nggak tertarik pada lawan jenis?" Widia tiba-tiba memasuki pembicaraan dan melanjutkan, "habisnya itu sangat aneh!"
Ayah Widia kini membuka matanya, menjumpai pertengkaran yang mirip semasa istrinya salah sangka pada perkara yang sama. Pria ini menarik napas dan menaruh perhatian pada mereka berdua, begitu pula istri dan sarah melakukan hal yang sama.