Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 33 | Berserah Pada Waktu


__ADS_3

Bab 33 | Berserah Pada Waktu


Dua bulan berlalu begitu cepat, pada Mei ini Fadli mencoba untuk memberi waktu pada keluarganya dan memilih melepaskan ibu serta adiknya sebentar, meski dirinya ragu. Tetaplah ayah adalah orang-tuanya sebego apapun.


Fadli tidak meradukan kesulitan dalam perkara dengan ayahnya, entah hengkang dari masalah atau enggan menyelesaikan masalah, gerak-geriknya kini sukar untuk ditebak Widia. Gadis ini memikirkannya sambil mengayunkan kaki perlahan.


"Aku sama sekali belum terbiasa memakai pakaian kayak begini," ucap Widia tersenyum tawar. Langkah kakinya seperti ucapan yang tertahan-tahan berkat jarang menggunakan busana suruhan Fadli.


Seminggu lewat Fadli tinggal sendirian tanpa kehadiran gadis ini, sikapnya seakan-akan kembali jadi yang dulu buat Widia sedikit tidak tenteram lantaran remaja laki-laki itu takahnya serupa penyendiri lagi. Lambat-laun sifatnya berubah, meski Widia tidak tahu karena apa.


Gadis remaja ini tiba di parkiran pusat perbelanjaan kota, melihat layar ponsel Widia sadar jika sudah waktu pacarnya menunggu di tempat yang sudah dijanjikan. Karena sungkan pada Fadli kalau duluan, Widia menanti di parkiran mobil sesuai janji.


"Yo honey, lagi nungguin apa? Main sama abang yuk!" Ajaknya bersuara keras.


Segera Widia menyipitkan mata dan menyaut, "apa yang kalian inginkan?"


Gadis ini berusaha membentengi kepala dingin nan sabar, menunggu kedatangan pacar dengan gelisah. Karena lama mengharap, akhirnya dia mengirim surel pada Fadli setelah panggilan diabaikan.


"Cih!" Widia berdecak kesal. "Kenapa malah muncul tiga pria sok keren? Menjijikan sekali!" Batin gadis remaja ini dalam hatinya.


Widia mulai jengkel dan menarik napas, ia kemusnahan kesabaran sesudah siku bersentuh. Dia meletakkan ponsel ke dalam saku rok bersama wajah tenang bertukar menjadi murka, bersicepat tatapannya menetapkan sasaran.


Gadis ini mendaratkan pukulan pada salah satu dada lawannya hingga terjungkal. Sesudahnya, yang lain hendak menyerkap secara tiba-tiba, meskipun begitu Widia telah menduga lalu bersenggau dan berputar pada udara melakukan tendangan berkisar.


Satu mengacir terbirit-birit menjumpai dua rekannya tepar karena hantaman Widia, perempuan ini menunduk ke bawah dan mendapati bila laki-laki pertama yang dipukulnya pingsan. Dia menjambak rambut laki-laki, menyeret dan menggurat mukanya di jalan aspal layaknya keju parut.


"Elu punya kejantanan sentuh kulitku, cuma Fadli yang boleh merabanya.." Widia berdecak sebelum melanjutkan, "sampai wajahmu jadi kulit singkong kan ku kukur sampai marahku reda."

__ADS_1


"Kamu kejam banget.." kata seseorang di belakangnya. Bergegas Widia melihat bahwa Fadli datang membawa petugas keamanan.


Widia bertukar ekspresi, dirinya mewalakkan muka ketakutan sekali lalu mendekap kekasihnya. Selagi petugas keamanan meringkus dua preman, situasi didominasi oleh Widia dan nyaris Fadli tak kuasa mengemudikan arah pikirannya.


Fadli memperhatikan Widia dari ujung kaki sampai rambut dan bercakap, "mereka menyentuhmu? Katakan bila ada yang sakit, ayo mengobatinya dulu."


"Ah, benar juga.." Widia keluar dari pelukan dan mengatakan, "aku mau membuang sesuatu dulu."


Melihatnya membuang benda semacam kain transparan menyebabkan Fadli penasaran. Sesudah perempuan itu melangkah duluan, laki-laki ini menampak sebuah sarung tangan tembus pandang di tong sampah hingga membuatnya tertegun.


"Kenapa kamu mengambilnya balik? Buang!" Kata Widia meninggikan tutur katanya.


Fadli tersenyum hampa dan berkata, "apakah selama ini kamu najis memegang tanganku atau orang lain sampai segininya? Jika benar ..."


"Enggak!" Sangkal anak perempuan ini segera menghampirinya. Durjanya yang berjarak dekat hanya hitungan inci beralasan, "aku hanya gak mau disentuh laki-laki lain selain kamu!"


Mereka beralih tempat ke toko pakaian, seluruh toko hampir mengenali Widia dan penjaga menyapanya seakan-akan tempat ini kepunyaan keluarganya. Dan antara sering jalan-jalan kemari atau dia kelewat kaya, Fadli sukar bernala-nala makin dalam.


Mereka menanti penunggu toko pakaian mendapat baju yang dicari sambil melahap kudapan, meski begitu Fadli hanya menyuapi gadis aleman yang mencari-cari perhatian. Saking jinaknya Fadli khawatir dan ngeri membayangkan masa depannya.


"Itu adalah pemikiran yang menakutkan," gumam lelaki ini mengamati Widia di sisinya.


"Buka mulutmu katakan, 'aahnn~' cepat!" Perintah gadis ini menyodorkan sepotong wafer.


Sekilas orang yang bersimpang-siur melekatkan pandangan sepintas lalu lewat, Fadli membuka mulut dengan kemalu-maluan dan menerimakan kegiatan ini. Rasa malunya pun memuncak seusai Fauzan dan Zaky keluar dari toko ponsel.


Mendadak Fadli berdiri dan berteriak, "Aku kepengin ke toilet!"

__ADS_1


Jejaka laki-laki ini kabur menghilang secepat cahaya, melarikan diri menuju ke toilet. Dirinya masuk bergegas mencuci muka, sewaktu menaikkan pandangan dan menemukan bayangan pada cermin, matanya sedikit membelalak terbuka.


Helaan napas keluar sesudah Fadli mengeringkan durja merahnya, hendak balik ke tempatnya justru menemukan seseorang menghalangi pintu. Wira tersenyum kecil seraya menatapnya, senyum angkuh yang menjadi ciri khasnya sangat dibenci Fadli.


Fadli menghela napas sebelum berkata, "menyingkir dari pintu masuk.." anak ini mengancam, "kalau tidak aku akan berteriak meminta pertolongannya."


"Aku sangat membencimu! Kenapa kau selalu saja membuatku kesal setiap waktu?" Wira mengigit bibir semasa berkata. Seketika suara gebrakan pintu mengagetkan mereka berdua.


Pintu terbuka dengan Wira terdorong kuat hampir terguling, ada seorang pria jangkung berotot masuk toilet seperti tak tertahankan lagi untuk melakukan hal yang kan dilakukan siapapun semasa masuk ke toilet dengan tersera-sera.


"Oh ya ..." Fadli menghentikan langkah kakinya dan berpesan, "aku takkan menganggu kehidupanmu karena tak semua masalah diselesaikan. Adakalanya aku akan bersandar dan berminta pada waktu."


Meradukan masalah antara keduanya buat Fadli enggan berbuat perkara lain dan berserah pada waktu. Dirinya berpikir bila membiarkan Wira sendiri mungkin tepat, tidak mengusik dan membiarkan dia bersama waktunya ialah hal baik.


Wira kelihatan tidak senang, sementara lawan bicaranya angkat kaki balik memusatkan pengindahan pada kekasihnya. Widia mengayunkan kaki sambil menanti, raut muka bosan bertukar setelah kedatangan Fadli terlacak olehnya.


"Nggak kok, aku pasti kan selalu menunggumu sampai aku mati!" Kata Widia meninggikan tutur kata.


Fadli sekarang melempar senyum sembari terduduk berpinta, "Pelankan suara kerasmu. Ok."


Melihat kalau pakaian mereka sampai, laki-laki ini memeriksa pesanannya dan betul ada. Sesaat bingung dengan bayaran, Widia memegang struk belanja dan menggeleng. Wajah Fadli pun seolah berkata, "sekaya apa dia?" dengan senyum kecut.


Wira lewat di depan mereka, mereka hanya termenung sewaktu laki-laki tersebut melangkah melintasi keduanya begitu saja. Benak Fadli penuh akan masalah, kini dirinya berat tulang tuk menuntaskan hambatan kehidupannya.


"Jika kamu sampai segitunya ..." Fadli memelankan suara sembari mendekati daun telinga Widia membisik, "maka kamu mungkin takkan selingkuh atau semacamnya? Gak percaya kalo belum nikah."


Senyum lebar pun bertamu pada wajah manis imut rupawan Widia. Durja cantik serta senyum manis yang selalu tersipu sudah merekah dalam lekukan pipinya mengajak Fadli ikut tersenyum, selama momen ini pak Arya mengawasi anaknya.

__ADS_1


Beberapa toko di pusat perbelanjaan kota anak buah pak Arya atau ayah Widia, secara tidak langsung mereka diawasi oleh puluhan CCTV di plaza ini. Karena ketidaktenangan seorang ayah pada putrinya.


__ADS_2