Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 20 | Perwira Palsu milik Dunia


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 20


Selagi Widya menyibukkan dirinya, Fadly berjalan-jalan mencari angin menjelang malam tiba. Dia bercengkrama ke taman bunga, menikmati semilir angin disusul semerbak aroma puspa di sekeliling dan menampak berbagai jenis keindahan alam.


"Jika ada seseorang yang memiliki tanah ini, mungkin aku akan memikirkan menikah dengan putrinya hanya 'tuk mendapatkan ini?"


Fadly bicara sendiri. Terduduk bawah pohon rindang, daun-daun jatuh berguguran ditiup angin sepoi-sepoi yang tengah dinikmatinya. Tidak banyak laki-laki melakukan aktivitas semacam ini, Fadly hanya salah satu dari sedikitnya manusia di dunia.


Dia gemar meletakan tubuhnya bertumpu pada batang pohon, seraya menonton awan-awan putih di ruang luas terbentang di atas bumi tempat tinggalnya bulan, bintang, matahari, dan planet-planet lain berada. Hanya kegiatan ini yang kuasa menenangkan hatinya.


Termenung sebab masalah keluarga Fadly sudah terbiasa, meski pahit ia terbiasa merasakannya. Kali ini hal baru membuatnya berpikir dalam-dalam. Seorang teman masa kecil kembali, ia merasa bila hubungannya biasa saja, itu tidak mengubah fakta.


"Dadaku berisik ketika aku melihatnya, apalagi kemarin hari.. sampai memelukku begitu.."


Wajahnya merona merah bak tersipu malu, mengakui bahwa dirinya sudah menyukainya sejak lama Fadly memilih jalan mundur. Melihatnya sebagai primadona, mengherankan bila tidak memperoleh pacar atau lelaki yang lebih layak darinya.


"Rasanya sangat lega tapi disisi lain menyakitkan sekali." Fadly menghela napas sebelum berujar, "akan menjadi hal terburuk bila dia tahu aku menyukainya."


"Yo, sudah lama tidak bertemu ya. Apa yang tengah kau lamunkan, Kak Fadly?" Tanya seseorang.


Fadly merasa menangkap suara tidak asing, kenangan tersakit pada masa yang telah silam terdengar lagi. Dia menurunkan pandangan menemukan seseorang membual dengan senyum manis, semanis kebohongan.


"Kau ..." Fadly menyipitkan matanya.


"Wah, kupikir kakak akan kaget saat melihatku!" Ujar Wira dengan senyum lembutnya. Dia berdiri tegak memandang rendah kepada orang di hadapannya.


Pertamakali mendengar namanya, Fadly pikir Wira akan jadi murid bersifat jantan atau pahlawan semacamnya. Melihat penjaga di belakangnya, Fadly tidak bingung. Laki-laki dibawah pohon bertumpu pada kedua kakinya, senyum pun terpasang.


"Mau main kekerasan, dek?" Nada pertanyaan Fadly seolah-olah meremehkan. Dia melanjutkan, "kupikir sebaiknya kau segera memanggil mereka deh."

__ADS_1


Wira membuat bunyi 'cek' dengan mulutnya menyatakan tidak suka pada nada bicara Fadly kepadanya. Dia mengepalkan tangan, semasih belum lengannya terangkat, musuhnya meraih kerah bajunya sambil menatapnya beringas.


"Dari mana kau mendapat nomor telepon rumahku? Jawablah sekarang, jika tidak kau tahu apa yang akan kulakukan ..."


Orang-orang Wira mulai melakukan pergerakan, namun majikan mereka memberi isyarat diam di tempat dengan keringat bercucuran. Melihat keseriusan Fadly, ia merasa akan tewas bila betul-betul mengusiknya secara langsung.


Bilah besi tipis ditarik Fadly kembali ke sakunya dan dia berjalan menjauh, selepas bebas, Wira terengah-engah memburu napas. Dia menjeling ke samping menjumpai Fadly tengah berjalan, tanpa kewaspadaan sama sekali.


"Kalian tahu apa yang akan kukatakan, bukan? Jadi, lakukan sekarang juga!" Perintah Wira menyeringai lebar sewaktu menatap ke arahnya.


Gerak-gerik Fadly di jalan sungguh waspada terhadap keempat orang di lawan mukanya, ia menebak akan seperti ini. Dia mengambil jalan penuh akan keramaian, berhenti di dekat kantor polisi terdekat dengan jaraknya.


"Mereka nekat.." batin Fadly. "Apa yang harus kulakukan? Satu dua bisa ku tangani, jika empat ekor tamat sudah riwayatku."


Tiba-tiba tanpa peringatan, ada sebuah truk berhenti dan beberapa pria keluar. Mereka mengincar Fadly yang tengah di jalan. Bergegas lelaki ini hendak berlari, kabur ke belakang ia menemukan anak buah Wira dan mengetahui jika dia terkepung.


Mulutnya hendak berteriak meminta tolong. Dengan gesit, satu diantara mereka menyumpalnya memakai perca kain. Kesadarannya pun hilang dalam hitungan detik dan dibawa oleh mereka.


"Hahhh.. hahh ..." Dengan napas memburu Fadly berjalan melewati gang.


"Dasar penjahat kelas kakap, membiarkanku sendirian tanpa diikat, bodoh!" Ujarnya mengungkapkan kesal. "Ya mau bagaimana juga, aku selamat. Atau mungkin sengaja melepaskanku," lirih Fadly sembari tersenyum hampa.


Di trotoar jalan, ia menghentikan salah satu taksi dan pulang ke rumah menggunakan kendaraan sewa dengan tambangan harga mahal. Dia melihat ke dalam dompetnya, bila uang masih lengkap.


Dalam hatinya, lelaki ini sadar bahwasanya kelakukan Wira kali ini sebuah ancaman agar tidak berurusan dengan orang sepertinya. Kenangan-kenangan buruk dimasa lampau lebih menyakitkan dari ini, Fadly tahu akan hal itu.


"Makasih pak.." ujar Fadly seraya memberikan bayarannya.


Dia menoleh ke halaman depan, gadis itu sedang mengangkat jemuran dan terdapat pakaiannya juga di sana. Mata Widya menemukan Fadly berjalan terhuyung-huyung, serupa orang mabuk dia terseok-seok mendatangi tempatnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu jalan kayak ..." Perkataannya terhenti sewaktu Fadly hampir terjatuh.


"Widya, tuntun aku ke kamar. Kumohon." Laki-laki ini kembali berkata, "Maaf.. dan terima-kasih."


"A-Ah, ya baiklah!" Widya mengangguk keheranan.


Dengan menggandeng tangan, Widya menuntunnya hingga ke dekat kasur dan menidurkan badannya. Gadis ini bingung apa yang terjadi padanya. Dia membuka kancing bajunya, seketika itu juga Widya terkesiap kaget tak main.


"Darah?!" Matanya membelalak kaget. Dia buru-buru balik ke ruang tengah, mengambil kain pembalut luka dan memanggil dokter lewat teleponnya. Beberapa menit berlalu, Widya hendak masuk ke kamarnya malah mendengar dia bicara sendiri.


"Namamu seperti pahlawan, tapi kelakuanmu seperti berandalan baru.." ucapnya sambil melihat layar ponsel. "Memang ya, meski orang-tua memberikan nama anak sesuai harapannya.. itu tidak mengubah fakta bila lingkungan salah membesarkannya."


Dari celah pintu Widya mengamatinya, wajahnya merona merah mengingat kebohongan manis sebelumnya. Meskipun begitu rasa kesal bercampur, sebab luka itu bukan dikarenakan kecelakaan melainkan kesengajaan.


"Akan kutemukan pelakunya," ujar Widya. Tatapannya mengeras saat berkata demikian.


Pintu terbuka, dia masuk ke dalam merawat laki-laki yang enggan diurus dan terus-menerus menolak. Widya tertentang kesal karena tolakan Fadly. Sekarang dia bersikap buas, paksaan dilakukannya meski kelihatan seperti pertengkaran rumah tangga.


"Apa ini! Pertarungan di ranjang, kah?"


Serentak keduanya berhenti bergerak. Mereka menoleh ke jendela, Fauzan mengintip pertengkaran mereka sedari tadi. Dia masuk ke dalam membawa seorang dokter pribadi keluarga Widya, diantarkan olehnya karena tidak tahu jalan.


"Kebetulan aku lagi mau kemari dan dokter ini kebingungan mencari rumah ini.."


"Heh! Siapa yang memanggil dokter kemari?"


"Aku!" jawab Widya. Hendak Fadly membalas namun Widya menyela, "diamlah Fadly Adzhilah! Kamu lagi sakit parah, sikopat sok kuat!"


Ketiga laki-laki di ruangan menelan ludah, kemurkaan Widya terasa jelas di ruangan tertutup ini dan amarahnya murni khawatir, semua memikirkan hal yang sama. Satu orang pun tersipu karena teriakannya, membuat perasaannya naik level.

__ADS_1


Dokter mendeham agak keras, Fauzan dan Widya keluar dari kamar meninggalkan mereka berdua. Menerimakan dokter memeriksanya, laki-laki ini tidak melawan dan mengangguk-anggukkan kepalanya, menjadi lebih menurut.


Durja malu menutupi isi kepalanya, sampai sekarang juga pikirannya teralihkan oleh dokter, meskipun begitu cepat-lambat Fadly akan mengingatnya kembali. Murkanya akan menyembul muncul seperti saat ayahnya memegang tangan pujaan hatinya.


__ADS_2