Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 22 | Suratan 'tuk Fadli


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 22


"Apa sih yang kulakukan? Kenapa ..." kalimatnya terhenti. Dia membaca surat pada telapak tangannya bersama ekspresi kebingungan.


Lembaran kertas tua menumpuk beserta hasil tulisan jelek banyak dibuangnya, laki-laki bermata merah dengan rambut acak-acakan memilah seluruh buku di depannya. Dia memisah barangnya yang sudah tidak layak pakai, lalu akan membuangnya.


Suara ketukan pintu memecahkan pemusatan perhatiannya pada buku-buku, setelah bertumpu pada kedua kaki ia bergerak menuju arah pintu depan. Sebelum membuka pintu Fadli mengecek dari jendela, menemukan tukang pos.


Fadli menarik gagang pintu sembari berkata, "ya pak. Apakah ada surat untuk saya?"


"Ah, ya sebentar ..." pria ini menggeledah isi tasnya berusaha menemukan sesuatu dan memberikan sebuah amplop sambil berujar, "surat dari pengirim yang sama. Seperti biasa, walau agak telat."


Menerima sampul surat dari tukang pos, Fadli sadar bila tulisan ini dari sahabat penanya. Hendak menutup pintu pengantar surat belum pergi. Dia mengamati wajah Fadli, remaja ini bingung, belum lama ia pindah sehingga tak tahu harus berkata apa.


"Jangan terlalu banyak begadang, matamu sampai merah begitu loh.." pengantar surat angkat kaki sesudah mengatakan perintah sekaligus anjurannya.


Menunggu sebuah surat dari 2 Minggu yang lalu betul-betul sudah mengesalkan baginya, dengan pelan Fadli membuka surat dan membaca isinya di tempat. Terkadang senyum muncul sewaktu memahami tiap-tiap kata-kata dalam surat, kadang pula kebingungan menyapanya.


Fadli menaikan alis setelah bertanya-tanya, "dia minta saling berhubungan via SMS. Kenapa?"


Ragu untuk menambahkan kontak orang asing ke dalam ponselnya, remaja ini menerbitkan sebuah ingatan. Terus berada dalam kurungan yakni main aman takkan selalu menguntungkan, sebab keberanian yang tidak berlebihan tetap dibutuhkan.


***


Pada jam 6 sore, Fadli membelokkan perhatian mata pada Widya yang pergi ke warung dekat rumah. Dari kejauhan tampak ia kesulitan membeli barang-barang, para ibu-ibu mendesak agar mereka terlebih dahulu dan yang lainnya pun enggan mengalah.


Remaja mesem sambil berkata, "Tidak ada diskon di sana, kenapa mereka sangat antusias sekali? Aneh."

__ADS_1


Gerak tawa ekspresif tanpa suara tujuannya menunjukan rasa senang, gembira, dan suka. Fadli kini memakainya dengan cara berbeda. Bibirnya sedikit mengembang, tapi tidak seberapa lebih mencerminkan hatinya 'merasa' bahagia.


Seandainya ini hari terakhir, maka tiada yang menyuratkan buku hariannya dan kisah epik esok hari tuntas tanpa kesinambungan. Keterpurukan selalu menepuk pundak tiap-tiap manusia, Fadli merasa banyak sekali yang lebih buruk darinya.


"Ada banyak orang yang lebih parah keadaannya dariku. Tapi, kenapa setiap mengingat itu rasanya sangat ... buat aku kesal."


Fadli turun dari ranjang empuknya, ke hadapan meja belajar dan menarik laci meja. Mengambil sesuatu dari kotak kecil pada meja dan menyakukannya. Setelahnya Fadli termenung, sementara pikirannya melayang kemana-mana, suara ketukan pintu pun merusakkan renungannya.


"Aku tidak mengunci pintunya."


Widya masuk melewati pintu. Dia menjumpai seorang remaja sedang duduk bersama tumpukan buku di depan mukanya, gadis ini duduk mendampinginya dan memberi sebotol soda lemon. Menerima titipannya, Fadli memasukkan tangan ke saku pada celana.


"Nggak apa-apa kok, aku bayarin!" Ujar gadis disisinya memberi senyum. "Jangan ganti," tambahnya sambil terus melekatkan pandangan.


Fadli mengeluarkan tangan. Saat ditarik keluar, tampak ada goresan akibat benda tajam melukai jari tangannya. Cepat-cepat Fadli menggosok memakai tisu yang terletak di atas mejanya, selama masih belum Widya sadar bahwa ia terluka.


"Kamu lagi ngapain?"


Widia menghirup udara ketika bernapas. Anak perempuan ini melihat ke jendela, kasur kapuk milik Fadli dan kasur busa miliknya jauh berbeda. Widya menggamit pipi Fadli dengan ujung jari, ia minta izin perkenan untuk berbuat sesuatu.


Tujuh jam berlalu,


Fadli menyipitkan mata. Dia membungkam mulutnya sendiri, langkahnya pelan dan lambat berkeinginan untuk tidak membangunkan seseorang. Tangan kirinya bermaksud akan menyingkap perlahan pintu, sewaktu menarik gagang pintu ia mendengar Widia.


"Fadli.. kamu sangat lucu ..." katanya sambil mengistirahatkan badan dan kesadaran. Bahkan air liurnya masih mengalir.


Hampir setiap malam Widia mengigau atau berkata tanpa sadar waktu tidur, saat melisankan kata dalam keadaan tidak aktif ia suka meliuri bantal pada pelukannya. Kini, Fadli melihat bantalnya mengandung cairan basah terkena air liur gadis itu.

__ADS_1


Pelan-pelan Fadli keluar menuju ruang tengah, jam dinding ditemukannya dengan tiga jarum mengarah ke tengah atas. Tengah malam Fadli keluar sendirian terduduk belunjur menyandarkan diri pada batang pohon, seraya mengamati ruang luas tempatnya bintang-bintang menghiasi angkasa malam buta.


Fadli merasa akan berserah, ia enggan mencerap ke belakang tuk mengenang seberapa jauh tindaknya agar sampai di titik ini. Hanya sebab hari ini kandas, ia berpikir akan memberhentikan warita epiknya untuk esok hari dan seterusnya, meskipun tahu bila hal tersebut perwujudan murni dari kebodohan.


Laki-laki ini keluar, malam-malam di halaman bawah lindungan pohon, bak menghunuskan pedang ia mengeluarkan bilah besi tipis tajam yang bertangkai dari dalam saku celananya. Dia memburu napas, pupil matanya mengecil beriringan dengan tangan yang gemetaran menggenggam benda itu.


Tiba-tiba tanpa peringatan, suara ting muncul dari handphone di kantong pada bagian dada depan bajunya. Fadli menarik napas panjang. Dia mengambil ponselnya, melihat ada belasan pesan dari pengirim yang sama.


"Firani?" laki-laki ini menyebut nama pengirim pesan dengan lirih pelan seakan tak bersuara. Dia memeriksa pesan, menemukan belasan catatan suara yang belum terunduh pada perangkatnya.


"Kenapa perempuan suka menggunakan catatan suara?" Gumam Fadli. Dia menengok beberapa pesan suara berdurasi lebih dari 30 detik berjejer sepanjang tepi layar handphonenya.


***


Widia menghirup udara. Dia membuka kedua pelupuk netra, menjumpai bantal dilingkari kedua tangan. Gadis ini sadar bila dirinya memeluk bantal bekas Fadli selama beberapa jam sampai ketiduran, walau berniat akan rebahan saja.


"Aku kebablasan!" Ungkapnya dalam batin. "Ah, lupain aja! Sekarang dimana Fadli?" Tanyanya pada diri sendiri sembari melihat sekeliling.


Turun dari ranjang Fadli, Widia berjalan menuju pintu namun terhenti di dekat meja dengan bekas tisu berserakan di atas meja. Selepas menghidupkan lampu dia melihat bercak darah, Widia langsung memusatkan perhatian, ia langsung tahu ketika melihat darah-darah sudah kering.


"Apa mungkin Fadli menggosok-gosok tangan untuk menghilangkan darahnya?" Tanya Widya pada dirinya sambil membereskan tisu bekas Fadli. Seraya membersihkan meja, Widia berpikir keras menemukan kejanggalan.


"Tunggu sebentar.. tangannya tidak apa-apa sebelum memasukannya ke dalam kantong celana, aku yakin itu. Kenapa dia tiba-tiba terluka saat hendak mengambil uang dari sakunya?" Gumamnya menghentikan kegiatan bersih-bersih.


"Apa jangan-jangan ...pisau?"


Matanya membelalak. Dia bergegas mengambil ponselnya, menelepon orangnya tetapi handphonenya berada di kamar. Widia pergi sambil membawa ponselnya. Gadis ini mencari ke segala penjuru rumah, tidak menemukannya di manapun.

__ADS_1


Widia mengenakan sepatu dan jaket, ia menelepon seseorang untuk bantuan tambahan menemukan Fadli. Yang dipanggilnya pertamakali adalah Fauzan, berkemungkinan besar jika ia tahu tempat macam apa yang akan dikunjungi olehnya di larut malam.


Dia duduk di teras rumah, perempuan sepertinya takkan sanggup menghentikan Fadli jika betul-betul khayalannya nyata. Terlebih lagi, dimalam hari banyak hal yang tidak kuasa ditanganinya, harapannya hanya teman Fadli bisa datang membantu mencarinya.


__ADS_2