Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 09 | Hal Kecil Memicu Ledakan Besar | edt


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 09


"Huhh.. pada akhirnya, aku membawa buku hariannya lagi karena penasaran.." batin gadis yang tengah berlari.


Napasnya memburu ketika langkahnya terhenti. Wajah penuh akan peluh, ia mengistirahatkan diri dengan duduk bawah pohon menonton teman-teman sekelasnya ikut ujian praktek. Seorang perempuan datang menemuinya.


"Capek?" Ucapnya sambil menyodorkan botol minum. "Tak usah bayar.."


"Ah, makasih.." Widya menerima. "Berapa harganya? Lalu, bukannya sekarang giliranmu untuk di tes."


Gadis ini sempat berhenti meneguk minumannya. Dia menoleh pada Widya seraya tersenyum. Bicara bila dirinya sakit, namun mata Widya tidak menemukan tanda-tanda sakit. Ucapannya tidak sesuai pada kenyataan seperti rekaan semata.


Tidak menghiraukan hal tersebut Widya membelokkan pandangan. Belakang sekolah sudah jadi tempat olahraga, yang ditemukan murid dulu sebuah perkumpulan bagi para perundung dan sekarang keadaan sudah membalik. Justru anak-anak sekarang sulit dimengerti.


"Padahal kakak kelas kita pengin keadaan sekolah seperti sekarang.." keluh kesah Widya dalam hati.


Seringkali daun telinganya menangkap percakapan kakak kelas, mereka menginginkan fasilitas sekolah yang sekarang sudah ada tidak seperti zaman mereka. Hampir keseluruhan mantan murid kesal begitu melihat para murid baru membolos.


Belajar layaknya mengejar cahaya, dan bayangan terus mengikuti kemana saja. Namun, adakalanya waktu orang bodoh mengejar bayangan hingga kehilangan cahaya, bersama bayangannya.


"Apa yang kamu baca? Sini liat!" Tiba-tiba perempuan di sampingnya merebut buku tanpa peringatan. "Wah, buku siapa ini? Wow!" Suaranya mengeras menarik perhatian.


Seketika Widya terkesiap kaget dan menerkam teman sekelasnya, ia merebut buku harian Fadly meski mendapat pukulan siku. Alhasil temannya jatuh ke genangan lumpur sementara Widya dapat kembali buku harian Fadly.


Widya merampas kembali barang miliknya. Akan tetapi, hal tidak terduga membuat air mukanya sangat kaget. Buku ini robek jadi dua bagian. Teman di sisinya berdiri, ia membersihkan baju yang kotor akibat mengenai lumpur.


"Cih!" Anak perempuan ini berdecak kesal. "Lihat nih, bajuku jadi kotor gini! Gara-gara buku kucel begituan juga.. ih!"


"Bentar..!" Widya menggenggam tangan menghentikan gerakannya sebelum pergi. Perempuan ini menoleh ke lawan muka, ia mengerutkan kening beserta mengigit bibir serupa marah.

__ADS_1


"Apa?" Ucapnya sambil melepaskan cengkraman tangan. Keduanya saling memandang selama hitungan detik.


Widya menelan ludah sebelum berkata, "Ini bukan milikku, kamu harus ..."


"Hah? Buku gituan, kamu juga bisa ganti, kan? Udah ah! Aku mau bersihin baju!" Potongnya sambil pergi menjauh dari tempat Widya. Sementara gadis berambut hitam ini terduduk dengan muka cemas.


'Kejadian kecil mampu memicu peristiwa besar'. Judul ke sembilan pada halaman pertama buku harian Fadly tercantum kalimat itu, Widya takut hal kecil ini melahirkan masalah. Terlebih benda ini hanya sebatas buku yang ditulis tangan olehnya, bahkan sampai ratusan lembar.


Sesuatu yang tidak ada harga di mata orang sangat berharga di mata pemiliknya. Meski benda itu menjijikan. Setiap orang memilki Indra pengecap yang berlainan tidak sama, tetapi butuh rasa saling menghargai untuk merasainya.


***


"Apa ini?" Widya menatap ke atas meja dengan tatapan kosong. "Kenapa disaat-saat begini.." bola matanya bergulir ke sisi kanan ke jendela.


Bel berbunyi menandakan waktu pulang. Seluruh murid keluar kelas, Widya keluar walau teman-teman memanggil. Seusai melempar secarik kertas ke dalam tong sampah gadis ini pergi.


Widya terhenti. Dia menoleh ke ruang kelas 3 ada siswi yang dikenalinya, mata mereka saling bertemu dan selepasnya lambaian tangan jadi tanda awal percakapan. Gadis ini memilki tinggi pendek, kadangkala ia memakai pita biru di kepala dan memakai anting berbentuk bintang.


"Ada apa?"


"Kak Nisya.. sebenarnya.."


Sembari melangkah Widya menceritakan segalanya kepada kakak kelasnya. Nasi telah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain berkata sejujur-jujurnya, Nisya meninggalkannya setelah memberikan saran.


Widya menyentuh kening sembari tertunduk seusai bicara, "Apa yang harus kulakukan?"


Tiba-tiba saja mendadak Fadly berada di hadapan. Bibir gadis ini bergetar, matanya terus berpaling tapi wajahnya tak kunjung menoleh ke arah lain.


Seperti biasanya ia memakai pakaian serba hitam serta masker, tujuannya membeli barang dan menemui seseorang. Alasannya ada di depan sekolah hanya kebetulan satu arah. Meski tatapan sinis ditemukan Widya, arahnya ke satu ruangan yaitu ruangan guru BK.

__ADS_1


Tidak dengan sadar Widya kehilangan Fadly yang berjalan menjauh. Gadis ini menyusul langkah setengah berlari itu. Dia terhenti di depan satu apartemen, seusai bergerak sangat cepat dan peluh bercucuran mengalir ke pipi.


"Mau ikut? Tapi mungkin kamu akan bosan," tanya Fadly menoleh. "Yah sebaiknya kamu ikut saja. Udah terlanjur, sih."


Mereka masuk ke dalam. Seseorang menyabut kedatangan tamu, gadis yang tampak seumuran dengan Widya menggunakan pakaian gaun putih, paras yang cantik, begitu pula ia agak tinggi, dan rambut hijau limau jadi daya tarik tersendiri. Ada semacam anting bunga merah dikenakannya.


"Maaf aku lama.." perkataan Fadly terhenti. "Alya kenapa memakai pakaian semacam itu?" Tanyanya sambil menilik dari atas hingga ujung kaki.


"Uhh.. kita langsung saja ke kamarku yuk!" Ajaknya seraya menarik tangan. "K-Kamu juga, Widya!" Toleh Alya pada perempuan di lawan muka Fadly.


Mereka masuk ke kamarnya dan Widya mengamatinya bingung kenapa ia bisa tahu namanya, tapi hal pertama di benaknya mungkin Fadly menceritakan tentang dirinya. Lalu, apa hubungannya dengan Fadly? Dia tampak seperti mencurigai sesuatu.


"Kita mulai saja?"


"Ya baiklah," helaan napas menyertai ucapan. "Widya apa kamu bisa?" Tanya Fadly mendekat.


"Bisa apa?"


"Fadly, tolongin aku.." panggil Alya di samping ranjang tidur. "Gantiin seprainya dong!"


Fadly meminta Widya untuk menunggu. Laki-laki ini menemui dan membantunya. Terbit sejumlah tebakan di otak Widya, ia melihat kedua remaja itu tersenyum kecil dan kelihatannya sangat dekat.


"Pacaran?" Widya menggeleng, "mana mungkin Fadly pacaran.. ahahaha.." senyum kecut itu tidak kunjung lepas dari mukanya.


"Ya baiklah.. kota mulai bikin cerpennya, lalu kamu mau cerita yang kayak gimana?" Tanya Fadly menoleh padanya. Alya tidak mengatakan apapun. Respon terhadap kata-katanya hanya gelengan kepala.


Tak lama Fadly kembali ke tempatnya. Mengajaknya untuk pindah, mereka bertiga ke ruang tamu dan pertamakali ia melihat Fadly tertawa bersama orang lain. Gadis ini menatap Alya cukup lama. Dia menghela napas panjang kemudian izin ke toilet.


Widya masuk ke dalam toilet diantar Alya. Dia menyentuh dada, merasai sesuatu yang janggal. Beribu-ribu pertanyaan muncul. Namun, jawabannya masih sukar didapatkan meski sudah berpikir keras mengenai soalan itu.

__ADS_1


"Kenapa aku nggak nyaman.." lirihnya pelan. "Mana mungkin aku iri atau cemburu pada Alya, mereka hanya teman satu pekerjaan!" Tanpa sadar gadis ini mengigit bibir bawah.


Selang cukup lama. Dia mengangkat wajah, mendapati cermin memperlihatkan seorang gadis menitikkan air mata. Kedua pipi merona merah. Pikirannya ingin membuat keadaan faktitius, namun secara sporadis itu ditentang oleh keadaan dan kondisi yang dialaminya sekarang.


__ADS_2