
Pemakan Kesedihan, bab 15
Widya melihat-lihat ke sekelilingnya tengah berada di pasar, tujuannya membeli bahan makanan dan benda-benda lainnya. Sebelum kepulangan ayah-ibunya ia mesti menyambut. Dia senang mendapatkan kabar, bila mereka tidak melupakan ataupun membuangnya.
"Fadly, kenapa kamu membeli pisau?"
"Sepertinya pisau di rumah akan patah. Hanya buat cadangan saja, kok."
Keduanya membeli barang-barang yang berlainan jenis. Membutuhkan hingga setengah jam sampai kegiatan belanja usai. Alya mendadak berada di depan Fadly, dia muncul seolah-olah memiliki kemampuan ruang dan waktu.
Fadly terkesiap kaget depan kedai kafe. Dia tahu bila Alya keluar dari kafe, karena posisinya tepat berada di dekat pintu ia tiba-tiba muncul begitu saja. Laki-laki ini membelai dadanya kelihatan menenangkan diri, selagi kedua gadis ini saling menatap tajam.
"Bisakah kau tidak muncul secara tiba-tiba?"
"Maaf.. udah kebiasaan."
"Ada apa denganmu, sih?"
"Tidak ada, hal apapun yang terjadi, kok!"
Kedatangannya mengekang Widya seakan tidak diizinkan untuk berbicara. Padahal hal semacam itu tidak ada, gadis ini hanya mengunci mulut sebab ketidakmampuan berkomunikasi dengan orang lain dan alasan kecil lainnya.
Fadly tetap mengindahkan kehadirannya dengan berusaha mengawali pembicaraan buatnya, meskipun demikian Widya tidak sanggup mengikuti arus. Dia hanya menyimak saja disisi laki-laki yang tengah mengobrol, pembicaraan ringan itu tampak menyenangkan.
Selepas bertumpu pada kedua kaki selama beberapa menit, langkah pertama Alya menarik Fadly untuk menyusul sembari mengajak gadis yang telah lama bersamanya, dari kecil tentunya.
"Kamu masih saja.." lirih Fadly seraya menoleh ke orang yang dimaksud. "Seperti dulu sebelum kita pisah," batinnya dalam hati.
"Oh ada taman, kamu suka bunga, kan?"
"Memangnya tidak boleh?"
Alya menggenggam tangan dan membawanya, sementara gadis berambut hitam ini menonton gadis itu menggandeng laki-laki yang bersamanya. Bagai tangkai serta daun bunga mawar, hijau dan merah itu sangat serasi, bahkan tingkahnya sangat sungguh menawan hati.
__ADS_1
Widya menunduk ke bawah, ungkapan rasa kecewa terungkap keluar. Dan ketika sedih dia mengangkat wajah ke angkasa, agar mencegah air matanya tidak keluar. Berulang-ulang mesem untuk menutupi sakitnya, meski mata terpejam kembali.
Dia mendapatkan pukulan keadaan batin yang tidak pasti, baginya itu awanama. Perasaan tanpa nama yang terkumpul dalam hati kian bertambah. Kini, gadis ini berjalan kepada Fadly dan diam di belakang, wadah telah tidak muat sehingga meledak.
"Fadly? Apa yang--!!"
Mendadak tubuh Fadly kehilangan kendali, ia ditangkap Widya sebelum jatuh. Badannya menyender pada bagian depan tubuhnya. Gadis ini merona merah, selama beberapa menit keduanya bertahan dalam posisi itu, dengan Alya melihat di depan mereka. Tidak diindahkan layaknya udara.
"Aku kayaknya kurang sarapan.." lirihnya pelan semakin hilang. "Lemes banget," ujarnya mulai mengeraskan suara. Walau kelihatan muka itu mengatakan tidak baik-baik saja.
"Gimana kalau kita istirahat di sana aja?" Tunjuk Alya bawah pohon. Dedaunan begitu banyak berserakan seperti tidak ada yang membersihkannya.
Ketiganya duduk. Fadly berada di tengah-tengah, disisi kanan gadis berambut hijau limau kini mengambil langkah pertamanya dan menyenderkan kepalanya ke pundak, Widya pula melakukan hal yang sama.
Fadly tidak menginginkan mereka tidur di dekatnya apalagi depan umum, untuknya Alya sudah biasa diperlakukan semacam ini. Jika menoleh ke arah Widya, Fadly hilang akal dan pikirannya membeku ketika mata keduanya bertemu.
Fadly menggoyangkan badan cukup kencang hingga keduanya saling menyingkir. Dia berkata, "pundakku agak sakit.. dan jangan tidur di tempat ini."
"Widya, apa kau tau kalau bunga di halaman rumah Fadly itu semua bunga yang dari sini.."
"Eh? Dia memindahkannya dari sini.."
"Ya, sebab meskipun taman ini ada bangku dan ayunan tidak ada yang memilikinya.. bisa dibilang bunga di sini tumbuh sendiri, sepertinya.."
Widya sedikit terkejut, ia masih ingat bila tempat ini pernah dibeli ayahnya untuk membangun hotel atau semacamnya. Mengingat sifat paman dia pasti akan mengambil tempat ini, mengesalkan untuk membeli kenangan dengan secarik kertas.
"Aku takkan mengambil bunga dari sini lagi, terakhir kali mengambilnya badanku langsung sakit. Sepertinya ada yang menggunakan mantra atau guna-guna?" Batinnya dalam hati.
"Ah, daripada diam liatin Fadly! Kita main aja, yuk!" Ajak Alya menepuk pundak gadis di samping dengan buku tangan.
"Main?" Widya menaikan alis. "Fadly nggak diajak juga?" Lanjutnya bertanya sembari memalingkan wajah ke sisi kanan. Pipinya segera merona merah sebelum mengangguk pelan.
"Ya, Fadly juga ikutan deh!"
__ADS_1
"Permainan macam apa.. seperti judi, kah?"
"Aku nggak pengin denger itu dari orang yang pake pakaian tertutup, bisakah kau tidak berpenampilan layaknya penjahat di siang bolong?"
Ajakan Alya tidak dipedulikan oleh Fadly. Namun, gadis lain memintanya untuk ikut dengan muka malu-malunya membuat laki-laki ini mengangguk tanpa sadar. Dia duduk depan Alya, mereka melakukan permainan gunting batu kertas.
Semua mengeluarkan kertas untuk pertama kal. Selepas itu kedua gadis menggunakan gunting, sementara Fadly kertas. Bergegas ekspresi wajah Alya berubah drastis memperoleh kemenangan. Dia mengajukan pertanyaan, siapa yang kalah harus menjawab soalan.
Tatapan laki-laki ini mengeras. Dia menarik napas sebelum bercakap, "Semena-mena saja kau memberi aturan."
Alya membusungkan dada, sedangkan laki-laki di hadapan tidak melihat sesuatu yang dapat dibanggakan. Dia menunggu pertanyaan dari kedua perempuan ini. Butuh beberapa menit hingga mereka selesai berpikir, selagi itu Fadly memainkan ponsel.
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Widya seraya menunduk memainkan dua jari telunjuk.
"Dunia."
"Ehhhh.." Widya menganga cukup lama. "Kenapa permintaanmu selalu saja tidak masuk akal?" Kata Widya dalam hati.
Dari kedua gadis, tidak ada yang sadar jika remaja laki-laki ini berkeringat deras bersama turunnya mata ke bawah. Dia merasakan kedua pipinya memanas hangat. Beberapa saat selepasnya, ia mendeham pelan dan menaikkan mata.
"Lalu, apa pertanyaanmu?" Tanya Fadly. "Lalu, kenapa kau tidak melanjutkan permainan dengan Widya dan malah kalian yang bertanya padaku? Bukannya ini tidak adil!" Keluhnya dalam batin.
"Jika semua bunga yang ada di taman ini bisa kamu miliki, kamu akan membawa seberapa banyak?"
"Semua."
"... Kumohon jawab dengan serius," ujar Alya memperlihatkan muka datar. Dia seakan benar-benar ingin mendapat lontaran jawaban.
"Ah, aku pernah denger kalo bunga itu ibarat kasih sayang. Hmm.. Fadly, kamu serakah banget sih kalo urusan yang begituan."
Perkataannya menindih. Fadly memahami tiap-tiap lontaran kalimat, dari awal semenjak ia ingat siapa dirinya, keserakahan akan kasih sayang muncul meluap-luap bagai memasak air. Uap 'kan jadi awan lalu balik ke bentuk awal, pengulangan yang abadi.
Hal sama diingatnya kembali, ketika hendak tidur membayangkan sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi. Mengkhayalkan ayah mengelus pipi sebelum tidur, tersenyum dari celah pintu, meskipun demikian bayangan lenyap hilang digantikan mimpi malam.
__ADS_1