Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 24 | Remaja Rapuh Sok Kuat


__ADS_3

Bab 24 | Remaja Rapuh Sok Kuat


Widia melantas masuk hingga terjatuh setelah mendobrak pintu masuk, gadis ini terjatuh ke lantai tepat keadaan kepala paruhan kening mengenai ubin rumah. Dia melanyak luka di kepalanya dan bertindak seperti tengah menghirukkan orang di kediaman.


Netra mereka bersua, mata kosong dan mata syukur berjumpa. Widia menemuinya langsung bersemuka mencuaikan pria yang menolong Fadli di belakangnya, dekapan gadis ini menyangai tubuh dan hati si remaja laki-laki rapuh sok kuat.


"Fadli.. Fadli.. Fadli ..." panggilnya berulang-ulang kali. "Apa kamu tahu, aku mencari-carimu bersama Fauzan! Aku sangat kesal karena kamu. Aku takut jika jika ji..ka ..." ujaran kalimatnya terpotong oleh ungkapan perihal perasaan sedih.


Fadli membalas dekapan pelita hatinya, melingkari Widia dengan kedua tangannya. Gadis yang memeluknya menangis tersedan-sedan, ratapan Widia didengar oleh telinga Fadli. Seluruhnya cuman tentang perempuan ini berat hati jika dirinya pergi.


"Jangan pergi, aku takut jika dirimu tidak ada. Bahkan jika ayah-ibuku pulang tetaplah bersamaku, aku menyukainya. Jadi, jangan melakukan hal ini kepadaku lagi Fadli geblek, bebal, bloon!"


Ratapan tangis rintihan Widia membangunkan kembali Fadli, cahaya matanya terisi dan waras dijumpainya kembali. Dia pura-pura meringis sekali lalu menguatkan rangkulan, yang disaksikan Fauzan dan bapak-bapak di dekat mereka.


"Seperti melihat sinetron televisi, kan Fauzan?"


"Ya, bener." Jawab Fauzan agak tersenyum kecil bahagia menghadap Fadli menangis lagi setelah sekian lama. Dalam benaknya, hanya gadis itu yang mampu mewujudkannya.


Fadli insaf akan kehadiran mereka di rumahnya hingga membebaskan diri dari pelukannya. Dia menemukan darah dari kening Widia, akibat terjatuh ke lantai cukup keras. Takkan lama kemudian Fadli membersihkan darah di dahinya.


"Sama seperti saat aku menemukannya di jalan. Lukanya sama, apa dia terjatuh ke tanah hingga luka kayak gini pas hari itu?" Ujarnya dalam hati.


***


Hari Kamis, Fadli melihat pohon dekat jalan kediamannya sadak selaku akan tumbang. Dia tak hirau dan merebahkan diri di atas kasur, kelihatan jika wajahnya pucat putih dengan mata merah lebih teruk dari lazimnya. Disebut juga sakit.


Jejaka ini mengenang masa-masa meniti lawatannya ke kota ini penaka kunjungan pada negri luar, mengira hanya akan jadi darmawisata, malar-malar menyewa kos-kosan dan tinggal bersama seorang gadis teman masa kecilnya.

__ADS_1


"Kalau di pikir-pikir lagi jarang sekali aku sakit, baru kali ini ambruk begini.." Fadli menaruh sarapannya di meja dan mengatakan, "kiranya seperti makan kapur dicampur minyak. Lidahku mati rasa."


Nafsunya kering menghilang karena indra perasanya seperti meninggal. Dia berusaha bangkit dari berbaring, lemas tidak bertenaga dan tumpuan pada kedua kakinya pun sungguh lemah. Fadli berkeringat dengan cepat, bahkan sebelum beraktifitas.


Dia mengayunkan kakinya, berjalan menuju pintu serempak Widia masuk bersama Alya mendapatkannya tengah berjuang berjalan. Keduanya sigap menidurkan Fadli kembali, mata mereka dipenuhi keseriusan.


"Aku pengin kelu..." ujaran kalimatnya ibarat cahaya meredup perlahan-lahan.


"Jangan. Kau harus beristirahat!" Perintah Alya tegas memotong ucapan Fadli. Alya melanjutkan, "kau tidak harus menanggung derita dan sakitmu sendiri. Aku ada untukmu, Fadli."


Fadli membatin, "menghadapi kedua betina ini merepotkan. Kali ini, aku akan menurut saja." Dia menggeser berusaha badannya ke dekat dinding dan berkata, "aku ingin menyender. Boleh?"


Dia dibantu duduk bersandar pada tembok. Semilir angin menyibakkan rambut Fadli, wajah tidak berdayanya di lihat kedua gadis ini. Tanpa perlu waktu lama Alya memotret pemandangan langka, seraya kegirangan dia kabur meninggalkan ruangan.


"Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu setelah melihat yang kemarin hari, loh."


Muka Fadli memerah menanggapi, "Kenapa kamu mengatakannya?" Dia memburu napas dan menambahkan kata, "itu kayak kamu sedang mencoba menjahiliku."


"Tidak, bukan begitu!" Sangkal Fadli buru-buru membalas. Cowok ini kini menelan ludah merasa salah melisankan kata jawaban.


Kesibukkan mereka diam di rumah melakukan hal-hal biasa, Fadli merasa semacam pengangguran jika tidak berada di depan laptopnya. Semalaman kerja banting otak, lelah bukan di tenaga melainkan pada pikirannya.


Memaksudkan ajakan siuh keluar rumah bercengkrama dengan teman-temannya. Alya tiba-tiba muncul dari pintu, ia mengusulkan untuk membawa Fadli keluar dan menikmati semilir angin serta udara dunia luar mengingat dirinya layaknya burung dalam sangkar.


Widia sukar mengabulkan usulan tersebut. Namun, mendapatkan ekspresi Fadli ingin, gadis ini mengiyakannya. Alya melanjutkan senda gurau dengannya, meski Fadli hanya menyimak obrolan dua gadis yang terikat dengannya.


"Kamu mau kemana? Aku gak mau ke taman dan taman lagi, kumohon!" Alya menepuk tangan sewaktu berkata pada Fadli.

__ADS_1


"Biarkan Fadli memilih, lagi pula ia yang mau keluar bukan kamu.." komentar Widia dengan tatapan runcing menghala ke durja Alya.


Isi kepala Fadli hanya tempat dimana bunga tersedia, susah tuk memilih tempat yang senjang. Sementara benak Widia tidak berapa paraknya dengan pikiran Fadli saat ini. Memenungkan hal yang sama, meski tidak menikai satu sama lain, Alya sekadar menginginkan liburannya ke pantai.


"Aku pengin beli akuarium," ujar Fadli. Siapapun tidak ada yang kuasa menerka perkataannya.


Alya merasa Fadli mirip adiknya, mencapai kemiripan saudara kandung yang lebih muda sungguh serupa. Dia menarik napas menyetujui permintaan, bertepatan Widia pula sehaluan dengan gadis berambut hijau limau tersebut.


Widia mendekati laki-laki sarungnya menempatkan hati. Telapak tangannya meraba merasai panas pada dahi nyaris sama rasanya seperti mencelupkan tangan ke dalam air hangat, serasa putus tali jantungnya, Widia melihat dia sakit.


"Kamu nggak usah pergi capek-capek. Biar Alya yang belikan benda itu buatmu, kamu maunya yang bagaimana?" Tanya Widia memiringkan kepala. Dia merespon Fadli dengan ekspresi kurang meyakinkannya.


"Jajar genjang kalau enggak trapesium."


"Sudah kuduga ..." batin Widia memasang senyum kecut semasih belum berujar, "P-Permintaan kamu nggak mustahil keknya, hanya saja.. lazim bentuknya kotak ataupun persegi panjang."


"Gak apa-apa. Akan aku carikan untukmu, asalkan sekarang aku pengen kamu cemberut dulu!" Pinta Alya sambil menunjuk pipi Fadli. Fadli mengejap-ngejapkan mata bertingkah seakan kurang mengerti tentang pinta Alya barusan kepadanya.


Entah setan mana yang merasuki tubuhnya, Fadli menggembungkan kedua pipinya senderut masam wajahnya. Serupa adik laki-lakinya Alya, mata Alya berkaca-kaca selepas menjumpai muka Fadli. Tatkala Widia memotret pemandangan baru, sewaktu Alya mengamatinya.


"Hari ini aku dapat foto yang bagus," tutur Widia memandangi layar ponselnya. Dia mengangkat pandangan mata menyadari sesuatu hal kemudian bergumam, "mengapa kelihatannya Fadli berasa semacam mabuk gitu? Ada yang salah."


Di muka Fadli, Widia menjentikkan jari, anehnya tidak ada respon atau reaksi apapun. Selagi fokusnya berpikir keras, Fadli mengganti posisi ke duduk dan meraih tangan Widia ke dalam rangkulannya.


"Ehhh!" Sontak Widia kaget. Anak perempuan ini dengan nada setengah membentak bertanya, "A-Apa yang kamu lakuin? Fadli!"


"Dari dulu, aku pengin peluk tanganmu gini. Bodohnya aku ... meninggikan dan menurunkan level sukaku padamu. Tertarik lah, suka lah, cinta lah, atau yang tertinggi sayang lah. Padahal udah jelas, aku sayang kamu banget."

__ADS_1


Anak perempuan bernama Widia kini menangkup paras malunya dan mengatakan, "Habis kata-kataku."


Widia menghirup udara ketika bernapas, haknya untuk bicara seolah-olah lenyap ditelan ketiadaan. Dia menoleh ke belakang, menjumpai Fauzan dan teman-teman Fadli menyaksikan serta mendengar percakapannya.


__ADS_2