Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 07 | Mengecap Manisnya Nyeri | edt


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 07


Hampir seluruh orang menjadikan mereka sebagai pusat perhatian sementara, layaknya pasangan mereka berjalan beriringan. Bahkan ada canda tawa dalam pembicaraan keduanya. Meski topik didominasi oleh Widia, Fadli hanya mengikuti arus percakapan yang ada.


"Aku nggak suka ikan.." ungkapnya. "Mungkin jika cumi atau yang lain selain ikan aku mau," ujarnya melanjutkan.


Widia menyilangkan kedua tangan depan dada dan bermuka heran, ia sedikit tidak suka pada ikan tapi tidak sampai memuntahkannya. Mungkin itu hanya selera makan saja. Setiap orang memiliki selera berbeda, malahan jikalau orang-tua sekalipun memaksakan kehendak, anak mereka akan tetap menyukai hal tersebut.


"Akan sukar buat ngubah selera makan bahkan orang-tuaku juga minta aku jangan pilih-pilih makanan," cakapnya sambil tersenyum hampa. "Tapi mau bagaimana lagi?," ujar Fadli bermuka masam diikuti menggaruk kepala.


Sehabis berjalan-jalan sebentar mereka hendak ingin langsung pulang, namun Widia berkeinginan berputar-putar sebentar berkeliling. Ada sesuatu dalam benaknya kini mengenai alasan mengapa Fadli memakai pakaian yang tertutup.


Widya menundukkan kepala saat berkata, "Tidak mau ketemu sama orang lain?" Anak perempuan ini menggeleng dan membatin, "mana mungkin."


Sebelum menyusul langkah Widia, Fadli menatap laki-laki yang tengah berpelukan dengan seorang anak kecil bawah pohon rambutan. Giginya bergetar menandakan amarah. Satu hal yang diingatnya, kembali ia menyambut masuk luapan emosi kesal ke dalam diri bahwa yang dipeluknya itu anaknya.


"kamu bisa masak, aku ngikut aja asalkan jangan yang aneh-aneh!" Senyum menyertai ucapan gadis ini. Widia yang kaget sesudah melirik ke belakang berteriak, "Buset, kamu jalannya lambat banget!"


Sedari tadi Widia hanya membelakanginya sewaktu melisankan kata-kata, meski begitu gadis ini berusaha tidak melihat ke rumah megah bak istana di dekat mereka. Matanya mencoba melihat ke Fadli, walau terus menerus meleset.


Pagar rumah di samping betul-betul menjadi pusat perhatian Fadli melambatkan kakinya, sementara Widya seolah-olah menginginkan bergegas pergi. Tidak butuh waktu lama gerbang terbuka. Tampak pria tua sekitar 35 tahun-an melewati gerbang, mata sipit dan tinggi mengenakan pakaian hitam.


Mobil bekas orang-tuanya mengeluarkan bunyi klakson keras dan paman Widia berteriak menghardik Widia. Fadli mengungkapkan niat mengancam dengan gerak air muka, saat mendengar teriakannya, namun Widia menghalangi pandangan. Gadis ini meminta untuk segera pergi.


"Kau sampa--!" Tatapan mata mengeras pada pria itu. "Rasanya sangat ingin ku tusuk orang itu!" Batin Fadli kesal sampai mengigit bibir.


Netra merahnya cukup menggerakkan kaki satpam keluar dari tempatnya. Layaknya orang yang hendak berbuat sesuatu, laki-laki ini sangat tidak senang, muka sungguh menggambarkan kegusaran.


"Udah.. jangan bilang apapun," ujar Widia sembari membungkam mulutnya Fadli agar tidak bersuara.


***

__ADS_1


Pintu terbuka, mereka masuk ke dalam. Amarah turut ikut menemani mukanya. Widya cukup menikmati manisnya nyeri selepas pamannya menghina, itu mengguncangkan hati dan pikirannya. Sampai kini menyerangnya tiada henti bagai hujan panah.


"Mungkin lebih baik aku pergi aja.."


"Tidak perlu, jangan mempedulikan kata-kata manusia itu.." lirikan matanya tajam.


Suasana agak hening. Rumah ini menjadi luas tidak seperti biasa, itu mengingatkan Widya pada rumahnya dan tidak lama gadis ini menghampirinya.


"Kita bisa lupakan hal ini," Widia mendekat kepada laki-laki yang tengah duduk di sofa. "Apa kamu bisa melupakan perkataannya? lagi pula kata-katanya tak ada hubungannya sama kamu."


Fadlu mengangguk pelan, ia beranjak dari tempat duduk dan pergi sambil memegang kening, ia seperti pusing. Alasan untuk membelanya nol, Widia memahami bila ia marah tapi semestinya tak sampai sejauh itu. Meski belum melakukan apapun, firasatnya mengatakan Fadlu kan melakukan sesuatu hal yang cukup buruk jika dibiarkan.


"Ada apa?"


"Nggak.. hanya pengin ngobrol aja."


"Ohh.. memang kakak tidak sibuk dengan tugas sekolah? Ya kakak sekolah memang beda."


Seraya membaca buku Widia bicara dengan kakak kelasnya. Mereka bercanda cukup lama dengan satu topik mengenai sekolah. Namun, Widia melihat ke arah Fadli di dekat jendela, dia sedang menjambak rambutnya sendiri seolah kesal.


"Haha.." tawa itu tidak berlangsung lama. "Kak, ada yang ingin kutanyakan apa boleh?"


"Apa itu? Boleh kok! apa sih yang enggak buat adik kelasku!"


"Kakak satu kelas sama Fadly, kan?" Tanya Widya agak pelan. "Gimana sikapnya dulu saat masih sekolah. Yah.. aku penasaran aja.." ujaran katanya semakin pelan seolah berbisik.


"Fadly? Buat apa kamu tanya dia, setahuku kamu nggak pernah bicara atau ketemu sama dia."


"Ya pengin tahu aja," jawab Widia agak tersenyum kecut. Menunjukan keseriusan lewat air muka, gadis ini mendengarkan sedikit tentangnya.


Selama setengah jam mereka bicara, Widia tidak menemukan apapun. Dia menyerah dan menutup panggilan. Melihat ke arah jendela, memalingkan wajah kepadanya saat tirai berumbai-rumbai dihembuskan angin malam.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya lelaki itu. "Kau melihatku seperti orang penasaran.." tambahnya agak menggambarkan suasana hati.


"Kamu kelihatan sedang kesal saja. Kelihatan dari muka kamu, loh."


"Begitu? Ya, jangan pedulikan hal-hal semacam ekspresi wajahku atau apapun itu. Tiap hari aku begini."


"Bagaimana aku tidak menghiraukan hal itu? Rasanya sangat ..." Kata-katanya mulai terhenti melihat reaksi Fadli.


Sesudah Widia melisankan kalimatnya laki-laki yang tengah duduk dan bekerja itu merona merah, pipi itu memerah bagai apel matang. Dia menutup kerap rapat sekali mulutnya. Gadis ini bingung dengan respon lelaki itu, ia menarik napas dan menyender pada sofa.


Keesokan harinya. Hendak melupakan segala tapi semakin menyerangnya. Kadangkala ia mendapatkan kejadian tak terduga dan kuat ingin membuangnya. Namun, malah semakin melekat menempel pada otaknya membuatnya bingung, otaknya berkeinginan dia untuk melakukan apa.


"Tuanmu juga bingung.."


"Bagaimana maksudnya.. hah?"


"Otak itu menurutku seperti budak atau abdi kita? Yah itu menurutku pribadi."


"Aku kurang lebih paham.. tapi.." Widia melahap roti sambil menatap ponsel. "Perkataanmu agak ambigu jadi menimbulkan ketidakjelasan," lanjutnya bercakap seraya beranjak dari kursi.


"Kalau begitu aku sekolah dulu," ucapnya beranjak pergi dari tempatnya berdiri. "Tenang saja aku akan jalan kaki ke sekolah dan menghemat uangku."


Tuhan menciptakan indahnya cuaca alam pagi yang di lihat oleh mata, maka mulailah dengan senyum dan hati yang tulus penuh akan keceriaan. Dan terkadang juga orang menilik hal negatif di balik positif, itu sering dialami oleh Widia hampir setiap harinya.


Waktu mengayunkan kaki pada saat berjalan, gadis berambut hitam tumpah sampai bawah pinggang ini menarik sebuah buku kecil dari tasnya. Dia membuka lembar kertas berjilid, buku kecil bertuliskan "Buku Harian" pada halaman pertama.


"Sepertinya aku bakal dapet cerita dari dia, tapi.. kalau ketahuan pasti dia mungkin akan marah.." batin Widya dalam hati. "Yah mau bagaimana lagi, tidak ada cara lain, bukan?" senyum kecut menyertai pertanyaan dari sendiri.


Sesampainya di hadapan gerbang, Widia menghembuskan napas begitu panjang seolah merasa tidak senang pada apa yang dilakukannya. Dia memasukan buku harian Fadli ke dalam tas dan mengamankan benda bukan miliknya.


"Mengecap manisnya nyeri? Kupikir aku juga sudah nyeri bacanya apalagi merasakan," ujarnya sembari masuk ke dalam. Dengan air muka menyesal dia hadir ke kelas disambut bisingnya suasana kelas, sebagaimana hari-hari biasa.

__ADS_1


__ADS_2