
Pemakan Kesedihan, bab 11
Kebanyakan remaja laki-laki akan menyukai hal yang lebih mengarah pada kegagahan. Melihat remaja itu menyiram bunga serta merawat tanaman. Widya menatapnya dari jendela, ia begitu lembut seolah-olah akan menjadi pria yang nyaman.
Di sisi lain, laki-laki itu sekali waktu berubah menjadi sosok menyeramkan. Dia tidak memilki gigi tajam atau hal memberikan lain. Melainkan ekspresinya seakan mengancam, mata merah mengeras sungguh luar biasa ketika marah.
Dia mengalah waktu debat seusai tak ingin dan lelah melakukan kegiatan itu. Mungkin untuk menghindari perdebatan dengan orang pintar, sebaliknya orang bodoh akan terus bicara meski berjuta-juta fakta telah ada. Bagai mudahnya memutarbalikkan kata.
"Kenapa kamu liatin aku begitu? Kerjakan tugasmu jangan malas!" Teriaknya memberikan senyum kecut. Widya mengiakan perkataannya dengan mengambil sapu.
Hari Minggu, waktu yang tepat untuk membereskan rumah sebab keduanya libur. Widya belum pernah beres-beres rumah. Kali ini, ia merasakan langsung nikmat menyapu, hingga peluh keluar dari kulitnya.
Satu jam berlalu begitu cepat. Fadly duduk di sofa meneguk air minum. Saat mengobrol ia seolah menyembunyikan rasa lelah. Wajah dan perkataannya tidak selaras.
"Ah.. aku ngerasa sedikit membebani kamu."
"Kenapa tiba-tiba bicara gitu?"
"Kepikiran aja. Meski udah dibilang jangan dipikirkan tapi tetap saja, selalu kepikiran."
"Kita jarang keluar, bagaimana kalau kita bermain-main? Kalau iya segera ganti.."
Widya beranjak dari kursi tempatnya duduk sebelum Fadly menyempurnakan kata-katanya. Dia kembali setelah beberapa menit, pakaian itu tampak seperti gadis yang dilihat Fadly beberapa tahun lalu. Wajah adiwarna nan menawan, buat matanya terpaku.
Widya membawa payung. Sedangkan laki-laki di belakangnya menggunakan masker, topi dan kacamata. Layaknya penjahat tengah menyembunyikan identitas. Adakalanya saat Widya menarik napas, memperoleh penampilannya di luar rumah sungguh mencurigakan.
"Kenapa kamu membawa payung?" Tanyanya melihat dua payung di tangan. "Hari ini kurasa takkan ada hujan," ujarnya melanjutkan.
"Ya tidak apa-apa. Apa nggak boleh?"
Fadly mengangkat wajah melihat angkasa sebelum bicara, "Niatku ingin membandingkan gadis di negri kita dan negri luar. Tapi, ya sudahlah.. membandingkan orang yang berbeda lingkungan dan budaya mengakibatkan kesalahan."
__ADS_1
Matanya berkaca-kaca serupa mau melahirkan perasaan sedih dengan mencucurkan air mata, tanpa suara terisak-isak sendiri. Dia menundukkan kepala menemukan bayangan orang lain. Sadar akan hal itu, ia betul-betul mengetahui Widya berjalan di samping menemaninya.
Bukan jadi pemimpin sampai memimpin, tidak pula pengikut yang mengikuti. Dia menjadi teman tempatnya bicara. Meski demikian, wajah serta sosoknya yang baru tidak menganggap dirinya sebagai teman masa kecil.
"Kita mau ke taman dekat sungai itu, bukan?" Tanya Widya memiringkan kepala. "Jawablah jangan hanya diam!" Lanjutnya sedikit mendesak.
"Ya, aku suka tempat itu."
"Oh.. saat pulang sekolah aku sering banget lihat kamu sendiri di sana, lagi memikirkan apa?"
Widya memperlihatkan tingkah menawan hati. Banyak bicara lebih-lebih lagi tingkah yang menyenangkan, Fadly tersenyum menanggapi sifat kekenesan gadis ini. Primadona sekolah yang disukai banyak remaja melewati ekspetasinya.
"Lagi memikirkan tentang bagaimana kelanjutan dari cerita, antara aku dan kamu."
"Ehh?" Widya menganga agak lama. "Terkadang kamu berkata gitu tanpa ampun, deh."
Wajah gadis ini merona merah karena malu. Dia mendekatkan diri, berjalan beriringan menuju tempat tujuan. Obrolan sehari-hari cukup mengundang tawa kecil datang. Hubungan keduanya tidak jelas, antara suka tidak suka dan sekadar berteman.
Waktu berlalu cukup cepat, percakapan serta rasa lejar hilang entah kemana. Mata keduanya tertuju pada satu pohon besar dekat sungai. Bunga-bunga berderet bersusun rapi, ada anak kecil yang tengah membereskan dan menyapu daun-daun kering.
"Hmm.. tampaknya dia melakukan apa yang ku pinta," gumam laki-laki ini sambil mengamatinya.
Remaja dan gadis ini turun ke bawah menjumpai anak kecil ini. Segera Fadly mengeluarkan dompet, memberi sejumlah uang padanya. Seusainya anak itu pergi dengan girang. Fadly kini menoleh ke bunga-bunga di dekat kaki, ia tersenyum lembut, suasana yang nyaman berada di sekitar mereka.
"Kamu bayar anak itu bersihin tempat ini?" Tanya Widya menaikan alisnya. "Padahal seharusnya kamu jangan membuang-buang begitu.." tambahnya agak menghela napas.
"Pengennya kamu lihat kalo tempat ini indah jika bersih.." ujarnya sembari mengembangkan bibir sedikit. Dia melanjutkan, "Apa nggak boleh?"
"Kamu sering menggodaku.." lirihnya pelan agak memberi cemberut.
Menghabiskan waktu bersama di bawah naungan pohon dilengkapi semerbak wangi aroma kembang memberi embel-embel dalam suasana. Keduanya saling memandang, namun orang lain nanti akan saling melihat.
__ADS_1
Fadly merasa suasana persis sama ketika Alya di tempat ini, akan tetapi saat bersama Widya, ia merasakan hal yang lebih dan lebih.
Mereka tidak langsung pulang ke kediaman. Berbelok arah menuju stasiun kereta, tanpa memberitahu apapun kepadanya Fadly masuk dan menarik gadis ini. Keduanya duduk di tempat sempit. Sebagaimana kereta penuh akan orang, membuat sesak napas.
Widya menoleh ke jendela sebelum mengajukan pertanyaan, "Kita mau kemana?"
"Maaf mendadak, aku ada urusan dan meninggalkanmu di rumah sendirian sedikit membuatku khawatir. Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu, kok."
"Yah aku percaya, tapi katakan tujuan kita. Kita sebenarnya mau kemana?"
"Mau ke kampung halamanku. Kampung Pasir Istana, mungkin kamu seharusnya tahu.."
Perjalanannya masih jauh. Widya ingat tempat itu, meskipun begitu ia tahu tujuan mereka akan jauh dan memakan tiga hari memakai kereta. Widya tidak tahu alasan Fadly ke sana, seingatnya itu tempat ketika Adi dan dirinya piknik.
"Aku ngantuk."
Matanya terpejam, kelopak mata menutup dengan lambat. Karena tahu perjalanan akan memakan waktu cukup lama Fadly juga melakukan hal yang sama. Sebelum itu, ia mengambil dompet dan memastikan uangnya masih ada.
Fadly memejamkan matanya sebelum berujar, "Kami tidak membawa perbekalan apapun, bahkan baju. Sepertinya aku terburu-buru.. ya sudahlah segunung uang takkan berguna bila untuk ditonton."
***
"Laki-laki bukan perempuan!" Teriaknya sambil menyilangkan tangan. "Cepatlah berdiri, lihatlah betapa buruknya wajahmu itu!" Lanjutnya bercakap menarik perhatian banyak orang.
Mau untuk mengalah saat tahu sifat lawan bicara adalah hal baik. Sadar akan hal tersebut, Fadly beranjak dari tempat duduk dan bertumpu pada kedua kakinya, meski terlihat gemetaran.
Adakalanya orang hanya melihat dari luar, mereka tidak pernah tahu apa yang tengah dirasakan oleh manusia lain. Laki-laki itu sosok yang kuat gagah berani, namun mereka dapat merasai sakit dan menitikkan air mata.
"Seharusnya aku tidur cukup," gumamnya mencengkram erat pegangan. Fadly melirik ke berbagai arah dan membatin, "Tidak ada yang ingin memberikan kursinya? Ah, aku bukan orang yang perlu di prioritaskan.. meski punya hak dan membayar juga."
"Pertamakalinya aku lihat wajah tidur Widya. Dia begitu cantik, masih sama seperti dulu.. dulunya tak punya teman. Sekarang jadi primadona sekolah diluar dugaan sekali.." ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Dia mengembangkan bibir, mesem menghadapi keimutan ekspresi Widya hingga melupakan sakit pada kedua kaki. Tetapi senyum itu tidak cukup untuk mengobati nyeri dan kantuknya.