Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 36 | Dya Bicara TentangNya


__ADS_3

Bab 36 | Dya Bicara TentangNya


Dya melantingkan cakram plastik pada Adi yang masih mengutamakan buku-bukunya, benda bundar tersebut merampaknya serupa bangunan yang roboh terkena batu besar. Reaksinya yang lambat terhadap rasa sakit membentuk rasa penasaran Dya.


"Adi.." Dya memanggil sebelum bercakap, "dari dulu aku penasaran. Kenapa kamu suka baca buku? Sampai ngelupain sakit, aku nggak kaget loh kalo kamu marah ke hantu kalo bukumu diambil."


"Nggak. Aku gak bakal marah.." Adi menyeringai tipis sesudahnya berlanjut, "ambil gergaji aja."


Si ibunda Dya yang memeka percakapan abnormal mereka khawatir pada cara berpikir putrinya kedepannya bila Adi tak berubah, wanita ini sukar memperoleh jawaban atau solusi. Menjauhkan teman satu-satu putrinya ialah tindakan kejam.


Pawana semakin kencang setiap detiknya membangun kecemasan, begitu ibu Dya menurunkan pandangan seusai mengamati langit, ia melihat bila Adi menautkan kedua tangan putrinya. Tilikannya pada Dya seolah melukiskan kesayuan.


"Aku nggak mau temenan sama kamu kalo nggak bisa dapetin beberapa teman," ucap Adi sewaktu membelai rambutnya. Dia berlanjut, "walau nggak mudah aku yakin kamu bisa melakukannya."


"Apa maksudnya?" Dya bertanya kebingungan.


"Ya, kupikir aku bakalan kembali semasa kamu punya beberapa teman!" Kata Adi sambil membawa pulang buku-buku serta durja ceria rekaan Dya.


Selepasnya Adi tidak pernah muncul balik kepada dirinya, alhasil Dya yang berupaya memperoleh teman hanya mendapat teman mata duitan. Kala itu, Dya terus menghamburkan uang semata-mata kepura-puraan Adi kan menjadi nyata.


"Aku udah dapet beberapa temen di SMA sekarang walau kebanyakan kakak kelas.." Widia menarik napas lega, "buktinya.. kamu kembali lagi, kepura-puraan itu jadi nyata, bukan?"


"Apa yang sedang kamu bicarakan?" Fadli mengelus kepala Widia dengan lembut.


"Coba tebak?" Yang bersandar melanjutkan, "otak kamu pasti akan menemukan jawabannya, pasti!"


Fadli menonton televisi sembari mengecap sajian yang tersedia di atas nampan, selagi yang duduk bersandar pada pundak si kesayangan menghadiahkan Fadli semerbak wangi surai Widia. Tanpa tahu parfum apa yang digunakannya.


Wajah ketidaktahuan Fadli sangat semu sebab benaknya memperkirakan bahwa dia tak berungkap secara langsung, gadis yang bersamanya pun tidak memahaminya. Disisi lain Widia sedikit menjadi gamam sewaktu tanggapan Fadli terlontar.


"Aku kan menunda ini untuk dihari yang lain agar terkesan lebih baik," senyum turut hadir begitu ucapan dalam batinnya tercipta. Anak perempuan ini girang hati mendekap erat kesayangannya.

__ADS_1


"Duh! Enak banget ******.." batin Fadli.


"Pamer kemesraan di hadapan orang-tua, tapi sayangnya ibu udah nggak mau bermesraan sama orang ini.." ibu Widia menatap tajam suaminya.


Pak Arya menghela napas dan bercakap, "kita dijodohkan bukan saling mencintai. Jadi diamlah."


Semasa ditengah-tengah kakaknya yang bercumbu rayu, buat Sarah tidak fokus pada pekerjaan rumahnya dan berkesudahan dengan angkat kaki. Dia maherat dari ruang tamu ke kamar, saat Widia terus menempel pada kekasihnya.


Selagi orang-tua Widia tinggal, Fadli betul-betul kesulitan untuk bermalas-malasan di hadapan mereka berdua. Akhirnya, bulan April ini ia gagal memperoleh kesenangan pada jadwal yang tersuruk bersemayam di benaknya.


Sementara Fadli memikirkan cara berguling-guling di kasur empuk, Widia senantiasa menimbang-nimbang apakah lebih baik menunda? Dirinya lebih ingin agar Fadli menyadarinya terlebih dahulu. Meski begitu secuil harapan bila Adi tidak mengingatnya.


"Aku dulu punya temen namanya Adi, ayah udah dapet kabar dia belum?" Tanya Widia pada ayahnya sambil tersenyum hampa.


"Tidak sama sekali," balas Arya menampak senyum kecil menghala kepada Fadli. Pria jangkung berkacamata ini kenal dan paham yang tersirat pada pertanyaan anaknya barusan.


Fadli yang meniadakan reaksinya terhadap ucapan mereka berdua bergeming tanpa menghiraukan, kini perkara itu dibahas lanjut oleh keduanya. Karenanya Fadli ikutan membahas masa kecilnya, topik mereka berempat setelah ibunya gabung begitu random.


"Siapa dan ada apa ya?" Tanya Fadli seraya menarik pintu rumah. Begitu terbuka pria itu melangkah pergi menuju mobil yang terparkir di jalan.


"Kakak!" Seru seorang anak perempuan yang berlari keluar dari mobil. Dia menangkap kakaknya dan berkata, "Dini sangat teramat sungguh rindu kakak."


"Kenapa kamu di sini?" Fadli menggelengkan kepala dan mengatakan, "tidak! Dimana bapakmu dan ibu?"


"Ibu ada di mobil. Sedangkan ayah ..." Dini tidak melanjutkan tutur katanya dan memilih diam.


Fadli menghayal jikalau ayahnya pergi tanpa kabar entah itu kerja atau bermain-main, seperti dulu meninggalkan dirinya sendiri di rumah sewaktu ibu berada di rumah nenek. Alhasil anak laki-lakinya kelaparan setengah mati saat ditemukan.


Nenek memarahi ayah karena ulahnya, meski begitu Fadli yang masih kecil dan polos sulit meminta bantuan pada tetangga. Kali ini Fadli versi dewasa menghela napas, ayah bebal beloon juga pasti belajar dari kesalahan.


"Ya kebetulan saat itu juga beras habis dan tidak ada uang sepeserpun di rumah. Untungnya ada roti kedaluwarsa di kamarku," ujar Fadli bicara sendiri.

__ADS_1


"Ayah pamit mau keluar kota dan kayaknya lupa beras abis, sama nggak kasih uang sedi---!" Ucapan terhenti karena sadar perkataannya menggusarkan kakaknya. Si kakak pun tampak geram marah.


HAH!


Serentak tangan Fadli menimbuk pintu menghasilkan suara nyaring dalam rumah, dirinya melepaskan hembusan napas yang banyak. Udara diburu oleh laki-laki ini, murka telah meruak ke seluruh tubuhnya mengingat kejadian sama terulang.


"Akan aku bunuh manusia itu," ucapnya sembari melihat ke tangan kalau darahnya bercucuran.


"Dede ..." Panggil seorang wanita. "Jangan marah-marah begitu. Nanti ubanmu tambah banyak," bujuk ibunya menaruh telapak tangan di atas kepala.


"Gak apa-apa mah, masuk yuk!" Ajak si anak pada ibundanya. Fadli menuntun sambil bertanya, "Mau aku buatin bubur kacang nggak?"


Ibunya menggeleng untuk menolak, semasa Fadli menitipkan ibu pada Widia, dirinya tertampak seolah tenang kembali. Dindingnya kembali berdiri melindungi kepala dinginnya, berkat bantuan wanita yang melahirkannya.


Segera sesudahnya Widia bertanya-tanya, mengapa pacarnya selalu dingin saat bersama ibunya? Lalu, setiap kali ibunya tidak ada marahnya selalu bertahan lama. Selagi memikirkan perkara itu, Fadli bolak-balik membawa uang.


Fadli menghela napas dan bertanya, "maaf.. apa aku boleh pinjem uang dulu?"


"Boleh. Mau berapa pun juga tidak apa-apa, asalkan anda bilang uangnya untuk apa.." jawab pendengar.


Dini masuk ke rumah menarik-narik lengan baju ayahnya, semasa Fadli menoleh ke lawan muka menemukan orang sebelumnya masuk. Dia kelihatan menatap Fadli dengan tatapan kemurkaan.


Ayah Widia berdiri langsung menghalakan netra pada penagih uang, sesudahnya tatapan murka pria ini mengirat seusai menemukan Pak Arya. Mereka kelihatan saling kenal, semasih pria ini tidak mengatakan apapun Fadli membuka mulutnya.


"Kan aku ganti seperempatnya dulu.." dia menunduk dan mengatakan, "bulan ini aku belum gajian jadi..."


Arya yang berdiri mengatakan, "Anak ini calon menantu putriku. Jika ada masalah anda bisa bilang."


"Saya tidak tahu bos di sini," kata pria ini meletakkan senyum kecut. "Saya tak bermaksud ...." kata-katanya berhenti selepas Widia mengetuk meja.


Perkara ini langsung usai sesudah Widia mengganti rugi kerusakan motornya, akibat ulah ayah bebal itu, dirinya perlu kerepotan. Fadli pun geram dan kini menaruh perasaan benci yang menginjak naik, meski tahu tiada guna merapikan dendam di isi kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2