Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 18 | Maafkan Aku, Aku ... | edt


__ADS_3

pemakan Kesedihan, bab 18


Si rangkai hati Widya melontarkan bermacam-macam kalimat, selama beberapa menit berlangsung tanpa henti. Ibarat tukang obat tengah mempromosikan produknya. Dia serentak berhenti mendengar ketukan pintu, ia keluar dari kamar bersama gadis yang bersamanya.


"Siapa yang datang, apa kamu mengundang temanmu untuk bertamu?" Tanya Widya sambil menoleh padanya. Jawaban lisan nihil didapatkan melainkan isyarat.


Di ruang tengah Fadly duduk pada sofa secara tidak langsung meminta Widya membuka pintu. Segera gadis ini menemui tamu, dari celah pintu keliatan seorang pria dan wanita. Tampak tak sudi menunggu terbuka, pria ini mendorong pintu sampai membuat Widya terdorong lalu jatuh.


Fadly yang sedang duduk terkesiap melihatnya terjatuh akibat dorongan pintu, bergegas ia menghampiri dan terhenti depan pintu. Ketiga pandangan bertemu, tatkala itu juga Fadly memasang ekspresi muram tidak berseri-seri lagi berkebalikan dengan sebelumnya.


"Fadly?"


Seketika itu juga lenyaplah cahaya di netranya, tangannya mengepal erat hendak melangkah ke arah keduanya. Namun, ia berbelok membantu Widya sambil menahan geram. Dia hendak melirik ke ayah, semasih belum pukulan mendarat ke pelipisnya.


"Ada apa kau kemari? Ayah.." kata-kata itu terlisan saat Fadly mengusap-usap bagian kepala diujung kanan dahi antara telinga dan mata.


"Kabur dari rumah, dapat kabar kau tinggal dengan perempuan dan membiayainya, apa maumu? Anak tak tahu malu, tau tidak selama kau pergi orang-orang sekitar menjadikan keluarga kita bahan gosip!"


"Harusnya kau bersyukur beban keluargamu berkurang.."


"Sadarku... Perempuan ini main adikmu, balik kemarin kan? Jawab!"


"Haa.. untuk apa aku harus musti menjawab omongan tak jelasmu? Menjengkelkan sekali harus berbagi udara denganmu!"


Adu mulut terjadi, ruangan semakin memanas saat Fadly maju satu langkah bersama jari tergenggam kuat dan erat. Baku hantam berpotensi muncul jika tidak ada yang meredakan salah satunya. Dalam bingung, ibunya mendekati anaknya.


Elusan tangan ibundanya membangkitkan perasaan sedih nan kecewa di hati remaja rapuh sok kuat, keadaan batinnya tersentuh sewaktu merasai sakit dan kekuatan tangannya pun melemas. Kepalan tangan itu melemah.


Dia menaikan penglihatannya ke atas, hendak gerakan tangan mencapai telapak lengan si ayah. Matanya berkaca-kaca serupa akan menangis. Remaja ini bercermin, melihat sesuatu bahwa ia belum sampai menerangi sendiri sebelum yang lain.


"Apa aku harus minta maaf? Pikirkan lagi Fad, ayahmu memang begitu daya pikirnya rendah. Baiklah aku kan minta ..." Fadly berhenti berkata dalam hatinya.

__ADS_1


Widya menunjukkan rasa tidak nyaman, tangannya dicengkeram oleh ayah membuat Fadly naik darah sebab pengharapan tidak terpenuhi. Dia terlepas dengan cepat dari ibunya, tiap langkah tidak menjejak lantai sehingga keduanya tidak sadar.


"Apa kau lakukan ke anakku?"


"Singkirkan tangan kotormu dari Widya!" Bentak Fadly menghadapkan genggaman tangan ke dada ayah. "Tua Bangka!" Teriak anaknya.


Mendepak kaki ayahnya sekuat tenaga, hasilnya ia jatuh ke lantai dengan suara bruk yang amat sangat keras. Pria ini mencoba bertumpu pada kedua kakinya, matanya memandangi Fadly dengan tajam serupa harimau menatap mangsa.


"Hoo ramanda bangun, ramanda yang Lebih mengutamakan burung kenari senilai bumi daripada nyawa anak, permen senilai alam semesta ku makan kau murka.. seluruhnya tak muat bila kutulis kesalahanmu dalam buku, setebal apapun!"


Ucapan itu menghadirkan seringai tipis beserta kegusaran yang menguasai. Bagai api meruak menghabiskan kesabaran dalam diri, remaja ini menarik ponsel dari sakunya. Gigitan bibirnya tangguh hingga mengucurkan darah keluar.


Dalam hati gadis yang berada di tengah-tengah pertengkaran keluarga, ia berpikir mereka takkan bertengkar separah ini jika kehadirannya tidak ada. Pemikiran itu menempur dalam benaknya, berkecamuk secara ganas menyerang.


"Maafkan aku, aku ..."


"Diamlah Widya!" Bentak Fadly memotong kata-kata yang belum terselesaikan.


"Andaikan ibuku tidak memilki penyakit kejiwaan, mungkin saja ..." kalimatnya terhenti mengingat Widya masih disisinya.


Dia menutup pintu, setelahnya jatuh duduk tersandar dengan muka terangkat ke langit-langit. Tiba-tiba Widya datang mengubah pemandangan. Air mengalir, air mata mengucur dan Widya bersimpuh di hadapan lalu mendekap tubuh bagian depannya.


Fadly merasakan bajunya agak basah karena air matanya, serta suara menjerit-jerit pergi dengan suara agak tertahan-tahan. Suara tangisnya diredam oleh kedua tangan yang melingkari pinggangnya.


Anak remaja laki-laki menengok jam dinding kemudian membatin, "Kenapa aku malah memeluknya? Kami sudah dewasa, bukan lagi anak kecil.. mengingat ini kembali menguras perasaanku."


***


Setengah jam lewat, Widya sudah tenang meski suara isak tangis masih kedengaran melemah. Dia belum selesai menyembunyikan wajahnya di dekapan pelita hati. Belum puas mendapatkan Fadly selama 30 menit.


"Jangan menangis di dekat ketiakku. Apa kamu nggak ngecium aroma bau?"

__ADS_1


"Biarkan aku gini Fadli.." lirihnya pelan. "Sebentar lagi aku pasti akan pindah posisi ...," lanjutnya bicara seraya malah semakin memojokkan badan lawan bicaranya ke sudut dekat pintu.


Kesenduan perlahan-lahan lenyap, lambat laun peristiwa ini 'kan mengirap dari benak jika tiada hal yang memicu terbitnya perihal kenangan seperti sekarang kembali. Fadly percaya pada hal tersebut. Dia menaruh telapak pada pundak Widya, sedikit tenaga menggoyangkan badannya.


Widya bergerak mulai mempertemukan fokusnya pada netra lawan bicara, selama beberapa detik memusatkan perhatian Fadly tidak melakukan reaksi apapun. Menunggunya begitu lama, Widya kembali pada posisi semula, bersembunyi dibalik tangannya.


"Udah kayak anak burung sembunyi di sayap ibunya segala," lirih Fadly dekat daun telinganya. Bisikan itu pun sampai di otaknya.


Angkat Widya akhirnya bertanya, "Mengapa nggak boleh?"


"Boleh, cuman.. aku pengen kamu nggak membuatku semakin jatuh cinta kepadamu. Ah, ayolah nanti kamu di penjara."


Kerutan di matanya tidak ada, namun senyum lebar menipu Widya hingga ia melihat kepadanya. Merebut perhatian pada Fadly, kebohongan murni didapatkan buat mulutnya terbuka. Dia memegang kuat lengan bajunya, Fadly makin membesarkan gerak tawa ekspresif tanpa rasa senang serta suara.


"Mengapa?"


"Kalo Widya yang aku sukai meluk gini, nanti aku mati.. bisa-bisa kamu ditangkap polisi karena pembunuhan berencana maupun nggak sengaja."


Dengan lambat Widya melepaskan dekapan cahaya matanya, sunyi mendukung pertemuan kedua mata yang seolah-olah tengah bercakap-cakap. Meskipun Fadly yang tersipu menentangnya, ia memalingkan arah bola matanya ke sisi kanan.


Fadly belum pernah merasa tercanggung menunggu kedua orang-tua datang, salah satu penyesalannya selama ini sang ibunda tempatnya mengadu dan adiknya tidak tahu kebenaran si kakak. Dia cukup mempersalahkan diri sendiri, kabur karena hal kecil.


"Kamu serakah banget jadi orang.."


"Keserakahan adalah ciri khasku, cuman keberanian jarang datang padaku. Meski ia datang di saat yang tidak tepat mulu."


"Makasih.. dan maaf."


Mereka diam, walau sedikit gerakan membuat Widya melihat ke wajahnya. Dia merasakan bila perhatiannya terus terpaku. Perkataannya saat menjadi Adi ataupun Fadli, sudah berakar dan melekat dalam sanubarinya.


Kenakalan remaja laki-laki pertama yang membuat primadona sekolah tersipu malu, membuatnya mesam-mesem dan berseri-seri sendiri menerbitkan ingatan tentangnya. Terus terulang, sampai titik dimana si kebosanan pun tak berani 'tuk datang kepada dirinya sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2