
Bab 32 | Murka Menelan Dirinya
Fadli bungkam seribu bahasa, tilikannya pada Widia barusan membuktikan kegusaran tumbuh walau penerima tatapan bukan incarannya. Yang ditarget menentangnya rendah. Bersicepat ia mau kembali dan kendati pergi pun dirinya tidak bisa, pikir Fadli.
Dalam isi kepalanya bertanya-tanya bagaimana ayah-ibunya bisa kemari lagi, perdana otaknya menyangka bila ini perbuatan Widia. Jejaka rapuh sok kuat ini pun tersenyum menerimakan perbuatannya.
Fadli mencubit pipi kanan pengobat hatinya sembari mengatakan, "Orang kaya bisa segalanya itu sangat meresahkan. Kenapa pacarku? Ya, lumayan duitnya."
"Kenapa anda mengatakannya di hadapan orang-tuanya? Kau sungguh ..." perkataan ayah terhenti diredakan oleh istrinya. "Widia. Kita keluar saja, biarkan mereka bicara enam mata saja," ajak ayah.
Sebelum meninggalkan pintu, Widia menoleh ke belakang seraya asan tak asan Fadli akan baik-baik saja. Dirinya enggan angkat kaki, sungguhpun untuk kebaikannya sendiri Widia mengigit bibir dan mengegah menghampiri ibunya.
"Mamah dan Dini nggak capek jalan?.. duduk dulu yuk," ajak Fadli sambil menggandeng tangan ibunda menuju sofa. Matanya tidak acuh terhadap eksistensi manusia ber-'status' kepala keluarga dalam kartu keluarganya.
Kehadiran induk beras dalam keluarga amat esensial bagi anak, jikalau mengirat sekalipun yang bertanggung jawab semestinya tak kuasa melihat darahnya menitikkan air mata. Fadli mengigit bibir semasa ayahnya duduk di samping ibunya.
"Liat situ duduk di sisi ibuku membuatku najis hingga mau menggores tanah," ungkap Fadli dihadapan ayah. "Keluar dengan sendirinya saking jijiknya," batin lelaki ini jengkel karena ramandanya.
"Sini ayahmu diri," jawabnya menanggapi ungkapan anaknya sendiri. Tiada kesan atau ekspresi apapun sesaat merespon ucapan anaknya.
"Psikopat pun tampaknya kan merasa kesal jika ada yang menghinanya ..." Fadli mengepalkan tangan dengan geram berkata, "situ sampah paling sangat teramat busuk dalam warita hidupku."
Fadli berdiri kemudian mencengkram erat kerah baju ayahnya, kedua netra tajam rampang menunjuk ayahnya sendiri beriringan suara latar belakang sekeliling mereka anak-anak bermain.
Lawan depan gerha Fadli ialah taman bermain. Tiap-tiap teriak jerit girang bocah-bocah itu melahirkan perasaan campur aduk, dirinya seperti ada di tengah-tengah permainan bercengkrama bersama teman-teman. Perkara ini selalu membangkitkan luka lama.
__ADS_1
WIDIA!
Seketika murka menelan Fadli, teriakannya seolah menggetarkan bentala. Dirinya menyirapkan marah geram, kelopak netranya tidak terkatup dan bangun memperoleh pergelaran dan masa-masa lampau memerihkan hati yang mengelopakkan luka lalu.
"Situ tidak tau apa yang kulalui untuk mendapatkan semua ini, segala di matamu hanya sampah sampah dan kotoran! Apa yang kau inginkan?" Anaknya terisak menahan tangis membatin, "sudahlah Fad!"
"Aku sudah berjuang semampuku memakai caraku sendiri! Apa yang ayah inginkan?" Fadli kembali bicara dalam hati, "sudahlah Fadli. Cukup!"
"Apa? Katakan apa!" Fadli membentak sejarak satu inci dari durja datarnya. "Satu satu satu dan satu saja di otak udangmu itu. Posisi ke empat itu sangat sukar ku dapatkan, pikirkan tentangku juga!" Ujarnya melepaskan berbagai emosi sekaligus.
Widia mematung dekat perseteruan mereka berdua tanpa melakukan apapun, gadis ini seperti ketakutan menjumpai Fadli naik pitam. Lama kelamaan adik Fadli, Dini menarik ibunya dan berpindah tempat sebab menyangkak bulu romanya karena konflik ini.
"Widia. Ambil ibu dan bawa Dini keluar, bawa mereka ke taman!" Perintah laki-laki ini melekatkan sebuah pandangan sakit hati.
Suara tangis tertahan-tahan yang rawan itu segenap hati menyayat renjana cinta kasih Widia, gadis ini menyaksikan gambaran Dya menangis sendirian tanpa Adi di sandingnya. Dia hanya sanggup berserah dan membawa adik serta ibunya keluar.
Sevab orang-tua Widia pulang, gadis ini kini membuang napas panjang merasa cabar karena rencananya. Sesampainya di taman bermain, banyak bocah main-main dan berkelakar tidak dengan muatan maupun beban di bahunya.
"Ehhh ..." Widia yang kebingungan mendeham sambil tersenyum bertanya, "kamu mau main?"
"Nggak."
"Begitu ya? Ah, gimana kalo kita jajan aja yuk!" Ajak Widia meletakkan senyum paksaan. Widia membatin, "Entah mengapa sikapnya sama kayak Fadli. Darimana dia menirunya? Ini sama kayak di pusat perbelanjaan!'
"Karena teteh, kakak aku jadi gitu.." anak ini cemberut dan berkata, "ungkap ayah tadi pagi sebelum ayah ibu dan aku menginjakkan kaki kami semua kemari."
__ADS_1
Senyum manis perempuan ini luntur akibat mengindahkan ucapan kanak-kanak di hadapannya, gadis ini sedikit membuang pandangan dan hatinya dengan sekelumit hatinya meredut lantaran tuturan Dini yang sedikit kurang sopan menurutnya.
Sulit untuk mendapatkan hatinya, gadis ini mencoba tersenyum lebar menunjukkan gigi asmaradanta meski begitu Dini tidak bereaksi kemudian kabur menuju perosotan. Selagi itu, Alya datang dan menepuk pundak ibu Fadli bersama senyuman.
"Alya?" Widia menoleh ke arah mereka berkata, "kau jangan mengagetkan ibu Fadli seperti itu. Terlebih lagi, tampaknya kalian saling kenal. Apakah benar?"
"Hebat juga tebakanmu!" Alya menyepuk gulungan kertas pada Widia. Gadis ini menangkap sampah Alya satu tangan, ia kembali melemparkan benda itu pada pembuang dan kena tepat di dahinya.
Alya tidak menyingkirkan sampah dan memulangkan bola kertas pada Widia, gadis ini kelihatan geram bermaksud akan membuangnya ke area lain. Hitungan detik kemudian Alya memintannya tuk membaca kertas di tangan dengan gerakan bibir.
Sesudah membuka, Widia tergemap sewaktu membaca ungkapan perasaan Fadli pada secarik kertas. Tiap-tiap paragraf dipenuhi rangkaian kata sederhana, meski begitu Widia mematung membacanya dan tidak menghiraukan sekeliling.
"Kenapa seperti ayahnya sangat kekanak-kanakan atau lebih tepat, pantas disebut abang jika warita ini benar. Pria itu ayahnya apa abangnya?" Gumam Widia menyenyumi sehelai kertas ingin tak percaya.
"Aku tadi ke sana malah nemuin mereka lagi berantem adu mulut.." Alya yang tersenyum hampa mengatakan, "oh ya.. kertas itu ku temukan di tong sampah ketika Fadli membuang sampahnya."
"Pemulung," ejek Widia. Perempuan ini menatap tajam dan berujar, "kenapa kau datang kemari? Jujur. Aku sedikit kesal kamu dekat-dekat sama Fadli."
"Oh.." Alya menaikan alis sebelum berkata, "mentang-mentang udah pacaran belagunya minta ampun. Dari postur tubuh aja, tidak ada yang bisa dibanggakan."
Mereka berdua bercekcok mulut bahkan sempat melontarkan umpatan kasar, selagi beradu mulut ibu Fadli mengayun-ayunkan tangan sambil melangkah menuju anaknya. Sementara dua gadis, Alya dan Widia bertengkar hebat melibatkan umpatan kasar.
"Kak Adi!" Teriak Dini dari kejauhan menyadarkan kedua perempuan ini memberhentikan pertikaian.
Fadli menjumpai kedua anak perempuan ini beriringan dengan muka memuram, yang bermaksud mendekap di tolak mentah-mentah. Widia sedikit cemberut sesudah penolakan lingkaran tangan, dari raut mukanya yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Pakailah rok yang melebihi lutut, dua rangkap pakaian, gunakan pakaian yang panjang lengannya, dan gunakan sepatu yang nyaman!" Perintah Fadli seakan memaksa. Dia berlanjut, "kita akan kencan besok, aku pengin ajak kamu ke tempat tenang sekaligus menyejukkan otakku."
Ruang di dadanya sudah selesa karena lega bertandang buat Widia girang hati, senyum lebar singgah ke muka manis rupawan. Durja cantik serta senyum manis yang selalu tersipu sudah merekah dalam lekukan pipi imut karena ajakan Fadli.