
Pemakan Kesedihan, bab 05
Widia sudah terbiasa tinggal bersama remaja kurang akal sehat serta hal acaknya tiap hari. Sekarang, ia tengah menjemur pakaian di halaman rumah dilatarbelakangi suara anak-anak bermain sekitaran taman. Melihat hal tersebut memicu terbitnya sebuah ingatan masa lalu.
Bola menggelinding di lapangan. Anak-anak berjingkrak-jingkrak tengah bermain, ada penjual juga di jalan tengah mangkal. Satu anak tampak duduk bersimpuh dilindungi pohon rindang, mata memandang canda tawa anak-anak sebayanya, ia kadangkala melihat ke gerbang taman seakan sedang menunggu.
Pupil matanya membesar. Anak kecil laki-laki berambut hitam agak acak-acakan, beserta mata tajam nan sinis jadi ciri khasnya. Yang ditunggu telah hadir. Akan tetapi, anak perempuan ini menggerakkan bola matanya ke arah sebaliknya.
"Hei Dya.." seru seorang anak kecil.
"Ada apa?" Sahut Dya menampakkan muka masam. Tawa kecil datang dari mulut Adi, Dia sekarang berdiri dari tempat duduk dan menemuinya.
Anak perempuan memaut tangan Adi, pipinya melebar hingga cemberut memberi satu kesan pada Adi terhadap Dya. Satu kecupan manis meletakkan bibir menuju sisi muka bawah pelipisnya. Adi kebingungan, dia mengusap-usap pipi memakai saputangan.
"Kenapa kamu malah bersihin?!" Bentak Dia menampakkan wajah tak senang. Dalam keadaan bingung Adi tersenyum masam. "Kata ibu kita kecup orang yang kita sayang," ucap Dya sambil merentangkan tangan ke muka.
Adi tertawa. Sementara Dia menurunkan tangan selepas memperoleh tawa kecil itu, mereka seperti biasa duduk di bawah pohon. Menatap angkasa lepas yang biru. Selagi masih cerah belum mengabu, kedua anak ini melekatkan pandangan kepadanya.
Adi memasang muka heran, Dya yang melihatnya merespon dengan tepukan tangan. Menanggapi tamparan tapak tangan kiri-kanan sehingga menghasilkan bunyi, Adi menoleh kepadanya, mereka saling berpaut pada mata.
"Ada apa?" Tanyanya sebelum Adi melepas pandangan.
"Tidak ada apapun," Adi membiarkan matanya bergulir ke arah lain.
__ADS_1
"Kamu kayak sedih," kata Adi sembari membuat gambar pada buku yang ada di dalam tas. Sementara anak gadis di sisinya mengamati gambar yang dihasilkannya dari dekat.
"Apa yang kamu gambar?" Tanya Dya melihat entitas gambar aneh. Beberapa mahkluk tanpa perawakan jelas tergambar di bukunya. "Sebenarnya apa yang kamu gambar. Agak menakutkan," Dya menampakkan senyum kecut.
Adi bukan memberi jawaban. Ia menghembuskan napas, kedua tangan diletakkannya depan dada berbentuk menyilang dan tidak membutuhkan waktu lama Adi mengigit pena. Anak perempuan di sisinya sudah terbiasa, bila melihat Adi mengigit sesuatu ia mungkin tengah kesal pada sesuatu hal.
Suara anak-anak lain melatari suasana sekitar mereka. Adi sibuk dengan kedua tangan mengurusi urusan lukisannya, sedangkan Dia sangat merasa bosan namun tak ingin menganggu temannya. Memerlukan beberapa saat anak-anak lain mendatangi mereka, mereka melihat keduanya terus berduaan.
Salah satu anak duduk di samping Adi dan melihat lukisannya lalu bertanya, "apa yang kamu gambar? Aneh." Yang lain ikut memperhatikan. "Ehh.. itu seperti monster deh," tambahnya memberi komentar.
"Ahaha.. iya bener," komentar anak lain.
"Kalian gak sopan. Ini tuh aku lagi bikin mahkluk yang bisa makan kesedihan orang yang lagi sedih," ucap Adi seolah-olah membanggakan diri dengan kedua tangan depan dada. Berkebalikan dengan teman-temannya berekspresi bingung.
Gambarnya serupa ikan bergigi tajam serta gigi yang tersusun secara acak. Selagi Adi mengatakan apa yang tengah di lukisnya Dia kelihatan tertekan berada di tengah-tengah anak seusianya. Ia sangat betul-betul tertekan terlihat dari ekspresi wajahnya.
Adi kelihatan bingung hendak berkata apa. Ia menggamit pipi Dga sambil bertanya, "kamu kenapa kelihatan tertekan?" Adi menaikan alis, "kayaknya kamu mau main."
Dia menggelengkan kepala tidak dengan melisankan satu kata sekalipun. Tidak lama yang lain mulai berdiri dan melihat Dia, seorang anak yang belum pernah bicara dengan mereka.
"Nggak asik banget!" Satu anak pergi disusul oleh yang lain dan beberapa menit berlalu. Mereka pergi meninggalkan Adi dan Dia, tiba-tiba anak perempuan memaut tangan Adi menariknya berdiri.
"Alya, apa yang kamu lakuin?" Helaan napas menyertai ucapan Adi. "Aku lagi sibuk," tambahnya dengan nada suara agak memelas.
__ADS_1
Alya ikut duduk, mereka berdua bicara tentang lukisan. Dan Dia tidak bisa berbaur dengan mereka berdua. Selagi semilir angin terus saja menerbangkan dedaunan, selembar daun dari pohon yang dijadikan sebagai tempat menyender jatuh ke kepala Dia, dan Adi memungut lalu mengantonginya.
"Kenapa kamu nyimpen daun di saku?" Alya mengajukan pertanyaan. Alya memiringkan kepalanya, "Maksud aku.. daun itu banyak, loh. Selain di kepalanya."
"Aku rasa anak yang duduk diam menunggu sampai aku selesai takkan berubah. Ada waktu aku pikir buat meninggalkannya, apalagi dia nggak mau main sama orang lain. Bahkan tadi mereka bisa aja diajak main sama dia. Iya 'kan Dia ?" Toleh anak kecil ini kepada Dia.
Dia mendekat dan memaut tangan Adi, ia menggoyangkan lengan serupa mengajaknya bermain. Tidak lama Adi menoleh kepada Alia bahwa anak itu melambaikan tangan, ia berkata ingin pulang ke rumah sambil menjauh.
"Kamu kayak sedih," ulang Adi seraya melepas genggaman tangannya. "Ayo bicara sama aku kamu kenapa sih?" Tanya Adi menyediakan tawa tanpa suara di air mukanya.
Widya menarik napas dan menaruh piring terakhir ke rak. Sampai saat ini dia belum pernah mendapat kabar mengenai teman masa kecilnya, ia sempat melupakan anak itu tapi tidak bisa dan malah sekarang ini Widia terus mengingatnya tanpa henti.
"Ada apa? Kamu seperti gadis bingung," ujar Fadli dari belakang sambil mengambil gelas. Dia menyeduh kopi instan di sampingnya.
"Nggak, aku lagi ingat masa lalu aja.." Widia berkata sembari hendak mencuci kedua tangan. Namun, ia menemukan sabun sudah habis digunakannya untuk mencuci sebelum-sebelum ini.
Fadli menyeruput kopinya. Matanya menatap peti besar di samping, ia mendekat ke lemari meraih satu sabun batang yang baru di beli olehnya dua hari yang lalu dan memberikan benda itu kepada Widia. Widia menerima dan menggunakannya.
"Boleh kamu lari dari masa lalu. Tapi belajarlah dari hal itu.." Laki-laki ini meneguk minumannya. "Mungkin nanti ada seorang laki-laki yang mampu memakan tiap-tiap kesedihan kamu," Fadli melihat ke dalam cangkirnya sambil berkata demikian.
Penglihatan Widia terpaut pada Fadli. Tawa tanpa suara mengembang, senyum simpul benar-benar tumbuh dan betah tinggal di mukanya. Selagi melihat ekspresi wajahnya Fadli bingung apakah dia salah berkata. Tiba-tiba, sekarang Widia tertawa meski sudah menutup mulut dengan kedua tangan.
"A-Ada apa?" Tanyanya agak gagap. "Apa yang salah dari pekataanku!" Fadli merona merah menemukan senyum manis tersebut.
__ADS_1
Widya masih tertawa. Dia menyeka air mata sebelum berkata, "kupikir kamu orang yang serius ternyata bisa bercanda juga." Ekspresinya kini lebih ringan daripada sebelumnya.
"Tapi ... makasih buat udah mau bicara kayak gitu, aku seneng!" Ungkapnya bersama senyum yang menunjukkan kesenangan hati. Senyum tersipu malunya sudah merekah dalam lekukan pipi imut, melahirkan keinginan hati Fadli menaruh kasih.