Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 16 | Otak Widya Membeku | edt


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 16


Malam yang sepi. Hari-hari biasa terlewati, perubahan kehidupan Fadly hanya kedatangan sosok baru di rumah. Tempatnya berpulang telah dibuang, walau tidak pasti ia serasa menemukan rumah baru, bersama gadis menawan hati itu.


Yang di maksud tengah terlelap dalam tidur, lampu ruang tengah masih menyala terang dikala malam. Rambutnya terjuntai seperti benang sutra, sudah terbiasa ia melihatnya tidur dan jarang gadis itu ketiduran di kamarnya sendiri.


"Widya, bangunlah pindah ke kamar sana!"


"Eh.. aku ...," Perkataannya terhenti dengan menggosok mata. Dia melihat ke sekeliling menyadari tempatnya.


Anak perempuan menguap sambil meregangkan tangan, ia berdiri hendak melangkah ke kamar selepas melihat jam dinding. Waktu hampir mencapai tengah malam. Sebelum Widya pergi, Fadly mengambil buku di atas meja.


"Aku pinjam buku catatannya boleh? Milikku habis dan tak ada toko yang buka di jam segini."


"Nggak apa-apa."


"Nanti aku ganti, tidurlah sekarang kamu masih ada sekolah besok, 'kan?"


"Selamat malam, Fad."


Fadly tidak menjawab. Dia hanya memandangi halaman pertama buku catatannya, terdapat angka dan tanggal kelahiran pemilik buku. Selama beberapa menit ia mematung, tidak lama melihat ke lemari dekat jendela.


"Kasih aja, 'kah?"


Dalam waktu lama matanya terpaku pada peti kayu besar tersebut. Memberikan barang murahan pada orang kaya belum tentu di tolak, setiap orang pasti bisa menilai seberapa bagus benda tanpa melihat harga barang, tapi tidak berlaku untuk semua.


***


Widya mengangkat tangan meraba ke atas kepala memperoleh sesuatu benda, benda pipih melengkung setengah lingkaran untuk mengatur rambut bagian depan. Gadis ini mencopot dan menaruhnya di telapak tangan.


"Bando?"


Daun hijau mengelilingi tiap sisi, beserta kelopak bunga biru dari ujung sisi kanan hingga kiri sangat rapi dan cantik. Dia bingung mengapa tiba-tiba ada benda ini di kepalanya.


"Apa kamu menyukainya?" Suara muncul dari samping. "Itu hadiah dariku, bila nggak suka buang aja, selamat ulang tahun!" Lanjut Fadly melempar senyum kecil.

__ADS_1


"Eh? Kamu inget hari ulang tahunku."


"Yah.. begitulah, aku melihatnya dari buku catatan yang kamu pinjamkan padaku saat itu."


"Ahhh.. makasih.. Fadly.." ungkapan kata itu terpatah-patah dengan nada pelan. Mukanya memerah malu memperoleh hadiah dari laki-laki seumurannya.


Ditambah Fadly mengangkat tangannya sontak ia kaget ketika laki-laki ini meletakkan sesuatu di telapak tangan. Sebuah anting ditaruh olehnya. Anting dengan mutiara bersama daun-daun hijau serta hiasan bunga putih, sangat sesuai dengan bando di kepalanya, sangat serasi.


Setelah pulang dari taman seusai pamitan dengan Alya, keduanya kembali ke kediaman. Widya menggosok mata dengan tangan. Dia menguap kelihatan penat, Fadly datang membawa gelas air dan menyimpannya di atas meja.


"Ah, makasih."


"Sama-sama."


Widya menyender pada sofa bertujuan untuk menghilangkan penat. Tidak ada apapun ia berasa lejar menyerangnya. Uap panas keluar berkepul-kepul, uap itu naik ke atas dan hilang dari penglihatannya, seperti rasa sedih.


Fadly datang dan menyodorkan minuman hangat, menghangatkan badan yang dihujani titik-titik air kala itu. Dia datang ketika keputusasaan menepuk pundaknya. Matanya turun ke bawah hingga mata mereka bertemu, tangannya pun turut ikut mengajurkan tangan ke muka.


Darah yang mengalir keluar mendadak berhenti. Widya menghapusnya meskipun perih, ia menerima uluran tangan. Dia bertumpu pada kedua kaki dengan bantuannya.


Widya masuk ke kamar. Dia menoleh sebentar ke cermin, mendapati dirinya sendiri seperti memilki perubahan pada penampilan. Mukanya merona merah sebagaimana apel, jantungnya mulai berisik seperti biasa.


"Kamu nakal," ujarnya sembari tersenyum kecil dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


***


Seorang remaja laki-laki dengan mata sinis serta memakai kacamata mengetuk pintu. Widya hanya memperhatikan dari jendela, ia merasa tidak nyaman terhadap kedatangan remaja itu. Namun, ketukan pintunya semakin keras.


"Fad! Ini aku, bukalah pintunya."


"Sebentar, akan kubuka!" Teriak Widya dari dalam kamar. "Tunggu, akan kubuka!" Lanjutnya seraya menghilang dari jendela.


Zaky melirik ke jendela waktu mendengar suaranya tempatnya berada. Selang puluhan detik selepasnya pintu terbuka, dari celah pintu Zaky kelihatan menganga cukup lama. Matanya terfokus pada bando dan anting yang dikenakan olehnya.


"Kamu adik Fadly?"

__ADS_1


"Eh?"


"Bukannya dia bilang kalo adik perempuannya baru berumur 8 atau 9 tahun-an. Eh, apa aku salah denger?"


"Aku temennya. Kemudian, kamu siapa ya?"


"Aku Zaky, temannya Fadly. Orangnya ada?"


Widya mengangguk pelan, ia mempersilahkannya masuk dan segera pergi ke dapur memanggil namanya dengan tergesa-gesa. Lelaki itu datang menemuinya di ruangan tengah, tampak kantung matanya seperti akan lepas.


Serupa ikan mati, pemandangan yang dilihat Zaky dari kawannya sangat buruk bagai memandangi wajah pucat zombi. Dia duduk di hadapan remaja berkacamata sembari menguap.


"Apa yang mereka bicarakan sambil bisik-bisik kayak gitu?" Batin Widya mempertanyakan obrolan mereka berdua. "Ya, lagi pula bukan urusanku sih ..." katanya agak pelan seakan terganggu pada sesuatu.


"Kenapa aku cemburu pada Zaky? Toh, cuman temennya... Hump!" Ungkapnya seraya cemberut. Dia melangkah menuju ke belakang, mendadak kedua kakinya terhenti bergerak.


Widya menunduk menatap kedua kakinya sebelum berkata, "kenapa aku bilang kalo aku cemburu? Padahal ..."


Lagi dan lagi. Jantungnya berdetak kencang melebihi saat-saat gugup berpidato di depan kelas, ia menoleh ke belakang. Lelaki itu berjalan ke arahnya dengan secangkir gelas. Segera setelahnya, Widya merasa otaknya membeku ketika kedua netra mereka bertemu.


Fadly memindahkan gelas ke tangan kiri, sebelah tangannya membelai rambut Widya sembari melewatinya tatkala kepeduliannya terhadap gadis menghilang. Bergegas asap keluar dari kepala gadis yang tengah merona merah, mengepul serupa memasak air dalam panci.


"Peka sedikit geblek!" Teriaknya melempar handphone ke kepala lawan bicara. "Jangan membelai rambutku dan tiba-tiba le.." perkataannya tidak selesai.


Panci telah menumpahkan air sebab terlalu lama dipanaskan, kompor pun terbakar. Mendidih sampai keluar. Fadly langsung terkapar seusai mendapat pemukul bisbol dengan bola ponsel.


Widya menghampirinya sambil wajah penuh memerah, ia menidurkan kepala ke atas kedua paha dan mengamatinya dari dekat. Jarak kedua muka hanya satu inci.


"Diamlah jantung, kau sangat berisik!" Kutuk Widya pada organ dalamnya. "J-Jangan biarkan nafsumu menguasai.. lagi pula, kenapa aku malah mengatakan 'nafsu' dengan sendirinya, sih!" Batin gadis ini dalam hati.


Di belakangnya Zaky mematung dalam diam, perekam video pada layar handphonenya menyala dengan kamera mengarah ke keduanya. Tepat di mukanya terdapat ekspresi bahagia nan jahat, seolah-olah berkata, 'mampus kau Fadly!' beriringan dengan seringai tipisnya.


Wajah Widya seakan tengah mengagah mentari pagi, ia mencerling ke muka Fadly penaka orang yang sedang merencanakan sesuatu. Dunia di matanya sekarang semua manusia tergenosida, selain mereka berdua.


"Ahhh.. apa yang harus kulakukan?" Widya mengigit bibir sebelum melanjutkan, "ah.. aku nggak tau lagi apa yang harus kulakukan!"

__ADS_1


__ADS_2