Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 31 | Si Pembantu Fadli


__ADS_3

Bab 31 | Si Pembantu Fadli


Ayah dan ibu Widia mengawasi tindakan berani putri mereka, biarpun orang-tuanya masih ada dan meski anak mereka memasabodohkan keberadaan keduanya. Telah sebulan berselang, adanya ibu bapak tidak membuat Widia merombak tingkahnya.


Dua penglihat menonton, Widia dan Fadli bicara empat mata di dapur seraya menata rak piring bersama obrolan pribadi. Walau Widia minta sebuah keterangan, jejaka rapuh sok kuat ini sukar memperoleh jawaban pasti, apalagi memuaskan.


"Jadi, gimana hubungan kita kali ini?" Angkat Widia bertanya mengawali pembicaraan. Gadis ini tertawa pelan sembari berkata, "pengennya jadi kekasih."


"Bercanda ada batasnya.." Fadli menaikan alis sesudah berkata, "bisakah kita lupakan ini dan jalani kehidupan layaknya biasa?"


"Nggak bisa!" Tolak Widia sedikit meninggikan tutur katanya. "Kamu musti harus kasih aku jawaban yang pasti," tuntut Widia mendesak lawan bicara.


Fadli dari dulu tidak bisa berenang, jikalau didesak tuk menyelami isi hati seseorang dirinya akan kesulitan. Segala sesuatu hal takkan lebih berharga, jika akal sehatnya masih berlaku dan mengindahkan sukma nyawa dirinya sendiri.


Remaja ini menimbang-nimbang tingkat kasih pada Widia sejak lama, bak menakar barang dagangan. Tertarik pada primadona sekolah sungguh lazim dilakukan para remaja laki-laki, meski begitu Fadli sudah suka sejak lama bahkan sejak dini.


"Mencintai sejak dini?" Remaja ini tersenyum hampa sebelum mengeluh, "tampaknya ada yang salah dengan diriku ini sampai bisa tahu hal semacam itu."


"Reaksi kamu betul-betul menarik hati para gadis dan untungnya cuman aku yang tahu," kata Widia menyenyumi cahaya matanya. Gadis ini mengapit pipinya kemudian mendesak, "buruan ih!"


"Mari kita berhentikan kegiatan konyo--" ucapan Fadli dipotong dengan hentakkan kaki. Dia yang sedikit terkesiap kaget bertanya, "ada apaan? aku kaget!"


"Statusmu kekasih mulai dari sekarang," ucap Widia tersenyum jahil. Widia mengangkat dua lengan setinggi kepala dan mengatakan, "kamu bebas lakuin apapun selama menjadikanku kekasihmu."


Si pengecut terkencar-kencar hendak menjawab kalimat Widia, remaja ini mengira bahwa api melembai sekujur tubuhnya. Dalam rekaan imaji otaknya tercampak jauh ke negara tetangga, ia betul-betul tidak menyangka hal semacam ini kan terjadi.

__ADS_1


Fadli semasih belum mengungkapi kembali lintasan hidup sewaktu ini, hingga ketidaktahuan mengenai kekurangannya belum berburai. Luka lama bersemayam dalam tubuh membentuk perawakan, ungkapan lisan Widia menusuk Fadli begitu dalam dilihat dari segi manapun.


Tidak tertara kesenangan beserta cederanya, menyayanginya seorang tidak semudah mencabut rambut. Fadli menimbang sudah lama, suah sekali sangkala menembakkan kesan memori yang laki-laki ini sukar menjumpainya, kini Fadli sukar mesem.


"Huhhh.." Fadli menghirup napas. Dia yang mendekat kepada Widia mengatakan, "biarin aku mengurung diri selama seminggu barulah kita bisa menjalin hubungan. kupastikan itu, sumpahku untukmu nyata."


Fadli membawa keluar kamar Widia, gadis ini menoleh ke belakang mendapati pintu telah terkatup rapat-rapat. Perempuan ini menutuk pintu berkeinginan agar Fadli menjawab, setidaknya menyuarakan ucapan meski hanya satu huruf saja.


Di dalam ruangan Fadli memekik, "cobalah untuk mengerti!" Anak laki-laki ini lagi mengulang, "cobalah mengerti diriku. Widia, berusaha ngertiin aku dahulu!"


"Seminggu terlalu lama ..." lirih Widia memelankan ketukan pintu. "Mau tak mau, lusa kamu harus mulai bersikap mesra, loh!" Pinta Widia dengan durja yang kemerahan merona malu.


Dua-duanya bersandar pada pintu yang sama, netra mereka merenung ke plafon rumah sambil menerbitkan setiap-tiap kenangan melampau waktu. Latar belakang Fadli suram hampa tanpa lampu terang, selagi itu Widia ditonton ayah-ibunya dengan cahaya mentari memasuki ruangan.


Tanpa disadari keduanya menyangga tubuh pada benda yang sama, sepasang kekasih ini berada di dunia berlainan, meski begitu Widia sangat pawana menuntun Fadli menuju keceriaan. Dirinya enggan menyenteri orang lain sebab kepercayaan kurang.


Semasih Fadli kelesa sukar keluar kamar tuk berjarak dengan kasur empuknya, gadis ini mereka-reka sesuatu hal. Widia tersenyum tipis, bangkit dari duduknya, bergegas menautkan mata menghalakan kepada ayahnya dengan maksud tertentu.


***


Orang-orang di tepi adimarga terpinga-pinga menjumpai seorang gadis cantik bersiah bagaikan kilat. Tiada hambatan yang kuasa bertentang kepada dirinya, meski tidak ada tegahan untuk berlari cepat-cepat semacam itu, ayahnya merasa cemas.


"Sudah, jangan khawatirkan putri kita." Wanita ini meletakan senyum tipis dan berkomentar, "mungkin bulan depan kita harus jodohkan mereka saja."


"Lihatlah anak kita Widia!" Tunjuk si ayah sambil mengatakan, "dia lari seperti kesetanan hanya karena cowok itu! Apa bisa saya tenang dalam keadaan ini?"

__ADS_1


Yang sedari tadi mengikuti mereka angkat bicara dan bertanya, "Pak.. Fadli benar rumahnya?"


"Ha? Ah, ya mungkin.. ahahaha.." jawab ayah Widia tertawa hampa.


Widia pulang ke rumahnya, walau awal-awal dirinya senang hati dapat menginjakkan kaki ke kediaman ayahnya. Pada akhirnya, gadis ini sudah gelisah menemukan bila Fadli meneleponnya tadi malam seraya menangis kepanikan.


Sesudah mencapai halaman rumah, Widia menampak bahwa pintu dan jendela tertutup rapat seperti tak berpenghuni atau didiami seseorang. Dia mendorong pintu, penggambaran Widia mengenai tempat ini hanya seekor ular pun bisa masuk karena nyaman atau semacamnya.


Widia menggerakkan kedua kakinya menyamper ke bilik kekasihnya, gadis ini menyorong pintu dan menemukan Fadli tengah ketakutan seperempat hendak mati. Perempuan ini beranjak selangkah menangkap jeritan laki-laki di depannya.


"A-Ada apa! Ada apaan?" Widia spontan berteriak setengah membentak. Begitu beroleh kekasihnya memekau histeris sebab sentadu depan pintu.


Widia membatin, "liat muka ketakutan Fadli cukup lucu." Anak perempuan ini berkata, "Tapi, mengapa kamu ketakutan melihat belalang sembah?"


"Semua orang punya pengalaman buruk dengan mahkluk biadab itu!" Ujarnya meninggikan tutur katanya. Fadli memerintah, "Cepatlah bantu, kalau enggak mau kita putus!"


"Aku tak ada kenangan buruk sama serangga besar ini dan mengapa ancamanmu itu?" Widia mengusap tangan dan membatin berkata, "mengesalkan."


Air muka Widia berganti total, gadis ini menangkap serangga yang mengatupkan kedua kaki depannya seperti orang yang sedang menyembah. Widia membawanya keluar kamar dan beralih ke kamar mandi, ia mencampakkan serangga ke dalam ember.


"Sempurna. Kan kulihat nanti gimana Fadli minta tolong di kamar mandi.. hehehe.." ujar Widia memunculkan senyum usil dan nakal rencananya.


Ramanda dan ibunda datang, anak kecil berumur sekitaran 9 tahunan mengamati foto dan benda-benda pajangan Fadli dengan sambil lalu serta santai. Matanya mirip dengan Fadli, meski cara berjalannya jauh berbeda dengan lelaki itu.


Widia menelan ludah, hal pertama yang terbit dalam otaknya sebuah citra mengerikan nan menakutkan ibarat tinggal di rumah berpuaka. Impian Widia bertambah kembali. Kini, dirinya menyambut kedua orang dengan baik meskipun ada kepura-puraan tinggal di air muka pria jangkung di depannya.

__ADS_1


"Karena ayahku, dia menjaga sikap dan tidak memandangku rendah," batin Widia dalam hati menerima senyuman terpaksa itu.


Sewaktu ayah Widia akan membuka mulut, Fadli datang dari belakang bersama raut muka merampang serupa gereget meremas jantung. Jejaka laki-laki ini mengigit bibir, ia melantas melirik geram pada bunga hatinya.


__ADS_2