Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
30 | Buku Kepunyaan Adi


__ADS_3

Bab 30 | Buku Kepunyaan Adi


Widia keluar dari bilik menjumpai ibunda tercinta menjerang panci berisi air di atas kompor, tampang gadis ini sudah gelisah ingin bersemuka dengan wanita yang melahirkan dirinya. Anak perempuan ini menginjakkan kaki dan menemui ibunya.


Gadis meraih ibu ke dalam dekapan kedua tangan yang melingkar. Segera penerima pemeluk mesem, bibirnya cekah mengenyam perihal rindu telah mengirat dan pelerai demam milik mereka sudah kembali, menurunkan lega seukuran belantara hutan.


"Bisakah kamu lepasin ibu?" Wanita ini menghela napas sebelum berlanjut, "tangan ini sukar untuk memasak bila darahku memelukku begini."


"Sekali lagi ibu ninggalin aku, tau-tau aku udah jadi istrinya Fadli.." kata anak perempuan ini menguatkan rangkulan. Selagi sedang melepaskan rindu Fadli dan ayahnya Arya datang, mereka menemukan bila Widia memeluk ibunya enggan pergi.


"Aku takkan melakukan hubungan yang tidak sehat, kau akan ku lempar ke panti asuhan. Bila sampai itu terjadi ... aku bakal tanggung jawab," ucap Fadli sesudah menarik napas. Wajahnya memerah karena sang sakit semasih belum maherat dari dirinya.


***


Ibu dan ayah melambaikan tangan, membawa siuh tubuh menuju kediaman tanpa disertai keturunan mereka. Kendaraan roda empat lambat laun mengirap dari penglihatan, selagi hujan deras Fadli memandangi antariksa tempatnya para bintang.


"Bintang hari ini masih kelihatan meski langit berawan, lihatlah Widia!" Tunjuk Fadli menghalakan jari ke angkasa sambil mata terfokus ke atas.


"Maafkan aku ..." Widia menelan ludah dan mengulang, "maafin aku karena gak bisa mengalih pandanganku."


Lisan Widia tidak diindahkan oleh cahaya mata, anak itu melekatkan mata ke ruang luas di atas tanah tempat berpijak. Senyampang Fadli mengangkat wajah ke awang-awang, gadis ini memindai durja kagum si belahan jiwanya.


Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, begitu pula tidak terkecuali mereka berdua punya kemelitan kuat terhadap satu sama lain dan hal-hal menarik dunia. Bentala sungguh luas, bila cinta tidak mengalahkan ukuran, hal tersebut betul lengkara jika khayalan tidak masuk.


"Cintaku padamu tidak sebesar alam semesta, meski begitu ..." Fadli bersela sebentar belum menarik napas dan berkata, "dalam imaji ini renjana kasihku mengalahkan ukuran segala hal untukmu semata."

__ADS_1


Widia yang berdekatan mengajak, "Ini dah cukup malem, kita langsung tidur aja yuk."


"Sebentar lagi aku bakalan nyusul, kamu tidur duluan aja. Tidak apa-apa kok, aku masih kepingin banget ngeliatin para kartika di dirgantara malam."


"Aku tau nama lain bintang, jangan membuatku cemburu pada kata-kata yang jarang digunakan dan jangan contoh ibuku ..." Widia menarik napas dan mengatakan, "bisakah kamu berhenti merayuku?"


"Ketahuan ya?" Tanya Fadli menaruh telapak tangan di atas kepala. Dia yang menurunkan pandangan menyuarakan, "faktanya segala ucapan kataku itu nyata tanpa secuil dusta tersirat dalam lisanku."


Dia lekas masuk mengeret Fadli masuk rumah, pintu mengatup selepas Widia mengunci, ia menoleh ke cermin dan menjumpai Fadli masih terpikat bintang. Sewaktu mengamatinya, Widia menerbitkan ingatan semirip Adi memandang kagum bintang kala itu.


Fadli hirau kehadirannya dan melihat wajah kuntum bunga melati merah muda itu. Sangkala pernah menampakkan wajah itu di masa lampau, hingga sekarang laki-laki ini masih menempelkan memori semasa namanya Adi, bukan Fadli.


"Kalau di ingat-ingat lagi, itu lucu.." batinnya Fadli mengecap balik perasaan nostalgia. Anak laki-laki ini kembali menghadap Widia dan berkata, "mulai sekarang kamu musti bayar sendiri jika ingin tinggal."


"Iya aku mengetahui hal semacam itu kok tenang saja, jangan khawatir!" Kata Widia melontarinya senyum manis. Senyumnya sekala tersipu sudah merekah dalam lekukan pipi imut yang membujuk hati Fadli tuk menaruh kasih.


"Kenapa kamu rapihkan kamarku?" Tiba-tiba Fadli melewati pintu berkata. "Bereskan kasurmu sendiri saja," ucapnya seraya mendekat.


"Ini untukmu, apalagi kalau bukan? Jangan buatku mengatakan hal semacam itu dong!" Cakap gadis ini membulatkan tinju dengan pipi memerah.


"Baiklah, jangan cemberut begitu. Nanti cantiknya hilang dari peradaban manusia, loh."


"Fadli, cara bicaramu harus di ubah!" Perintah Widia memperlihatkan muka kesal. Gadis ini mengayunkan kaki menuju keluar kamar.


"Satu hal lagi.." Fadli menghentikan langkahnya dan mengatakan, "ambilkan kemeja di lemari dong."

__ADS_1


Widia membuka lemari mengambil kemeja dan menyodorkan pada peminta, selepasnya Widia hendak menutup pintu menemukan sesuatu. Dia memungut buku, usang seperti sudah bertahun-tahun. Melihat sampulnya Widia ingat suatu.


Seketika itu juga, Widia termengah-mengah kuasa mencium kabar dari angan-angan. Dia bertumpu pada kedua kakinya, kabur dari bilik Fadli dan masuk ke kamarnya bergegas meletakkan tubuh di atas kasur dengan wajah memuram.


"Ini bukuku ... nggak salah lagi," lirih Widia melihat sampul yang tercoret namanya. Anak perempuan menyentuh dada dan berkata, "besok harus aku tanya Fadli darimana dapet buku ini. Harus kutanya, musti!"


Widia berguling-guling di atas kasur tampak hilang akal, dirinya menyenyumi impian yang timbul dari isi kepalanya dan salah bertingkah. Dia mengigit-gigit bantal, taringnya merobek seprai sampai sobekan kain yang dicabikan meruak ke penjuru kamar.


Ceruk hatinya sudah selesa karena lega bertandang buat Widia girang hati, senyum lebar singgah ke muka manis rupawannya. Semalam suntuk Widia kegirangan mengiratkan kantuk, gadis ini berguling-guling di kasurnya tiada lejar.


"W-Widia?" panggil Fadli dengan gugup menemukan anak perempuan ini tidur di lantai. "Mengapa dia tersenyum seperti orang gila?" Batinnya menonton tontonan yang garib didapatkan Fadli.


Cahaya mentari menemui durja Widia, anak perempuan ini terjaga secara bertahap semasih belum menemukan Fadli di belakangnya. Dia bangun tidur, meninjau silau matahari dan senyum kecil turut hadir menggambarkan keceriaannya.


"Selamat pagi, putri wi ..." ujaran kata Fadli berhenti semasih belum usai. "Mengapa kamu mendekatiku gitu?" Tanya laki-laki ini sambil berkeringat.


"Aku Widia rindu kamu," ungkapnya melingkarkan tangan mendekap erat dirinya. Serupa raja kekuasaan memihak Widia, gadis ini menguasai Fadli dengan dekapan si pautan hati.


Fadli seperti terhipnosis oleh Widia, perkara ini telah terjadi puluhan kali jika dirinya menjelajah ke dalam memori album kenangan Dya. Kali ini, yang versi besar merangkulnya membuahkan kecintaan afeksi yang kuat murni berawal saat perasaannya terpikat.


"Kau tumbuh terlalu banyak perubahan! Mengapa tiba-tiba jadi Dya yang dulu? Jangan mendadak begini ..." batinnya dalam hati. Fadli yang rengsa merangkam pundak dan mengatakan, "kumohon!"


"Jangan memeluk diri sendiri gitu, maksain banget sih!" Ujar Widia menguatkan pelukan. Dia melepaskan rangkulan sembari bercakap, "Kamu cuma memegang pundak aja, loh."


Gentar menjumpai Fadli yang berkata, "D-Diam kau, hanya begini sanda bisa baikan dan tenang menghadap dirimu." Anak laki-laki ini melepaskan pegangan dan membatin, "mengapa aku grogi gini?"

__ADS_1


Widia menampak ke celah pintu, ayah-ibunya tengah mengelih keduanya. Mereka bersikap biasa kembali seusai ayahnya masuk, pria ini diseret paksa istrinya keluar dan tidak kembali lagi dengan cepat, kekasih manapun juga bila ada orang lain kan sungkan.


__ADS_2