
Pemakan Kesedihan, bab 10
Adi melipat-lipat kertas membuat pesawat terbang dan menerbangkannya. Kertas melayang di udara dengan bantuan angin. Ibunya tengah mengobrol, bersama Dia mereka bermain menghabiskan barang lembaran yang terbuat dari rumput dan kayu.
Mereka berada di tempat tinggi. Tentu, anak kecil akan bermain di mana bagi mereka itu menyenangkan. Akan tetapi tak pantas untuk seorang ibu mengalihkan pandangan memasuki dunia pribadi, sebab mereka masih tumbuh.
"Ugh!"
Adi berguling. Berputar menuruni tempat tinggi, Dia kelihatan panik dan berusaha berteriak pada ibu Adi yang tengah asyik bercakap-cakap, yang tak kunjung menoleh. Dia berniat turun ke bawah.
"Diam!" Teriak Adi dari bawah. "Diamlah di sana jangan gerak!" Lanjutnya tambah keras.
"T-Tapi..."
"Aku nggak apa-apa..!" senyum kecut tampak dipaksakan. Tubuh Adi ditahan batu besar. Ia berusaha bertumpu pada kedua kaki, tiada berguna akibat darah bercucuran dan air mata turun. Anak ini menahan sakit ketika mengusahakan untuk naik.
Anak ini mengingat kata-kata ayahnya, bahwa seorang lelaki tidak diperkenankan menangis dalam keadaan apapun. Mengingat-ingat itu rasa nyeri makin kuat. Merasuk ke dalam otak, ia merasa penting ketika melihat ke langit dan merasakan semilir angin lewat kulit, sangat-sangat dingin.
Angin kencang turut hadir, awan hitam terkumpul di ruang luas terbentang di atas bumi dan hujan deras akan benar-benar turun. Adi memburu napas ketika merasai nyeri pada kedua kaki serta anggota tubuh lain. Adi melihat seseorang, ia tidak habis akal dan melempar batu kecil ke arahnya.
Orang itu sadar menoleh serentak berkata, "Astaga ada anak kecil!"
Pria dengan topi serta berpakaian layaknya petani mendatanginya. Adi bicara dengannya sebentar, pria ini menolong dan menuntunnya hingga ke atas.
"Kenapa kamu main di lereng gunung? Bahaya, lain kali jangan diulangi lagi.." pria ini memberikan botol minum pada Adi. "Minumlah dan tenangkan diri dulu. Terus, dimana ibu atau ayah kamu?" Tanyanya.
Dia menyeka air mata menjawab, "Ibu Adi pergi gitu aja, aku mau kejar tapi keburu ada bapak ke sini." Dia bicara sambil terisak-isak menahan tangis, "Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Bentar.. apa ibumu tahu kalau kalian sedang main disini? Kalau iya itu aneh," ucapnya sembari memasang muka heran.
__ADS_1
Pria yang bersamanya berkeinginan untuk mengantarkan mereka pulang. Hanya saja, Adi langsung segera menolak dan pria jangkung tersebut pergi setelah membungkus luka di kakinya menggunakan perban.
"Kenapa petani punya perban?" Tanya Adi dalam hatinya. Sementara Dia meraih tangannya dan memeluknya erat.
"Adi.. hueee!" Dia menangis secara tiba-tiba membuat Adi terkesiap kaget. "Lain kali.. jangan gitu.. aku beneran takut kamu kenapa-kenapa..!" Ujar Dia mengeluarkan suara tangis tertahan-tahan.
Adi dan Dia kembali ke tenda. Mereka disambut bisingnya suasana perkemahan. Semua sibuk membereskan barang-barang, diakibatkan kemungkinan cuaca buruk, mereka bertujuan untuk pulang. Sehingga Dia menghela napas lega.
Adi tak ingin pulang. Anak ini merasa tidak punya payung untuk berlindung dari badai kecaman setiap hari, akan tetapi ia terpaksa menggenggam payung robek di tengah-tengah derasnya hujan. Diguyur perintah-perintah gila dan tergelincir ketika berlari, dari dulu hingga sekarang.
"Kamu harus pulang dan istirahat secukupnya!" Suruh Widya agak memaksa. "Cepatlah bereskan barang bawaan kamu!" Desaknya menambah.
Belum berpamitan atau melambaikan tangan Fadly ditarik oleh Widya keluar dari apartemen. Diluar gedung, mereka berjalan ke kediaman dan selama perjalanan Widya menatap kedua kaki laki-laki di sampingnya. Ada darah keluar dari perban.
"Ihh.. si Alya nggak bener!"
"Ada apa? Kenapa kamu liatin kakiku begitu."
Fadly mengiyakan permintaannya. Dia duduk di kursi tertunduk memperoleh Widya membenarkan perban yang hampir lepas. Tanggapan Fadly hanya tersenyum kecil. Ia mengangkat tangan, mengelus kepala bertahap sampai kening.
"A-Apa yang kamu lakuin?"
"Hanya mengelus aja, nggak boleh, kah?"
"Ehh.. ini terlalu.." lirih Widya sambil tertunduk. Sebelum lawan bicara menjawab, di melihat ke atas dan tak lama hujan turun.
Fadly berdiri dan membawanya masuk ke salah satu kafe, mereka berdua berteduh di dalam sekalian memesan minuman hangat. Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Laki-laki ini memegang kepala, layaknya orang bingung ia memasukan sumpit ke dalam gelasnya.
Saat mi datang, Fadly bukan memakannya malah hampir memasukannya ke dalam gelas berisi kopi. Menyaksikan tingkah anehnya Widya bertanya. Namun, sama sekali tiada jawaban terlontar keluar, seperti tengah membekam perasaan.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kayak ada yang aneh aja, gitu."
"Ahaha.." Fadly tersenyum kecut. "Aku seenaknya tadi sentuh kepala kamu, maaf.. hari ini fokusku hanya tertuju pada ceritaku saja."
"Cerita ya, kamu belum pernah menceritakan tentang cerita kamu. Apa yang kamu tulis?" Gadis berparas cantik ini mengembangkan bibir. "Ceritakan sedikit tentang apa yang kamu tulis," suruh Widya seolah agak memaksa.
"Cerita mengenai anak laki-laki yang memakan kesedihan seorang perempuan."
"Hee.. tampaknya menarik," ujar Widya menyangga kepala menggunakan kedua tangan. "Lalu, bagaimana kelanjutannya? Itu hanya permulaan."
Fadly menyeruput kopi dan mengalihkan pembicaraan, ia seperti berusaha tidak melihat ke muka gadis di depan. Kafe begitu sunyi. Hanya ada pegawai, orang-orang telah meninggalkan tempat ini dan ketenangan sungguh-sungguh menghadiri suasana sore hari.
Lampu bercahaya begitu terang, bentuknya persegi dan kadangkala berubah warna. Perkembangan kafe di sini tak seperti dulu. Fadly ingat sebelum tempat ini tidak ramai, hanya lampu seharga 10.000 dan pegawainya sedikit. Namun, waktu berlalu begitu cepat, sekalinya berkedip ia telah kehilangan banyak tontonan.
Fadly menatap bayangan. Satu pukulan mengenai pipi, meninggalkan bekas warna biru dan darah mengucur keluar dari mulut. Besoknya, ia menggeleng ketika guru mengajukan pertanyaan kepadanya, lalu lusanya ia menyesal tak mengadu.
Tempatnya satu-satunya tuk mengadu telah lenyap ditelan ketiadaan. Orang-tua melirik ke rumah lain, anak itu dengan bangga membusungkan dada. Mengangkat piala emas setinggi-tingginya.
Fadly menatap buku cerita di lantai dan membayangkan bagaimana digendong ayahnya, ketika memenangkan lomba. Sayangnya, itu hanya khayalan faktitius, rekaan yang dibuat-buat oleh otaknya.
Anak-anak lain memilki cita-cita yang lebih baik di mata orang-tuanya. Ayah menginjak buku tempatnya menulis cerita. Tulisan jelek khas ceker ayam. Meski demikian, Adi menulis dengan kemampuan dan usahanya sendiri. Melihat kerja kerasnya dihina anak ini tetap diam, melompong hampa memandang kedua kaki ayah.
"Fadly? Kenapa kamu melamun!" Tamparan pelan membangunkannya dari dunia khayal. Dia mengangkat wajah, mendapati Widya begitu dekat berjarak kurang dari tujuh inci saja.
"Aku tidak apa-apa."
Ucapan itu berbarengan saat laki-laki ini beranjak berdiri, ia membersihkan meja bekas makan dan membayar. Termenung merenungi kenangan bodoh. Mengalami rasa sedih dalam hati, batinnya menyesali perbuatan, tapi ia takut akan menginjakan kaki di rumah orang-tuanya.
Ayah lain memasuki dunia anak mereka. Sementara ayahnya, menggusur hewan ternak hasil hubungannya dengan seorang wanita menggunakan rantai dan mencampuri urusan dalam dunianya. Mengekang kebebasan selepas menyeringai lebar, saat itu juga Adi membelalak.
__ADS_1
"Ayah hanya tersenyum ketika aku dihajar habis-habisan oleh para pembully, hanya karena salah memilih kebenaran yang salah.." batin Fadly sambil melirik ke perempuan di sisinya.
Widya mesem, senyum itu begitu hangat dan serasa nyaman melahirkan satu niatan Fadly tuk menaruh hati kepadanya, satu-satunya gadis menawan, menurutnya di kota ini. Dalam rintiknya gerimis hujan, mereka bergandengan mesra bergerak menuju kediaman.