Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 28 | Sarwa Kondisi yang Sebanding


__ADS_3

Bab 28 | Sarwa Kondisi yang Sebanding


Ayah memutuskan menitipkan anaknya pada teman masa kecilnya, pria it menjemput istrinya di Bandara. Sebelumnya, ia menyaksikan bila putrinya sudah mandiri ditinggal beberapa bulan dan sekolahnya tetap lancar tiada hambatan bak hari-hari biasa.


"Pasti minta cucu melihat kemesraan mereka," tebak laki-laki ini membatin. Dia berucap, "aku takkan memberikan putriku sebelum yakin perasaannya itu akan bertahan lama atau tidak."


"Pak, kenapa anda biarkan nona bersama seorang laki-laki? Serumah dengan laki-laki yang bukan siapa-siapa, rasanya itu ..." Ujar supirnya mengomentari.


"Saya tahu. Mereka udah berpisah cukup lama, hanya ..." Pak Arya menghela napas semasih belum melanjutkan berkata, "siapapun akan tahu bila melihat pelukan kemarin hari serta pertengkarannya."


Widia mengalihkan penglihatan pada jalanan mobil hitam kepunyaan ayah bergerak, anak perempuan ini balik ke kediaman menjumpai Fadli tengah tertatih-tatih menuju ke pintu. Gadis ini tidak mengatakan apa-apa selain menggandeng tangannya.


Seusai perkara tempo hari Widia dan Fadli adakalanya membisu, keduanya sulit berkomunikasi secara langsung. Fadli didudukkan bawah lindungan pohon, daun-daun berjatuhan di kepalanya dan Widia memunguti benda-benda di kepalanya.


"Bicara aja kalo kamu lagi sedih.." Adi melepas senyum manis mengatakan, "kayak kamu tau aku tuh rakus ... jadi, kesedihanmu bakal ku makan kok."


"Kamu bicara hal bodoh lagi, aku lagi nggak sedih, tau!" Dya cemberut. Sekarang Dya menurunkan pandangan dan berujar, "kayaknya aku memang lagi sedih karena kamu gak punya waktu buatku."


"Alasan waktu ada bukan agar aku bisa menghabiskannya sia-sia bersamamu, bocah kayak aku butuh makan dan tidur. Lagi pula, cari temen lain dan bukannya aku kepingin kamu nggak main sama aku lagi. Jika saja ... aku nanti mati gimana? Kamu pasti takkan terus-terusan bicara depan gundukan tanah yang menimbun mayatku."


Adi yang nyerocos bahkan Dya tidak sempat menyela ucapannya, jangankan menjawab balik, anak perempuan ini terdiam membisu. Dia sekarang menggoyangkan tangan yang saling memaut, melekat seolah-olah kepergiannya itu kelancungan.


Pada hakikatnya Dya menyabet juara pertama lomba menerima pukulan realitas, Adi menyakal anak perempuan rapuh dengan kalimatnya. Saat ini, segenap perasaan Dya teradukan sindiran dihiasi ketakutan hendaknya kehilangan cahaya matanya.


"Meskipun begitu ..." Adi menghentikan ucapannya sebelum berlanjut, "siapapun yang berani melukai kamu, akan ku acungkan bilah pisauku padanya!"

__ADS_1


"Lantas, apa yang harus kulakukan agar dapat teman selain kamu? Aku nggak tau apa-apa!" Dya mengayunkan lengan Adi semakin kuat. Sewaktu anak ini bingung ia akan memainkan jari atau tangan, Adi pun langsung tahu melihat tindakannya.


Dya menaikkan mata dan berkata, "ada adikku.. tapi, katanya ia bakalan sekolah di luar negeri nan jauh kata ayahku."


"Kamu jelas-jelas hanya beralasan saja, itu bukan keinginan kamu sebenarnya. Sangat memutarbalikkan sekali," Adi tersenyum menipis menanggapi balasan lontaran mulut Dya.


Mereka menghampiri anak-anak lain, mata ketakutan Dya muncul selepas yang lain menatapnya keheranan. Tingkah lakunya parah, kendati Adi menemani, hatinya terlalu jeri menghadap orang lain dan sebab akibatnya tidak jelas karena apa.


Bantuan genggaman tangan Adi melahirkan secuil ketenangan, saat cahaya matanya pulih Dya menaikkan mata dan bertemu anak-anak seumuran dengannya. Reaksi mereka bermacam-macam, mulai dari sebal hingga gemar akan kedatangannya.


Satu jam berselang, keduanya saling bersandar bawah pohon salah daun-daun kering jatuh dan meletakkan diri di atas kepala Adi. Dya yang memperoleh daun memindahkan seluruhnya ke tanah, sambil menatap wajah tidurnya.


"Baru kali ini aku liatin wajah cowok tidur pengin ku tonton mulu deh," ungkap Widia membatin menjumpai pemandangan indah dikara.


Sesudah membersihkan kepala, Widia menyender dan mendekap kuat enggan memudahkannya untuk lepas. Anak laki-laki ini terlelap pulas, walau demam dan pusing Widia tahu jika dirinya sangat mengenal Fadli, entah mengapa ia merasa demikian.


Setelah hasil kecupan, ia melekatkan sisi kiri kepala ke pundak Fadli dan menutup mata. Dia merasai sejuk semilir angin menyibakkan rambut mereka. Hari kamis yang biasa, walau Widia absen hari ini melelah posisi sekarang dan reuni keluarga, sarwa kondisi pada masa ini setakar baginya.


Widia merasai lejar menimbuk dirinya semasa kecapaian melelapkan dirinya, kantuk telah mendatangi dan kuapnya bertambah hebat karena mengangut. Walau hiruk-pikuk kendaraan tertangkap pendengaran, mereka tetap berdengkur.


Serbaneka bunyi bising mengelilingi, keduanya tidak terbangun seolah-olah kebisingan menyisih dari Fadli dan Widya. Bertahap kelopak Fadli menyingkap perlahan-lahan, cahaya mentari menemui matanya sampai terjaga.


"Widia?" Laki-laki ini menjumpai mukanya berjarak dekat dengannya. "Apa yang dilakukannya? Pundak ini rasanya pegal," keluh Fadli memerah jengah.


Fadli menjamah pipinya mencoba menjagakan gadis yang tertidur. Dari keseluruhan Fadli merasa gemas menampak pipinya, sembari mengingat Alya, Fadli berupaya membangunkannya. Sebab enggan menyentakkan, laki-laki ini terus menyentuh pipinya.

__ADS_1


Lama-kelamaan gadis ini lambat menyirapkan pelupuk matanya, netranya memperoleh raut muka Fadli yang kelelahan dan keringat bercucuran dari pipinya. Dia tertentang masih sakit, belum pulih dari masa-masa gering.


"Kenapa aku pindah posisi ke pahanya?" Tanya Widia ke dirinya sendiri. Widia tersenyum sembari berlanjut membatin, "ya meskipun begitu ... aku kan pura-pura gak tau aja dan menikmati momen ini semasih bisa."


"Bisa-bisanya kamu bercumbu rayu saat ada ibu-ayahmu," ujar seorang wanita mengawasi mereka berdua. "Bagaimana kabarmu, Widia?" Tanya ibunya menambah ujaran kalimatnya.


Karena terkejut, mata Widia membeliak menjumpai ibunda tercinta yang dirindukan olehnya selama ini sedang berdiri di sampingnya. Wanita ini jongkok memperdekat jarak antara wajah mereka, terkecuali Fadli yang membuang muka.


Peparu Widia terasa berat, pelupuk netranya menjatuhkan rintik-rintik air mata sewaktu bersua dengan ibundanya. Ibu mendekap ananda putrinya untuk mengeloskan gelebah rindu. Kedua lelaki saling melihat, pria kacamata meregangkan tangan, tapi Fadli menolak memakai gelengan kepala.


"Kenapa kalian lama sekali? Aku merasa bila ayah-ibu membuangku!" Kata Widia melontarinya dengan pertanyaan. Seusainya soalan kian bertambah, ibunda hanya bisu menyimak ujaran kata putrinya.


Ayahanda menghela napas panjang semasih belum bercakap, "Padahal kamu tidak sedramatis ini saat bertemu ayah, rasanya seperti diskriminatif."


"Ya iyalah bodoh. Anak lebih ingin dipeluk ibu daripada ayah, datanglah pas waktunya tepat."


"Apa kamu marah karena saya menganggu keromantisan kalian? Terlebih lagi, mengapa masih ikut campur dan angkat bicara ... membingungkan."


"Diamlah Adi, biarkan anak ini tertidur pulas dan mungkin lebih baik sira juga pulihkan diri," pinta ibu Widia sambil tersenyum lembut.


"Sira? Kenapa ibu menggunakan kata klasik," tanya Fadli menaruh perhatian minat pada ibunya. Dia sekarang menelan ludah dan berucap, "seumpama ibu larat serta kuasa mempelajari, kan sanda memenungkan mengawini Widia."


"Keren! Pakanira niscaya mustahak beroleh buah hati kawula," jawab ibunya mengangkat jempol tangan.


"Mencampurkan berbagai kata dalam ucapan itu merepotkan, kenapa kamu membuat Adi jadi sepertimu? Ketularan dia sekarang!" Keluh ayahnya memegangi kening menikmati pening.

__ADS_1


Batin Fadli cukup terkesiap kaget, orang-tua Widia masih mengenali dirinya biarpun tahun-tahun suah terlewati lamanya. Dalam benaknya renjana rindu yang kuat masih hidup, meski telah bersama Widia, kehadirannya tidak terasa persis temannya Dya.


__ADS_2