Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 08 | Tiap-tiap Rasa Sakit berbeda | edt


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 08


Satu gadis dan satu remaja laki-laki sedang sarapan di pagi hari. Hujan turun deras, cuaca tengah tidak mau bersahabat dan suara gemuruh petir terus meningkat seiring berjalannya waktu. Mereka saling berhadapan di meja makan.


"Apa kamu mau memakan makanan semacam ini? Bagiku ini agak ..." perkataannya terhenti.


Fadly melahap sarapan paginya dengan air muka biasa, layaknya manusia yang tengah makan memasukan tiap-tiap suapan tanpa mengeluh. Sementara gadis di depannya sukar menyentuh makanannya, ia tampak serupa orang mual.


Orang-orang memilki kegemaran yang berlainan, didukung oleh tempatnya tumbuh, ia merasa nyaman akan sesuatu di lingkungan dan merasai kejanggalan pada objek asing. Sama halnya sebagaimana remaja yang mempunyai pegangan hidup sendiri.


"Kenapa harus ..." Widya menelan ludah sebelum melanjutkan. "Kenapa harus rebung, sih?" Ulangnya seraya memalingkan mata.


"Kenapa kamu kelihatan jijik? Yah, aku menyukainya lagi pula masih banyak makanan lain. Pergilah ke warung aku lupa kamu nona anak orang kaya."


"J-Jangan mengejek!" Bentaknya cukup tinggi untuk membuat Fadly melihat ke arahnya.


Pandangan gadis ini fokus pada buku di atas meja di ruang tengah. Buku harian milik laki-laki di depannya belum diambil. Fadly menyibukkan diri dengan lingkungan sekitar dan pekerjaan, yang ia lakukan hanya berjalan-jalan lalu menulis cerita.


Widya menelan ludah. Wajahnya ikut memperlihatkan ketakutan hingga peluh bercucuran, hendak bertanya namun mulutnya enggan terbuka. Keinginannya mengetahui kuat, tapi keberaniannya rendah, takut pada hal yang belum datang.


"Hei Fadly.." serunya mengetuk meja.


"Apa?" Sahutnya sambil menatap. "Kenapa kamu keringetan gitu.."


"K-Keringat!" Widya menyentuh kening serta pipi penuh akan air yang keluar dari lubang pada kulit pori. Dia tersenyum kecut diiringi mata terpejam.


"Ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Fadly memberi tatapan bingung. "Tanyakan saja, aku takkan mengigit.." ucapnya selepas menghela napas.


"Kalau begitu aku pengin tanya soal kenapa kamu tidak sama orang-tua kamu? Mereka belum meninggal kata teman sekelas saat kamu masih sekolah."


Tiba-tiba saja, mendadak mata Fadly terbuka lebar bersama pupil matanya mengecil. Disusul kepalan tangan menunjukan amarah. Dia membelokkan pandangan melahirkan ketakutan Widya makin besar, sekarang ia bingung ingin atau tidak ingin mendapatkan lontaran jawaban.

__ADS_1


"..."


Keheningan datang, decak jam yang seharusnya pelan seolah-olah keras. Tatkala mereka bercanda cukup mesra. Bisa dibuat hening saat satu orang melisankan kata yang salah, terlebih Widya paham kenapa dia takut bertanya, bahwa pertanyaannya itu bagai pedang tajam.


"Yah.. bukan cerita unik atau legenda, sebagaimana mungkin ada manusia lain yang mengalami hal yang sama denganku."


"Maksudmu?" Widya beranjak dari tempat. "Ceritakan lebih lanjut tentang kamu!" Pintanya agak mendesak sembari duduk di kursi di sampingnya.


Selang beberapa lama detak jantung sangat berisik hingga Widya ingin mengutuk. Dia betul-betul dekat hanya hitungan inci dengannya, muka itu lebih merah menawan dari sebelum-sebelumnya. Sementara laki-laki disisinya, tanpa sadar memusatkan perhatian mata pada Widya.


"Jaga pandangan, jaga pandangan, jaga pandangan Fad.." ucapnya pelan.


Kedua kaki tidak bisa diam. Tangan mengusap-usap paha, mengerjap-ngerjapkan mata dan gerak tubuh lainnya membuat Fadly sedikit tidak nyaman.


"Kenapa aku malah bertanya? Terus, Fadly kenapa jadi malah liatin aku gitu, sih!" Batin gadis ini dalam hatinya. "Lalu kapan ceritanya?" Lanjutnya.


Fadly menggebrak meja makan. Sontak Widya kaget langsung melakukan ke mukanya, lelaki itu pergi setengah berlari dan mengambil buku hariannya di atas meja depan televisi. Dia kembali ke samping Widya bersama buku sebesar tangan.


***


"Cih!" Ucap perundung seraya pergi. "Lain kali otak tuh pake!" Bentaknya.


Remaja ini masih berayah-ibu, meski tempatnya untuk mengadu diragukan oleh pikiran dan hatinya. Hasil akhir, ia memperoleh ribuan alasan sukar bersentuhan siku dan memilih menambah absen tiap-tiap hari. Itu kian menumpuk. Cukup mengundang diri ke ruangan guru BK.


"Kamu itu ya!" Bentakan itu jadi awalan pembicaraan tenang nan tidak menekan, cuman menindih haknya bicara. Ditambah mata yang memelototinya hanya sekadar mengintimidasi sehingga kepala tertunduk.


Lontaran kata tanpa tahu alasan itu menumbuhkannya jadi pribadi yang baik, bahkan lingkungan sekitarnya cukup baik untuk mengajarkan cara mendekatkan diri pada nafsu.


"Aku pula--" ucapannya belum selesai mendadak pintu terbuka. "Mah! Sakit, jangan menarik Adi begitu!" Teriaknya merasakan tarikan tangan ibunya.


"Kau merokok, bukan? Tetangga bilang ke ibu, jawab!" Bentak ibu cukup keras. "Kenapa diam? Jawab sekarang!" Tambahnya semakin mengeras hingga suara terdengar ke penjuru rumah.

__ADS_1


Tidak diberi sedikit pembelaan apapun. Mereka hanya mendengar dari mulut tetangga ketimbang ucapan darah daging sendiri. Selama meluapkan amarah, suaminya datang dari dapur dan menyilangkan kedua tangan hadapan anaknya.


Hal pertama yang didapatkan dari ayah itu suatu tatapan sinis menakut-nakuti anaknya. Timbul pemikiran mengenai orang-tua, saat bercerita tak pernah dianggap, membuatnya enggan mengadu masalahnya. Bingung hendak melakukan apa dan terlanjur melakukan kesalahan.


"Padahal lihat tuh si Wira, dapat prestasi terus! Lah kamu apa?" Ibu menutup pintu kamar bicara sambil melotot dari celah pintu.


Ibu bertanya terlebih dahulu dan mengurungnya di kamar selama setengah hari. Ayah mendaratkan pukulan keras sedetik setelah satu huruf keluar. Dia benar-benar bingung tentang diri, ketika di kelas dan memperoleh kata-kata guru, ia membelalak.


"Kita tidak pernah memiliki apapun dalam hidup bahkan kelak kalau kalian punya anak, itu hanya titipan saja dan sama halnya dengan pasangan hidup. Kalian bisa kehilangannya dan kita tidak benar-benar mempunyai apapun."


"Anak.." perkataannya terhenti. "Hanya titipan. Aku hanya titipan? Makanya gak dipedulikan," batinnya dalam hati.


Mulut tidak berguna, bila anak tidak diberi kesempatan bicara. Membuat tempatnya untuk tumbuh, berlindung, bercerita, dan mengadu menjadi sangat kokoh sampai lalat bisa merobohkan dengan satu ketukkan.


"Salah.." tangan mencoret tulisan pada kertas. "Apa aku kesalahan?"


Kertas-kertas berjatuhan ke tanah. Sedangkan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri, kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap diri timbul. Dia mengangkat wajah mendapati beberapa anak remaja, ada tempat baru yang menerima siapapun.


Sebuah tempat dimana tidak memerlukan pegangan hidup yang kuat, pelampiasan rasa kecewa terhadap teman dan keluarga bahkan sekolah. Remaja yang memiliki perkembangan emosi labil seringkali masuk ke dalam lingkungan itu.


"Dan begitulah seterusnya.. aku melakukan kejahatan dan diusir! Udah, selesai makanya jangan tanya lagi, atau enggak kamu mau jadi budak pekerja?" Senyum menyertai ucapannya.


"..."


"K-Kenapa kamu diem? Aku bercanda!"


"... Ah, ya nggak. Aku kurang yakin aja gitu."


Muka Widya seperti kurang yakin. Dia seolah-olah tidak percaya, apalagi saat Fadly tersenyum, gadis ini sama sekali tidak melihat letak kejujuran.


"Ya bukan maksudku membanding-bandingkan tetapi.. setiap orang memilki perasaan yang berbeda-beda. Jika seseorang tidak bisa menahan sakit sedangkan orang lain bisa, itu bukan kelemahan malah seperti perbedaan. Soalnya cara berpikir juga beda."

__ADS_1


Widya tersenyum kecil sebelum berkata, "K-Kamu kadang-kadang suka ngomong begitu seperti motivator saja, padahal omonganmu biasa aja."


Fadly tertawa pelan dan meneguk minuman. Menerbitkan ingatan yang telah pudar sejak lama, ia bertanya-tanya apa mungkin orang-tuanya berubah? Pertanyaan itu merasuk hebat ke dalam otaknya ketika melihat Widya, mengingatkannya pada keduanya.


__ADS_2