Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 27 | Berbalik Menemukannya


__ADS_3

Bab 27 | Berbalik Menemukannya


"K-Kamu mulai berani sekarang."


"Kayaknya kamu suka ..." Fadli menjeda ujaran kata memakai senyum sebelum melanjutkan, "jadi apa kamu mau aku cosplay buaya darat?"


Widia memainkan helai rambut dan menarik-narik roknya, dengan wajah memerah, ia hilang akal menangkap ucapan-ucapannya yang bisa membungkukkan keberanian. Kewarasannya pun goyah cuma karena perihal ini.


"Bisa, boleh banget.." lirih Widya sambil memainkan jari tangannya. Widia membelalak sambil tersenyum masam mengatakan, "Eh! Sama sekali aku nggak pengin liat kamu jadi penggemar wanita."


"Widia mulai salah tingkah," batin Fadli. Laki-laki ini sekarang berkata, "bila aku menunangi Widia. Kira-kiranya bakal nerima, 'kan?"


Widia beralih pada lengan baju Fadli, menarik-narik kain penutup tangannya menaikan rasa keinginan Fadli tuk terus berkata semacamnya. Gadis ini ingin terus-menerus mendengar tiap-tiap ujaran kalimatnya, walau pipinya memerah dan memanas, Widia ingin ceroboh sampai batasnya.


Kipas menggerak-gerak seperti melambai, kibasan mulai memperbesar api semenjana dalam perapian agar makin besar. Widia memanas selepas Fadli melepaskan puluhan rayuan, gadis ini melontarkan senyuman pada Fadli, hanya untuk pura-pura kuat.


"Kendati musti menaiki benara, semampai tinggi mencabik serta merobek sawang langit, niscaya kan kudapatkan kamu walau dirgantara terjelabak atau harus menghadapi sang rahu sekalipun!"


"O-Oh begitu? Lalu, apa artinya.. sama sekali aku nggak tau artinya. Hahaha!" Kata Widia bersama tawa yang begitu dipaksakan, bersama turut kata melukiskan rasa malu dan pergaulannya.


Sesudah mengartikan dan mengganti kata-kata yang tidak dikenali Widia, segera bergegas Fadli bermuram durja, menyadari sebetulnya gadis kirana nan menawan melimpahkan air mata. Lelaki ini ketakutan, benaknya langsung mencari-cari kata apa yang pelak dalam kata dilisannya.


Widia merintih lirih pelan menangis tertahan-tahan, satu menit ia dalam kondisi semacam itu menggantikan ekspresi Fadli. Otak lawan bicara gadis ini membeku, perihal kenangan dan rayuan terbentuk pada album ingatannya, meski benaknya tidak kuasa menahan.


"Gini amat satu rumah sama gadis kaya yang jarang bergaul.." batinnya. Fadli yang menggaruk kepala mengatakan, "aku baru lihat perempuan menangis dan merinding saat di rayu."


Rangkaian kata miliknya memang sederhana, khususnya tuk pelontar kata. Semua hal biasa bagi seseorang di pandang berbeda oleh yang lain, berlainan dan tidak sama layaknya sebuah argumen beserta komentar jarang akan sama.

__ADS_1


"O-Oh jidatmu terbang, pede kali loh ya. Kau pikir aku lakuin ini semua buat kamu? Idih najis ih, sialan untukmu bego!" Widia mengayunkan kedua kakinya turun dari ranjang.


Tanpa terkira keseimbangannya buruk akibat buru-buru melangkah, hasilnya ia terjungkal ke belakang dan di tangkap lengan Fadli. Widia sekarang tidak bisa membuat bualan, kini ia hanya bisa diam dan membisu seribu kalimat.


Fadli menghirup udara, berupaya untuk meningkatkan keberanian dan keyakinannya. Dia kini sudah mulai memperkuat pelukan. Meskipun begitu, Widia menghindarkan diri segera datang menjumpai muka cahaya hati belahan jiwanya.


"Aku menyukaimu. Jika saja ..." Fadli menghentikan tutur katanya kemudian berlanjut, "aku menyayangi dirimu! Bagaimana hubungan antara kita berdua?"


"..." Tanggapan serta respon Widia hanya diam bergeming. Memerlukan waktu untuk gadis rupawan ini menyingkapkan bibir yang agak bergetar cepat.


Spontan Widia memekik tinggi sembari mendorong muka Fadli, tampang cantik serta senyum manisnya selalu tersipu sudah merekah dalam lekukan pipi imut yang membujuk hati penglihat. Mendengarkan lisannya itu buat muka Widia merah tersipu.


Momen saat bingung Fadli menangkap bunyi langkah kaki tergesa-gesa, ia turun dari ranjang dan menarik sebuah bingkai di dinding. Dia menarik salah satu dari koleksi bilah besi tajam bertangkai, laki-laki ini berdiri di samping pintu.


"Maling? Siang bolong begini, parah banget!" Batin Fadli dalam hatinya. Dia menarik gagang pintu perlahan-lahan sambil berpesan, "tetaplah bersama denganku agar mati sekalipun kita tetap bersama."


Sontak dobrakan pintu mengguncangnya, refleks Fadli menyembunyikan seorang gadis di punggung, satu pria jangkung memakai pakaian hitam dan kacamata hitam menatapnya. Dia membawa senjata api genggam.


"Nona Widia?" Pria ini berucap. Dia berdecak kesal sebelum mengatakan, "menjauh lah dari nona Widia. Jika tidak, kepala anda akan segera berlubang."


"A-Ayah?" Suara lirih pelan lembut keluar. "A-Apa ayah ada di luar kamar?" Tanya Widia sedikit gagap. Efek pengaruh perkara sebelumnya masih bersemayam.


"Widia! Kamu nggak apa-apa, kenapa kamu tinggal bareng laki-laki sakit jiwa?" Tanya ayahnya panik.


Sambil tersipu-sipu malu Widia merangkulnya dari lawan depan seraya berkata, "Jangan mengejek, remaja ini pacarku dan dia kebetulan mengkoleksi pisau aja, ayah."


"Ayah! Pria besar di depanku ini ayahmu?" Tanyanya Fadli berbalik menemukannya masih memerah. Dia menengok dan meminta, "Apakah saya bisa percaya begitu saja? Kumohon, perlihatkan wajah Anda."

__ADS_1


Dokter keluarga Widia masuk duluan disusul seorang pria memakai jas hitam masuk, mata tajam nan sinis dibalik kacamatanya menghala ke muka Fadli. Dia ingin menghampiri anaknya, namun, darahnya seperti sungkan tuk bertemu mata ayahnya sendiri.


Pria jangkung mundur ke belakang menurunkan kembali senjatanya, selagi Fadli membelakangi anaknya yang tengah memerah dan terkejut. Laki-laki paruh baya ini mengamati Fadli, ia sempat termenung sejenak dan menghela napas setelahnya.


"Mengapa sebelumnya anakku berteriak?" Tanyanya menatap tajam. Lawan bicaranya pun mengelih kembali padanya, seperti merasa ganjil.


"Sebelum itu, kenapa harus mengacungkan senjata api padaku! Terlebih lagi apakah itu diperbolehkan?"


"Bagi pak Arya yang memilki 250 abdi tak heran bila mendapatkan pengamanan," jawab dokter keluarga Widia seraya tersenyum. "Ngomong-ngomong saya yang memberitahu tuan bila anaknya tinggal sama pacarnya," ungkap dokter.


"Lalu, mengapa kamu sembunyi dari ayah?" Ayah melemparkan sebuah pertanyaan. "Ayah mohon keluar dan tampakkan mukamu," pintanya disusul tatapan mata sedih.


Fadli mengeluarkannya dari tempat persembunyian miliknya, anak perempuan ini menunduk dan sukar mendapatkan mata ayahnya. Dia memaut tangan Fadli, ia hanya berani menjumpai netranya dibanding ayahnya sendiri.


Gadis ini menempatkan diri lagi di belakangnya, ayah pasrah dan menggenggam sebelah tangan sambil mengigit bibir. Kekesalan menempuh benaknya, sadar diri jika Widia, anaknya kesal jengkel ditinggalkan tanpa kabar. Apalagi ada kejadian tidak terduga olehnya.


Ayahnya mengayunkan kaki bertujuan pergi memberi waktu pada anaknya. Sebelum sungguh-sungguh pergi melewati pintu Fadly berteriak, "tolong tunggu sebentar!"


Si ayah menoleh ke belakang. Fadli mengguncangkan anaknya tanpa ampun, lelaki berkacamata ini mengenang masa-masa sebelum mereka berpisah. Ingatan lama merasuk berkecamuk dalam kepala, seiring waktu berselang.


"Kamu bisa menemuiku di sini, lagi pula jaraknya tidak jauh-jauh!" Kata Fadli menyipitkan kedua mata menghadapnya.


"A-Ayah bisa kemari menemuiku! Ini bukan rumahmu, aku juga bayar buat tinggal di sini.. bego" Widya mengaso sebelum berlanjut, "aku maunya sama kamu!"


Sekarang Fadli berdecak mengatakan, "Apa yang kamu bicarain? Ayahmu udah pulang loh, kebegoan gadis nafsu bebal."


"Tenang-tenang ...ayah paham situasinya," ucap pak Arya memasuki perdebatan tidak jelas. Dia kini menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut, meskipun kelegaan meruak ke dalam kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2