Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 21 | Luka itu Menyakitiku


__ADS_3

Pemakan Kesedihan, bab 21


Dokter pergi selepas memeriksa kondisi tubuh Fadli yang hanya kelelahan, luka-luka di dadanya akibat dari goresan kaca atau benda tajam. Dia sudah mendapatkan perawatan dan hanya butuh istirahat selama beberapa hari.


Mendapatkan kilas balik mengenai kenangan yang sukar untuk dilepaskan kembali, salah satu dari sekian banyaknya hal-hal daftar kebenciannya. Kali ini, Widya menonton Fadli melawan sakit. Dia begitu tegar, disisi lain rapuh serupa bunga.


"Perjuanganku melawan luka tidak tinggal selamanya. Menyerah hanya akan membuatnya tinggal selamanya, aku ingin dia pergi meski aku tahu akan membutuhkannya, aku sungguh egois padahal suratan takdir sudah tertulis."


Ujaran kalimat Fadli kali ini tertampak meratapi sesuatu perihal hingga Widya melihat kelangkaan, lelaki itu menghapus air matanya. Bekas lukanya tertutup oleh mesem manis, menertawakan diri dan gadis cantik dibelakang pintu menontonnya menikmati nyeri.


Dia mengamati segala tingkah lakunya, melirik ke arahnya sewaktu dadanya berisik. Senyum murni belum dikenal Widya di durja aslinya, menangkap momen itu diinginkannya seperti menjadi cita-cita baru dalam hidupnya semacam memalarkan raih-an memori bersamanya.


Widya masuk dan bertanya, "Kamu gemar menyaksikan indahnya langit malam seperti sekarang?"


"Ya, begitulah." Fadly menoleh ke sumber pertanyaan terlontar dan balik bertanya, "apa kamu gemar menyaksikanku sakit seperti sekarang?"


"Makasih buat bertanya balik. Hanya saja, pikirkan baik-baik sebelum berkata ..." bisiknya dekat daun telinga lawan bicaranya. Merasakan kerusakan besar Fadly mengalihkan pandangan.


Berlawanan dengan yang diharapkan laki-laki yang sedang berbaring, Widya malah semakin berani kepadanya seolah-olah tengah menggodanya. Dia menarik napas panjang sambil melihat Widya duduk disampingnya, senyum itu masih dipertahankan.


"Senyum-senyum sendiri. Ada apa?" Lirikan matanya mengundang tawa kecil. Setiap menitnya Fadli memprotes kegiatannya, mencari-cari alasan menyangkal fakta yang telah diungkapkan ekspresi wajahnya sedari tadi.


"Enggak, kamu lucu aja kalo lagi bingung!" jawabnya bernada ceria nan bahagia.


Sesudah membuang muka, Fadli menatap telapak tangan dengan durasi yang cukup lama. Dia belum mempelajari apapun dari rasa sakitnya kali ini, walau tau akan ada suatu manfaat muncul belakangan. Fadli merasa sekarang, karena Widya, ia tidak bisa menemukan letak hikmah itu tinggal.


Gadis di sisinya sama sekali tidak membebaskan senyum untuk pergi. Dia seperti senang akan sesuatu hal, fokusnya mengarah pada satu orang. Anak perempuan ini sungguh menawan, pikir Fadli saat dia melihatnya dari dekat.


Fadli menarik selimut dan berkata, "Rasa sakit ialah guru terbaik, setelah mengajari dan muridnya paham dia akan segera pergi.."


"Bagaimana jika muridnya belum paham?"

__ADS_1


"..." Fadli diam terlebih dahulu sebelum membuka mulut berujar, "Guru akan memaksa kita dengan realita agar paham, jika dirinya sangat mengenal kita dengan baik meskipun kita sering membencinya ia tetap akan mendorong kita selama ini."


Widya cukup memahami apa yang hendak disampaikan olehnya. Perempuan berambut hitam tersebut bergerak keluar, dari sela pintu ia mengucapkan beberapa kata hangat untuk lawan jenis. Sehingga Fadli membawa perasaan ketika menghiraukan.


"Selamat malam.. Fadli-ku sayang.."


"Kamu balas dendam karena aku rayu kamu, kah?"


Tiada respon dari Widya. Anak itu pergi begitu saja, suasana disekitarnya serasa berbeda seolah-olah lebih hangat dari sebelumnya. Cukup mengalihkan pemikiran Fadli untuk sementara, karena saat ini ingatan sebelumnya terbit di kepalanya.


"Obatku hanyalah kamu, tapi kamu terlalu mahal untukku.." ucapnya dalam hati. Fadli membelai dadanya seraya berkata, "sakit sekali terkena benda-benda tajam seperti itu. Sungguh, Wira itu gila atau bagaimana? Acak sekali tingkahnya."


"Cie.." bunyi suara itu ditangkap telinga Fadli. "Apa kamu serius tidak tahu siapa yang memberi nomor teleponmu pada ayahmu? Pelakunya sama dengan pencopet handphone Zaky, loh.."


"Apa maksudmu, Zan?" Fadly membuka jendela ayun dan menengok keluar. Ada temannya tengah duduk menyender bawah jendela.


"Kayaknya Wira bener-bener dendam ama kamu deh, masalahmu sama dia apaan?" Fauzan mengajukan pertanyaan kepadanya. Layaknya orang bodoh Fadli bersikap tidak tahu apa-apa, melihat gerak-geriknya Fauzan tahu jika temannya sedang berbohong.


Mencari jawaban di atas ranjang tanpa melakukan apapun merupakan wujud kesia-siaan semata. Berkhayal segala akan baik-baik saja, sama seperti mengkonsumsi obat yang hanya dapat meringankan bukan menyembuhkan penyakitnya.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Fauzan menghadap dengan pandangan tajam. Pengharapan jawaban darinya sangat tinggi.


"Aku tidak tahu." Fadli mengigit bibir sebelum melanjutkan, "mencari jawaban dan bertanya-tanya takkan mendapatkan hasil apapun. Aku hanya ingin melihatnya bahagia saja."


"Kamu membicarakan Widya?"


"Kau tau, aku hidup dengan ayah tolol dan ibu yang kurang sehat ...percintaan takkan membutakan mataku jika itu perihal adikku."


"Itulah mengapa, aku memanggilmu 'kak Teddy' pas smp.. kadangkala aku juga mengeluh kenapa tidak aku saja yang jadi adikmu."


Fadli tersenyum kecut. Temannya pergi seusai bercakap-cakap sebentar, dari jendela perhatiannya tertarik lagi pada angkasa. Seumpama tersenyum waktu bersama Widya, senyuman itu lekas meninggalkannya karena mengungkapkan senyum palsu dan bersedih takkan menyelesaikan masalah.

__ADS_1


"Widya ..." panggilnya. "Apa yang harus kulakukan agar bisa lepas dari semua?" Tanyanya dalam batin meresap ke dalam hati.


***


Gadis berambut hijau limau mencabuti bunga-bunga dihalaman depan rumah Fadli, tanpa rasa bersalah ia menanam kembali bunga serupa dari toko tanaman. Widya bahkan tidak paham mengapa dia sukarela membantu kegiatan bodohnya.


"Ya, aku nggak berpikir..." Widya menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Coba saja dulu."


"Baiklah Alya. T-Tapi aku takkan melakukannya lagi jika dia datang dan mengetahuinya!"


Alya mencabut bunga di halaman depan. Widya ikut membantunya meski kelihatan berat hati, keduanya mengganti tanaman Fadli dengan yang baru. Dari kejauhan tampak sama, namun jika diperhatikan dari dekat perbedaannya terlihat jelas.


Mengajaknya untuk piknik ide yang bagus, pikir Widya mendengar ajakan Alya. Memikirkan tempat yang diinginkan Fadli sebuah kesulitan, selain taman bunga ia tak pernah berkeinginan untuk piknik ditempat lain. Widya selalu memikirkannya.


"Apa yang kalian lakukan?" Suara datang dari belakang mereka. Widya menghadap ke belakang dengan ketakutan. "A-Anu ...aku hanya melakukan perintahnya saja!" Ucap Widya membela diri.


"Lupakan itu. Widya, apa kamu mau memijat kepalaku sebentar? Kepalaku sakit."


"O-Oh, ya baiklah dengan senang hati!"


"Aku Fadli?" Alya menunjuk dirinya sendiri.


Tanggapan tak keluar dari mulutnya, laki-laki ini membawa Widya masuk ke dalam dan mereka duduk di sofa. Hal pertama gadis ini sadar bila Fadli mimisan, keluar darah dari hidungnya, membuat Widya pergi ke dapur sebelum duduk di sampingnya.


Tidak lama, ia kembali dengan daun sirih yang sudah diremas-remas dan meminta Fadli menutup lubang hidungnya dengannya. Laki-laki ini enggan dan hendak menggunakan tisu saja, namun sebab Widya memaksa ia berbuat diluar kemampuan sendiri setelah didesakkan olehnya.


"Nanti sebagai ucapan terima-kasih akan aku bantu bereskan barangmu.." ucapnya.


"Ha?" Widya menghentikan gerakan tangan. Dia hanya menganga lebar selama puluhan detik, seperti kaget pada perkataan Fadli barusan.

__ADS_1


__ADS_2