Si Pemakan Kesedihan Milik Widia

Si Pemakan Kesedihan Milik Widia
Bab 37 | Luka Lama Fadli


__ADS_3

Bab 37 | Luka Lama Fadli


Fadli bermuka serius memelototi layar handphone selama beberapa menit, tidak lama mesem tercipta di durja cerianya. Dia bergerak dan terduduk di meja belajar, ia mengambil secarik kertas kemudian mencoret satu kegiatan dari jadwalnya.


"Yes sure!!" Teriak Fadli seraya menggebrak meja memakai telapak tangan.


Kebahagiaan merambak ke sekujur tubuh, kali ini ia kuasa membentengi senyum riang, dengan suka hati Fadli menyambut kedatangannya. Dia menghembuskan napas, keluar dari kamar menjumpai ayahnya tengah makan duduk bersila.


Remaja ini mengayunkan kaki menuju ayah, senyum miliknya masih berdiam pada tampangnya. Walau begitu, kegembiraan itu berlangsung sebentar seusai ayahnya berdecak kesal sambil menatapnya dengan tatapan mata yang menyipit.


"Situ mau jadi apa? Manusia di sini tidak mengerti keadaan keluarga!" Kata ayah secara mendadak.


Fadli yang menaikan alis membalas, "Sini nggak paham apa yang kau katakan."


"Bantu bapakmu, bukan main hp dan malas-malasan di kamar, kedepan situ mau apa? Hah!" Ujar ayah.


Anaknya yang kesal mengigit bibir. Spontan dia berteriak, "perampok bank!"


Remaja laki-laki angkat kaki dari ruang tamu balik ke bilik, kedua tangan terangkat menampilkan jari-jari yang terbungkus plester luka buah kerja kerasnya selama ini. Surprise untuk keluarganya menjadi relai ibarat kayu yang sudah lapuk dan busuk.


"Bagaimana jika situ punya istri? Mau situ ka---" lisan pria ini terhenti sesudah pintu celangak akibat Fadli.


Fadli membuka pintu dan menyela, "Aku takkan menikah. Kedepannya aku kan jadi perampok bank dan memperkosa anak orang lain!"


Sehabisnya pertengkaran hebat tidak terelakkan kembali, keduanya saling memukul walau keunggulan lebih miring pada siapa. Tentunya bukan orang yang kesakitan di kedua tangan, dampak dari belajar dan kesibukan yang tak kalah dari ayahnya.


"Pada akhirnya, aku tak pernah tahu ekspresi ayah jika melihat prestasi anaknya. Yang pasti.. akan diinjak-injak, aku yakin!" Batinnya.


Hari-hari tenang terlalui, Fadli menyeruput secangkir kopi seraya menikmati langit semarak, terang dan cerah mewujudkan senyum kecil turut hadir bersama teriakan Dini. Adiknya itu bermain-main dengan anak-anak di sekitaran rumah dengan riang gembira.

__ADS_1


Menurut kakaknya, adiknya lebih mudah bergaul daripada dirinya. Melihat ini Fadli cukup senang, bila tidak melihat lebih dalam dan menerka-nerka lebih jauh. Karena sukar menyelami kehidupan adiknya, kakaknya memilih akan bertindak kalau perlu.


"Bungaku tidak tumbuh di dalam rumah, diluar halaman juga kadangkala ada ayam atau semacamnya. Jika aku pagar disekelilingnya juga kan ada serangga, meski begitu.. bukan berarti pemilik hanya diam dan menunggu bunganya layu."


Sesudah bergumam seperti itu Widia memeluk dari lawan muka, mereka menonton Dini bersenang-senang. Meski begitu, ketenangan tak sepenuhnya bersemayam di benak Fadli menjumpai ibunya datang sambil membawa piring berisi nasi.


"Eh? Ibu ngapain ..." Widia kehilangan kata sesaat pacarnya disuapi ibunya.


Fadli menghela napas mengatakan, "Apa kamu lupa? Aku sudah membicarakannya tadi malam, loh."


"Maaf, aku tidak bermaksud menghina atau apapun, aku melupakannya!" Ucap gadis ini buru-buru berlisan seakan-akan menyakinkan. Fadli yakin pada ucapannya, kebenaran selalu ada di mukanya.


Fadli menghembuskan udara dari mulutnya, matanya menampak ke dirgantara tetapi sebetulnya pikirannya mengangkasa. Uban terus tumbuh tiap minggunya, beban pikirannya sukar mengirat dan melekat bagai lem kuat.


Ingatan lama merasuk berkecamuk di kepalanya, bisa melihat pemandangan ini melahirkan kesenangan dan sedikit kekesalan. Ayahnya belajar bahwa memaksa anak tuk belajar hanya akan membawa depresi, meski begitu dia tak berubah.


Remaja laki-laki tidak semuanya mempunyai bersifat jantan, baginya yang payah dalam olahraga tetapi postur tubuh besar nan tinggi dari luar tampak memilki jiwa kewiraan tinggi, malah sebaliknya. Ayah terus mendesak menjadi tentara, sedangkan anaknya ingin kerja menjadi karyawan.


"Anak hanya titipan, aku bukan milik ayahku layaknya barang yang berguna tuk menjadi alat penghasil uangnya.." ujar Fadli sesudah mengigit bibir.


Bersedia atau melanjutkan keinginannya merupakan satu dari sekian banyak masalah dilematik Fadli, serupa akan menangis remaja ini menggosok-gosok mata dan suara mengesak tertangkap telinga Widia yang berada di sisinya.


"Dia melakukannya dengan cara yang salah, walaupun menginginkan anaknya sukses. Mungkin aku akan langsung mati setelah di latih atasanku nanti, jika asal mengangguk!" Batinnya.


"De," ibu memanggil sebelum membelai rambutnya mengatakan, "ubanmu kan terus bertambah kalo mikirin hal berat melulu."


"Ah, ya bukan begitu kok mah. Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan, bukan mikirin si bebal berat keluarga penanggung beban kapas," ungkap Fadli menempelkan senyum hampa di durja muramnya.


"Hinaannya benar-benar terasa, entah kenapa aku kayaknya gak bakal kuat kalau ..." Widia menjeda gumam sebelum meninggikan suara, "kita nikah dan kamu marahin aku gitu!"

__ADS_1


Fadli menoleh ke arah wajah pacarnya, selagi ibunya merodokkan suapan nasi ke depan pipi putranya yang tengah diserang kepelikan. Widia yang tersadar merona merah dan kabur, mengayunkan kaki dengan tempo lambat dengan tubuh bergetar.


Berupaya meredakan emosi berlebihan sebelum bersanding balik ke sisi kekasihnya, tanpa terduga Fadli datang menenteramkan si kesayangan yang sedang dilanda kebingungan. Mereka berpelukan selama beberapa menit berlangsung.


"Ada yang pengin aku tanyain ke kamu," ucap Fadli mempererat pelukan. "Kamu mau jawab kan?" Tanya remaja ini penaka tengah mendesak.


"A-Apa?" Widia yang ketakutan mengulang, "a-apa? Katakan ada apa."


"Simpan alat perekam suara di kamarku.." lisannya terhenti sebelum berlanjut, "hal semacam itu untuk melakukan apa? Aku tidak melakukan kejahatan."


"Bukan gitu!" Bantah Widia. "Aku cuman pengen tau segala tentang kamu!" ungkapnya bernada tinggi.


Selagi keduanya bertengkar, orang-tua Widia angkat kaki dari rumah ini. Mereka menjumpai Dini hendak masuk ke dalam, tak lupa Arya memberi uang kepadanya dan berjongkok sesudah membelainya.


Pak Arya berpesan, "katakan pada kakakmu jika kami berdua pulang ke rumah dan katakan juga padanya jika kami menunggu putri kami pulang bersamanya."


"Ini uang suap atau apa? Hanya sekadar menyampaikan pesan jangan memberi sogokan, apalagi pada anak kecil. Aku pernah liat berita televisi anak kecil diberi uang lalu dilece---"


"Sudah!" Potong pak Arya. "Anda memang betul-betul adiknya Fadli, jangan sampai cucuku..."


Mereka mengayunkan kaki menuju halaman, setelah melewati trotoar jalan pasangan suami-istri ini berpulang ke rumah. Membiarkan putri mereka tinggal bersama orang lain begitu berat, meski si ibu sukar meninggalkannya.


Wajah mereka memuram semasa menerbitkan tiap-tiap kenangan kurang terang putri mereka, Adi yang menjadi secercah cahayanya pergi. Setelah itu depresinya tambah berat setelah nenek mereka hendak menjodohkannya dari kecil.


Ibu Widia mengigit bibir dan berbicara, "Widia bisa depresi lagi, kita tidak bisa membawa Fadli saja ke rumah kita? Perilakunya saat depresi tak tertebak."


"Jangan bodoh, jika ibumu melihat ini mungkin saja Widia akan lebih depresi bahkan kalau bukan karena Fadli ..." ayah menghela napas, "dia bisa bunuh diri lebih cepat dari perkiraan dokter."


"Tunggu, apa ibuku bersikeras untuk menjodohkan Widia dengan anak berandalan itu lagi?" Tanyanya.

__ADS_1


Ayah hanya mengangguk tanpa bertutur kata apapun lagi, keduanya berpikiran sama. Suratan takdir bagi mereka cukup baik mempertemukan Fadli dengan Widia, pada sangkala yang tepat. Menimbulkan lega dan kecemasan sedikit mengirat.


__ADS_2