
Tia memeluk Anaya sampai Anaya meras tenang barulah Tia melepas pelukannya
" Gimana udah agak tenang" tanya Tia lalu Anaya menjawab dengan mengangguk
" sekarang Lo dengerin gue.lo tau di dalam hidup itu kita di dasari dengan alasan.alasan disini luas,kita hidup itu ada alasannya ya itu Allah nyiptain kita dengan alasan semata untuk kita hidup beribadah mengumpulkan amal baik agar kita bisa ke surga.begitu pun dengan hidup Lo sekarang gue rasa mereka pasti punya alasan dengan kebohongan mereka." ucap Tia sok bijak
" Coba Lo pikir baik2 terus apa Lo udah dengerin alasan mereka penjelasan mereka?" tanya Tia mengintrogasi
Anaya tak menjawab melainkan hanya menggeleng kan kepalanya tanda kalo dia memang tidak bertanya alasan maupun mendengarkan penjelasan mereka.
Tunggu..
Tiba tiba saja Tia menoyor kepala Anaya " Awww Tia kenapa kepala gue Lo Toyor " kesal Anaya karna kepalanya di Toyor.
" Emang lo pantas di gituin otak lo itu dimana coba masa otak Lo gak di gunain sih, apa buat dengerin penjelasan aja otak Lo gak mampu cerna gitu hah" celoteh Tia dengan kesal heran sama sahabatnya itu di sekolah aja kemarin pas ujian itu otak mampu banget buat ngisi mikir tapi buat cerna penjelasan itu otak gak mau.
" Gue gak butuh penjelasan mereka Tia karna semuanya udah jelas mereka kompak bohongin gue dan kepalsuan mereka " jelas Anaya kekeh dengan penilaiannya
" Susah memang ngomong sama orang yang lagi emosi di kasih saran emang gak bakalan muat " gumam Tia namun masih di dengar Anaya
" Gue denger itu Tia " ketus Anaya
" Terserah Lo aja deh,mending sekarang Lo mandi dinginin tu otak.terus Lo turun ke awah mamah udah nungguin lo di bawah ngajakin makan malam.lo pasti lapar kan " jawab Tia panjang lebar mengalihkan pembahasan
__ADS_1
" Iya gue mandi " anaya beranjak lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah dirasa sudah beres Anaya pun turun menemui kedua orang tau tia yang sudah menunggu di meja makan
" Anaya sini sayang " tegur mamah Tania mamahnya Tia
" Iya Tante,malam om " sapa Anaya menghampiri mereka.
" Ayo kita makan bersama " ajak mamahnya Tia
" Iya Tante,Tante om terimakasih maaf merepotkan.anaya di sini sampai menemukan tempat baru setelah itu Ayana pindah " ucap Anaya meminta ijin tak enak hati karna menumpang untuk sementara waktu sebelum menemukan tempat untuk tinggal
" Anaya,kamu gak perlu sungkan kamu gak perlu ke mana mana Om sama Tante seneng kamu ada di sini Tia jadi ada temen nya kalo kamu di sini kami akan tenang di saat Tia kami tinggal bekerja karna ada kamu " ucap papa nya Tia lebih menyukai Anaya tinggal bersama mereka.papa dan mamah nya Tia sudah tau cerita tentang Anaya dari Tia mereka merasa kasihan dengan nasib Anaya dan menyayangkan sikap mereka pada Anaya
" Terserah kamu saja gimana baiknya om sama tante gak memaksa kamu boleh tinggal di sini sampai kapanpun kami senang kamu disini jangan sungkan ya " jawab mamahnya Tia gak mau memaksa
" Makasih Tante,om.tapi Anaya minta tolong jangan kasih tau mamah Soraya dan yang lainnya kalo Naya ada di sin " pinta Anya pada orang tua Tia karna menurutnya dia hanya ingin menenangkan diri dulu sebelum mengambil keputusan bagai mana kedepannya
...----------------...
Beberapa hari sudah Anaya tinggal di rumah Tia Anya pun memutuskan akan melanjutkan pendidikannya sambil bekerja karna mulai sekarang Anaya ingin belajar mandiri dia tidak mau di bayang bayangin oleh mamah Soraya dan kakak atau pun ponakan gedenya.
Ia akan berusaha sebisa mungkin berdiri sendiri mulai sekarang Anaya harus tau batasannya dia harus lebih sadar diri siapa dia di keluarga itu.
__ADS_1
" Anaya... buruan nanti kita telat " panggil Tia merasa kesal karna dari tadi Anaya gak turun turun padahal hari ini adalah hari pertama mereka masuk kuliah
" Iya sebentar " jawab Anaya dengan terik dari atas
Tak lama kemudian Anaya turun namun dengan langkah gontai
" Lah Naya Lo kenapa lemes amat kayanya " tanya Tia hawatir karena melihat Anaya yang lemas dan wajah pucat
" Gak papa ko bisa cuman lagi datang tamu bulanan udah biasa kaya gini lebih baik kita jalan yu ini kan hari pertama kita masuk kuliah " jawab Anaya dengan memegangi perutnya
" Nay lebih baik Lo izin aja gue gak tega liatnya juga " baru Tia selesai bicara Anaya merasakan sakit lagi di bagian perutnya kram perut datang bulan memang sangat menyiksa Anaya di saat seperti itu biasanya mamah Soraya yang selalu sabar merawat mengobati sakit datang bulanya Anaya.
" Mah sakit.." ringis anaya mengucap memanggil mamah nya
" Naya lebih baik Lo balik kemar gak usah kuliah biar nanti gue izinin " ucap Tia sambil memapah Anaya naik ke kamarnya.
Anaya pun berbaring di ranjang untuk istirahat supaya rasa sakitnya hilang karna biasanya pas hari pertama haid Anaya akan mengurung diri seharian barulah setelah membaik Anaya baru keluar.
Sedang di rumah Soraya ia mendengar ada yang memanggilnya dan sepontan Soraya menyahut
" Iya Sayang tunggu mamah ke atas " sambil berjalan cepat Soraya menaiki tangga menuju kamar Anaya " Sayang sakit ya__" ucapan Soraya menggantung karna setelah di buka Soraya baru menyadari kalo penghuni kamar tidak ada namun Soraya tetap memasuki kamar lalu terduduk di samping tempat tidur anaya.di raih nya bingkai foto Anaya " Anaya kamu pasti sekarang sedang kesakitan karna tamu bulanan mu,mamah sekarang gak bisa ngobatin kamu karna mamah sendiri gak tau sekarang kamu dimana.naya kamu dimana nak " diusapnya foto Anaya yang sedang tersenyum namun melihat senyuman itu justru membuat hati Soraya sakit kembali penyesalan itu datang dan kembali pula Ari mata itu menetes membasahi pipinya serupa hari Soraya terus menanyai orang2 suruhanya dan bertanya pada cucu cucu nya tentang keberadaan Anaya namun jawaban yang Soraya dapat selalu sama setiap harinya Anaya belum di ketemukan.
" Maafkan mamah sayang,pulanglah sayang mamah kangen "ucap Soraya lirih di sela tangisnya
__ADS_1
Sedang Anaya yang sedang terlelap tiba tiba bangun merasa dirinya di panggil begitulah mungkin ikutan batin antara ibu dan anak meski di antara mereka tidak ada ikatan darah namun Soraya mau pun Anaya tak sedikitpun menanggap mereka berbeda Soraya sudah menganggap Anaya seperti anak kandungnya begitu pun Anaya meski di awal merasa kecewa tapi semakin kesini semakin lama jauh dari Soraya Anaya merasa terus merindukannya Anaya menyayangi Soraya seperti ibu kandungnya dan rada itu akan selalu Anaya simpan di hatinya meski kenyataannya