
Setelah memberikan berkas yang harus Asad pelajari Anaya pun keluar dan mulai mengerjakan tugasnya yang sudah sangat menumpuk.sedang fokus dengan pekerjaannya ponsel Anaya berdering
Dreeeee
Dreeeee
Mau tak mau Anaya pun menghentikan sejenak aktivitasnya
' Halo... memm ada apa tumben nelpon ?'
' Kamu gak seneng aku telpon '
' Aku lagi sibuk kak ed,oh iya aku mau bicara hal penting sama kakak tapi nanti setelah pulang kerja oke. sekarang aku tutup lagi sibuk bay '
Anaya memutus telpon sepihak Tampa menunggu apa yang mau Edward katakan padanya.lalu melanjutkan pekerjaannya kembali
Ditempat lain Edward menatap ponselnya tak percaya Anaya lagi lagi selalu bersikap semaunya kalo sedang menelpon dengannya
" Anak itu kebiasaan belum juga selesai bahkan aku belum juga ngomong tujuanku udah main tutup aja awas kamu Naya " geram berikut gemas dengan tingkah onty satunya itu
" Bagai mana apa Naya setuju apa dia mau mengikuti saran kita " tanya Daniel beruntun tak sabar
" Boro boro setuju gue ngomong juga belum tuh anak udah main tutup aja telponnya,tapi katanya dia ngajak ketemuan nanti sore setelah dia pulang kerja " jawab Edward kesal meski lanjut memberi tau akan ada janji dengan Anaya.
" Bukan Anaya putri Chesa kalo gak gitu Ed,onty kita memang kaya gitu.ya udah nanti sore kita jemput aja dia biar cepat tuntas gue pengen tenang dan fokus sama Karir gue " timpal Daniel mengusulkan karna Daniel sudah sangat risih dengan permintaan Oma nya yang meminta nya untuk bekerja di perusahaan peninggalan opa mereka namun bukan Daniel tidak mau tapi Daniel rasa itu bukan bidangnya hatinya tidak mendorongnya untuk terjun ke bidang itu Daniel lebih suka dengan pekerjaannya yang sehati dengannya dia lebih menyukai hobi nya di bidang seni yang sudah menghasilkan uang juga.galeri nya sekarang sudah semakin besar bahkan dia sudah mengikuti banyak pameran dan cukup di kenal banyak orang dengan karyanya Daniel hanya ingin fokus dengan karirnya bahkan daniel berencana ingin membuka musium dan memperluas karyanya.
__ADS_1
Waktu yang di tunggu merekapun tiba Edward dan Daniel benar-benar menjemput Anaya mereka berdua menunggu di kantor Asad. mereka belum tau kalo Anya bekerja di kantor orang yang dulu berjanji pada Anaya akan kembali.
" Nay,kamu pulang sama siapa " tanya Asad basa basi karna bingung memulai obrolan
" Aku pulang sendiri tuan " jawab Anaya
" Emmm bagai mana pulangnya bareng aku aja biar aku antar kamu pulang " lanjut Asad menawarkan Anya pulang bersama
" Terima kasih tuan tapi saya kan bawa motor tadi teman saya mengantarkan motor itu ke sini " tolak Anaya tak bisa karna membawa motor
" Begitu ya,ya sudah lain kali saja " Asad pun berlalu menahan kesal karna tidak berhasil berduaan disaat jam pulang kerja padahal ingin sekali ia berduaan.karna bagi Asad tida waktu tanpa anaya di sampingnya
Melihat bosnya bersikap seperti itu lagi Anaya hanya mengangkat kedua pundaknya acuh.namun tak alih Anaya mengikuti Asad dari belakang menuju lift merak pun masuk bersamaan di dalam lift Asad kembali bertanya pada Anaya
" Nay kamu yakin gak mau pulang bareng aku " kembali Asad berusaha mengajak Anya pulang bersamanya
" Ayolah Nay,gak papa aku gak merasa kamu ngerepotin aku kok mau ya " sekarang Asad meminta dengan sedikit paksaan karna gemas Anaya terus menolaknya
" Asad jangan mulai deh,kambuh lagi pemaksa nya kamu. aku minta maaf aku beneran gak bisa karna aku ada janji jadi lain lain kali aja ya " tolak Anaya sekali lagi karna memang Anaya ada janji sama keponakannya.
" Aku ini calon suami aku loh nay " jawab Asad ketus karna tak terima Anaya mengabaikan ajakannya Asad mengira Anaya tak peka padanya.
Mendengar ucapan Asad yang membawa Sola seratus Anaya menghela nafasnya dengan berat
" Asad aku ngerti apa yang ada dalam pikiranmu aku bukan tidak mau menuruti kemauanku tapi beneran aku memang ada janji ada hal penting yang harus aku bicarakan jadi sekali lagi aku minta maaf kali ini saja " tak lupa menakutkan kedua tangannya di dada
__ADS_1
Melihat orang yang ia kasihi memohon seperti itu Asad menjadi tak tega menyadari keegoisannya Asad pun luluh dan membiarkan Anaya pergi
" Maafkan aku nay, Baiklah kamu boleh pergi tapi kali ini saja aku membiarkan mu lain kali jangan harap "setelah mengatakan itu ada berlalu mendahului Anaya keluar dari lift
Mendengar permintaan maaf Asad di lanjut dengan membiarkannya pergi membuat Anaya seketika mendapat angin segar
" Kenapa aku sesenang ini aku seperti merasa terlepas dari ke posesifan seorang pacar saja " gumam Anaya geli sendiri
Merekapun sampai di halaman parkiran kantor Anaya menuju motornya alangkah terkejutnya disaat Asad memperhatikan Anaya menghampiri motor yang Anaya maksud bukan motor metik semacamnya tapi Anaya membawa motor gede yang dulu biasa Anaya bawa balap.
" Nay,kamu beneran mau bawa motor itu " pertanyaan itu terlontar begitu saja karna kaget ternyata kebiasaan Anaya tidak berubah Anaya masih sama seperti dulu yang sangat menyukai motor gedenya itu.
" Iya,hanya motor ini gak ada lagi ' jawab Anaya sekenanya.
" Maksud ku apa tidak apa kamu memakai motor itu akan sangat berbahaya nay Jagan ya lebih baik kamu aku antar aja ketempat kamu janjian " bujuk Asad hawatir
" Asad apa an sih aku udah biasa bawa motor ini gak usah hawatir gitu udah ah aku buru buru bay " Anaya tidak menangapi malah melanjutkan menghidupkan mesin motornya lalu menjalankannya.
Asad melihat ia tak di tanggapi malah bengong dibuatnya Anaya benar benar keras kepala karna hawatir Asad bukannya pulang malah menyusul Anaya hawatir takut terjadi sesuatu pada pujaan hati.
Namun baru beberapa meter Asad mengikuti Anaya Asad memberhentikan mobilnya karna melihat Anaya di cegat mobil seorang laki laki keluar dari dalam mobil menghampiri Anaya tak lupa mereka juga berpelukan membuat yang melihat ketar ketir dibuatnya
" Apa ini, siapa laki laki itu berani beraninya dia memeluk anaya ku " gumam Asad kesal melihat perlakuan laki laki yang tak ia kenal mendekati Anaya nya
Asad tak menghampiri ia ingin tau apa yang mereka lakukan selanjutnya.ternya Anaya dan mobil itu melaju kembali dan ternyata mereka berhenti di sebuah cafe dekat kantor Asad.
__ADS_1
Asad pun mengikuti mereka masuk cafe itu tentunya Tampa sepengetahuan Anaya Asad pun mengambil duduk di belakang mereka agak mojok agar Asad bisa mendengar apa yang akan mereka bicarakan.