Siapakah Aku,Ibu?

Siapakah Aku,Ibu?
Bab 22


__ADS_3

Mereka diam beberapa saat hening


" Tuan"


" Nay "


Secara bersamaan mereka saling memanggil


" Tuan saja dulu " ucap Anaya mengalah


" Tidak kamu saja dulu nay " jawab Asad


Anaya malah terdiam merasa tidak enak dan Asad mengerti akan kecanggungan Anaya


" Baiklah apa kamu sudah makan nay " tanya Asad


Anaya tidak menjawab malah menggelengkan kepala tanda jawaban kalo dia belum makan dari tadi siang sedang sekarang sudah malam.


" Kenapa " tanya Asad kembali


" Saya belum lapar tuan " jawab Anaya bohong


" Jangan bohong nay,kau pasti dari saing belum makan iya kan " tebak Asad karna memang pasti Anaya belum sempat makan siang karna ada insiden yang ia alami.


" Tuan juga sama bohong karna dari siang kita sama belum makan.jadi sekarang tuan harus makan dulu biar saya suapi mau " Tampa di duga Anaya justru malah membalikkan ucapan Asad padanya dan malah membujuk nya untuk makan.karna tidak mau berdebat Asad pun mau tidak mau mengangguk tanda setuju kalo dia mau makan di suapi Anaya


Anaya pun dengan cepat meraih piring yang tadi di letakan nyonya Naura di atas meja.


" Tuan aaaa " ucap Anaya siap menyuapi Asad


dengan ragu Asad pun membuka mulutnya kenap ragu, karna Asad sedang memikirkan setelah makan dia harus menghadapi obat yang sangat tidak ia sukai


Dengan telaten Anaya menyuapi Asad sedikit demi sedikit


" Nay,kamu makan juga ya.kamu mau makan apa aku pesankan biar Daris yang membeli nanti " tawar Asad pada Anaya agar dia juga ikut makan

__ADS_1


" Tidak tuan nanti saja " tolak Anaya halus


" Nay berhenti memanggilku tuan kalo kita sedang berdua lagi pula ini bukan di kantor ini sudah bukan jam kerja. jadi berhenti memangil ku tuan " kesal Asad karna Anaya terus memangilnya tuan padahal sudah di peringatkan dari awal


" Maaf tuan eh Asad aku lupa " jawab Anaya lalu menduakan wajahnya Karan malu


" Hey.. kenapa kau malu,melihat mu yang seperti ini aku merasa itu bukan dirimu nay dulu kau tak begini " ucap Asad menggoda Anaya


Sontak saja anaya mendongakkan kepalnya menatap Asad yang tersenyum mengejek nya


" Asad berhenti mengejekku itu kan dulu jangan mengingatkan ku pada jaman itu. sekarang kan situasinya berbeda Asad kamu atasan ku sedang aku bawan mu "


" Tapi aku lebih suka kau seperti ini seperti dulu " pungkas Asad


Blus


Mendengar perkataan Asad barusan entah mengapa membuat pipi anaya merona pipinya memerah hanya karna ucapan seperti itu namun dengan cepat Anaya merubah ekspresi nya agar tak ketauan Asad


" Sudah makanannya sudah habis tinggal waktunya minum obat " ucap Anaya mengalihkan pembicaraan


Mendengar kata obat yang Anaya sebutkan bulu halus di tubuh Asad tiba tiba saja berdiri merinding di buatnya obat bagaikan hantu gentayangan membuatnya merinding.


" Kenap gak sekarang aja Asad " bujuk Anaya karna Anaya merasa belum tenang kalo Asad belum minum obatnya


Padahal tidak tau saja Anaya Asad itu sedang ketar ketir dibuatnya sungguh Asad rasanya ingin menghilang saja saat ini untuk menghindari obat.


" Nanti saja nay biar sama ibu ku saja " jawab Asad


" Begtu ya, ya sudah kalo begitu " Anaya pun tidak memaksa Asad Tampa curiga sedikit pun


' Selamat selamat aku gak harus minum obat sekarang ' ucap Asad dalam hatinya lega berhasil menghindari obat dari tangan Anaya


Tak berselang lama baru saja Asad merasa lega terhindar dari permintaan Anaya eh ibu nya tercinta datang dengan perawat


" Asad kau sudah makan,bagus kalo begitu berarti sekarang waktunya minum obat " celetuk Naura membuyarkan kelegaan yang barusan Asad rasakan.seketika mendengar permintaan ibunya Asad membulatkan matanya

__ADS_1


" Mampus " gumam Asad


Melihat ekspresi Asad nyonya Naura merasa geli dibuatnya ingin sekali ia tertawa namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak membuat asad malu di hadapan Anaya


" Sus sudah siapkan apa yang saya pinta " tanya Naura pada suster di sampingnya


" Sudah nyonya seperti permintaan nyonya kami Menganti obat tuan muda dengan sirup " jawab suster tersebut


Anaya yang memang sedari tadi menyimak mengerutkan alisnya mendengar kata terakhir suster tersebut.


' Kenapa obatnya di ganti dengan sirup ' pikir Anaya belum juga paham kalo Asad takut dengan obat lebih tepatnya tidak bisa minum obat karna akan susah untuk Asad menelannya


Namun kembali Anaya tak perduli dan mengabaikannya berpikir positif


' apa pun obatnya yang terpenting Asad minum obat ' pikir Anaya tak ambil pusing


Asad menelan saluvnya dengan susah baru saja dia selamat sekarang harus tegang lagi.mau tidak mau dengan sangat terpaksa Asad pun menerima suapan obat dari tangan ibu nya sambil melirik Anaya yang tersenyum manis padanya melihat senyuman manis Anaya membuat Asad dengan cepat menelan obatnya yang tadinya terasa tersedak tak tamu tertelan karna sebuah senyuman dengan ajaib obat itu serasa menemukan jalan nya masuk tenggorokannya


Perasaan lubang tenggorokan itu gak harus di cari deh Asad 🤔


" Sudah " ucap nyonya Naura menyadarkan Asad yang sedang menatap Anaya lalu menatap ibunya


" Sudah,obat nya sudah ku minum Bu " tanya Asad polos


" Ya memang sudah sad,barusan kamu telan emang gak kerasa ya " jawab nyonya Naura dan sungguh ibu nya Asad itu juga sebenarnya terkejut anaknya barusan sangat mudah meminum obatnya padahal sekali pun obat sirup Asad pasti akan tetap susah biasanya malah tersedak


" Benarkah Bu " ucap Asad tak percaya lalu ia pun melirik Anaya


' apa karna senyuman manis Anaya yang membuat obat itu bisa ku telan ' pikir Asad


Emang ajaib Asad dengan mudahnya meminum obat sampai membuat ia sendiri tak percaya namun perubahan itu membuat nyonya naura senang akhirnya Asad bisa meminum obatnya.


" Ibu senang sayang kamu gak lagi susah minum obat,cepat sembuh ya sayang " bisik Naura pada Asad agar tak terdengar oleh Anaya


malu dong kalo sampai ketauan Asad takut obat bisa bisa Anaya bakalan terus mengejeknya nanti pikir nyonya Naura

__ADS_1


☘️☘️☘️


Bersambung dulu ya..


__ADS_2