Siapakah Aku,Ibu?

Siapakah Aku,Ibu?
Bab 19


__ADS_3

Tak berapa lama satu jam kemudian Daris membawa calon sekertaris Daris mengambil dari beberapa divisi termasuk Anaya yang di inginkan sang bos ikut di reksrut.yang awalnya Anaya tidak mau terpilih menjadi sekertaris mau tidak mau dia sudah terpilih dan di dukung pula oleh kepala divisi nya Anaya pun tak bisa membantah lagi dengan langkah gontai anaya pun mengikuti Daris untuk mengikuti tes.


'Semoga saja aku tak terpilih menjadi sekertaris nya aku belum siap kalo harus bertemu dia terus terusan,keterkejutan dia sebagai bos baruku saja belum benar aku cerna ini di tambah harus bertemu dia langsung aaahhhh rasanya aku ingin menjadi semut dan bersembunyi di lubang saja asal jangan bertemu dia dulu.' umpat Anaya di dalam hatinya karna meras belum siap kalo harus bertemu Asad sekarang apa yang harus dia katakan kalo dia bertanya


" Tarik nafas Naya fokus kamu harus profesional dia bos ingat dia bos mu " gumam Anaya berusaha menenangkan diri sambil menunggu gilirannya


Satu persatu mereka di panggil dan keluar dengan wajah lesu dan Anya sudah bisa menebak wajah wajah seperti itu. itu ekspresi wajah yang di tolak seperti harapanmu padanya.


Tibalah giliran anaya.anaya pun masuk dengan terlebih dulu menarik nafasnya sejenak untuk mengurangi kegugupannya. " Selamat siang pak " sapa Anaya pada Asad dengan membungkukkan badannya


Mendengar suaranya Asad pun membalik kursi kebesarannya menghadap Anaya " Siang,silahkan duduk " dengan ekspresi sedatar mungkin padahal dalam hati bersorak ria karna orang yang di harapkan ada di hadapannya sekarang


Asad memulai memberikan tes melontarkan beberapa pertanyaan yang mampu Anaya jawab dengan cukup memuaskan meski sebenarnya itu tidak perlu karna tujuan sebenarnya memang Anaya akan dia jadikan sekretarisnya hanya saja Asad harus bersikap profesional memberikan kesempatan pada yang lainnya dan memang Asad kurang puas dengan jawaban yang lain tapi berbeda lagi dengan Anaya yang memang dari awal sudah Asad pilih namun dengan embel embel harus mengikuti tes terlebih dahulu padahal itu tak begitu perlu cukup dengan melihat senyuman Anaya saja sebenarnya sudah cukup Asad benar benar profesional bukan😅


" Selamat kamu terpilih menjadi sekertaris ku " ucap Asad mengulurkan tangannya tanda memberi selamat namun bukannya senang Anaya malah membulatkan matanya


" What...aku menjadi sekertaris anda pak " dengan nada yang terkejut Anaya lontarkan itu pada bos nya


" Iya kamu terpilih nay,menjadi sekertaris ku mulai hari ini juga "


jawab Asad santai


Tubuh Anaya seakan lemas tak percaya kalo dialah yang terpilih menjadi sekertaris Asad.baru saja dia berharap tak terpilih ini malah kebalikannya tak sesuai harapan sekali tapi siap tak siap itu sudah menjadi keputusan bos besar bukan Anaya hanya pasrah memasrahkan diri padanya

__ADS_1


" Ini akan sulit " gumam Anaya degan lemas sampai membuat tubuhnya sedikit mundur kebelakang.


" Baik tuan,terimakasih telah memilih saya mohon bimbingannya.kalo begitu saya permisi untuk mengambil barang barang saya kemari " Anya pun undur diri dengan cepat untuk secepatnya menghindari asad.baru Anaya akan meraih handel pintu Asad menghentikan nya " Nay,apa kabar " kata itu terucap membuat Anaya terdiam Anaya membalikan badannya memberanikan diri menatap Asad yang Asad pun sama sedang menatapnya dari tadi


" B_baik saya baik,ba_bagai mana kabar anda " jawab Anaya terbata karna gugup lalu cepat menundukkan kepalanyab.anaya merasa gugup kenapa hal yang ingin Anaya hindari justru malah tek bisa ia hindari


" Jangan terlalu formal kalo kita sedang berdua nay,biasa saja kabar ku baik seperti yang kau lihat." jawab Asad senatural mungkin


" Nay "


" Pak "


Panggil mereka bersamaan


" Tatap aku nay kalo sedang di ajak bicara itu jangan menunduk lihat lawan bicaramu nay " Asad semakin mendekatkan wajahnya.buru buru Anaya memejamkan matanya


" Apa yang ingin kau lakukan Asad menjauh dar__i k__" ucapan Anaya terhenti tubuh Anaya membeku Anaya membuka matanya tak percaya dengan perlakuan Asad yang tiba tiba memeluknya


" Asad apa yang kau lakukan " tanya Anaya gugup


" Sebentar saja nay,biarkan seperti ini sebentar saja aku sangat merindukanmu nay bertahun tahun aku menahan diri untuk tidak menemui mu sebelum aku lulus dan sukses,sekarang kau sudah ada di hadapan ku nay ini bukan mimpikan nay ini nyata kan " Asad menumpahkan rasa rindunya yang selama ini ia tahan dengan memeluk anaya dengan erat sangat erat seolah takut lepas dari pandangan


" Aawww saki nay " ringis Asad karna kena capitan kepiting tangan Anaya

__ADS_1


" Kenapa kau mencubit ku nay ini sangat sakit " sambil terus mengusap usap perut bekas cubitan Anaya


" Kau bilang tadi ini mimpi atau bukan jadi untuk menyadarkannya aku mencubit mu menyadarkan mu bahwa ini nyata dan lagi aku sesak Karan ulah mu Asad,kau memelukku terlalu eta sampai aku hampir kehabisan nafas " oceh Anaya panjang kali lebar dengan penuh kekesalan sudah tidak ada lagi kecanggungan yang tadi sempat Anaya rasakan tergantikan kekesalan dengan tingkah Asad yang ternyata tak berubah masih sama seperti dulu pemaksa


Dengan cepat Asad kembali memeluk Anaya namun tak begitu erat " Terima kasih nay,kau mau menungguku " kata itu terucap dan menyadarkan Anaya dengan pesan yang Asad kirim padanya 5 tahun lalu kini Asad kembali mengungkitnya


" Asad sudah cukup ini di kantor bahkan masih jam nya bekerja kita tiada boleh seperti ini " Anaya berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengingatkan kalo ini di kantor


Asad pun melepaskan pelukannya berdehem untuk menetralkan situasi " Ehmmm.. maaf aku lupa kalo begitu kau boleh keluar tapi,cepatlah kembali " jawaban Asad membuat senyum yang tadinya muncul dari wajah Anaya seketika luntur karna asad barusan menggodanya dengan kata cepatlah kembali.dwnag kesal Anaya pun pergi keluar dari ruangan Asad dengan sedikit menghentakkan kaki nya


" Tunggu " kembali Asad menghentikan Anaya yang akan keluar ruangannya " kenapa dengan sepatu mu " tanya Asad karna melihat sepatu Anaya rusak


" Tidak apa apa hanya aku sengaja mematahkannya " jawab Anaya cuek lalu membuka pintu dan keluar


di luar Anaya memegangi dadanya seakan kehabisan oksigen namun dengan cepat pula Anya bersikap seolah mengambil oksigen sebanyak banyaknya


" Apa yang barusan dia lakukan dia memelukku lagi 3 kali dia memelukku.awas saja tak kan aku biar akan ada pelukan yang ke 4 kalinya aku harus waspada aku harus melindungi tubuhku dari nya ya waspada " Anaya berucap sambil terus berjalan ke ruangannya sampai orang yang ia lewati pun merasa aneh karna Anaya berbicara sendiri


Sesampainya Anaya di ruangannya semua teman termasuk kepala divisi pun ikut mendekatinya mereka menunggu Anaya dari tadi merasa was was apa Anaya terpilih atau tidak " Naya bagai mana " pak Jimi sang kepala membuka suara karna melihat ekspresi Anaya yang lemas tak bersemangat


" Aku_ " Mita memotong ucapannya Anaya " Tak apa Naya masih ada kesempatan lain waktu " ucap Mita menyemangati " Aku terpilih jadi sekretarisnya " kembali Anaya meneruskan ucapannya yang terpotong Mita seketika semua orang bersorak " what.. kau terpilih Anaya selamat Anaya kamu harus bersyukur Naya karna terpilih oleh tuan muda beliau orang yang sangat pemilih dan kau berhasil terpilih oleh nya itu sebuah keajaiban kamu memang pintar meski sedikit ceroboh sih " ucap pak jimi memberikan selamat namun di tambahi dengan ejekan di akhir kata


" Pak jangan gitu dong meski Naya sedikit ceroboh dia tetap yang terbaik.apapun dan seperti apapun kamu nay kita tetap mendukungmu " pungkas Mita membela Anaya di hadapan pak Jimi."Aku cuma bercanda Naya kamu memang yang terbaik sekali lagi selamat ya " kembali pak Jimi mengungkapkan dengan tulus

__ADS_1


__ADS_2