SILMI

SILMI
Bersiap


__ADS_3

Malam hari tiba. Sekitar pukul 21:15, terdengar suara orang mengaji di kamarnya Silmi. Tentu saja putri bungsu ustadz Usman itu sedang mengaji.


Ustadz Usman dan Nisa sedang duduk mengobrol di ruang tamu. Mereka bisa mendengar kalau putrinya itu sedang mengaji.


"Bi, Abi yakin suatu saat Silmi mau menerima Faris?" tanya Nisa ragu dengan sikap yang diberikan Silmi selama ini yang sudah menunjukan penolakan. Ustadz Usman malah tersenyum.


"Umi tenang saja, aku yakin Silmi pasti bisa menerima Faris. Aku pun tidak akan diam saja. Aku yakin sebenarnya Silmi itu sudah terpesona pada Faris, hanya saja ego sama gengsinya terlalu tinggi" tutur ustadz Usman.


"Mudah mudahan saja Silmi mau membuka hatinya untuk Faris"


Tiba tiba terdengar Silmi memanggil Nisa. Ustadz Usman dan Nisa pun tau kenapa putrinya itu memanggil.


"Umiii"


"Pasti si Mimi mau ngambil jatah deh. Sudah besar kebiasaan kalau tidur harus di empok empok dulu sama Uminya. Malu aku lihatnya juga. Harusnya kan itu jatah abi nya" tutur ustadz Usman sedikit menggerutu.


"Jangan cemburu pada anak sendiri" ucap Nisa yang kini sudah berjalan masuk ke kamar putrinya itu.


Nisa sudah mendekati Silmi dan duduk disebelahnya Silmi yang kini sudah berbaring. Tak lupa Nisa mengelus lembut kepalanya Silmi.


"Mimi belum tidur?" tanya Nisa. Silmi hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kenapa?, ini sudah malam"


"Aku gak bisa tidur Mi. Gak tau kenapa" jawab Silmi. Nisa pun tersenyum.


"Mimi lagi memikirkan sesuatu ya?. Kalau ada apa apa boleh ko cerita sama Umi"


"Gak tau kenapa beberapa hari ini pikiranku mumet Mi. Kadang kesel, kadang sebel, kadang jengkel gak jelas" tutur Silmi. Lagi lagi Nisa tersenyum.


"Besok itu sudah mulai liburan panjang untuk para santri, Mimi bisa gunakan untuk menenangkan dan menghibur diri, tentunya dengan hal yang positif. Mimi mau liburan kemana?" tanya Nisa. Silmi terdiam lalu memutar otak, dan dalam pikirannya ia langsung tertuju pada Kairo. Dan entah kenapa seolah Nisa tau pikiran putrinya itu.


"Tapi Mimi jangan minta liburan ke Kairo ya, Abi gak akan ngijinin" ucap Nisa tiba tiba hingga membuat Silmi langsung cemberut.


"Abi pasti mau ngajakin aku ke kebun lagi seperti biasa. Abi suka mendadak pelit kalau urusan liburan" gerutu Silmi.


"Hei hei hei, Abi gak pelit ya. Abi hanya ingin membuat liburanmu bermanfaat, bukan untuk bersenang senang apalagi menghambur hambur kan uang" ucap ustadz Usman yang tiba tiba masuk ke kamar Silmi dan mendengar pembicaraan mereka.


"Kalau di kebun kan kau bisa menambah ilmu pengetahuan tentang alam, atau tentang pertanian. Siapa tau nanti kau bisa jadi menteri pertanian" tutur ustadz Usman. Silmi hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya.


"Si Anum saja kalau liburan itu perginya ke rumah kakaknya, ke rumah nenek dan kakeknya. Mimi juga bisa seperti si Anum untuk berlibur ke rumah kakak dan Mbah Husen" ucap ustadz Usman.


"Tapi Abi, rumah kak Fadil sama Mbah Husen itu masih di wilayah ini, tiap hari juga kelewatan kalau pergi ke sekolah santri" gerutu Silmi. Ustadz Usman sudah tersenyum getir.


"Kalau kau ingin pergi liburan, ikut saja pergi bersama kak Fadil dan kak Syifa, kebetulan besok mereka akan pergi liburan ke kota Y" ucap Nisa.


"Kak Fadil mau pergi liburan???" tanya Silmi.


"Hmmm"


"Ya sudah Mimi ikut saja sama kak Fadil. Kebetulan mereka itu pergi liburan sekaligus untuk bulan madu kesekian. Mereka sedang menjalani program anak kedua" ucap ustadz Usman. Silmi pun terdiam, lalu menggeleng.


"Gak mau akh, nanti aku jadi obat nyamuk. Dikacangin yang lagi bulan madu. Nanti bisa bisa aku disuruh ngejagain Bilkis di sana, gantiin popok, nyuapin dan lain lain" gerutu Silmi.


"Mimi, kak Syifa itu gak mungkin begitu, dia pasti gak bakalan nyuruh Mimi buat gantiin popok. Asal Mimi tau ya, mereka liburannya didekat pantai, dua Minggu" tutur Nisa sengaja biar Silmi mau ikut. Mata Silmi sudah berbinar.


"Ada pantainya ya Umi?" tanya Silmi.


Nisa mengangguk ngangguk.


"Kalau liburannya dua Minggu, nanti nginep dimana?" tanya Silmi lagi.


"Nanti disana sewa rumah. Mimi mau ikut gak?"

__ADS_1


Silmi langsung mengangguk ngangguk setuju.


"Aku mau ikut" ucap Silmi antusias.


Nisa dan ustadz Usman pun tersenyum.


"Besok siap siap ya" pinta ustadz Usman.


Silmi kembali mengangguk ngangguk.


"Kalau aku pergi liburan, artinya selama dua Minggu aku akan terbebas dari si Om Faris, setidaknya dia tidak bisa mengganggu pikiranku. Yes yes yes" batin Silmi


"Ya sudah, Mimi tidur gih, sudah malam. Biar besok tidak kesiangan" pinta Nisa.


"Temenin dulu sama Umi ya, biar aku bisa tidur" pinta Silmi.


Nisa langsung berbaring disebelah putrinya itu untuk menina bobokan anak perawan nya yang kini sudah bukan anak kecil lagi.


"Hadeuuuh Sholehah Silmi Kaffah, malu sama umur. Tidur saja harus ditemenin umi nya dulu. Jam segini itu jatahnya Abi" gerutu ustadz Usman sambil keluar dari kamar.


Nisa sudah mengelus kepalanya Silmi, mengusap punggungnya bahkan mengempok empok Silmi seperti bayi hingga putrinya itu langsung terlelap dalam mimpi.


_ _ _ _ _ _ _


Keesokan harinya. Ustadz Usman sudah menyuruh Silmi untuk berberes barang barang yang akan dibawa untuk liburan.


"Mimi, cepatlah berkemas. Kak Fadil sama Syifa sudah menunggu di depan" ucap ustadz Usman.


"Iya Bi"


Ustadz Usman pun keluar rumahnya, dilihatnya Fadil sedang memasukan beberapa tas besar perlengkapan dirinya, Syifa dan juga Bilkis ke dalam mobil. Sementara Nisa sedang menggoda Bilkis yang kini sedang dipangku oleh Syifa.


"Dil, kau jangan nyetir sendiri ya. Nanti Abi akan carikan supir. Kau jangan capek capek, ingat ya, kau pergi liburan untuk bulan madu untuk program anak kedua mu" ucap ustadz Usman yang setelah mengucapkan salam langsung pergi. Fadil hanya mengangkat kedua bahunya lalu kembali berberes.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


"Diantara kalian bertiga, siapa yang mau jadi supir plus bodiguard sementara untuk ikut dengan Fadil berlibur?" tanya ustadz Usman.


Ketiga Sekuriti itu langsung mengangkat tangan semua.


"Aku" (Bang Muklis).


"Aku" (Yudi).


"Aku" (Yuda).


"Aku butuhnya satu bukan tiga" ucap ustadz Usman yang kini bingung melihat ketiga Sekuriti itu menerima jadi supir plus bodiguard.


"Aku saja ustadz Usman, biar aku sekalian bisa menjaga putri dan cucuku" ucap Bang Muklis.


"Maaf besan, kalau kau yang ikut, sudah pasti si Dewi merajuk pengen ikut juga. Dan kalau si Dewi ikut, sudah pasti bisa mengganggu bulan madunya si Fadil dan Syifa. Lagi pula aku cari bodiguard buat jagain si Silmi"


Si kembar pun terdiam mendengar ucapannya ustadz Usman.


"Maaf ustadz Usman, kita gak jadi menawarkan diri jadi supir dan bodiguard nya mba Silmi. Karena sejatinya kita ini adalah bodiguard (anak buah) nona Bos Ira. Kami tidak mau berkhianat pada nona Bos" ucap Yudi hingga ustadz Usman langsung mengernyit.


"Apa maksudnya?"


"Kalau salah satu dari kita menjadi bodiguard nya mba Silmi, itu artinya kita berkhianat pada nona Bos Ira" ucap Yuda.


"Kita kan anak buah setia" ucap Yudi.

__ADS_1


Tidak sengaja Zahira pun lewat bersama Yusuf. Yusuf sedang asik menggendong Yura.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


"Ada apa nih ribut ribut?" tanya Zahira.


Yura yang kini asik menarik narik sorban yang melilit di lehernya ustadz Usman, hingga ustadz Usman menyipitkan pada Yura yang tangannya dililitkan pada sorban itu hingga ustadz Usman merasa tercekik.


"Astaghfirullah alazim. Ira, putrimu mau membunuhku" gerutu ustadz Usman yang kini melepaskan tangannya Yura dari sorbannya. Zahira malah tertawa.


"Maaf Om ustadz, mungkin Dede Yura gemas sama om Ustadz"


"Gini nona bos. Ustadz Usman ingin salah satu dari kita untuk pergi menjaga mba Silmi sebagai bodiguard nya di hari liburannya. Kita gak mau berkhianat pada nona Bos. Kan Bos kita cuma nona bos Ira seorang" ucap Yuda.


Ustadz Usman sudah mengernyit.


"Waah kalian memang anak buah yang baik. Aku jadi terharu hingga ingin menangis, nanti air matanya ku usap pake tisu. Siapa tau tisu yang ada air mataku itu bisa dijual dengan harga 3 triliun kaya yang lagi viral itu" tutur Zahira.


"Eh Ira gak usah aneh aneh. Sekarang bilang pada salah satu anak buah mu untuk ikut pergi menjaga Silmi" pinta ustadz Usman. Zahira pun terdiam dan mulai menimbang nimbang lalu melirik si kembar.


"Ada yang mau jadi bodiguard nya si Silmi?" tanya Zahira. Si kembar langsung menggeleng.


"Kita bukan nya gak mau, tapi kita gak mau mengkhianati nona Bos. Bos kita kan cuma Bos Ira seorang" ucap si kembar.


"Aku terhura"


Ustadz Usman sudah menggeram.


"Sekarang aku tanya pada kalian. Siapa yang memberi pekerjaan pada kalian?" tanya ustadz Usman pada Yudi dan Yuda.


"Ustadz Usman" jawab si kembar.


"Sekarang aku tanya lagi, siapa yang menggaji kalian?"


"Ustadz Usman" (Yudi dan Yuda).


"Kalau yang memberi pekerjaan kalian itu aku, terus yang menggaji kalian juga aku, sekarang aku tanya sekali lagi, siapa Bos kalian?" tanya ustadz Usman.


"Ya tentu saja nona Bos Ira" jawab Yudi dan Yuda kompak.


"Astaghfirullah alazim" ustadz Usman sudah kesal dibuatnya. Zahira malah cekikikan.


"Kalian memang anak buah yang setia pake banget" Zahira sudah tertawa tawa bangga.


"Ira coba kau kasih penjelasan pada anak buahmu yang pintarnya kebangetan ini. Pokoknya salah satu dari mereka harus jadi bodiguard nya Silmi selama dua Minggu. Titik gak pake koma apalagi tanda seru" ucap ustadz Usman menegaskan. Zahira langsung melirik si kembar.


"Om kembar, kasihan om ustadz, takutnya nanti nangis. Salah satu dari kalian siapa yang mau jadi bodiguard nya si Silmi. Cuma dua Minggu ko, setelah selesai kembali lagi jadi anak buahku" ucap Zahira. Yudi dan Yuda pun mengangguk.


"Biar aku saja yang menjaga mba Silmi" ucap Yuda.


"Ya sudah sekarang kau siap siap untuk pergi ke kota Y bersama Silmi, Fadil dan Syifa" pinta ustadz Usman.


"Baik ustadz Usman" ucap Yuda yang kini sudah siap menjaga Silmi.


Kini Zahira sudah berjalan pulang bersama Yusuf dan Yura.


"Kak Yusuf, si Semok mau pergi liburan, kita kapan mau pergi liburan?" tanya Zahira penuh harap.


"Kita liburannya di kamar saja ya" ucap Yusuf hingga Zahira tiba tiba wajahnya memerah.


"Boleh pake banget kak Yusuf. Aku suka, siapa tau kalau liburan di kamar, Dede Yuri cepet nongol"

__ADS_1


__ADS_2