SILMI

SILMI
Pantai


__ADS_3

Masih dengan rombongannya ustadz Usman di kota Y. Mereka nampak senang karena Silmi tidak kenapa napa alias cuma bersin biasa meskipun hampir saja terbongkar kejadian tenggelamnya Silmi di laut gara gara si gemoy Bilkis KE CEP LO SAN. Sebenarnya bukan keceplosan melainkan putri semata wayangnya Fadil bin Usman itu tidak diajak kompromi sebelumnya.


Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan, sebelum pulang ke kota A, mereka selalu merayu ustadz Usman agar berlibur terlebih dahulu sebelum pulang.


"Pakde, liburan dulu ke pantai yu" bujuk Hawa.


"Om Ustadz, kali kali kita mainnya di laut, jangan di kebun mulu, B O bo S A saN BOSAN, jangan metikin tomat sama cabe terus, kali kali kita nyomotin kerang, kepiting sama lumba lumba" Zahira ikut membujuk.


"Hei Ira, di pantai itu P A pa N A naS Panas. Nanti kau bisa hitam" jawab ustadz Usman.


"Aku sudah putih dari lahir, jadi gak akan ada yang namanya hitam, karena predikat kulit hitam itu sudah melekat dan mendarah daging sama kak Riziq alias si berondongnya kak Aisyah" tutur Zahira. Aisyah sudah menyipitkan matanya.


"Dia meskipun hitam tapi manisnya gak nanggung nanggung" jawab Aisyah tidak mau kalah.


"Kenapa kalian malah ngomongin warna kulit sih" protes ustadz Soleh yang kini sudah meneguk kopi panas yang dibuatkan oleh Syifa.


"Kita belum lama nyampe, nanti saja ke pantainya, istirahat dulu sebentar" ucap ustadz Usman yang kini sudah memangku cucunya Bilkis.


"Kalau kalian ingin liburan geratis, aku bisa atur semuanya" ucap Faris.


Mereka langsung berbinar merasa senang dan takjub.


"Benarkah????"


"Tentu. Itu soal gampang, nanti aku yang atur" ucap Faris kembali.


"Waaah Faris, ternyata kau orang kaya raya pake banget ya. Pantas saja Om ustadz ngebet banget ingin menjodohkan si Silmi dengan mu, rupanya Om ustadz ada udang dibalik tutup saji" tutur Zahira.


"Eh selebor, aku tidak matre ya. Uang gepokan ku masih banyak dibawah tempat tidur" gerutu ustadz Usman.


"Sebenarnya uang gepokan ustadz Usman yang ada dibawah tempat tidur, masih sebuah MIS TE RI, karena aku belum pernah melihatnya langsung" batin Zahira.


Akhirnya sebelum pergi ke pantai, mereka pun beristirahat sejenak di rumah sewaan itu.


Silmi sudah mengajak Anum dan Hawa berdiri di balkon kamarnya. Menatap pemandangan sekitar.


"Masya Allah, indah banget ya pemandangan nya" ucap Hawa sambil menatap sekeliling.


"Mi, boleh aku tanya sesuatu?" ucap Anum.

__ADS_1


"Hmm, kau mau tanya apa?"


"Bagaimana perasaanmu terhadap putranya pak Edi itu?" tanya Anum kembali. Silmi pun terdiam bingung.


"Kenapa diam?, apa kau sudah mulai menyukainya?"


"Entahlah. Aku masih belum 100 persen yakin. Tapi aku melihat ada kesolehan dalam dirinya Faris. Dia baik, hanya saja masa lalunya yang kurang baik. Aku ingin lihat dulu apa dia benar benar sudah berubah atau belum" tutur Silmi.


"Apa aku boleh tau apa masa lalunya yang kurang baik itu?" tanya Hawa.


"Ternyata dia itu mantan laki laki mata keranjang sama hidung belang. Mantannya saja ada 21" ucap Silmi. Hawa dan Anum sudah menganga.


"Astaghfirullah alazim"


"Amazing banget ya itu si Om Faris. Itu mantan yang 21 itu perempuan semua?" tanya Anum. Hawa malah tertawa kecil.


"Masa iya si Faris jeruk makan jeruk. Tapi jika kau mantap dan yakin memilih dia sebagai calon imam mu, kudo'akan Faris benar benar berubah. Setiap orang pasti punya masa lalu, karena manusia tidak luput dari kesalahan. Belajarlah dari Tante Anisa yang mau menerima ustadz Ibrahim dengan tangan terbuka dan apa adanya, meskipun ustadz Ibrahim adalah mantan preman yang selalu keluar masuk penjara" tutur Hawa.


"Tapi apa kau yakin kau mau melupakan obsesi mu terhadap berondong?" tanya Anum. Silmi pun terdiam lalu menunduk.


"Entahlah, mungkin aku terlalu mengidolakan Tante Aisyah sama Om berondong. Kini aku sadar gak semua laki laki berusia muda bisa bersikap dewasa seperti om Riziq" ucap Silmi.


"Apapun keputusan mu, kita do'akan semoga itu menjadi yang terbaik untukmu"


"Terimakasih ya, kalian memang sahabatku yang baik" ucap Silmi.


Selang beberapa lama kemudian, rombongan ustadz Usman pun sudah meluncur ke pantai. Dua mobil sudah terparkir dengan rapih.


Zahira sudah menganga melihat keindahan pantai itu.


"Waaaw amazing. Masya Allah indah sekali ciptaan mu. Tapi tenang saja, pemandangan disini masih kalah indah dengan kecantikan, keimutan dan menggemaskan nya Zahira Rahmadia Alfiqri. Pasir putihnya saja masih kalah putih oleh kulitku yang putih dan halus ini. Sepertinya pantai ini mendadak minder dengan kedatangan ku, benarkan kak Yusuf?" tanya Zahira. Yusuf hanya tersenyum sambil mengangguk ngangguk.


Si trio kwek-kwek langsung mengernyit mendengar ucapan Zahira.


"Sungguh TER LA LU"


Zahira sudah menggeram kesal pada si trio kwek-kwek yang memprotes ucapannya.


Dewi dan Syifa sudah asik bermain air bersama Bilkis.

__ADS_1


"Wi, jangan terlalu jauh mainnya, nanti takut diincar ikan paus, nanti dikira hidangan" goda ustadz Usman. Dewi sudah mengerucutkan bibirnya.


Anum dan Athar sudah asik duduk berdua dipinggir pantai sambil memandangi Hasbi yang sedang diajak main air oleh Aisyah dan Hawa.


"Kita kapan mas bisa liburan bertiga sama Hasbi?" tanya Anum.


"Insyaallah, kalau ada rejeki lebih kita pergi liburan" jawab Athar. Anum sudah tersenyum lalu menyender dipundak suaminya itu.


Silmi hanya berdiri dipinggir pantai melihat saudara saudaranya bermain air laut, ia tidak mau ikutan main air atau main pasir, Silmi masih trauma dengan kejadian tenggelamnya di laut. Diam diam Faris pun mendekati lalu berdiri disebelahnya.


"Tidak ikut main sama mereka?" tanya Faris. Silmi pun menggeleng.


"Aku masih takut"


"Selama ada aku kau tidak perlu takut. Aku pasti akan menjagamu" ucap Faris. Silmi pun menatapnya.


"Apa kau selalu bersikap seperti itu pada setiap pacar pacarmu dulu?"


Faris malah tersenyum.


"Kenapa bertanya seperti itu. Bukankah kewajiban laki laki untuk menjaga keselamatan perempuan. Apalagi perempuan yang sangat ia sayangi. Bagiku perempuan itu wajib dijaga terutama seorang ibu dan seorang istri. Karena mereka yang akan menemani kita dan mendampingi kita. Itu menurutku, tidak tau menurut orang lain" tutur Faris. Silmi pun tersenyum.


"Aku juga sangat sayang sama Umi, sama Abi juga. Abi adalah cinta pertama ku. Dia sangat sayang padaku, bahkan kak Fadil saja suka iri, katanya Abi lebih sayang padaku. Kau lihat saja sekarang, Abi bela belain datang dari kota A ke kota Y hanya untuk melihat keadaanku, Abi sangat khawatir meskipun hanya mendengar ku bersin" tutur Silmi masih dengan menatap ustadz Usman dan ustadz Soleh berdiri dipinggiran pantai sengaja membasahi kakinya.


"Apa boleh aku menghawatirkan mu?" tanya Faris hingga Silmi terdiam lalu menatap putranya pak Edi itu.


"Apa alasanmu menyukaiku?, bukankah mantan mantanmu lebih cantik dariku, bahkan mereka lebih pintar dan menarik dariku. Aku hanya seorang santri biasa, yang sedang belajar agama dengan baik" tutur Silmi.


"Aku melihat ada nilai plus darimu. Kau berbeda dari perempuan yang pernah kukenal terutama dari mantan mantanku itu. Aku ingin serius, tidak mau main main lagi. Untuk itu beri aku kesempatan"


Silmi menunduk.


"Jika aku memberimu kesempatan, apa kau akan memanfaatkan nya dengan baik?" tanya Silmi.


"Tentu, untuk itu aku tunggu kesempatan yang akan kau berikan untukku"


Silmi pun tersenyum.


"Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi sebelum aku memberimu kesempatan untuk lebih dekat denganku"

__ADS_1


__ADS_2